Kompas, Minggu, 06 Agustus 2006
Sosok Kontroversial Sulak Sivaraksa
Maria Hartiningsih
Sulak Sivaraksa (73) banyak didefinisikan sebagai sosok yang penuh paradoks. Ia adalah filsuf, spiritualis sekaligus aktivis, kritikus sosial dan pemberontak intelektual yang memegang teguh etika non-kekerasan Buddhisme. Paham dari sikap politiknya konservatif, sekaligus progresif secara sosial.
Ia memperoleh pendidikan di luar negeri, tetapi menggali pemikiran dari akar tradisi masyarakatnya. Ia menolak berpakaian Barat dan secara konsisten memakai pakaian tradisional Thai.
Namun semua itu bukanlah paradoks, andai orang memahami hakikat berkeyakinan yang mengalir dari praktik-praktik Buddhisme. Bagi Sulak, satu sama lain itu saling mengisi dalam proses yang mempertanyakan segalanya secara mendalam. Ia bertindak sesuai hasil perenungan itu.
Sulak mengombinasikan kerja intelektual yang provokatif dengan secara terus-menerus mengorganisasikan masyarakat akar rumput. Ia membuat berbagai program untuk membangun masyarakat di pedesaan dengan mengeksplorasi model pembangunan alternatif yang lebih berkelanjutan; pembangunan yang secara tradisional berakar pada etika dan spiritualitas.
Sulak yang dikenal sebagai pembangkit semangat, intelektual, pengacara, guru, intelektual, penerbit, pendiri berbagai organisasi dan menulis lebih dari 70 buku dan risalah dalam bahasa Thai dan Inggris.
Selama puluhan tahun ia menjadi "pengganggu yang profesional" bagi Pemerintah Thailand. Keberaniannya mengungkap kebohongan dan kebobrokan rezim diktator dan korporasi internasional menjadikannya sebagai "Musuh No 1" penguasa.
Keberpihakannya pada kaum yang lemah dan terpinggirkan membuat hidupnya selalu berisiko. Tewasnya ratusan mahasiswa menyusul kudeta tahun 1976 memaksa Sulak hidup di pengasingan selama dua tahun.
Pada tahun 1984 ia ditangkap, dan dipenjarakan empat bulan atas tuduhan lese majeste (penghinaan terhadap kerajaan). Ia dibebaskan setelah kampanye internasional yang bertubi-tubi. Namun banyak yang berspekulasi, raja sendiri yang memohon pengampunan bagi Sulak.
Bulan September tahun 1991 ia kembali dikenai tuduhan lese majeste, ditambah penghinaan terhadap Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Suchinda Kraprayoon—yang menggulingkan pemerintah terpilih PM Chatichai Choonhavan tanggal 23 Februari 1991 melalui kudeta tak berdarah—dalam ceramahnya tanggal 22 Agustus di Universitas Thammasat, Bangkok, berjudul "Kemunduran Demokrasi di Siam".
Kampanye internasional memprotes rencana penahanannya membuat pimpinan angkatan bersenjata bertambah marah, kemudian mengancam keselamatan Sulak.
Ia berhasil lari ke luar negeri, lalu berkeliling memberi ceramah dan kuliah di berbagai universitas terkemuka di Amerika Serikat. Sulak memaparkan perspektif Buddhisme dalam memandang imperialisme Amerika yang termanifestasikan secara penuh setelah perang dingin berakhir. Ia kembali ke Thailand tahun 1992 untuk diadili.
Terus terancam
Sepanjang perbincangan Sabtu (29/7) di sebuah vihara di kawasan Jakarta Barat, Acharn Sulak— Acharn artinya Guru—menggunakan Siam sebagai ganti Thailand ketika merujuk kepada negara. Nama baru Thailand yang digunakan setelah tahun 1939 dinilainya bersifat chauvinis. Kata Thai ia gunakan ketika menjelaskan mengenai masyarakat, bahasa dan budaya.
Sulak berada di Indonesia untuk menghadiri Konferensi Orang Muda se-Asia-Pasifik, pekan lalu di Puncak, Bogor. Ia menggantikan Gus Dur sebagai pembicara kunci. Setelah itu ia bertolak ke Munich, Jerman, sampai, "Entah kapan," ujarnya.
Tampaknya ia akan menunggu sampai situasi mendingin. Ada kabar, kepulangannya ke Bangkok akan dijadikan alasan kerusuhan (yang direkayasa) agar ia bisa ditahan.
Beberapa kasus kemungkinan akan digunakan untuk menjeratnya. Salah satunya adalah kasusnya memimpin aksi menolak proyek pipanisasi gas di Teluk Martaban Burma oleh perusahaan patungan pemerintah militer Burma dengan perusahaan minyak Thai-AS akhir tahun 1990-an, yang sampai sekarang masih menggantung.
Aksi-aksinya menolak Thaksin membuatnya menghadapi tuduhan lese majeste lagi. Thaksin menggunakan dalih tentaranya adalah pembela kehormatan kerajaan.
"Ancaman penjara atas tuduhan menghina raja adalah 15 tahun," ujar Sulak, menambahkan, "Raja sebenarnya orang baik, tetapi tidak orang di sekitarnya."
Seluruh kritik Sulak melalui tulisan dan ceramah-ceramahnya sebenarnya merupakan permohonan yang konstruktif untuk menciptakan demokrasi yang riil di Thailand. Juga menciptakan undang-undang yang melindungi hak-hak sipil, politik, ekonomi dan sosial warga, pembangunan yang lebih adil dan manusiawi serta menempatkan keluarga kerajaan sebagai "pusat persatuan negara yang bebas dari manipulasi para politikus, kepentingan pengusaha dan korporasi multinasional".
"Waktu Raja berulang tahun beberapa bulan lalu, ia menasihati Thaksin agar siap menerima kritik untuk kemajuan. Tetapi kalau UU-nya tidak diubah, kritik sekonstruktif apa pun dapat dengan mudah dikategorikan sebagai penghinaan terhadap kerajaan, dan itu berarti kejahatan karena melanggar UU," sambung Sulak.
Bagi Sulak, pemerintahan Thaksin melambangkan kebobrokan yang nyaris sempurna, setelah lebih dari 40 tahun negeri itu secara bertahap masuk ke dalam cengkeraman imperialisme dan kapitalisme.
Kritiknya terhadap Thaksin sangat pedas. "Ia menggunakan segala cara untuk menumpuk uang dan kekuasaan. Cara pandangnya seperti Bush. Di dalam negeri ia menggunakan rasisme untuk mengadu domba, dengan mengatakan warga Muslim di Selatan sebagai separatis."
Dalam kapitalisme, "Agama baru adalah uang dan kekuasaan dalam bentuk apa pun," tegas Sulak.
"Kapitalisme telah menghancurkan spiritualitas dan hubungan-hubungan yang ber-etik. Di Siam, tidak ada tanda-tanda perubahan kebijakan pembangunan. Pemerintah terus mengikuti kerangka ekonomi kapitalis. Yang menolak dituduh komunis, separatis, tidak setia pada negara."
Itulah yang merusak seluruh sendi masyarakat, nilai-nilai tradisi, etika dan agama. Ketika ditanyakan siapa musuh manusia saat ini, Acharn Sulak menjawab tegas, "Keserakahan, kebencian, dan khayalan."
Selama pembangunan diukur dengan kesuksesan material, keserakahan akan terus menciptakan ketegangan, perselisihan, dan manusia akan terus berebut mendapatkan keuntungan dengan saling menindas.
"Kita didorong untuk memuaskan keinginan dengan membeli, membeli, memiliki, memiliki, dan memiliki lebih banyak lagi. ’Memiliki’ dipandang lebih penting daripada ’menjadi’. Konsumtivisme telah mengeksploitasi pikiran dan tubuh generasi muda. Siam modern telah menjadi masyarakat yang terkikis."
Konsumtivisme, menurut Acharn Sulak, mendukung mereka yang memiliki kekuasaan ekonomi dan politik dengan menghadiahi mereka kebencian, agresivitas, dan kemarahan.
Sistem pendidikan modern dalam kapitalisme menghasilkan kepandaian tanpa kebijaksanaan, dan menciptakan khayalan yang disebut sebagai "kebijaksanaan".
"Nilai-nilai pendidikan bukan lagi mencintai kebaikan, tetapi kompetisi," ia melanjutkan.
Dalam kompetisi orang tak hanya berhadapan dengan sesamanya, tetapi juga dengan alam. Situasi lingkungan alam semakin rusak karena pendidikan formal kurang mengajarkan nilai-nilai kebaikan.
Pendidikan merupakan kunci dalam Buddhisme. Gerakan pendidikan alternatif yang ia jalankan merupakan upaya mengembalikan nilai-nilai yang semakin pudar: kerja sama ketimbang persaingan, perdamaian, non-kekerasan.
Sejarah pun harus dibongkar. "Terlalu banyak mempromosikan pahlawan berarti mempromosikan perang," katanya.
Konsisten
Sulak secara konsisten menggunakan etika Buddhisme dalam upayanya melakukan transformasi sosial dan politik di masyarakat. Ia menjadi aktivis ketika sungguh-sungguh ingin mengikuti ajaran Buddha dan membuat Buddhisme relevan dalam masyarakat modern.
Dalam bukunya Seed of Peace (1992), ia memberi contoh. Seseorang tidak mencuri, tetapi membiarkan orang mencuri hak kaum miskin, lebih buruk dibandingkan mencuri. Tidak membunuh bukan semata-mata tindakan tidak membunuh orang lain atau tidak berperang. Menyengsarakan manusia dengan merampas apa pun yang menopang kehidupannya adalah pembunuhan. Perusakan alam, pembuangan limbah beracun termasuk di dalamnya.
Penyelesaian atas kesengsaraan semacam itu menurut Sulak harus datang dari keterbukaan dan perjuangan yang bersifat non-kekerasan. Ia percaya gerakan akar rumput akan menolak kekuatan yang merendahkan martabat manusia.
Aktivisme sosial merupakan praktik dharma bagi Sulak. Di situ ia belajar menjadi bijak, dan tidak membiarkan dirinya berada di bawah tekanan. Selama masa pengasingan, kontemplasi sangat membantunya merawat belas kasih dan mencintai kebaikan di dalam dirinya.
Sulak mengajari banyak orang bagaimana memadukan upaya meluaskan kesadaran internal di dalam diri dengan tindakan sosial yang efektif, dan cara menemukan diri sejati dalam setiap individu di masyarakat. Bagi dia itu melatih buddhisme dengan huruf "b".
Bagaimana dengan pendeta Buddha yang melakukan kekerasan di Sri Lanka?
"Buddhisme dengan ’B’ menjadi bagian dari nasionalisme," ujarnya.
Itulah yang membuat Singhala yang Buddhis menganggap Tamil yang Hindu sebagai musuh yang harus dibunuh. "Kita seharusnya melatih buddhisme dengan huruf ’b’, mencintai kehidupan, kedamaian, dan menolak kekerasan."
Pencapaian terbesar bagi Sulak adalah pertemanan dan persahabatan. Ia berteman dengan para tokoh lintas agama di berbagai negara. Ia meyakini kebaikan dalam setiap agama dan itulah yang akan mengubah dunia.
Sulak berasal dari keluarga menengah atas. Ayahnya seorang direktur akuntan perusahaan asing di bidang impor-ekspor. Ia menikah tahun 1964 dalam upacara yang dipimpin Pangeran Dhani Niwat, di sebuah rumah sederhana di jalan sempit di sudut kota yang sibuk.
Rentang aktivismenya selama 45 tahun membuat keluarganya lambat laun tidak merasa terganggu. Padahal sang istri pernah hampir ikut diseret ke penjara.
"Sekarang ia malah menyukai aktivisme saya. Kalau tidak begitu, hidup ini terlalu sepi...."
Kehidupan dijalani seperti adanya. Seperti dikatakan Acharn Sulak, "Life is fun, you know…."


Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+ countries) for 2¢/min or less. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **





YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke