Kompas, Sabtu, 12 Agustus 2006
Flu Burung
Sudah Ada Strategi, tetapi Implementasinya Lemah
Flu burung kembali menyebabkan dua orang meninggal pekan ini. Berita ini tenggelam oleh berita serangan Israel atas Lebanon dan banjir lumpur di Sidoarjo, Jawa Timur. Jatuhnya dua korban jiwa itu menandai posisi Indonesia sebagai negara dengan korban jiwa terbanyak, yaitu 44 jiwa, di atas Vietnam yang 42 jiwa.
Flu burung atau avian influenza (AI) menjadi perhatian dunia ketika penyakit yang disebabkan virus ini menular dari hewan ke manusia pada tahun 1997 di Hongkong. Setelah itu, flu burung ditemukan di sejumlah negara Asia, yaitu Korea Selatan, China, Jepang, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Penyakit ini diduga pertama kali menyerang unggas di Indonesia pada Oktober 2003.
Penularan dari hewan ke manusia yang menyebabkan kematian seperti di Hongkong dan Vietnam menimbulkan kekhawatiran terjadinya pandemi— wabah penyakit infeksi yang menyebar ke seluruh dunia atau dalam wilayah yang luas—seperti pada tahun 1918-1919 di Spanyol. Saat itu sekitar 50 juta orang meninggal dan penyakit tersebut dijuluki Spanish Flu.
Di Indonesia, penularan dari hewan ke manusia pertama kali terjadi Juli 2005 di Tangerang yang menimbulkan kematian seorang ayah dan dua anaknya. Kasus paling menarik perhatian adalah kluster di Desa Kubu Simbelang, Kecamatan Tiga Panah, Tanah Karo, Sumatera Utara, Mei lalu, yang menyebabkan tujuh orang meninggal dari tiga keluarga pada Mei 2006.
Kasus Tanah Karo itu sempat menimbulkan kekhawatiran penularan AI telah memasuki fase 4, yaitu penularan antarmanusia masih dalam satu keluarga (cluster). Namun, pemerintah menyatakan Indonesia masih pada fase 3, yaitu penularan dari hewan kepada manusia.
Implementasi lemah
Meskipun dibandingkan dengan populasi Indonesia yang 245 juta orang jumlah kasus AI pada manusia relatif jarang—populasi Vietnam 84 juta orang dengan 42 kasus—yang mengkhawatirkan dunia adalah cara penanganan yang dianggap lamban bahkan tidak serius (International Herald Tribune, 21 Juli; The Economist, 29 Juli).
Para ahli yang bergabung dalam organisasi dunia, seperti Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) serta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), menyebut faktor penyebab antara lain lemahnya koordinasi dari pusat hingga ke daerah, prioritas penanganan yang tidak tepat, yaitu penekanan pada kesehatan manusia daripada hewan sumber penyakit, lemahnya sumber daya manusia di bidang kesehatan hewan, dan kurangnya dana.
Kritik yang sama juga muncul dalam diskusi flu burung ini dan juga diakui Komisi Nasional (Komnas) Penanggulangan Flu Burung serta pemerintah. Komnas menyebutkan, Indonesia sudah memiliki strategi nasional yang disesuaikan dengan standar WHO, FAO, dan Organisasi Kesehatan Hewan Internasional (OIE), mulai dari kontrol penyakit pada hewan, penanganan kasus pada manusia, pemantauan epidemiologi pada manusia dan hewan, riset, hingga pemantauan dan evaluasi.
Indonesia juga sudah menyiapkan skenario apabila terjadi pandemi. Namun, persoalan terbesar adalah pada implementasi strategi itu. Dalam diskusi terungkap, tidak ada riset terpadu dan terarah mengenai dinamika virus AI di Indonesia, padahal virus ini termasuk jenis yang labil secara genetik dan mudah beradaptasi untuk menghindari pertahanan tubuh inang.
Belum ada riset untuk mengetahui hewan apa saja yang menjadi inang virus dan bagaimana penularannya ke manusia. Penelitian yang sudah ada baru menyebutkan hewan perantara penularan dari unggas ke manusia adalah babi. Padahal, dalam banyak kasus pada manusia, tidak terdapat babi di sekitar tempat tinggal penderita.
Tingkat pengetahuan masyarakat peternak sektor 3 (peternakan kecil tetapi tidak terarah) dan 4 (beternak di halaman) mengenai AI masih rendah. Misalnya di Bantul, ada peternak kecil yang mengaku tidak pernah diberi tahu mengenai AI dan tanda penyakit tersebut.
Titik kritis lain adalah keterbatasan pengetahuan tenaga kesehatan hewan yang sebenarnya menjadi ujung tombak penanggulangan AI.
Di sisi lain, penjelasan berulang kali tentang tersedianya Tamiflu memberi false security karena obat ini hanya bermanfaat pada 48 jam pertama. Itu pun hanya mengurangi lama sakit, bukan menyembuhkan, apalagi melindungi dari infeksi AI.
Langkah ke depan
Penanganan secara ilmiah, sistematis, terkoordinasi, dan komprehensif menjadi syarat penting penanggulangan AI melalui cara pengendalian dan pemberantasan, terutama pada hewan penyebab sebagai inang virus. Tanpa penanggulangan di hulu, apa pun upaya di hilir akan sia-sia.
Para ahli di dalam diskusi menyarankan penanganan berdasarkan penelitian ilmiah, bukan hanya kajian literatur. Penelitian harus terarah dan terkoordinasi tentang faktor yang memengaruhi terjadinya penyakit pada manusia dan hewan hingga ke tingkat biomolekuler agar pola dan sumber penularan semakin jelas.
Pengetahuan tentang hal ini akan menjelaskan tindakan lapangan yang harus dilakukan. Cara penanggulangan saat ini yang masih sama seperti ketika wabah pertama kali terjadi pada tahun 2003, yaitu pemusnahan terbatas dan vaksinasi, mungkin harus diperbaiki mengingat virus sudah ada di Indonesia dan menyebar luas ke-27 provinsi (hingga Juni 2006).
Salah satu contoh, di daerah Sulawesi Selatan yang semula ada wabah lalu unggasnya dimusnahkan dan kemudian di situ ada peternakan baru dengan unggas yang tampak sehat ternyata lalat di lokasi itu, berdasar penelitian peneliti AI UGM Prof drh Hastari Wuryastuti PhD MSc, menjadi inang virus H5N1 penyebab AI pada unggas.
Untuk memenuhi persyaratan penanganan secara ilmiah, mau tidak mau dibutuhkan laboratorium dengan klasifikasi biosafety level (BSL) 3 di UI, IPB, dan UGM, alat deteksi dini cepat di setiap tempat dengan akurasi tinggi, alat deteksi reverse transcriptase polymerase chain reaction (RT PCR) yang lebih teliti sebab terbukti virus H5N1 dapat mengelabui uji antibodi dan vaksinasi, dan bio-surveillance virus pada hewan secara teratur.
Kritik tajam juga ditujukan pada tidak adanya kerja sama harmonis antara Departemen Pertanian dan Departemen Kesehatan dari pucuk pimpinan hingga lapangan.
Di dalam diskusi juga diusulkan agar inisiatif masyarakat dilibatkan, seperti kesediaan aliansi Ikatan Dokter Indonesia dan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia, ikut dalam penanggulangan flu burung.
Dan yang tidak dapat diabaikan adalah diperlukan pemimpin dengan otoritas nasional dan internasional dalam bidang flu burung duduk di dalam Komnas Penanggulangan Flu Burung agar kepada luar negeri Indonesia juga punya otoritas menjelaskan posisinya dan meyakinkan negara donor agar memberi hibah bagi penanggulangan flu burung.
(Ninuk Mardiana Pambudy)


Do you Yahoo!?
Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail Beta. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **





YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke