[Dalam tanggapan saya di bawah ini ada kesalahan yang mengganggu:
"LEBIH DARIPADA" seharusnya "TIDAK LEBIH DARIPADA". /hudoyo]

Dari: Brianz Liu <[EMAIL PROTECTED]>

Salam sejahtera,

Aku terbentuk karena khayal dengan ketidak tahuan dan kebodohan 
melakukan dan memupuk karma melalui pikiran-ucapan-perbuatan dalam masa 
yang tak terhitung, sehingga membentengi, meyelubungi, melapisi dan 
mengelapkan ‘hakekat sejati’ hingga menganggap yang nyata adalah khayal 
dan yang khayal adalah nyata.

Bagi seseorang yg tercerah - AKU-nya telah tanggal ­ ada apa? Ada 
‘Sesuatu’ yang bebas dari segala terkondisian.

Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang 
Mutlak, Bhutata ­ Dharmakaya ­ Tao ­ Hakekat sejati - Atman ­ kesadaran 
kosmik dan yang dilabelkan padanya.

Apakah ‘Sesuatu’ yang katakanlah ‘mempengaruhi’ AKU dengan segala 
perangkat2nya dalam usaha melakukan upaya untuk menanggalkan AKU ?

Seperti yg diketahui :

Aku dengan perangkatnya sebagai ‘Pengamat’ - dalam usaha melakukan 
Pengamatan dan yg diamati itu juga adalah si pengamat sendiri. Atau kata 
lainnya aku mengamati aku.

Pengamatan pasif dalam vipassana dengan ‘tujuan’ atau ‘tanpa tujuan’ 
pada dasar pecapaiannya adalah menanggalkan sang AKU.

Apakah mungkin si Aku melakukan usaha untuk meniadakan Aku?

Sedangkan Tujuan - keinginan - Usaha ­ upaya dalam pengamatan baik pasif 
atau tidak, bukankah adalah perangkat, bagian dan merupakan si aku 
sendiri. bukankah hanya permainan berputar-putar saja.

Mungkinkah “Sesuatu” itulah yg memegang peranan penting dalam 
mempengaruhi ‘Aku’ untuk melakukan upaya secara alami dalam menyibak 
tabir lapisan dan kegelapan yang menyelubungi pada hakekat pencerahan, 
[salah satu cara adalah melakukan pengamatan pasif/vipassana] ???

Mohon pencerahannya… Att

=====================================
HUDOYO:

>Bagi seseorang yg tercerah - AKU-nya telah tanggal ­ ada apa? Ada 
>‘Sesuatu’ yang bebas dari segala terkondisian.
-------------
'Sesuatu'--yang dipersepsikan sebagai menggantikan 'aku' yang telah 
tanggal--itu TIDAK LEBIH DARIPADA daripada persepsi pikiran/intelek/si aku 
lagi, yang menegasikan persepsi sebelumnya tentang adanya 'aku'.

Di sisi lain, pikiran/intelek/si aku ini bisa pula mempersepsikan apa yang 
menggantikan 'aku' yang telah tanggal itu sebagai Kekosongan (Sunyata). 
'Kekosongan' jelas bukan 'sesuatu'. 

Persepsi tentang 'Kekosongan' ini lebih dekat kepada kenyataan faktualnya (yang 
tidak dapat ditangkap oleh pikiran/intelek/si aku) sekalipun tidak pas benar, 
dibandingkan persepsi tentang 'Sesuatu', yang mudah sekali menjadi "Tuhan", 
"Aku Sejati", "Kesadaran Semesta" dsb.

Di situlah pikiran/intelek/si aku itu akan berputar-putar atau terperangkap 
dalam enigma, teka-teki, pertanyaan-pertanyaan dan paradoks-paradoks ketika 
mencoba mempersepsikan apa yang ada ketika pikiran/intelek/si aku ini tanggal. 

Itulah selamanya nasib pikiran/intelek/si aku ketika ia mencoba mempersepsikan 
apa yang sesungguhnya berada di luar lingkup pengalamannya sendiri 
(transendental).

***

>Apakah ‘Sesuatu’ yang katakanlah ‘mempengaruhi’ AKU dengan segala 
>perangkat2nya dalam usaha melakukan upaya untuk menanggalkan AKU ?
------------
Kalau 'Sesuatu' itu bisa mempengaruhi si aku, berarti 'Sesuatu' itu bisa 
ber-relasi (berhubungan) dengan si aku itu sendiri. (Persis seperti persepsi 
manusia tentang Tuhan: Tuhan dipersepsikan bisa berhadapan dan berbicara dengan 
manusia.) Itu bertentangan dengan ide sebelumnya bahwa 'Sesuatu' itu ada ketika 
si aku itu tanggal.

Di sini lagi-lagi pikiran/intelek/si aku terjebak dalam teka-teki atau paradoks 
ketika mencoba memahami HUBUNGAN (relasi) antara apa yang transendental ("tak 
tercipta, .....dst") dengan apa yang "tercipta ..... dst".

Menurut pendapat saya, 'Sesuatu' itu--kalau ada--TIDAK MUNGKIN BER-RELASI 
dengan si aku. Tuhan yang sejati tidak mungkin berhubungan dengan si aku. 
Itulah sebabnya saya cenderung mengatakan 'Kekosongan', bukan 'Sesuatu'.

***

>Aku dengan perangkatnya sebagai ‘Pengamat’ - dalam usaha melakukan 
>Pengamatan dan yg diamati itu juga adalah si pengamat sendiri. Atau kata 
>lainnya aku mengamati aku.
>
>Pengamatan pasif dalam vipassana dengan ‘tujuan’ atau ‘tanpa tujuan’ 
>pada dasar pecapaiannya adalah menanggalkan sang AKU.
>
>Apakah mungkin si Aku melakukan usaha untuk meniadakan Aku?
----------------
Betul, si pengamat (aku) adalah yang diamati (aku)!
Oleh karena itu, tidak mungkin si pengamat meniadakan yang diamati.
Itu kalau pengamatan dilakukan secara aktif, dilakukan oleh si aku.

Lalu timbul pertanyaan, "Jadi apa yang mesti saya perbuat?"
TIDAK ADA yang bisa diperbuat oleh si aku untuk meniadakan aku.
Tidak mungkin AKU mencapai Nibbana,
Tidak mungkin AKU ketemu Tuhan.

Ada 'Pengamatan' yang bukan dilakukan oleh si aku; 'Pengamatan' seperti ini 
tidak bisa dipahami oleh pikiran/intelek/si aku, ia berada di luar lingkup 
pengalaman pikiran/intelek/si aku. Oleh karena itu, 'Pengamatan' seperti ini 
disebut 'pengamatan pasif'. Ada pengamatan, tapi tidak ada aku yang mengamati, 
pengamatan tanpa-aku.

***

>Sedangkan Tujuan - keinginan - Usaha ­ upaya dalam pengamatan baik pasif 
>atau tidak, bukankah adalah perangkat, bagian dan merupakan si aku 
>sendiri. bukankah hanya permainan berputar-putar saja.
--------------
Selama hal itu dicoba pahami oleh pikiran/intelek/si aku, memang kesimpulannya 
hanya berputar-putar saja.

Tapi, cobalah kembali pada ide:
TIDAK ADA yang bisa diperbuat oleh si aku untuk meniadakan aku.
Tidak mungkin AKU mencapai Nibbana,
Tidak mungkin AKU ketemu Tuhan.

Apakah KETIDAKBERDAYAAN aku dengan segala perangkatnya untuk "membebaskan diri" 
itu sudah disadari, dihayati, direalisir, secara aktual, pada saat kini, dengan 
seluruh hati dan pikiran, bukan sekadar DIPAHAMI SECARA INTELEKTUAL BELAKA? 

Kalau sudah, maka kesadaran/keelingan itu sendiri akan berproses dan BERBUAH, 
bukan lagi pikiran/intelek/si aku yang berfungsi. Maka tidak akan ada lagi 
pertanyaan intelektual yang bisa dan perlu diajukan. Di situ ada pengamatan 
tanpa si pengamat, tanpa aku, tanpa pikiran/intelek. 

Itulah MEDITASI.

Jadi kesimpulannya: 
Lepaskan pikiran/intelek, mulailah bermeditasi!
Selama orang tidak bisa melepaskan pikiran/intelek untuk memahami realita yg 
terdalam, maka ia akan SELAMANYA terperosok dalam pertanyaan dan paradoks. 
Sedangkan waktu berjalan terus. Tunggu apa lagi?

***

>Mungkinkah “Sesuatu” itulah yg memegang peranan penting dalam 
>mempengaruhi ‘Aku’ untuk melakukan upaya secara alami dalam menyibak 
>tabir lapisan dan kegelapan yang menyelubungi pada hakekat pencerahan, 
>[salah satu cara adalah melakukan pengamatan pasif/vipassana] ???
--------------
Sudah dijawab secara tersirat dalam uraian di atas secara keseluruhan.

Salam,
Hudoyo




Dari: Brianz Liu <[EMAIL PROTECTED]>

Salam sejahtera,

Aku terbentuk karena khayal dengan ketidak tahuan dan kebodohan 
melakukan dan memupuk karma melalui pikiran-ucapan-perbuatan dalam masa 
yang tak terhitung, sehingga membentengi, meyelubungi, melapisi dan 
mengelapkan ‘hakekat sejati’ hingga menganggap yang nyata adalah khayal 
dan yang khayal adalah nyata.

Bagi seseorang yg tercerah - AKU-nya telah tanggal ­ ada apa? Ada 
‘Sesuatu’ yang bebas dari segala terkondisian.

Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang 
Mutlak, Bhutata ­ Dharmakaya ­ Tao ­ Hakekat sejati - Atman ­ kesadaran 
kosmik dan yang dilabelkan padanya.

Apakah ‘Sesuatu’ yang katakanlah ‘mempengaruhi’ AKU dengan segala 
perangkat2nya dalam usaha melakukan upaya untuk menanggalkan AKU ?

Seperti yg diketahui :

Aku dengan perangkatnya sebagai ‘Pengamat’ - dalam usaha melakukan 
Pengamatan dan yg diamati itu juga adalah si pengamat sendiri. Atau kata 
lainnya aku mengamati aku.

Pengamatan pasif dalam vipassana dengan ‘tujuan’ atau ‘tanpa tujuan’ 
pada dasar pecapaiannya adalah menanggalkan sang AKU.

Apakah mungkin si Aku melakukan usaha untuk meniadakan Aku?

Sedangkan Tujuan - keinginan - Usaha ­ upaya dalam pengamatan baik pasif 
atau tidak, bukankah adalah perangkat, bagian dan merupakan si aku 
sendiri. bukankah hanya permainan berputar-putar saja.

Mungkinkah “Sesuatu” itulah yg memegang peranan penting dalam 
mempengaruhi ‘Aku’ untuk melakukan upaya secara alami dalam menyibak 
tabir lapisan dan kegelapan yang menyelubungi pada hakekat pencerahan, 
[salah satu cara adalah melakukan pengamatan pasif/vipassana] ???

Mohon pencerahannya… Att

=====================================
HUDOYO:

>Bagi seseorang yg tercerah - AKU-nya telah tanggal ­ ada apa? Ada 
>‘Sesuatu’ yang bebas dari segala terkondisian.
-------------
'Sesuatu'--yang dipersepsikan sebagai menggantikan 'aku' yang telah 
tanggal--itu TIDAK LEBIH DARIPADA daripada persepsi pikiran/intelek/si aku 
lagi, yang menegasikan persepsi sebelumnya tentang adanya 'aku'.

Di sisi lain, pikiran/intelek/si aku ini bisa pula mempersepsikan apa yang 
menggantikan 'aku' yang telah tanggal itu sebagai Kekosongan (Sunyata). 
'Kekosongan' jelas bukan 'sesuatu'. 

Persepsi tentang 'Kekosongan' ini lebih dekat kepada kenyataan faktualnya (yang 
tidak dapat ditangkap oleh pikiran/intelek/si aku) sekalipun tidak pas benar, 
dibandingkan persepsi tentang 'Sesuatu', yang mudah sekali menjadi "Tuhan", 
"Aku Sejati", "Kesadaran Semesta" dsb.

Di situlah pikiran/intelek/si aku itu akan berputar-putar atau terperangkap 
dalam enigma, teka-teki dan paradoks-paradoks ketika mencoba mempersepsikan apa 
yang ada ketika pikiran/intelek/si aku ini tanggal. 

Itulah selamanya nasib pikiran/intelek/si aku ketika ia mencoba mempersepsikan 
apa yang sesungguhnya berada di luar lingkup pengalamannya sendiri 
(transendental).

***

>Apakah ‘Sesuatu’ yang katakanlah ‘mempengaruhi’ AKU dengan segala 
>perangkat2nya dalam usaha melakukan upaya untuk menanggalkan AKU ?
------------
Kalau 'Sesuatu' itu bisa mempengaruhi si aku, berarti 'Sesuatu' itu bisa 
ber-relasi (berhubungan) dengan si aku itu sendiri. (Persis seperti persepsi 
manusia tentang Tuhan: Tuhan dipersepsikan bisa berhadapan dan berbicara dengan 
manusia.) Itu bertentangan dengan ide sebelumnya bahwa 'Sesuatu' itu ada ketika 
si aku itu tanggal.

Di sini lagi-lagi pikiran/intelek/si aku terjebak dalam teka-teki atau paradoks 
ketika mencoba memahami HUBUNGAN (relasi) antara apa yang transendental ("tak 
tercipta, .....dst") dengan apa yang "tercipta ..... dst".

Menurut pendapat saya, 'Sesuatu' itu--kalau ada--TIDAK MUNGKIN BER-RELASI 
dengan si aku. Tuhan yang sejati tidak mungkin berhubungan dengan si aku. 
Itulah sebabnya saya cenderung mengatakan 'Kekosongan', bukan 'Sesuatu'.

***

>Aku dengan perangkatnya sebagai ‘Pengamat’ - dalam usaha melakukan 
>Pengamatan dan yg diamati itu juga adalah si pengamat sendiri. Atau kata 
>lainnya aku mengamati aku.
>
>Pengamatan pasif dalam vipassana dengan ‘tujuan’ atau ‘tanpa tujuan’ 
>pada dasar pecapaiannya adalah menanggalkan sang AKU.
>
>Apakah mungkin si Aku melakukan usaha untuk meniadakan Aku?
----------------
Betul, si pengamat (aku) adalah yang diamati (aku)!
Oleh karena itu, tidak mungkin si pengamat meniadakan yang diamati.
Itu kalau pengamatan dilakukan secara aktif, dilakukan oleh si aku.

Lalu timbul pertanyaan, "Jadi apa yang mesti saya perbuat?"
TIDAK ADA yang bisa diperbuat oleh si aku untuk meniadakan aku.
Tidak mungkin AKU mencapai Nibbana,
Tidak mungkin AKU ketemu Tuhan.

Ada 'Pengamatan' yang bukan dilakukan oleh si aku; 'Pengamatan' seperti ini 
tidak bisa dipahami oleh pikiran/intelek/si aku, ia berada di luar lingkup 
pengalaman pikiran/intelek/si aku. Oleh karena itu, 'Pengamatan' seperti ini 
disebut 'pengamatan pasif'. Ada pengamatan, tapi tidak ada aku yang mengamati, 
pengamatan tanpa-aku.

***

>Sedangkan Tujuan - keinginan - Usaha ­ upaya dalam pengamatan baik pasif 
>atau tidak, bukankah adalah perangkat, bagian dan merupakan si aku 
>sendiri. bukankah hanya permainan berputar-putar saja.
--------------
Selama hal itu dicoba pahami oleh pikiran/intelek/si aku, memang kesimpulannya 
hanya berputar-putar saja.

Tapi, cobalah kembali pada ide:
TIDAK ADA yang bisa diperbuat oleh si aku untuk meniadakan aku.
Tidak mungkin AKU mencapai Nibbana,
Tidak mungkin AKU ketemu Tuhan.

Apakah KETIDAKBERDAYAAN aku dengan segala perangkatnya untuk "membebaskan diri" 
itu sudah disadari, dihayati, direalisir, secara aktual, pada saat kini, dengan 
seluruh hati dan pikiran, bukan sekadar DIPAHAMI SECARA INTELEKTUAL BELAKA? 

Kalau sudah, maka kesadaran/keelingan itu sendiri akan berproses dan BERBUAH, 
bukan lagi pikiran/intelek/si aku yang berfungsi. Maka tidak akan ada lagi 
pertanyaan intelektual yang bisa dan perlu diajukan. Di situ ada pengamatan 
tanpa si pengamat, tanpa aku, tanpa pikiran/intelek. 

Itulah MEDITASI.

Jadi kesimpulannya: 
Lepaskan pikiran/intelek, mulailah bermeditasi!
Selama orang tidak bisa melepaskan pikiran/intelek untuk memahami realita yg 
terdalam, maka ia akan SELAMANYA terperosok dalam pertanyaan dan paradoks. 
Sedangkan waktu berjalan terus. Tunggu apa lagi?

***

>Mungkinkah “Sesuatu” itulah yg memegang peranan penting dalam 
>mempengaruhi ‘Aku’ untuk melakukan upaya secara alami dalam menyibak 
>tabir lapisan dan kegelapan yang menyelubungi pada hakekat pencerahan, 
>[salah satu cara adalah melakukan pengamatan pasif/vipassana] ???
--------------
Sudah dijawab secara tersirat dalam uraian di atas secara keseluruhan.

Salam,
Hudoyo







** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke