Artikel jawaban dari Sdr. Tan membuka mata saya pada konsep yang lebih 
seimbang.
Sebelumnya saya hanya memandang dari satu sisi.

Great review, Bro Tan

Khai


** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 
--- Begin Message ---
Namo Buddhaya,

Artikel yang sangat bagus, menarik, dan nampaknya tidak berat 
sebelah. Saya tambahkan OOT., karena sebenarnya artikel ini mungkin 
tidak ada hubungannya dengan Buddhisme. Saya akan memberikan 
beberapa pandangan saya. Semoga menarik bagi penggemar politik 
internasional.

>  Saat Israel Membunuh Anak-anak 

TAN:

Meskipun isinya tidak berat sebelah, saya menyayangkan bahwa 
mengapa dalam judulnya hanya disertakan kata "Israel" saja. 
Bukankah Hizbullah (Libanon) dan Hamas juga sering melakukan 
penyerangan menyebabkan kematian anak-anak Israel?

> Kejahatan yang tak terampunkan! Bila ada agama, Tuhan, ideologi, 
atau kepentingan bangsa, ras, dan golongan yang membenarkan 
pembunuhan anak-anak, terkutuklah iman dan kepentingan semacam 
itu. 

TAN:
Benar sekali, karena itu bila ada golongan yang mengatas namakan 
agama tertentu di Indonesia dan mendukung salah satu pihak adalah 
juga sesuatu yang tidak dapat dibenarkan. Kebencian tidak dapat 
dimusnahkan dengan kebencian, kebencian hanya dapat dihentikan 
dengan cinta kasih. Memihak salah satu pihak yang bertikai justru 
akan menciptakan makin banyak ketidak-seimbangan. Menurut 
Daoisme, justru keseimbangan ini harus dipulihkan dan bukannya 
menciptakan ketidak-seimbangan yang baru. Menurut saya, kalau kita 
mau belajar sejarah, konflik Israel-Palestina atau Bosnia - Serbia 
tidaklah didominasi agama. Ini adalah semata-mata dendam sejarah.

> Pembunuhan brutal 37 anak-anak, kebanyakan balita, di Qana, 
Lebanon selatan, oleh pengeboman Israel, Minggu (30/7), adalah 
kejahatan tak terampunkan. 

TAN:

Bagaimana dengan bom bunuh diri intifada yang juga melukai orang tak 
berdosa sebelum ini? Mengapa hanya Israel yang disorot? Semua 
kekerasan adalah buruk, siapapun pelakunya.

> Membunuh itu kejahatan  
> Ketika enam juta Yahudi dibantai Hitler, solidaritas kemanusiaan kita 
memuncak. Para korban, Yahudi dan lainnya, adalah manusia yang 
sama dengan kita, tengkorak yang dibalut darah, daging, air mata, 
kesedihan, dan kegembiraan. 

TAN:

Mengapa film Schindler List dahulu dilarang di Indonesia? Justru saya 
melihat bahwa film itu sarat nuansa kemanusiaan. Kalau kita mau 
belajar humanisme tontonlah film tersebut. Tontonlah juga: The Pianist 
dan Anne Frank.

> Namun, ketika Pemerintah Israel mengatasnamakan bangsa Yahudi 
membunuh manusia tanpa pandang bulu, anak-anak, wanita, dan orang 
tua di Palestina serta Lebanon—sama brutalnya saat mereka dibantai 
Hitler di Jerman dan Eropa—kita dihadapkan pertanyaan, mengapa 
korban sama biadabnya dengan pelaku? "Apakah karena garis pemisah 
antara baik dan buruk melintas di tengah hati semua manusia?" Tanya 
Solzhenitsyn dalam The Gulag Archipelago. 

TAN:

Mengatas-namakan bangsa Yahudi? Apakah maksudnya perkataan 
ini? Sebenarnya tujuan Israel melakukan serangan adalah 
membebaskan dua perajuritnya yang diculik, walaupun cara yang 
dilakukannya sangat berlebihan. Israel berpikir bahwa itulah cara agar 
pihak lawan jera dan tidak melakukan tindakan semacam itu lagi. Jadi 
cara terbaik adalah masing2 pihak hendaknya tidak bertindak 
berlebihan.


> Israel menjajah serta membantai orang Palestina, dan kini 
membantai anak-anak di Qana. Hitler, Stalin, Taliban, dan Israel 
menjalankan terorisme negara, atas nama ras, ideologi, agama, dan 
nasionalisme. 

TAN:

Terorisme negara itu sudah pasti tidak dapat dibenarkan. Israel 
memang membantai Palestina. Tetapi apakah kita mengetahui bahwa 
Israel sendiri sebenarnya tidak berniat melakukannya? Apakah kita 
pernah mengetahui bahwa Israel dengan menyesal meminta maaf pada 
warga Arab yang rumahnya rusak kena bom dan memberikan ganti rugi 
kepada mereka? Apakah kita tidak tahu bahwa bangsa Palestina 
semasa PDII pernah membantai pula bangsa Yahudi. kita tidak pernah 
tahu bahwa mufti agung Palestina berkunjung pada Hitler dan 
mendukung rencananya dalam pemusnahan bangsa Yahudi dari muka 
bumi ini. Beberapa kali mufti mengunjungi kamp konsentrasi dan 
memuji Hitler. Ia bahkan mengangkat Hitler sebagai pelindung Islam 
dengan gelar Abu Ali. Ini sejarah nyata, dimana saya pernah melihat 
sendiri rekaman dokumentasinya di Jerman. Jelas sekali terlihat bahwa 
mufti mengangkat tangannya memberikan salam fasis di depan Hitler. 
Ini juga ada di wikipedia.org. Dari Berlin, mufti menyerukan umatnya 
untuk membunuh semua orang Yahudi yang mereka jumpai dan 
dengan segera pembantaian terhadap bangsa Yahudi merebak di Timur 
Tengah. Mengapa sejarah ini tidak pernah diajarkan di Indonesia. Saya 
tidak membela Israel, tetapi setidaknya ini akan menjadi pengimbang 
bagi wawasan kita. Sekarang ini presiden Iran menyatakan bahwa 
holocaust tidak pernah ada. Pernyataan ini sungguh mengerikan. Bagi 
yang pernah berada di Jerman, holocaust itu NYATA! Perasaan saya 
selalu merasa tertusuk-tusuk kalau melihat kamp konsentrasi atau foto-
foto korban holocaust. Kalau saya mengatakannya di sini, Anda tidak 
akan percaya. Sungguh mengerikan! Tidak dapat dipercaya bahwa 
seorang tokoh spiritual seperti mufti akan mengeluarkan pernyataan 
mendukung holocaust seperti itu. Betapa menderitanya bangsa Yahudi 
saat itu, ada yang kehilangan, suami, istri, ayah, ibu, anak, kerabat, 
dan lain sebagainya. 

> Tentu tak semua orang Yahudi ingin membantai atau berperang, 
Sebagian mengutuk kebiadaban Pemerintah Israel. Demikian pula 
orang Palestina, Arab, Lebanon, ataupun Hezbollah, tidak semuanya 
ingin berperang meski tetap menuntut hak rakyat Palestina. 

TAN:

Kita tidak pernah tahu sejarah, bahwa dulu dalam Deklarasi Balfour, 
Inggris sudah bersedia membagi tanah Palestina. Hanya saja bangsa 
Arab yang tidak mau. Inggris sudah berkata pada mereka: "Bangsa 
Arab mereka tanah yang begitu luas, sedangkan bangsa Yahudi tidak 
punya sejengkalpun." Kalau Anda lihat pada peta dunia, maka wilayah 
yang dipunya bangsa Barat adalah 100 kali lebih luas dibandingkan 
dengan Tanah Palestina. Sesudah Perang Dunia II usai, mufti dari 
tempat pengasingannya di Mesir menyerukan agar negara2 Arab 
jangan mengakui Israel, sehingga menimbulkan ketegangan di kawasan 
Timur Tengah. Bangsa Arab lalu bersatu padu menyerang Israel, tetapi 
hanya dalam waktu enam hari pasukan mereka berhasil mendesak 
keluar pasukan gabungan Mesir, Siria, dan Yordania. Ia bahkan 
berhasil menduduki wilayah Sinai dan sebagian Yordania. Presiden 
Anwar Sadar dari Mesir akhirnya mengakui Israel dan menjadi negara 
Arab pertama yang mengakui kedaulatan Israel dan wilayah Sinai 
dikembalikan pada Mesir. 
Setelah Perang Dunia II hingga saat ini, bangsa Arab pun masih 
mengeluarkan kata-kata permusuhan pada Israel. Jika demikian kapan 
perdamaian akan dicapai?

Ketika sebagian orang Israel dan Hezbollah yang mencintai kekerasan 
dan kematian (necrophilian), berperang, mereka bersalah karena 
mencabut nyawa manusia, serta menimbulkan penderitaan pada 
manusia. 
> Tak diperlukan ayat suci untuk menyatakan Israel salah karena 
membunuh orang Palestina dan Lebanon serta mengagresi tanah air 
mereka. Hezbollah juga tak luput dari kesalahan bila menjadikan 
penduduk sipil Israel sebagai sasaran peluru kendalinya. Tidak ada 
keraguan untuk mengatakan, keduanya bersalah karena meniscayakan 
kematian manusia untuk tujuan masing-masing. 

TAN:

Benar karena itu, sudah saatnya dendam sejarah dihapuskan agar 
terjadi perdamaian.
>
 Sebenarnya, tidak ada perang yang niscaya untuk mencabut Israel 
ataupun Hezbollah dari muka bumi. Tentu yang niscaya adalah 
dikembalikannya tanah Palestina kepada orang Palestina dan hidup 
damai berdampingan dengan Israel. 

TAN:

Masalahnya sudah nyata. Bangsa Palestina tidak mau hidup 
berdampingan dengan Israel. Tujuan Hizbullah dan Hamas adalah 
menendang seluruh bangsa Yahudi ke lautan. Jika demikian 
bagaimana mungkin kita berbicara masalah "hidup damai 
berdampingan dengan Israel"?

Kejahatan yang niscaya adalah terhadap umat manusia bila perang 
diteruskan kedua pihak. Bila ada yang berniat ikut berperang di pihak 
Hezbollah atau Israel, tindakan ini termasuk upaya mengabadikan 
kejahatan terhadap umat manusia. Perang adalah kejahatan, karena 
membunuh manusia adalah kejahatan! 

TAN:

Benar sekali!

> Di mana solidaritas kemanusiaan dan akal sehat di dunia yang kini 
saling membunuh? Bisakah kemanusiaan kita merangkak naik 
mengatasi dilema Yahudi, dilema korban pelaku? 
> Sembari menegaskan kelirunya gagasan yang membenarkan orang 
mencabut nyawa manusia, atas nama Meinkampf, Manifesto Komunis, 
Injil, Al Quran, Zabur, Weda, Zionisme, nasionalisme, sosialisme, 
demokrasi, atau apa pun juga. 

TAN:

Benar sekali!

> Demokrasi global  
> Bumi ternyata datar, ketidakseimbangan ekonomi, politik, dan militer 
global langsung mengarahkan dunia kepada kehancuran bersama. 
Perang Lebanon, Irak, Afganistan, dan kemandulan PBB tak luput dari 
ketidakseimbangan ini. Bahkan, cita-cita membangun keadilan, 
kebebasan, dan kesetaraan melalui gerakan demokrasi global menjadi 
compang-camping karena dimanipulasi Amerika Serikat (AS) dan 
sekutunya sebagai panji untuk menyerang Irak, Afganistan, dan negara 
lain yang tidak mau tunduk di bawah kepentingan ekonomi-politik 
mereka. 

TAN:

Kenapa Amerika yang selalu disalahkan? Jika Amerika disalahkan 
mengapa kita mau menerima bantuan mereka?

> Atas nama demokrasi-manipulatif, jutaan manusia terbunuh dan 
menderita di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.  
> Pelajaran besar dari gejolak politik dunia ini adalah, pertama, 
revitalisasi demokrasi global, merumuskan kembali cita-cita, institusi, 
dan program demokrasi global yang substantif, bukan manipulatif di 
tengah keberagaman kehidupan global. Mendorong sekuatnya 
kesetaraan ekonomi, sosial, dan keuangan global. Bila negara-negara 
G-8 tetap menguasai 51 persen output industri global, 49 persen ekspor 
global, dan 49 persen aset di IMF, maka perang dan kehancuranlah 
ujung dunia. 

TAN:

Mengapa kita selalu mengeluh demikian? Mengapa kita tidak berjuang 
saja agar menjadi setara dengan negara G-8?

> Kedua, revitalisasi PBB, menjadikan lembaga ini representasi 
demokrasi dunia, di mana tiap negara anggota punya hak suara sama. 
Idealnya, sebuah pemerintahan dunia dengan partisipasi warga dunia. 
Tidak lagi menjadi sarana negara adidaya mengukuhkan kepentingan, 
seperti tercermin di Dewan Keamanan. 
> Ketiga, revitalisasi solidaritas kemanusiaan, mengenali, dan 
meminimalisir kejahatan kemanusiaan yang bersarang pada gagasan 
serta keyakinan manusia yang secara ironis membalikkan perilaku 
biadab pelaku kepada korban. Sehingga, simpati kita kepada 
pengorbanan Yahudi di masa Hitler menjadi ironi kemanusiaan yang 
mematikan solidaritas dan kepercayaan (trust) global. Akibat buruknya, 
Yahudi dianggap musuh agama, Tuhan, dan bangsa-bangsa. Anomali 
kemanusiaan inilah yang melanda Indonesia kini. 
> Percayalah, saat manusia dibunuh, entah Yahudi, Lebanon, 
Palestina, Indonesia, apalagi anak-anak tak berdosa di Qana, diri kita 
pun ikut terbunuh. Si korban—sang Habil—adalah kita, kemanusiaan kita. 
> M Fadjroel Rachman Ketua Lembaga Pengkajian Demokrasi dan 
Negara Kesejahteraan (Pedoman Indonesia) 

TAN:

Karena itu balik lagi, kita perlu ajaran Buddha. Kebencian tidak dapat 
dibalas dengan kebencian. Kebencian hanya dapat diredakan dengan 
cinta kasih. 

Metta,

Tan






** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links



 





--- End Message ---

Kirim email ke