--- Begin Message ---
Namo Buddhaya,
Artikel yang sangat bagus, menarik, dan nampaknya tidak berat
sebelah. Saya tambahkan OOT., karena sebenarnya artikel ini mungkin
tidak ada hubungannya dengan Buddhisme. Saya akan memberikan
beberapa pandangan saya. Semoga menarik bagi penggemar politik
internasional.
> Saat Israel Membunuh Anak-anak
TAN:
Meskipun isinya tidak berat sebelah, saya menyayangkan bahwa
mengapa dalam judulnya hanya disertakan kata "Israel" saja.
Bukankah Hizbullah (Libanon) dan Hamas juga sering melakukan
penyerangan menyebabkan kematian anak-anak Israel?
> Kejahatan yang tak terampunkan! Bila ada agama, Tuhan, ideologi,
atau kepentingan bangsa, ras, dan golongan yang membenarkan
pembunuhan anak-anak, terkutuklah iman dan kepentingan semacam
itu.
TAN:
Benar sekali, karena itu bila ada golongan yang mengatas namakan
agama tertentu di Indonesia dan mendukung salah satu pihak adalah
juga sesuatu yang tidak dapat dibenarkan. Kebencian tidak dapat
dimusnahkan dengan kebencian, kebencian hanya dapat dihentikan
dengan cinta kasih. Memihak salah satu pihak yang bertikai justru
akan menciptakan makin banyak ketidak-seimbangan. Menurut
Daoisme, justru keseimbangan ini harus dipulihkan dan bukannya
menciptakan ketidak-seimbangan yang baru. Menurut saya, kalau kita
mau belajar sejarah, konflik Israel-Palestina atau Bosnia - Serbia
tidaklah didominasi agama. Ini adalah semata-mata dendam sejarah.
> Pembunuhan brutal 37 anak-anak, kebanyakan balita, di Qana,
Lebanon selatan, oleh pengeboman Israel, Minggu (30/7), adalah
kejahatan tak terampunkan.
TAN:
Bagaimana dengan bom bunuh diri intifada yang juga melukai orang tak
berdosa sebelum ini? Mengapa hanya Israel yang disorot? Semua
kekerasan adalah buruk, siapapun pelakunya.
> Membunuh itu kejahatan
> Ketika enam juta Yahudi dibantai Hitler, solidaritas kemanusiaan kita
memuncak. Para korban, Yahudi dan lainnya, adalah manusia yang
sama dengan kita, tengkorak yang dibalut darah, daging, air mata,
kesedihan, dan kegembiraan.
TAN:
Mengapa film Schindler List dahulu dilarang di Indonesia? Justru saya
melihat bahwa film itu sarat nuansa kemanusiaan. Kalau kita mau
belajar humanisme tontonlah film tersebut. Tontonlah juga: The Pianist
dan Anne Frank.
> Namun, ketika Pemerintah Israel mengatasnamakan bangsa Yahudi
membunuh manusia tanpa pandang bulu, anak-anak, wanita, dan orang
tua di Palestina serta Lebanonsama brutalnya saat mereka dibantai
Hitler di Jerman dan Eropakita dihadapkan pertanyaan, mengapa
korban sama biadabnya dengan pelaku? "Apakah karena garis pemisah
antara baik dan buruk melintas di tengah hati semua manusia?" Tanya
Solzhenitsyn dalam The Gulag Archipelago.
TAN:
Mengatas-namakan bangsa Yahudi? Apakah maksudnya perkataan
ini? Sebenarnya tujuan Israel melakukan serangan adalah
membebaskan dua perajuritnya yang diculik, walaupun cara yang
dilakukannya sangat berlebihan. Israel berpikir bahwa itulah cara agar
pihak lawan jera dan tidak melakukan tindakan semacam itu lagi. Jadi
cara terbaik adalah masing2 pihak hendaknya tidak bertindak
berlebihan.
> Israel menjajah serta membantai orang Palestina, dan kini
membantai anak-anak di Qana. Hitler, Stalin, Taliban, dan Israel
menjalankan terorisme negara, atas nama ras, ideologi, agama, dan
nasionalisme.
TAN:
Terorisme negara itu sudah pasti tidak dapat dibenarkan. Israel
memang membantai Palestina. Tetapi apakah kita mengetahui bahwa
Israel sendiri sebenarnya tidak berniat melakukannya? Apakah kita
pernah mengetahui bahwa Israel dengan menyesal meminta maaf pada
warga Arab yang rumahnya rusak kena bom dan memberikan ganti rugi
kepada mereka? Apakah kita tidak tahu bahwa bangsa Palestina
semasa PDII pernah membantai pula bangsa Yahudi. kita tidak pernah
tahu bahwa mufti agung Palestina berkunjung pada Hitler dan
mendukung rencananya dalam pemusnahan bangsa Yahudi dari muka
bumi ini. Beberapa kali mufti mengunjungi kamp konsentrasi dan
memuji Hitler. Ia bahkan mengangkat Hitler sebagai pelindung Islam
dengan gelar Abu Ali. Ini sejarah nyata, dimana saya pernah melihat
sendiri rekaman dokumentasinya di Jerman. Jelas sekali terlihat bahwa
mufti mengangkat tangannya memberikan salam fasis di depan Hitler.
Ini juga ada di wikipedia.org. Dari Berlin, mufti menyerukan umatnya
untuk membunuh semua orang Yahudi yang mereka jumpai dan
dengan segera pembantaian terhadap bangsa Yahudi merebak di Timur
Tengah. Mengapa sejarah ini tidak pernah diajarkan di Indonesia. Saya
tidak membela Israel, tetapi setidaknya ini akan menjadi pengimbang
bagi wawasan kita. Sekarang ini presiden Iran menyatakan bahwa
holocaust tidak pernah ada. Pernyataan ini sungguh mengerikan. Bagi
yang pernah berada di Jerman, holocaust itu NYATA! Perasaan saya
selalu merasa tertusuk-tusuk kalau melihat kamp konsentrasi atau foto-
foto korban holocaust. Kalau saya mengatakannya di sini, Anda tidak
akan percaya. Sungguh mengerikan! Tidak dapat dipercaya bahwa
seorang tokoh spiritual seperti mufti akan mengeluarkan pernyataan
mendukung holocaust seperti itu. Betapa menderitanya bangsa Yahudi
saat itu, ada yang kehilangan, suami, istri, ayah, ibu, anak, kerabat,
dan lain sebagainya.
> Tentu tak semua orang Yahudi ingin membantai atau berperang,
Sebagian mengutuk kebiadaban Pemerintah Israel. Demikian pula
orang Palestina, Arab, Lebanon, ataupun Hezbollah, tidak semuanya
ingin berperang meski tetap menuntut hak rakyat Palestina.
TAN:
Kita tidak pernah tahu sejarah, bahwa dulu dalam Deklarasi Balfour,
Inggris sudah bersedia membagi tanah Palestina. Hanya saja bangsa
Arab yang tidak mau. Inggris sudah berkata pada mereka: "Bangsa
Arab mereka tanah yang begitu luas, sedangkan bangsa Yahudi tidak
punya sejengkalpun." Kalau Anda lihat pada peta dunia, maka wilayah
yang dipunya bangsa Barat adalah 100 kali lebih luas dibandingkan
dengan Tanah Palestina. Sesudah Perang Dunia II usai, mufti dari
tempat pengasingannya di Mesir menyerukan agar negara2 Arab
jangan mengakui Israel, sehingga menimbulkan ketegangan di kawasan
Timur Tengah. Bangsa Arab lalu bersatu padu menyerang Israel, tetapi
hanya dalam waktu enam hari pasukan mereka berhasil mendesak
keluar pasukan gabungan Mesir, Siria, dan Yordania. Ia bahkan
berhasil menduduki wilayah Sinai dan sebagian Yordania. Presiden
Anwar Sadar dari Mesir akhirnya mengakui Israel dan menjadi negara
Arab pertama yang mengakui kedaulatan Israel dan wilayah Sinai
dikembalikan pada Mesir.
Setelah Perang Dunia II hingga saat ini, bangsa Arab pun masih
mengeluarkan kata-kata permusuhan pada Israel. Jika demikian kapan
perdamaian akan dicapai?
Ketika sebagian orang Israel dan Hezbollah yang mencintai kekerasan
dan kematian (necrophilian), berperang, mereka bersalah karena
mencabut nyawa manusia, serta menimbulkan penderitaan pada
manusia.
> Tak diperlukan ayat suci untuk menyatakan Israel salah karena
membunuh orang Palestina dan Lebanon serta mengagresi tanah air
mereka. Hezbollah juga tak luput dari kesalahan bila menjadikan
penduduk sipil Israel sebagai sasaran peluru kendalinya. Tidak ada
keraguan untuk mengatakan, keduanya bersalah karena meniscayakan
kematian manusia untuk tujuan masing-masing.
TAN:
Benar karena itu, sudah saatnya dendam sejarah dihapuskan agar
terjadi perdamaian.
>
Sebenarnya, tidak ada perang yang niscaya untuk mencabut Israel
ataupun Hezbollah dari muka bumi. Tentu yang niscaya adalah
dikembalikannya tanah Palestina kepada orang Palestina dan hidup
damai berdampingan dengan Israel.
TAN:
Masalahnya sudah nyata. Bangsa Palestina tidak mau hidup
berdampingan dengan Israel. Tujuan Hizbullah dan Hamas adalah
menendang seluruh bangsa Yahudi ke lautan. Jika demikian
bagaimana mungkin kita berbicara masalah "hidup damai
berdampingan dengan Israel"?
Kejahatan yang niscaya adalah terhadap umat manusia bila perang
diteruskan kedua pihak. Bila ada yang berniat ikut berperang di pihak
Hezbollah atau Israel, tindakan ini termasuk upaya mengabadikan
kejahatan terhadap umat manusia. Perang adalah kejahatan, karena
membunuh manusia adalah kejahatan!
TAN:
Benar sekali!
> Di mana solidaritas kemanusiaan dan akal sehat di dunia yang kini
saling membunuh? Bisakah kemanusiaan kita merangkak naik
mengatasi dilema Yahudi, dilema korban pelaku?
> Sembari menegaskan kelirunya gagasan yang membenarkan orang
mencabut nyawa manusia, atas nama Meinkampf, Manifesto Komunis,
Injil, Al Quran, Zabur, Weda, Zionisme, nasionalisme, sosialisme,
demokrasi, atau apa pun juga.
TAN:
Benar sekali!
> Demokrasi global
> Bumi ternyata datar, ketidakseimbangan ekonomi, politik, dan militer
global langsung mengarahkan dunia kepada kehancuran bersama.
Perang Lebanon, Irak, Afganistan, dan kemandulan PBB tak luput dari
ketidakseimbangan ini. Bahkan, cita-cita membangun keadilan,
kebebasan, dan kesetaraan melalui gerakan demokrasi global menjadi
compang-camping karena dimanipulasi Amerika Serikat (AS) dan
sekutunya sebagai panji untuk menyerang Irak, Afganistan, dan negara
lain yang tidak mau tunduk di bawah kepentingan ekonomi-politik
mereka.
TAN:
Kenapa Amerika yang selalu disalahkan? Jika Amerika disalahkan
mengapa kita mau menerima bantuan mereka?
> Atas nama demokrasi-manipulatif, jutaan manusia terbunuh dan
menderita di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
> Pelajaran besar dari gejolak politik dunia ini adalah, pertama,
revitalisasi demokrasi global, merumuskan kembali cita-cita, institusi,
dan program demokrasi global yang substantif, bukan manipulatif di
tengah keberagaman kehidupan global. Mendorong sekuatnya
kesetaraan ekonomi, sosial, dan keuangan global. Bila negara-negara
G-8 tetap menguasai 51 persen output industri global, 49 persen ekspor
global, dan 49 persen aset di IMF, maka perang dan kehancuranlah
ujung dunia.
TAN:
Mengapa kita selalu mengeluh demikian? Mengapa kita tidak berjuang
saja agar menjadi setara dengan negara G-8?
> Kedua, revitalisasi PBB, menjadikan lembaga ini representasi
demokrasi dunia, di mana tiap negara anggota punya hak suara sama.
Idealnya, sebuah pemerintahan dunia dengan partisipasi warga dunia.
Tidak lagi menjadi sarana negara adidaya mengukuhkan kepentingan,
seperti tercermin di Dewan Keamanan.
> Ketiga, revitalisasi solidaritas kemanusiaan, mengenali, dan
meminimalisir kejahatan kemanusiaan yang bersarang pada gagasan
serta keyakinan manusia yang secara ironis membalikkan perilaku
biadab pelaku kepada korban. Sehingga, simpati kita kepada
pengorbanan Yahudi di masa Hitler menjadi ironi kemanusiaan yang
mematikan solidaritas dan kepercayaan (trust) global. Akibat buruknya,
Yahudi dianggap musuh agama, Tuhan, dan bangsa-bangsa. Anomali
kemanusiaan inilah yang melanda Indonesia kini.
> Percayalah, saat manusia dibunuh, entah Yahudi, Lebanon,
Palestina, Indonesia, apalagi anak-anak tak berdosa di Qana, diri kita
pun ikut terbunuh. Si korbansang Habiladalah kita, kemanusiaan kita.
> M Fadjroel Rachman Ketua Lembaga Pengkajian Demokrasi dan
Negara Kesejahteraan (Pedoman Indonesia)
TAN:
Karena itu balik lagi, kita perlu ajaran Buddha. Kebencian tidak dapat
dibalas dengan kebencian. Kebencian hanya dapat diredakan dengan
cinta kasih.
Metta,
Tan
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta
kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas
dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua,
para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
--- End Message ---