Dari: "JUSWAN" <[EMAIL PROTECTED]>
Yang penting meditasi itu bukan tujuan akhir. Meditasi dalam Katolik adalah
sarana menuju Kontemplasi yaitu perenungan ayat-ayat kitab suci. Bahwa meditasi
secara teknis menimbulkan keheningan itu sesuatu yang wajar. keheningan tidak
pernah menjadi suatu tujuan akhir. Keheningan dibutuhkan supaya kita dapat
berdoa dengan lebih syahdu, lebih mendalam. Meditasi memungkinkan terjadinya
dialog di mana Tuhan hadir dalam keheningan dan berbisik melalui suara hati
nurani yang biasanya tertutup karena hiruk pikuk dan polusi suara di atmosfir
dunia makromosmos maupun mikrokosmos kita.
Sikap yang tidak perduli kepada segala macam dogma juga merupakan sesuatu sikap
yang KELIRU karena dogma merupakan bagian daripada unsur dan sumber iman kita.
Tuhan juga menciptakan akal untuk mempelajari dogma-dogma tersebut dan tentunya
ada juga penalarannya yang logis. Di dalam gereja dikenal suatu slogan "Fides
quaerens intellectum" yang artinya "Akal budi menuntut/mencari logika iman".
Hati-hati dengan kata 'intellectus' karena artinya bukanlah 'logika rasional'
melainkan 'logika iman'.
Salam,
Mang Iyus
===========================
HUDOYO:
Anda menanggapi meditasi Marcus yang bukan 'meditasi Katolik' tradisional,
sekalipun Marcus seorang Katolik, dengan bicara tentang meditasi Katolik.
Dalam MMD ('meditasi mengenal diri' -- berasal dari ajaran Buddha Gautama, tapi
sudah saya kemas ulang menjadi bersifat "sekuler", mengikuti pendekatan J
Krishnamurti) yang dilakukan oleh Marcus, pemeditasi berada pada SAAT KINI.
Dalam keadaan itu tidak ada 'masa lampau' dan 'masa depan', tidak ada 'waktu',
yang semuanya hanya ada di dalam pikiran. Oleh karena tidak ada 'waktu', maka
tidak ada pula apa yang dinamakan 'tujuan akhir'. Dengan kata lain, dalam MMD
"tujuan akhir" tidak berbeda dengan "cara", the end = the means, yakni 'berada
pada saat kini'.
Sepanjang pengetahuan saya, dalam mistisisme Kristen/Katolik, ada
bertingkat-tingkat doa:
- doa permohonan
- doa pujian
(dua-duanya menggunakan kata-kata secara intelektual-rasional)
- doa kontemplasi
(tidak lagi menggunakan kata-kata intelektual, melainkan 'rasa' dan 'imajinasi')
- doa hening
(tidak ada lagi kontemplasi)
Jadi, KEHENINGAN yang sejati mengatasi (mentransendensikan) doa permohonan, doa
pujian maupun doa kontemplasi. Informasi lebih lanjut tentang
tingkatan-tingkatan doa itu bisa dicari di internet: WCCM (World Community for
Christian Meditation) dipimpin oleh Romo Lawrence Freeman, seorang Benediktin.
(Romo ini pernah datang ke Indonesia pada 1994, dan saya ikuti retretnya di
Cipanas.)
Segala macam dogma dan teologi adalah produk pikiran manusia; oleh karena itu
tidak pernah lengkap & utuh, karena selamanya terkondisi (conditioned),
selamanya parsial, dan tidak pernah bisa membebaskan diri dari dualitas
subyek-obyek ("aku - engkau"). Padahal subject matter-nya (apa yang dinamakan
"Tuhan") mengatasi keterkondisian, sifat parsial dan dualitas. Dengan demikian
teologi yang satu selalu bisa dinegasikan oleh teologi yang lain, dan dengan
demikian tidak akan ada akhirnya; tidak pernah ada "teologi universal". Teologi
bukan jalan menuju Pencerahan dan Pembebasan, yang hanya bisa dicapai dalam
keheningan batin ketika pikiran dan si aku berakhir, dalam pengalaman mistikal.
("DIAMLAH, dan ketahuilah Aku Tuhan!" -- Mazmur) Teologi hanya menghasilkan
kepuasan intelektual, yang tidak lain hanyalah sebentuk puas-diri.
Jadi, bagi seorang yang telah memperoleh pengalaman mistikal, segala macam
dogma, teologi & imannya semula tidak relevan lagi. Ia mungkin membuangnya sama
sekali; tapi mungkin pula ia tetap mempertahankannya, namun memberikan
interpretasi terhadapnya yang lain daripada interpretasi orang awam kebanyakan.
Pemahaman Anda tentang "Fides quaerens intellectum" tampaknya terbalik;
seharusnya "Iman mencari pemahaman/pembenaran akal budi" ("Faith seeking
understanding"). 'Akal budi' (intellect) justru adalah daya batin manusia yang
rasional, tidak ada 'akal budi' yang irrasional. Sedangkan iman adalah daya
batin manusia yang lain dari 'akal budi', berbeda dari 'akal budi'. Jadi tidak
heran kalau Rekan Adhi Purwono mempertanyakan tentang istilah "logika iman",
yang jelas-jelas merupakan 'contradictio in terminis'.
Salam,
Hudoyo
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta
kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas
dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua,
para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/