| Kompas, Jumat, 01 September 2006 |
| Lumpur Panas Juru Kunci Makam Pun Menganggur Laksana Agung Saputra Pohon kemboja meranggas di Pekuburan Dusun Balongnongo, Desa Renokenongo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Lumpur panas telah menyebabkan pohon mengering dan daunnya berguguran. Aroma bunga kemboja terkubur bau lumpur. Ratusan nisan makam juga terendam lumpur. Juru kunci makam, Abdul Hadi (55), yang biasanya membersihkan makam setiap hari, kini kehilangan pekerjaannya. Ia tidak bisa lagi membersihkan rumput liar atau menegakkan nisan yang miring karena genangan lumpur panas di areal pemakaman tersebut. Sejak lumpur panas menyembur dari pengeboran PT Lapindo Brantas, 29 Mei lalu, kini Hadi hanya duduk-duduk termenung di tempat penampungan pengungsi di Balai Desa Renokenongo,
Kecamatan Porong. Ia bahkan tak tahu pasti apa yang harus dilakukan sekarang dan bagaimana hari esok harus dijalaninya. "Meskipun kecil, sebenarnya uang itu sangat berarti buat kehidupannya sehari-hari," kata Hadi. Besarnya iuran pemeliharaan makam hanya Rp 5.000 per tahun untuk setiap rumah. Di Dusun Balongnongo terdapat 207 rumah. Dengan demikian, dalam setahun Hadi menerima Rp 1,03 juta. Artinya, setiap bulan upahnya hanya Rp 86.000. Upah tersebut dipungutnya setiap Agustus. Namun, Abdul Hadi harus menarik sendiri iuran itu dari rumah ke rumah. "Karena sekarang makam terendam lumpur, tidak enak jika masih harus tetap menarik iuran," ujarnya dengan nada lirih. Menjelang Ramadhan dan saat Lebaran
sebenarnya merupakan saat yang paling menggembirakan bagi Abdul Hadi. Saat itulah biasanya banyak peziarah yang memberikan tambahan uang pemeliharaan makam. Namun, Ramadhan dan Lebaran tahun ini pastilah menjadi Ramadhan dan Lebaran kelabu bagi Hadi. Tidak akan ada peziarah yang datang karena pemakaman tersebut telah berubah menjadi kolam lumpur. Hadi bukan hanya kehilangan rezeki, tetapi juga kehilangan pekerjaan. Kehilangan pekerjaan Bukan cuma Abdul Hadi yang kehilangan pekerjaan akibat semburan lumpur panas itu. Ribuan buruh pabrik di Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, juga mengalami nasib serupa setelah tempat mereka bekerja terendam lumpur. Sampai saat ini tercatat 24 pabrik
yang terendam lumpur panas. Akibatnya, 1.766 buruh industri itu kehilangan pekerjaan. Jumlah ini belum termasuk ribuan buruh industri kecil dan rumah tangga yang banyak terdapat di Kecamatan Porong, Tanggulangin, dan Jabon, tiga wilayah yang praktis berubah menjadi lautan lumpur panas. Menurut perkiraan, jumlah buruh yang kehilangan pekerjaan akan terus bertambah karena semakin hari areal genangan lumpur semakin meluas. Saat ini saja sudah sekitar 320 hektar lahan yang tergenang lumpur panas, meliputi wilayah tujuh desa. Selain merendam 1.820 rumah dan dua kantor, lumpur panas juga merendam 216 hektar sawah. Itu artinya tidak sedikit pula petani yang kehilangan sumber nafkahnya. Selain itu, 73 hektar kebun tebu juga ikut terendam sehingga petani tak bisa menggarap lahannya. Bagi setiap buruh pabrik yang kehilangan pekerjaan, PT Lapindo Brantas telah memberikan santunan Rp 700.000 per bulan. Bantuan tersebut telah dicairkan sebanyak dua kali, yakni pada 29 Juni dan 20 Juli bagi buruh 15 perusahaan. "Namun, tidak santunan seperti itu bagi buruh seperti kami," kata seorang buruh industri rumah tangga. Ketua Dewan Pengurus Cabang Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Sidoarjo Didik Bagio Utomo mengatakan, sejauh ini sangat sulit memantau nasib para buruh yang tersebar di berbagai lokasi. Apalagi para buruh itu juga sibuk menyelamatkan diri, keluarga, dan harta benda yang masih mereka miliki dari genangan lumpur. Mereka juga kesulitan berkoordinasi karena genangan lumpur telah menyebar ke mana-mana. "Soal uang jaminan Rp 700.000, belum ada kepastian sampai kapan akan diterima buruh.
Bagaimana nasib buruh setelah pabrik terendam? Semuanya belum jelas," kata Didik. Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Sidoarjo Bambang Suhartono Widagdo menyatakan, tidak gampang memperjuangkan nasib buruh di tengah kondisi darurat seperti sekarang ini. Baik buruh maupun pengusaha berada dalam posisi yang sulit karena tidak bisa memprediksi sampai kapan lumpur panas akan terus menyembur dan menggenangi wilayah itu. Di tengah ketidakpastian ini, Abdul Hadi menengok Pekuburan Dusun Balongnongo. Kakinya berjingkat di antara nisan kayu yang terbenam lumpur. Sesaat hatinya "berziarah" ke satu tempat untuk berkeluh kesah kepada leluhur tentang dusun dan peradabannya yang kini terkubur lumpur. |
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has
the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
__._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
__,_._,___
