Dari bangkok, kami naik bus malam ke Udorn Thani, menuju Wat Pa Baan Thad, sebuah vihara hutan yang sangat terkenal dengan master meditasinya, Luang Ta Maha Boowa, yang 12 Agustus lalu merayakan hari ulang tahunnya yang ke 93.
Yang membuat saya ingin ke vihara ini, karena disini terkenal sebagai tempat latihan yang ideal. Ada beberapa teman; yang pernah datang dan latihan disini; ada kuti kecil yang disediakan, tanpa listrik, tanpa fasilitas apapun, untuk mandi dan masak, bisa dilakukan di kuti besar yang tidak jauh dari hutan. Dan katanya, ada beberapa peserta yang datang dengan membawa anak dan itu diijinkan.
 
Sesampainya di Udorn Thani, kami harus menyewa taxi untuk sampai ke daerah Wat Pa BaanThad, tempatnya benar-benar terpencil tetapi jalan sudah teraspal rapi. Menurut informasi, jalan menuju vihara ini diperbaiki dengan menggunakan dana umat yang disumbangkan ke Luang Ta.
 
Setelah perjalanan yang melelahkan, akhirnya sampai juga. Sebelum bisa tinggal disini, kita mesti melapor ke polisi hutan yang menjaga didepan vihara, memberikan photocopy passport dan menunggu sampai ada yang membantu. Bagi teman-teman yang ingin kesana, sebaiknya minta bantuan beberapa orang Indonesia yang sudah ada disana; karena penggunaan bahasa yang sangat terbatas (kita tidak bisa Thai dan mereka tidak bisa berbahasa Inggris), akan sangat menyulitkan komunikasi.
 
Suasana hutan lebih menyenangkan daripada bayangan saya semula. Komunitas Meici dan anagarika sangat banyak, mungkin ratusan; datang dari berbagai penjuru dunia dan yang sangat amazing, mayoritas adalah single woman atau mereka yang sudah pensiun dan tidak terbebani lagi dengan urusan mengurus anak. Untuk komunitas praktis antara perempuan dan laki-laki dipisahkan dan masing-masing tidak diperbolehkan untuk saling mengunjungi jadi saya tidak familiar untuk yang laki-laki tapi yang saya dengar; katanya yang laki-laki lebih strict, mayoritas dianjurkan untuk ambil silent retreat.
 
Dhilan, anak saya, cukup gembira disana, ada banyak anjing dan kucing serta ayam yang menemaninya. Supaya diam dan tidak menganggu, saya kasih beras dan minta Dhilan untuk kasih makan ayam. Kenyataannya, selain ayam, anjing dan kucing juga dikasih beras, katanya kasihan kalau tidak kebagian J.
 
Mengenai kegiatan kami selama 4 hari di vihara hutan;
-Pagi hari diawali dengan bersih-bersih dan mandi; setelah itu menyiapkan makanan untuk dana ke bhikkhu.
-Jam 6.30-7.30am, semua sudah standby di tepi jalan yang dilalui oleh para bhikkhu untuk memberikan dana makanan. Umumnya berupa makanan rumah dan mereka bungkus dengan rapi di kantong plastik, per porsi, diberikan sebagai dana. Ada sekitar 200 bhikkhu dan samanera yang berdiam disini.
-Jam 8am, kebaktian dimulai dan dilanjutkan dengan makan pagi bersama di lantai dasar vihara; setelah itu Luang Ta akan memberikan ceramah pagi yang disiarkan ke seluruh penjuru Thailand lewat radio. Sayangnya semua diberikan dalam Bahasa Thailand; so kami Cuma bisa mendengar umat yang lain tertawa tetapi tidak mengerti apa yang ditertawakan. Dari banyaknya suara ketawa yang terdengar, Luang Ta kayaknya lucu juga kalau berceramah. Beliau sudah berusia 93 tahun tetapi masih mampu berjalan sendiri tanpa harus dituntun.
-Karena dana makanan yang diberikan umat itu jumlahnya sangat luar biasa banyaknya; mungkin faktor berita yang beredar di masyarakat bahwa Luang Ta sudah mencapai tingkat kesucian tertinggi yaitu Arahant dan menurut mereka dana kepada Arahant adalah dana yang paling mulia.....,makanan selalu berlimpah. Begitu Luang Ta selesai makan pagi bersama para bhikkhu dan samanera, ada sukarelawan yang membag-bagikan makanan ke kuti-kuti, tempat komunitas praktis di vihara ini. Setelah itu, baru diberikan kepada penduduk setempat. Karena hampir semua dana makanan dibungkus plastik dan diporsi, maka tingkat hygienenya dapat terjaga walaupun sudah berpindah tangan beberapa kali. Walaupun tidak ada keharusan untuk melaksanakan 8 sila tetapi kebanyakan dari mereka melaksanakannya.
-Setelah Luang Ta selesai ceramah dan mereka bubaran, ada session special untuk para non-Thai untuk berdiskusi dengan Ajahn Dick, asisten Luang Ta yang berkebangsaan Amerika. Sesi dengan Ajahn Dick adalah tanya jawab, umumnya seputar meditasi karena mayoritas yang datang kesini adalah untuk latihan meditasi.
-Jam 11am, kami balik ke kuti besar, untuk makan pagi.
-Jam 11.30am, semua acara pagi sudah selesai dan balik ke kuti masing-masing dan acara bebas pun dimulai; ada yang meditasi, ada yang ke kota untuk belanja bahan makanan untuk dana keesokan harinya, etc.
 
Tips bagi yang ingin datang dan membawa anak; waktu malam adalah tantangan terberat karena suasananya benar-benar gelap gulita, tanpa penerangan, anak kecil umumnya belum terbiasa. Malam pertama, Dhilan menangis minta pulang, setelah capek menangis baru tertidur, untuk itu saya sempat didatangi hampir semua yang ada disekitar kuti saya; ada yang simpatik, ada yang ngomel. Malam kedua, sebelum gelap, jam 5 sore, saya sudah bawa Dhilan ke kuti dan tidak keluar-keluar lagi, sekitar kuti saya nyalakan lilin dan secara terus menerus bila lilin redup dan habis, saya ganti terus sampai Dhilan tertidur. Bawa senter lebih dari satu, ada teman yang bawa senter 2 biji tapi semuanya ngadat. Karena suasananya di hutan, disini banyak sekali makhluk-makhluk yang tidak kelihatan, saya tidak bisa melihat tapi suasananya memang agak angker di malam hari. Tetapi, dilihat dari sisi lain, saya dan anak saya, have a really good time here, tidak diganggu dan tidak merasakan apapun. Mungkin ini tergantung kekuatan pikiran juga. Saya dan Dhilan tinggal di kuti yang cukup terpencil dan hanya kami berdua, karena teman yang lain dari Indonesia, ditempatkan di kuti yang terpisah. Umumnya satu kuti ditempati oleh satu orang saja karena kecil sekali.
 
Saya sangat menikmati 4 hari disini,walaupun tantangan terbesar saya adalah Dhilan. Karena tidak mungkin bisa berlatih sambil menjaga anak usia 3 tahun, maka, Power Rangers pun beraksi. Saya bawakan buku menggambar, pensil warna dan boneka power rangers yang jumlahnya 5 buah. Sementara dia asyik dengan mainannya, saya bisa mencuri waktu untuk berlatih. Sejujurnya, tidak bisa full seperti yang lain karena kalau dia bosan, maka dia akan mengajak saya untuk menemaninya main power rangers. Tetapi balik ke tujuan semula kenapa saya ingin ke vihara hutan dan mengajak anak saya; saya ingin spend time dengan dia, quality dan quantity time; karena selama di Jakarta, saya terlalu sibuk bekerja dan juga kenyamanan karena ada pembantu, kadang membuat kita jadi terlena. Yang ingin saya latih disini adalah kesabaran karena anak saya sudah menjadi semakin nakal. Meditasi kesabaran.
 
Melihat banyak dari teman-teman di vihara hutan yang single dan memiliki banyak waktu untuk berlatih, sempat terpikir juga, kenapa dulu saya tidak memilih single aja ya........ (Sysst, don’t tell my husband J). Banyak sekali wanita single disini, dan mereka tidak terbebani dengan status single karena komunitas mereka banyak sekali yang single. Target mereka adalah menjadi Arahant seperti master mereka, Luang Ta Maha Boowa.
Menurut Pin, teman saya yang juga memilih untuk single di usianya yang hampir seumur dengan mama saya; cowok yang baik, hampir semuanya menjadi bhikkhu, sedangkan sisanya ada di kehidupan malam bangkok; either jadi penjudi, bandar narkoba atau germo, sisanya lagi yang sebagian kecil sudah menjadi suami orang. Tinggal option yang lebih bagus adalah menjadi Single. Menurut mereka, kehidupan sebagai manusia adalah sesuatu yang langka, adalah sangat sia-sia kalau kita tidak mempergunakannya dengan baik dengan berlatih meditasi. Kehidupan rumah tangga bukanlah sebuah bentuk yang ideal. Umumnya kita menikah dan punya anak, menjaga anak sampai besar, biaya hidup dan biaya pendidikan sangat mahal, maka kita akan sibuk bekerja dan menabung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan itu semua, mana ada waktu untuk berlatih lagi........
Well, teman-teman saya disana, menasehati saya; ”Jen, mumpung belum terlanjur, jangan tambah anak lagi, satu sudah cukup. Didik dengan baik, setelah besar, you will get your time. Kalau tambah anak lagi, harus start dari awal lagi, at least harus tunggu beberapa tahun lagi………….”
 
Terus ada lagi yang bilang,” Jen, terkadang kita melakukan sesuatu karena tekanan orang lain, punya anak harus dua, biar anak kita ada temannya. Atau karena teman-teman dan keluarga kita bilang begitu. Seharusnya kita lakukan sesuatu yang membuat kita gembira, yang menjalani hidup kita adalah kita sendiri, kenapa kita harus mengikuti standard orang lain……”
 
Di tulisan berikut tentang Thailand Trip, akan saya ceritakan perjalanan saya kembali ke Bangkok dan belajar dari Ajahn Sulak dan teman-temannya.


Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **





YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke