Saatnya Menyeleksi Tontonan di Layar Kaca
EDNA C PATTISINA & CHRIS PUDJIASTUTI
Beberapa keluarga mengambil kembali kendali waktu yang selama ini dipegang televisi. Mereka bernegosiasi demi menyaring informasi yang positif dan cocok dari sekian banyak pilihan yang ada.
Mira Amir, ibu dari Aya (12) dan Mudhya (6), sudah sejak anak tertuanya berusia balita membatasi acara televisi yang bisa ditonton di rumah. Peraturannya, setiap hari hanya 1-2 jam saja waktu menonton televisi. Itu pun harus selalu di bawah pengawasan Mira. Tujuannya, agar ia bisa menjelaskan kepada anak apa yang ada di layar kaca.
"Soalnya, banyak sinetron, bahkan yang katanya buat semua umur seperti Bajaj Bajuri aja, kadang-kadang kan ada dialog yang nyerempet-nyerempet porno," katanya.
Kiat membatasi nonton televisi juga diterapkan Fenny Purnawan yang bernegosiasi dengan anak-anaknya, Gana (11), Smita (9), dan Anggi (7), tentang waktu belajar dan menonton televisi.
Ibu yang baru memiliki seorang bayi itu membuat kesepakatan dengan anak-anaknya. Mereka boleh nonton acara kartun anak-anak, asalkan siang harinya sudah belajar.
"Tetapi sudah sebulan ini mereka enggak belajar, jadi yah, mereka enggak boleh nonton, kecuali akhir pekan," cerita Fenny (40).
Mendisiplinkan waktu menonton televisi bukan hal mudah. Setiyadi
(41), ayah dari Katia (8) dan Gusti (3,5), misalnya, mendapat halangan paling keras justru dari dirinya sendiri, sebagai penggemar televisi. Pada awalnya ia berpikir, sebagai pencari nafkah keluarga ia berhak menikmati saat santai usai pulang kerja. Biasanya, usai "menikmati" kemacetan selama satu setengah jam, Setiyadi nongkrong di depan televisi.
"Dua minggu pertama rasanya aneh sekali. Kami sampai beli album Samsons terus joget-joget di rumah," cerita pria yang kini untuk diri sendiri pun memilih menonton kilasan berita pada malam hari ketika anak-anak sudah tidur.
Sedangkan Niken (37) sempat mendapat tentangan dari suami saat hendak menyingkirkan televisi yang sudah menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Suaminya yang gemar sepak bola akhirnya mengerti, apalagi Niken kemudian menyediakan komputer, radio, koran, dan banyak buku bacaan
di rumah.
Membatasi waktu menonton
Membatasi waktu menonton oleh orangtua memang ditujukan terutama untuk anak-anak. Namun, kehadiran pembantu rumah tangga, kakek-nenek, atau anggota keluarga lain tak bisa dinihilkan begitu saja. Mau tidak mau, negosiasi juga harus dilakukan dengan mereka.
Seperti yang dilakukan Setiyadi, dia sempat mencabut antena televisi di rumah sehingga kedua pembantu rumah tangga pun tidak bisa menonton. Kini, walaupun sudah membuat aturan baru dengan mengatur jam-jam menonton televisi, setiap minggu ia membelikan mereka empat tabloid gosip dan hiburan sebagai kompensasi.
Keberadaan pembantu rumah tangga, terutama untuk pasangan yang bekerja, menjadi signifikan
dalam usaha ini. Setiyadi kini percaya para pembantu tak lagi menonton televisi pada siang hari, karena ia beberapa kali mengeceknya.
Niken Suryatmini, ibu dari Bulan (6,5) dan Banu (4), bahkan khusus cuti sebulan di luar tanggungan kantor untuk mengajari pembantunya mendongeng.
"Jadi selama saya di kantor, mereka bisa mendongeng supaya anak-anak dapat pengaruh baik," kata Niken yang memberikan izin jalan-jalan hari Sabtu dan Minggu kepada para pembantu sebagai kompensasi tak menonton televisi.
Berbagai acara televisi yang bagi orangtua dianggap bisa memberi pengaruh tak baik bagi anak- anak, dijadikan alasan utama para orangtua untuk menjauhkan mereka dari layar kaca.
Menurut Mira (35), tidak hanya
acara sinetron yang dipenuhi adegan marah-marah, tetapi juga film kartun yang bisa memicu agresivitas. Dia juga melihat beberapa acara drama komedi menyerempet hal-hal porno, hingga iklan yang salah kaprah, seperti iklan tes kehamilan yang menggunakan model gadis muda.
Sama seperti Mira yang terkejut mendengar anak keduanya menyanyikan lagu yang sedang populer saat ini tentang "sedang ingin bercinta", Setiyadi juga merasa tidak terima saat tahu anak pertamanya hafal cerita sinetron dan mulai menggunakan banyak kosakata dari acara tersebut.
Di sisi lain, menurut Fenny, terlalu banyak menonton televisi membuat anak terasing dari lingkungan sekitarnya.
"Mata mereka itu seperti terpaku di depan televisi, sampai- sampai kalau dipanggil enggak sadar," kata Fenny.
Membongkar koleksi
Walau demikian, Fenny dan Mira menganggap ada beberapa acara dalam televisi yang masih bisa diterima, bahkan dianjurkan untuk ditonton anak-anak. Fenny yang berlangganan televisi kabel malah kerap memanggil anak- anaknya saat ia melihat ada acara yang menarik, misalnya, acara tentang sejarah perang dunia, atau proses pembuatan video klip penyanyi.
"Sambil nonton televisi aku ingatkan mereka kalau penyanyi seperti Britney Spears itu kerja keras. Dia juga harus olahraga teratur untuk bisa tampil seperti itu. Jadi mereka enggak cuma lihat rumah besar atau mobil mewahnya saja," kata Fenny.
Waktu menonton televisi yang diambil kembali orangtua, lalu diisi dengan berbagai
kegiatan. Walaupun upaya ini disadari jauh lebih berat daripada sekadar memencet remote control untuk mengganti saluran acara. Namun, mereka yang berhasil menjauhkan televisi dari anak-anak, mengaku puas dengan hasil yang dicapai.
Niken misalnya, setelah hidup enam bulan tanpa televisi, sudah bisa membuat pola waktu sendiri bagi keluarga. Ia kini memiliki waktu membaca setiap malam, sekitar pukul 19.00-20.00. Waktu ini ia gunakan untuk mendongeng dan menjawab pertanyaan anak-anak tentang berbagai hal. Anak-anak juga ia biasakan membaca buku, serta memupuk imajinasi mereka lewat radio dan aktivitas motorik sehari-hari.
"Seperti ketika gempa Yogya, kata-kata penyiar di radio menjadi bahan untuk mengembangkan skenario drama di rumah," kata Niken yang mengoleksi sekitar 560 judul buku di rumahnya di kawasan Cireundeu, Tangerang.
Setiyadi yang sempat membongkar koleksi kaset-kaset lamanya kini belajar main gitar ditemani anaknya yang memainkan harmonika. Berawal dari membaca kumpulan artikel pada situs tentang autis, yang menyebutkan anak autis bisa dibantu latihan konsentrasi dengan mematikan televisi, ia menerapkan hal itu demi anak keduanya, Gusti.
Di rumah, tidak ada yang boleh menonton televisi kalau ada Gusti. Setiyadi pun kerap memilih nonton film lewat laptop dalam perjalanan dari kantor ke rumah. Dia sendiri menonton televisi setelah anak-anak tidur.
Kini, Setiyadi merasa ada peningkatan kualitas interaksi dengan Gusti. Setiap malam keluarga ini kerap bermain bersama, mengelilingi Gusti, mengajaknya bercanda, dan bertepuk tangan kalau si kecil berhasil melakukan sesuatu.
Dengan anak pertama dan istrinya, Setiyadi pun kini lebih intensif memberikan waktunya. Mulai dari membantu belajar hingga ngobrol tentang kegiatan sehari-hari.
"Saya tadinya tidak sadar kalau selama ini televisi sudah menyita begitu banyak waktu interaksi dalam keluarga," katanya.
Ketika televisi dimatikan
Mira Amir juga menggunakan waktu tak menonton televisi dengan meminta anak-anaknya belajar. Meski memegang buku pelajaran, tetapi bila televisi menyala, pikiran mereka bisa terbang entah ke mana.
Kondisi ini berbeda saat televisi dimatikan. Anaknya menjadi lebih aktif bertanya kepadanya. Mira menanamkan pada si
anak bahwa membatasi jam menonton televisi bisa membuat dia punya waktu untuk mempelajari bab baru dari pelajaran di sekolah. Setelah setahun berjalan, si anak bisa merasakan sendiri faedahnya.
"Anak saya jadi senang karena dia mendapat nilai lebih bagus, dan dia juga sering mendapat pujian dari gurunya karena sudah tahu saat diberi pelajaran baru," kata Mira.
Mira juga berencana bertindak proaktif dalam menghadapi acara televisi. Mira yang psikolog dan teman-teman akan membuat rating usia untuk setiap acara televisi.
Masih panjang perjalanan menuju acara televisi yang menghibur sekaligus berkualitas dan mendidik. Beberapa keluarga mengatasi masalah itu dengan mengendalikan informasi yang masuk ke ruang keluarga. Mereka tidak menyerah pasrah pada sebuah kotak bernama
televisi.
J u n a i d i
Tibetan Language & Buddhist Philosophy
Tibetan Language & Buddhist Philosophy
Library of Tibetan Works & Archives
Centre for Tibetan Study & Research
Gangchen Kyishong Dharamsala - 176215
Himachal Pradesh - I n d i a
Phone.: Tel: +91 189 2222 467
Fax.: +91 189 2223 723
"May I become at all times, both now and forever; a protector for those without protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack of shelter; and a servant to all in need"---Bodhicharyavatara~ Shantideva
Phone.: Tel: +91 189 2222 467
Fax.: +91 189 2223 723
"May I become at all times, both now and forever; a protector for those without protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack of shelter; and a servant to all in need"---Bodhicharyavatara~ Shantideva
Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business. __._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
__,_._,___
