Kompas, Jumat, 15 September 2006
ASEM, Lingkungan, dan Aceh
Fandri Yuniarti
"Dunia di ambang bencana! Setidaknya 1.365 pakar mengingatkan soal kerusakan lingkungan yang harus segera ditangani, mulai dari masalah pembabatan hutan sampai krisis air bersih."
Demikian diungkapkan Olav Kjorven, Direktur Bidang Lingkungan dan Energi United Nation Development Program (UNDP) dalam diskusi yang diselenggarakan Asia-Europe Foundation (ASEF) di Helsinki, Finlandia, 9 September lalu. Diskusi itu diikuti sekitar 30 wartawan dari Asia dan Eropa.
Kjorven juga mengingatkan bahwa pada tahun 2005 penduduk dunia sudah tercatat 6,5 miliar. Kalau melihat kecenderungan selama ini, jumlah penduduk dunia akan terus bertambah. Karena itu, tentunya sangat ironis kalau masyarakat kurang peduli terhadap masalah lingkungan dan energi, mengingat kebutuhan akan semakin meningkat sementara sumber daya alam habis terkuras.
Diskusi pagi itu juga tak lepas dari pembicaraan tentang mengapa masalah lingkungan ini kurang mendapat perhatian publik. "Kemungkinan karena para peneliti tidak terlalu menggebu-gebu mengemukakan hasil temuan mereka sehingga hasil penelitian terkait kurang menggema," kata Kjorven memberi alasan. Namun, Patrick Daniel (Singapura), yang tampil sebagai moderator, mengatakan, "Bukankah hal ini karena pers gagal mengampanyekan masalah lingkungan ini?" Jawaban terhadap pertanyaan terakhir itu tentunya beragam, mulai dari kurangnya kesadaran publik sampai lemahnya pemerintahan. Di Indonesia, misalnya, kata salah seorang peserta, penegakan hukum dinilai masih sangat lemah. "Undang- undang yang berkaitan dengan masalah lingkungan pun belum memadai, sementara korupsi berlangsung di mana-mana. Jadi bagaimana masalah lingkungan bisa ditangani dengan baik?"
Masalah lingkungan dan energi dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan berkaitan dengan pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi Pertemuan Asia-Eropa (ASEM) Ke-6 di Helsinki memang mendapat tempat tersendiri. Perdana Menteri Finlandia Matti Vanhanen—saat menjamu peserta diskusi makan pagi—hari Sabtu itu juga menekankan bahwa KTT ASEM kali ini tidak hanya membicarakan ancaman dan tantangan global, tapi juga soal Deklarasi tentang Perubahan Iklim. "Secara umum ASEM memang membahas berbagai tantangan global yang harus ditangani bersama oleh negara Asia dan Eropa, termasuk soal demokrasi di Myanmar. Namun, kami juga akan membuat Deklarasi tentang Perubahan Iklim," ujarnya.
Sehari sebelumnya Prof Akio Morishima dan Dr David Stanners—dalam lokakarya bertema "Kontribusi Asia-Eropa dalam Kelanjutan Pembangunan dan Penyelamatan Energi" yang diikuti kalangan lembaga swadaya masyarakat (LSM), bisnis, dan akademisi—di Helsinki menggambarkan bagaimana peningkatan kebutuhan energi dunia hingga tahun 2050. Ia mengungkapkan, kebutuhan energi (bahan bakar minyak) dunia pada tahun 2050 akan dua kali lipat dari kebutuhan pada tahun 1990. Pertumbuhan kebutuhan itu, lanjutnya, lebih cepat di negara-negara berkembang (lihat grafik).
Dapat dikatakan, sebagian besar forum yang diselenggarakan berkaitan dengan KTT ASEM di Helsinki menekankan bahwa saat ini sudah waktunya negara-negara Asia dan Eropa bekerja sama menyelamatkan lingkungan dan energi. "Patut diingat bahwa negara peserta ASEM mewakili 40 persen populasi dunia, 50 persen GDP global, dan 60 persen perdagangan dunia," kata mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari dalam suatu simposium tanggal 8 September lalu. Karena itu, kalau negara anggota ASEM bisa bekerja sama, bukan mustahil masalah lingkungan dan energi dapat diatasi secara baik.
Manfaat ASEM
Kerja sama negara-negara peserta ASEM—yang terdiri dari 25 negara anggota Uni Eropa, 10 negara ASEAN, serta China, Jepang, dan Korea Selatan—sejak KTT ASEM Ke-1 di Bangkok tahun 1996 hingga kini terus berkembang, tidak melulu di bidang ekonomi. Eropa memang merupakan pasar bagi ekspor Asia Timur serta sumber modal dan teknologi utama. Di sisi lain, Asia Timur merupakan pasar bagi Eropa. Meski demikian, kerja sama itu belakangan sudah sampai soal penanganan terorisme. Namun, sebagaimana diutarakan Martti Ahtisaari, kerja sama itu lebih mengarah ke dialog informal.
Salah satu contoh yang sederhana, kata Ahtisaari, adalah kerja sama Eropa dengan Indonesia soal Aceh Damai. "Itu contoh kerja sama di bidang penanganan krisis," katanya. Kerja sama tersebut, lanjutnya, lebih banyak dalam bentuk dialog informal yang mengarah ke satu kesepakatan bersama.
Ahtisaari mengakui, keberhasilan mendamaikan kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah Indonesia setidaknya ditentukan oleh enam faktor. Pertama, ada kemauan politik dari kedua pihak, GAM dan Pemerintah Indonesia. Kedua, adanya keterampilan dan kemauan para pihak untuk bernegosiasi. Ketiga, berlangsung pada waktu yang tepat. Keempat, berkaitan dengan bencana tsunami di Aceh yang menelan lebih dari 200.000 jiwa manusia. "Pascatsunami perhatian dunia, termasuk anggota GAM yang berada di luar negeri, terpusat ke Nanggroe Aceh Darussalam. Hal ini pula yang mengetuk hati para anggota GAM di luar negeri untuk segera bekerja sama membangun daerah bencana tersebut," kata Ahtisaari. Kelima, proses perdamaian berlangsung multi-arah. Artinya, tidak hanya melibatkan para pihak dan fasilitator, tetapi juga memanfaatkan jasa LSM dan sejumlah negara kunci. Keenam, ada pengawasan fungsional yang baik, yakni ada Misi Pemantau Aceh (AMM).
Contoh nyata yang diungkapkan Ahtisaari itu tentunya tidak berarti bahwa kerja sama ASEM sudah memuaskan semua anggotanya. Berdasarkan sejumlah tulisan yang dipublikasikan berkaitan dengan penyelenggaraan KTT ASEM Ke-6 itu terkesan bahwa sesungguhnya negara-negara ASEAN serta China belumlah merasakan nikmatnya kerja sama ASEM. "Namun, yang pasti, kerja sama ini selalu diupayakan berlangsung secara transparan dan adil," kata Presiden Komisi Eropa Jose Manuel Barroso, saat hadir dalam jamuan makan pagi bersama Vanhanen hari Sabtu itu. "Selain itu, kewajiban negara maju adalah menciptakan teknologi dan mentransfer pengetahuan kepada mereka yang tidak mampu," Vanhanen menambahkan.
Perlu perhatian bersama
Apa pun jenis kerja sama ASEM, masalah lingkungan memang sepatutnya sudah mendapat perhatian serius dunia. Meski bari-baru ini ilmuwan cuaca di Amerika Serikat menyatakan bahwa lapisan ozon pelindung Bumi yang menipis pada tahun 1980 mungkin dapat pulih sepenuhnya sekitar abad pertengahan ini, dampak dari perubahan iklim setidaknya sekarang ini sudah dirasakan di banyak tempat, terutama di Indonesia. Sebagaimana dikemukakan Yayasan Pelangi dalam catatan akhir tahun 2005, sebagian besar wilayah Indonesia mengalami peningkatan suhu permukaan 0,5-1 derajat Celsius dibandingkan dengan rata-rata tahun 1951-1980. Peningkatan suhu permukaan Bumi terutama disebabkan peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. "Tahun 2005 merupakan tahun terpanas sejak seabad terakhir. Secara global, Bumi mengalami peningkatan suhu 0,8 derajat Celsius sejak seabad lalu," demikian peringatan Yayasan Pelangi.
Suhu yang semakin meningkat, menurut Yayasan Pelangi, sejalan dengan peningkatan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer. GRK dihasilkan oleh kegiatan manusia, seperti penggunaan bahan bakar fosil, terutama pada pembangkit listrik dan kendaraan bermotor, kegiatan industri, serta penebangan hutan.
Pakar lingkungan Daniel Murdyarso (dalam buku berjudul Protokol Kyoto: 2003) mengemukakan, pemanasan global tidak terjadi secara seketika, tetapi berangsur-angsur. Meski demikian, katanya, dampaknya sudah mulai kita rasakan di sini dan sekarang. Jika pola konsumsi, gaya hidup, dan pertumbuhan penduduk tidak berubah, 100 tahun yang akan datang konsentrasi CO2 diperkirakan akan meningkat dua kali lipat dari zaman pra-industri. Akibatnya, dalam kurun waktu 100 tahun yang akan datang suhu rata-rata Bumi akan meningkat 4,5 derajat Celsius dengan dampak berbagai sektor kehidupan manusia yang luar biasa besarnya. Menurunnya produksi pangan, terganggunya fluktuasi dan distribusi ketersediaan air, penyebaran hama, dan penyakit tanaman merupakan dampak sosial ekonomi yang bisa muncul.
Jadi tak perlu berpikir panjang lagi untuk membantu penyelamatan lingkungan dan energi. Setidaknya, dengan cara berpartisipasi menjaga kelestarian lingkungan dan hemat energi.
 


Get your own web address for just $1.99/1st yr. We'll help. Yahoo! Small Business. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke