Nasional
Upaya
Mempertemukan Dua Kutub
Pepih nugraha
Moeslim Abdurrahman melontarkan tanya, apakah bisa spiritualitas
dipersandingkan dengan ekonomi dalam bentuk kegiatan bisnis dan
kapitalisme. Dua hal yang berbeda, ibarat langit dan bumi atau Kutub Utara
dan Kutub Selatan. Spiritualitas berorientasi nonprofit yang jauh dari
keduniawian, sedangkan bisnis memang untuk mencari profit.
Meski demikian, cendekiawan Muslim itu berharap agar kedua kutub yang
berbeda itu dicarikan titik temunya, setidak-tidaknya diperhadapkan lebih
dekat lagi kalau tidak bisa direkatkan sama sekali. "Kita harus berani
melakukan exercise yang berangkat dari tradisi kita, yakni keyakinan kita
dan kultur usaha kita," kata Moeslim, panelis dalam Seminar "Vitalisasi
Spiritualitas dalam Pemberdayaan Ekonomi" di Bentara Budaya Jakarta, 1
September lalu.
Bagi Sudhamek Agung WS, panelis lainnya, kebiasaan sementara orang yang
memahami filsafat Barat sering kali terjebak atau bahkan terbelenggu
pemikiran dikotomis. Misalnya, spiritualitas dipertentangkan dengan
ekonomi. Padahal, menurut dia, banyak hal dalam kehidupan yang kita
bayangkan sebagai dikotomi tetapi sesungguhnya sekadar paradoks.
Paradoks diartikan sebagai suatu keadaan di mana dua fenomena atau
lebih yang di permukaan terlihat bertentangan, tetapi saat diperdalam lagi
dapat direkonsiliasikan. Artinya, paradoks sebagai sesuatu yang dapat
direkonsiliasikan, sama seperti dalam kehidupan sehari-hari. "Kalau kita
melihat ini sebagai paradoks, kita tidak terjebak dalam pemikiran
dikotomis; mau pilih spiritual atau bisnis," ujarnya.
Dengan mencontohkan pengalaman dirinya selaku pemimpin perusahaan
Garuda Food, Sudhamek mengemukakan, kehidupan antara bisnis dengan
spiritual merupakan suatu paradoks yang dapat direkonsiliasikan.
Pertanyaannya, bagaimana menarik prinsip-prinsip bisnis ke arah spiritual,
sebagaimana disentil moderator seminar Djisman Simandjuntak.
"Untuk menarik prinsip-prinsip itu, maka spiritualitas harus menjadi
roh dari sebuah perusahaan dan itu harus dimulai dari pucuk pimpinannya.
Kalau pucuk pimpinan sendiri tidak memiliki pandangan seperti itu, jangan
pernah berharap akan terjadi perubahan pada perusahaan itu," papar
Sudhamek.
Hal kedua, lanjut Sudhamek, karena menarik prinsip bisnis ke arah
spiritual menyangkut hal yang sangat mendasar, yakni manajemen strategis
yang mengajarkan bagaimana keberlanjutan sebuah organisasi tetap terjaga,
maka keberlanjutan itu harus digarap dengan penuh kesabaran dari bawah.
Hal yang paling bawah itu, menurutnya, tidak lain apa yang disebut
corporate core value dalam bentuk filosofi perusahaan. Misalnya, spirit
bahwa sukses itu lahir dari kesabaran dan keuletan dengan diiringi doa.
"Kalau kami rapat, baik dengan karyawan ataupun tamu dari luar, kami
selalu memulainya dengan doa dan ditutup dengan doa pula. Bahkan, kita
sudah tekankan bahwa doa itu bukan lagi kita nyatakan dalam bentuk
permohonan, tetapi adalah bagaimana kita melakukannya dengan cara-cara
yang lebih mediatif, sebab dari situlah akan lahir kreativitas,"
ungkapnya.
Sudhamek mengingatkan, jangan sampai kita terjebak dalam pemikiran
dikotomis dengan mengutip sebuah pernyataan, yakni science is below the
mind, spirutality is be on the mind. Tiga arah, yakni sains, pikiran, dan
spiritualitas, menurutnya, harus direkonsiliasikan agar tercapai suatu
titik temu.
"Masih banyak hal yang belum dapat dijelaskan oleh sains, misalnya,
sehingga kita tidak bisa semata-mata bertumpu kepada hasil yang dicapai
sains, meski harus diakui sains telah memberikan sumbangan besar bagi
kehidupan manusia," katanya.
Menurut Sudhamek, sekarang titik temunya sudah kelihatan dengan
ditemukan spiritualitas dalam kuantum fisik. Bahwa apa yang dikatakan
ultimate reality dalam pandangan Buddhis, katanya, terdapat pula dalam
kuantum fisik, setidak-tidaknya banyak kemiripan.
Di sini terlihat pendekatan sains dengan spiritual bisa
direkonsiliasikan. "Arahnya bahwa kita baru mulai merekonsiliasikan
spiritualitas dengan bisnis sudah benar. Arah itu baru bisa kita sepakati
kalau kita berpikir rekonsiliatif," ucapnya.
Pemutihan spiritual
Moeslim mengakui, spiritualitas dan bisnis merupakan dua level
perbincangan yang berbeda. Jika hendak direkonsiliasikan antara materi
(bisnis) dengan spiritual, adalah dengan cara pemutihan spiritual.
"Berusaha dengan cara apa pun, asalkan mendapat sesuatu yang baru
setelah diputihkan," katanya. Ia menyebut pengusaha yang pergi haji,
melakukan umroh, atau menyantuni yatim piatu sebagai praktik pemutihan
spiritual dimaksud.
Menjawab pertanyaan peserta apakah spiritual bisa mendorong kemajuan
dalam proses kapitalisme, dan sebaliknya apakah kapitalisme mampu
mendorong spiritualisme, Moeslim menjelaskan, dalam Islam belum ada orang
yang menggagas "kapitalisme Islam", tetapi yang ada "sosialisme Islam".
Dia menambahkan, salah satu semangat lahirnya Islam adalah untuk
mengoreksi kapitalisme. Mengapa Islam lebih dekat pada sosialisme,
tanyanya, karena ada semangat kolektivisme dan emansipatoris yang kuat
dalam Islam.
"Sebenarnya dorongan di Islam itu seimbang, karena kalau kita dengar di
pengajian selalu dikatakan, Carilah untuk duniamu seolah-olah kamu tidak
pernah mati, tetapi carilah untuk akhiratmu seolah-olah kamu mati esok
hari.' Juga dikatakan, Bohong kamu merasa Islam karena melaksanakan
shalat, tetapi kamu tidak memedulikan orang-orang yang menderita, seperti
orang-orang miskin'. Kira-kira begitu," papar Moeslim.
Itulah sebabnya, ujar Moeslim, dalam praktiknya Islam memerlukan
negara, tidak hanya sekadar individu-individu. Negara harus memaksa setiap
orang Islam untuk membayar zakat, sebab zakat adalah rezeki yang merupakan
bagian orang miskin. Zakat merupakan kewajiban, obligation, sekaligus
semacam kewajiban sosial korporat.
"Karenanya, kalau ada orang Islam tidak mengeluarkan zakat padahal
sudah waktunya, negara bisa mengambilnya secara paksa. Tetapi, kalau orang
sudah berzakat namun masih punya kelebihan rezeki, orang itu dianjurkan
untuk sadaqoh. Artinya, sadaqoh merupakan mekanisme karitatif, tetapi
zakat merupakan kewajiban yang dapat dipaksakan," papar Moeslim.
Ia justru mengkhawatirkan spiritualitas religiositas benar-benar
terpisah dari kegiatan bisnis dan menjadi sesuatu yang segmented, di mana
antara kesalehan dan tanggung jawab sosial tidak ada kaitannya.
Padahal, katanya, bisnis akan bermakna apabila kapitalisme yang tidak
human menjadi kapitalisme yang humanis, sebab ekonomi yang sekarang ada
lebih banyak menjadi kekuatan Barat. "Kita sebagai orang dari tradisi
agama-agama dan orang Timur jangan sampai larut," ujarnya, mengingatkan.
Dalam paparan makalahnya, Sudhamek menganggap dua sistem perekonomian
yang ada sekarang, yakni sosialisme dan kapitalisme, mengandung
permasalahan.
Sistem sosialis, katanya, terbukti tidak mampu mengangkat kesejahteraan
hidup manusia dari aspek material. Sementara, kapitalisme mampu mengangkat
kehidupan secara material tetapi menimbulkan sejumlah ekses yang
mengganggu kehidupan manusia, antara lain kemiskinan absolut dan kerusakan
lingkungan yang parah.
"Mimpinya, bagaimana pengusaha yang semula sekadar komunitas bisnis
menjadi agen perubahan sosial, baik melalui perusahaannya maupun melalui
individu-individunya," papar Sudhamek.