Opini
Jumat, 29 September 2006
REDAKSI YTH
Pemerintah Tidak Peduli Kemiskinan
Sebagai seorang ibu yang pernah melahirkan dua putra, saya begitu iba dan terenyuh membaca "Pemulung Melahirkan di Bawah Pohon" (Kompas, 15/9). Sumirah (35) adalah potret manusia miskin yang terbuang. Andai Sumirah lahir dan besar di negara maju, ia pasti tidak akan mengalami nasib yang begitu mengenaskan, yaitu melahirkan di bawah pohon.
Batin saya sungguh terguncang membayangkan betapa penderitaan itu harus ditanggung seorang diri, melahirkan di tempat umum karena kemiskinannya. Sungguh sangat memilukan. Indonesiaku, mengapa negaraku tidak bisa menolong orang-orang miskin supaya mereka bisa mendapat pekerjaan yang lebih manusiawi dengan upah yang layak?
Jika negara tidak bisa menolong mereka, pasti akan terjadi akumulasi kemiskinan yang semakin dahsyat. Kemiskinan tidak bisa diperangi dengan "menggusur dan mengusir" mereka dari gubuk-gubuk liar, atau melarang pemulung masuk ke lokasi pembuangan sampah. Untuk mengatasinya, pemerintah harus bisa menekan laju pertumbuhan penduduk.
Akan tetapi, bersamaan dengan itu, pemerintah harus bisa membuka lapangan pekerjaan yang lebih merata di seluruh wilayah Tanah Air. Jika pemerintah tidak mampu menangani, kemiskinan akan terus beranak pinak dan menumpuk di kota-kota besar. Akhirnya kita berhak bertanya: "kemiskinan sebenarnya salah siapa?" Jika orang-orang miskin dibiarkan mencari pekerjaan sendiri, apa yang bisa mereka kerjakan selain menjadi pekerja sektor informal yang kadang penuh risiko dengan penghasilan yang tidak menentu.
Mereka miskin bukan karena malas bekerja, melainkan karena mereka "dibiarkan" hidup sengsara. Apa buktinya mereka dibiarkan? Buktinya, pemerintah tidak ikut campur dalam memberdayakan mereka. Biarpun miskin dan hidup terlunta-lunta di Ibu Kota, Sumirah adalah bagian dari kita yang harus diperhatikan oleh negara.
Negara tidak bisa lepas tanggung jawab sebab setiap orang berhak mendapatkan perlindungan dari negara. Mestinya jika pemerintah bisa menegakkan keadilan sosial, kemiskinan akan semakin berkurang. Sri Endang Perum Graha Mukti, Jalan Tlogomukti, Semarang


J u n a i d i
Tibetan Language & Buddhist Philosophy
 

Library of Tibetan Works & Archives
Centre for Tibetan Studies & Researchs
Gangchen Kyishong Dharamsala - 176215
Himachal Pradesh - I n d i a

Phone.: Tel: +91 189 2222 467
Fax.: +91 189 2223 723

"May I become at all times, both now and forever; a protector for those without protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack of shelter; and a servant to all in need"---Bodhicharyavatara~ Shantideva


Talk is cheap. Use Yahoo! Messenger to make PC-to-Phone calls. Great rates starting at 1ยข/min. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke