Dear Dokter Pelipur hati dan sahabat2 Dharma,

Sekuntum teratai untuk anda semua, para calon Buddha,


Entah kenapa ingat pelipur lara, but anyway; ini pelipur hati, entah hati yang lagi galau atau hati yang sedih, karena kondisi hati (berkaitan dengan batin dan pikiran), bukanlah 'hati' yg berfungsi secara definisi bilogi.

Ingin ikut menyumbangkan pendapat atas kasus sederhana yang cukup kompleks dan menyayat hati itu.

Belajar Buddhisme memang perlu menjalankan sila dengan benar, kemudian dikombinasikan dengan paramita yang lain, seperti dana, semangat, rajin, meditasi, kemudian kebijaksanaan;

sebagai umat yg menjalankan 5 atau 8 sila, sangat penting utk mengerti  6 paramita, paling minimal harus sampai pada 4 paramita pertama (dana,sila,semangat, dan rajin), ini paling minimal, karena dua paramita terakhir (meditasi konsentrasi dan kebijaksanaan) akan muncul dari hasil latihan khusus 4 paramita pertama, dan kebijaksanaan sendiri bisa muncul dari samantha (firm concentration on object) dan vipasyana (insight), barulah lahirnya kebijaksanaan.

kebijaksanaan setiap orang sudah pada ada tingkat kemajuan masing-masing, tergantung seberapa byk belajar, merenung, menerapkan dalam meditasi atau juga menerapkan langsung dalam kehidupan nyata.

Keluarga yg disebutkan menjalankan sila sangatlah baik, tidak mengusir tikus 'buas' juga merupakan suatu tindakan karuna (welas asih), karena tidak tega melihat tikus itu tidak ada tempat tinggal, sungguh tindakan seorang Bodhisattva sejati (terlepas dari dia seorang bodhisattva sejati atau bukan).

Tindakan welas asih ini juga mendatangkan petaka, yaitu bayinya menjadi korban, sesungguhnya dari cerita itu; kita tidak tahu persis pelakunya tikus buas itu atau bukan, walaupun disebutkan gigitan tikus, bisa saja binatang lain; tapi semenatara anggap saja tikus itu sebagai pelakunya.

kelengahan ibu terletak pada, bahwa ia telah tahu tikus buas, bisa mengigit apapun, lantas meninggalkan bayi itu sendirian tidak dijaga, ini merupakan bbrapa faktor kontribusi, kesilapan ibu dan bapak, karena karma kehidupan sang bayi memang sampai disitu saja, dan dipicu adanya tikus buas, sehingga mematangkan karma buruk bayi itu.

berlatih sila menghindari pembunuhan sangatlah mulia, berlatih paramita sangatlah mulia, namun tidak dibarengkan dengan tindakan arif bijaksana, kita sendiri yg akan celaka; demi menjaga sila, mereka boleh mengusir tikus tanpa harus membunuh atau membinasakan mereka, itu tetap tidak melanggar sila; walaupun tidak menunjukkan sikap welas asih, namun kita harus memberikan prioritas keamanan pada diri sendiri terlebih dahulu; membiarkan tikus buas berkeliaran di rumah tentu saja seperti membiarkan racun dalam tubuh kita, mengerogoti dikit-demi dikit, akhirnya membahayakan keseimbangan tubuh kita.

apabila tikus itu kita usir, nanti juga akan mencelakan orang lain dan bisa saja dibunuh orang lain, tapi paling minimal kita tidak membunuh tikus secara langsung; jika dipikir-pikir pekerjaan bertani jg byk membunuh secara tidak langsung, jadi memang keadaan serba sulit, namun kita berusaha semaksimal mgkn tidak membunuh secara langsung, apalagi dengan semua faktor lengkap, ini akan menjadi karma buruk berat sekali, yg bisa kita lakukan adalah menghindari pembunuhan dengan penyertaan faktor2 pendukung lengkap, dari niat, menggunakan alat, aktifitas membunuh langsung, makhluk tersebut mati dari tindakan kita, kemudian perampungan.

setelah bbrapa analisa di atas, sekarang tiba-lah saatnya utk membantu menenangkan hati ibu dan bapak yg baru kehilangan bayi-nya, tentu saja mereka akan sangat sedih dan barangkali stress, perlu waktu lumayan lama untuk membalikkan keadaan ke seperti sedia kala, dan tentu saja kita yg berniat membantu mereka, tidak perlu straight to the point seperti yg saya tulis di atas, yakin tidak akan mempan, tapi hati mereka harus tenang terlebih dahulu, obati dulu luka hati mereka, setelah tenang dan dalam selang sekian lama, barulah boleh menyisipkan sedikit demi sedikit cara berpikir buddhis, sehingga mereka bisa semakin lega dan mengerti.

Jika kita dgn semangat datang dan langsung menuju pada pokok permasalahan, ini karma bayi-mu, ini karena anda tidak bijaksana, anda meninggalkan bayi-mu sendirian, dsb, dsb.....wuah.....ini bisa jadi gawat dan kacau, kita perlu cara yang mahir (skillful means), jika tidak mahir, semua akan kacau.

berbicaralah sesuatu yg sederhana terlebih dahulu, boleh bersedih tp jgn lama-lama, tidak baik buat kesehatan, sungguh sedih kehilangan bayi, kalau saya sendiri mengalami hal yg sama pasti juga bakal sedemikian sedihnya, harus semangat kembali, terus berbuat kebajikan, melimpahkan jasa kebajikan utk bayi agar terlahir menjadi manusia yg memperoleh kondisi baik, dan sebagainya, barangkali dokter pelipur hati lebih mahir dalam urusan ini....

saya pikir, tidak terlambat utk mengusir tikus-tikus buas itu sekarang juga, tanpa harus dengan cara membunuh atau memusnahkan, buanglah jauh-jauh ke tempat lain atau hutan, agar mereka tidak kembali lagi ke rumah itu, bersihkanlah rumah dengan rapi dan apik, tutuplah lubang2 tempat persembunyian mereka, jgn buang sampang sembarangan, semoga saja tidak ada lagi tikus-tikus atau makhluk2 yg membahayakan lagi.

saya kira cukup sekian pandangan secara personal, semoga bisa sedikit memberi kontribusi buat dokter dan sahabat-sahabat yg lain, tentu saja tidak hanya pasa kasus tikus saja, barangkali bbrapa bagian anaisa itu juga bisa diterapkan pada kasus lain.

salam dari jauh.....





--- In [email protected], robin wiliam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> And story goes,........
>   Disebuah keluarga miskin disebuah desa hiduplah seorang ibu yang baru saja melahirkan seorang bayi laki2 yang berusia dua minggu.Ibu ini merasa begitu bahagia.suaminya adalah seorang petani yang sehari-hari bekerja disawah.ibu juga bekerja membantu suaminya.Dibelakang rumah mereka terdapat lumbung padi hasil dari sawah mereka dan ditimbun disana untuk kemudian dijual dipasar.Mereka juga adalah keluarga buddhis yang sangat keras menjalankan sila mereka sehingga dirumah mereka juga hidup sekeluarga besar tikus yang sangat besar dan sangat buas.sehari2 tikus2 itu berkeliaran dikolong2 rumah dan kadang kala memanjat lemari,meja makan,dan dapur.karena mereka sangat keras menjalankan sila maka mereka tidak membunuh atau memusnahkan tikus2 tersebut walaupun setiap hari tikus2 tersebut mengigiti padi dilumbung mereka,dan merusak banyak materi dirumah mereka.Sebagai gantinya petani itu memindahkan padi mereka pada lumbung padi yang lain.Pada suatu hari tanpa ada perasaan apapun si
>  ibu tersebut pulang dan menemukan bahwa anaknya tewas dan lehernya berlubang akibat gigitan tikus!
>    
>   it,s a sad story
>   Bro & sis mohon pencerahannya
>    
>                                                                             Robin Wiliams Idris
>                                                                             Dokter pelipur hati


J u n a i d i
Tibetan Language & Buddhist Philosophy
 

Library of Tibetan Works & Archives
Centre for Tibetan Studies & Researchs
Gangchen Kyishong Dharamsala - 176215
Himachal Pradesh - I n d i a

Phone.: Tel: +91 189 2222 467
Fax.: +91 189 2223 723

"May I become at all times, both now and forever; a protector for those without protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack of shelter; and a servant to all in need"---Bodhicharyavatara~ Shantideva


How low will we go? Check out Yahoo! Messenger’s low PC-to-Phone call rates. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke