Dari milis sebelah...............
FYI....
 
Thnk's & Rgrds,
 
Tristina
MG Sport & Music

Sekedar intermezzo saja, saya selain kesibukan kerja sehari-hari juga adalah
tim redaksi Majalah Sinar Dharma (SD) yang diterbitkan oleh Buddhist
Education Centre Surabaya.

Untuk kasus Marcell dan Dewi Lestari ini, perlu anda ketahui bahwa SD pernah
menampilkan wawancara langsung dengan keduanya di kediaman mereka di
Jakarta. Dan perlu juga anda ketahui bahwa yang melakukan wawancara langsung
tersebut adalah diri saya sendiri. Anda bisa membaca artikelnya di
www.becsby.org

Jadi, kalau itu hanya masalah persepsi, tentu perlu diperjelas persepsi
dalam lingkup pandangan seperti apa. Maksud saya, dalam ajaran kristen,
tentu lebih penting menjadi umat Kristen dan orang-orang yang mendalami
ajaran Kristus tentulah bukan orang-orang yang akan diselamatkan (karena
bukan beriman pada Kristus).

Tapi dalam ajaran Buddha, tidak berlaku hal demikian.

Kalau anda katakan bahwa mereka tidak convert, saya setuju, karena convert
(pindah label) itu tidak penting bagi ajaran Buddha. Karena saya tahu bahwa
banyak umat akan mempertanyakan hal tersebut, sengaja pula saya menyampaikan
pertanyaan dalam wawancara tersebut "apakah terlepas dari istilah convert
dalam pandangan umum, apakah kalian (Marcell dan Dewi) merasa sudah menjadi
Buddhist?" dan jawabannya adalah positif.

Keduanya, pada awal ketertarikkan pada ajaran Buddha, pernah mendatangi
seorang Bhikkhu (Bhante Wongsin di Vihara Vipassana, Lembang). Mereka
bertanya pada Bhante Wongsin, "bagaimana cara menjadi umat Buddha? Apakah
perlu melakukan ritual-ritual khusus seperti penahbisan (permandian dalam
kristen)?" dan Bhante menjawab bahwa "tidak perlu, jadi umat Buddha ya
bertingkah laku layaknya umat Buddha."

Dewi secara tegas menyatakan bahwa sebelum menjadi Buddhist, dia sudah lama
meninggalkan ajaran Kristen, karena ajaran Kristen penuh paradoks, dan itu
tentu anda sadari juga. Lalu ketika dia punya anak (Keenan), dia merasa
bahwa suatu saat anaknya akan masuk dalam masyarakat dan masyarakat akan
menuntut anaknya punya identitas (label) agama, paling tidak untuk urusan
administrasi, seperti mengisi kolom agama di KTP. Dan walau dia sudah sangat
comfort dengan "tanpa jubah agama", tapi jika harus memilih, maka pilihan
dia adalah agama Buddha. Karena apa ? Karena (menurut Dewi juga), adalah
tidak mungkin kembali pada ajaran sudah dia rasakan sendiri banyak
paradoksnya.

Soal artikel di majalah Rajawali yang salah menilai ajaran Buddha, salah
satunya adalah pernyataan bahwa "ajaran Buddha tidak mengenal kasih" karena
kasih dan benci menurut ajaran Buddha hanyalah permainan pikiran.

Bagaimana penilaian seperti ini bisa muncul, jika umat Kristen tersebut tahu
bahwa justru ajaran kasih dalam ajaran Buddha (disebut Metta) adalah ajaran
kasih yang bahkan melebihi Philia dan Eros sebagaimana sering didengungkan
oleh evangelis Kristen. Metta tidak berkondisi, tidak terbatas hanya pada
keluarga, saudara, orang tua, famili, teman, bahkan tidak terbatas hanya
pada manusia, tapi juga makhluk-makhluk lainnya seperti binatang dan makhluk
'alam halus lainnya.'
Karena itulah ajaran Buddha mengajarkan untuk tidak menyakiti makhluk
sekecil apapun.

Berikut saya sertakan wawancara saya dengan Dewi dan Marcell di kediaman
mereka di Apartemen Bumi Mas, Jl. Terogong Raya, Jakarta.
Semoga membuka mata anda.


BINCANG LEPAS DENGAN MARCELL DAN DEWI LESTARI

Ada apa dengan Marcell dan Dewi Lestari? Sinar Dharma berusaha bertanya
langsung kepada dua sosok yang cukup menyita perhatian kita akhir-akhir ini.
Berikut bincang lepas Sinar Dharma dengan Marcell dan Dewi yang berlangsung
santai penuh keakraban di kediaman mereka di sebuah apartemen di Jakarta.

Ditemui di lobi apartemen kediamannya, Dewi menyapa ramah kehadiran kami.
Kami diajak ke teras sebuah caf?kecil di sebelah kolam renang di bagian
belakang apartemen. Setelah memesan minuman segar buat kami, obrolan santai
pun bergulir, walau Marcell masih belum bergabung.

Dewi memulai kisahnya bagaimana pertama kali bersentuhan dengan ajaran
Buddha. Apa yang diyakini Dewi saat ini, keseluruhannya bermula dari pikiran
yang terbuka serta merupakan proses belajar dan mengalami dalam tiga fase.
Fase pertama bermula dari sebuah kejadian pada tahun 1999 ketika ia
mengalami sebuah encerahan?yang membuatnya melepas label agama yang
dianutnya saat itu. Dengan tanpa menggenggam ati?suatu keyakinan, Dewi
memulai pencarian realitas tertinggi, mempelajari berbagai ajaran agama
dengan tanpa prejudice, tanpa prasangka, tanpa membandingbandingkan.

Fase ke dua bermula ketika Dewi menulis buku keduanya yang berjudul Akar.
Riset yang dilakukannya ketika menulis buku ini semakin membuka cakrawala
Dewi terhadap ajaran Buddha. ni adalah periode di mana saya jatuh cinta
pada Buddhisme,?demikian aku Dewi.

Kelahiran Keenan (anak Marcell dan Dewi) merupakan fase ketiga dari proses
pemahaman dan pengalamannya akan Buddhisme. Dewi, - dan Marcell - menyadari
bahwa suatu ketika Keenan akan menjadi bagian dari masyarakat dan akan
dituntut memiliki identitas agama. alau saya sangat nyaman hidup tanpa
jubah agama, tapi jika harus memilih ajaran untuk membimbing anak saya, maka
ajaran Buddha-lah pilihan saya.?br />
Pada hakekatnya, apa yang dilakukan Dewi tersebut sesungguhnya dalam ajaran
Buddha dikenal sebagai Ehipassiko, yakni mempelajari dan membuktikan
sendiri, bukan sekedar mengimani. Sebagaimana ketika Dewi
ditanya apa alasan utamanya memilih ajaran Buddha, Dewi berpendapat ajaran
Buddha tidak memiliki paradoks-paradoks yang saling bertentangan dan tidak
memiliki figur Tuhan yang dapat melakukan penghukuman, yang ada adalah
konsekuensi karma yang mana membawa manusia menjadi lebih bertanggung jawab
atas dirinya sendiri.

Obrolan dengan Dewi sempat terhenti ketika Marcell dari kejauhan berjalan
mendekati kami. Tanpa disangka, Marcell memberi salam khas Buddhis dengan
sikap tangan anjali (merangkapkan kedua telapak tangan di depan dada).
Marcell pun segera terlibat dalam wawancara, atau lebih tepat disebut
diskusi, yang semakin menghangat.

Menurut Marcell, potensi dirinya untuk bersentuhan dan mengenal ajaran
Buddha sudah lama ada, karena sejak kecil dia selalu mempertanyakan banyak
hal yang oleh banyak keyakinan dianggap tabu untuk dipertanyakan. aktu
kecil, sering kali ketika gue bertanya, hal itu dianggap berdosa. Tapi gue
punya keyakinan bahwa tidak mungkin ada pertentangan antara akal pikiran dan
hati,?jelas Marcell.

Dewi, bagi Marcell adalah pembuka celah-celah yang mengetahui bahwa apa yang
menjadi pertanyaannya sejak kecil dapat dijawab oleh ajaran Buddha. Bahkan
Marcell yakin bahwa pada kehidupan yang lalu Dewi adalah pembimbing
spiritualnya.

Kala mencari tahu lebih jauh bagaimana menjadi seorang Buddhis, Marcell dan
Dewi semakin terkesima ketika mereka mengetahui bahwa menjadi Buddhis tidak
mutlak harus menjalani prosesi visudhi tisarana (penahbisan umat). Menjadi
Buddhis yang sesungguhnya adalah menjalankan praktik kebenaran dalam
kehidupan sehari-hari, memahami sesuatu itu sebagaimana adanya, bukan
sekedar bisa menjalani kebaktian dan ritual lainnya.

Ketika disinggung soal koleksi figur Buddha yang demikian banyak di rumahnya
yang ada di Bandung, Dewi bercerita bahwa sejak kecil dirinya sudah demikian
tertarik dengan figur-figur Buddha, baik berupa rupang (arca) ataupun lukisan.
Setiap kali melihat Buddharupang, ada rasa teduh yang didapatkan dari
personifikasi diri Buddha. Lebih jauh lagi, mereka merasakan suasana
meditatif yang dapat dihadirkan dengan adanya Buddharupang dalam rumah.

api bukan berarti kita menyerahkan nyawa kita pada patung-patung tersebut,
karena kita bukan menyembah patung-patung tersebut,?jelas Marcell. ita
tidak menyerahkan diri pada patung Buddha, tapi kita menjadikan figur panutan
kita itu untuk mengingatkan kita agar kita tidak salah jalan. Kita tidak
menyerahkan diri pada suatu entitas, tapi pencerahan harus dengan usaha
sendiri,?lanjutnya memberi pemahaman.

Ketika mengomentari buku Keyakinan Umat Buddha karya Bhikkhu Sri
Dhammananda, Marcell dan Dewi sependapat bahwa ajaran Buddha yang diulas
dalam buku tersebut sangat konsisten, tidak ada dualitas yang bertentangan
satu sama lain. Hal-hal yang semula dikira akan bertele-tele diulas dengan
lugas, tegas dan dapat diterima akal sehat. Dari buku ini, mereka
berpendapat bahwa ajaran Buddha memiliki lapisan-lapisan yang sangat tipis
dan mudah untuk dikupas karena ajaran Buddha bukan ajaran yang dogmatis.

Pemahaman mereka yang cukup dalam terhadap ajaran Buddha terlihat begitu
jelas ketika mereka berbicara tentang mukjizat. Banyak orang menjual hal-hal
mistis untuk menarik umat, sedangkan ajaran Buddha justru tidak membenarkan
hal tersebut karena yang paling penting dalam ajaran Buddha adalah proses.
Hal-hal mistik alih-alih membuat orang memahami ajaran secara benar tapi
justru hanya memotivasi orang untuk sekedar mendapatkan kekuatan gaib. aya
yakin Buddha mampu menyeberangi sungai dengan berjalan di atas air, tapi
Buddha tidak akan melakukan hal itu,?komentar Marcell. enapa harus
repot-repot berlatih bertahun-tahun untuk bisa melakukan itu, padahal dengan
membayar perahu kita sudah bisa menyeberang.?br />
Pemahaman yang dalam akan ajaran Buddha juga terlihat dari pernyataan Dewi
bahwa yang menjadi prioritas ke depan adalah belajar dan mempraktikkan
meditasi, walau keinginan tersebut masih berbenturan dengan padatnya jadwal
kegiatan mereka masing-masing saat ini.

Tanpa terasa satu setengah jam telah berlalu begitu cepat dan Marcell harus
bersiap untuk latihan band. Sinar Dharma juga menyadari sudah waktunya untuk
mohon diri, akhirnya obrolan hangat yang sangat terbuka ini pun berhenti
sampai di sini dulu. Semoga apa yang disampaikan oleh Marcell dan Dewi ini
menjadi trigger bagi
banyak orang untuk semakin terbuka mempelajari ajaran kebenaran yang telah
disampaikan secara sempurna
oleh Sang Buddha, dan memotivasi umat Buddha untuk mempraktikkan Dharma
dengan tekun.

Terima kasih Marcell dan Dewi yang telah begitu hangat menyambut Sinar
Dharma serta berbagi pemahaman dan pengalaman bagi para pembaca Sinar
Dharma. (abn)









__._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke