Memahami Kudeta di Thailand
Oleh Eddy Setiawan*

Thailand adalah sebuah negara yang perjalanan sejarah
kekuasaannya penuh dengan kudeta militer. Pada tahun
1947 negara yang memiliki tiga pedoman yakni Negara,
Agama Buddha dan Raja ini, telah mengalami kudeta
militer pertama. Tampaknya pergulatan antara militer
dan sipil belum berakhir meskipun sejak kudeta pertama
tersebut, militer tidak dapat menawarkan sesuatu yang
baru untuk kemajuan negara, namun sayangnya sipil pun
setali tiga uang. Kudeta demi kudeta tersebut telah
melemahkan bangunan demokrasi di Negara gajah putih
tersebut, namun sebenarnya terdapat sebuah benang
merah yakni peran raja yang begitu sentral dalam
politik sebagaimana yang dinyatakan Paul Handley,
penulis biografi “The King Never Smiles”. Besarnya
pengaruh raja ini dapat dilihat dari penggunaan
simbol-simbol raja sebagai legitimasi gerakan rakyat
maupun elit, misalnya saat Mahasiswa Thailand
menjatuhkan rezim militer 14 Oktober 1973, bahkan
kudeta militer 19 September lalu pun membutuhkan
simbol tersebut, yakni dengan cara mengikatkan kain
berwarna kuning pada peralatan tempurnya; kuning
adalah warna simbolik raja sedangkan biru untuk ratu.
Pimpinan kudeta Jenderal Sonthi Boonyaratkalin secara
tersirat juga terus menyatakan adanya dukungan raja
terhadap kudeta tersebut. Tidak berlebihan jika saat
ini banyak orang menyatakan bahwa kudeta terjadi
adalah ekses langsung pertarungan antara Raja Bhumibol
Adulyadej dengan Thaksin Shinawatra.  

Peran Raja Bhumibol tersebut menurut para ahli politik
dan kerajaan di Thailand adalah salah satu bentuk
kekuasaan terselubung dalam sistem monarki
konstitusional yang diterapkan Thailand dan telah
dimainkan raja selama enam dekade kekuasaanya. Thaksin
gagal memahami bahwa raja tidak begitu mudah
dipermainkan oleh jurus-jurus politiknya. Beberapa
kali Thaksin melakukan manuver-manuver politik yang
seolah-olah mengukur kemampuannya untuk menentang
raja, seperti mangkir dari sebuah upacara tradisional
kerajaan, menyingkirkan orang-orang dekat raja dari
pemerintahannya dan menggantikan dengan orang-orangnya
sendiri, berambisi membangun industri ekspor terpadu
pedesaan yang akan menjadi ancaman bagi masyarakat
agraris yang secara kultur merupakan pendukung
kekuasaan kerajaan, kemudian saat raja mengeluarkan
pernyataan bahwa pemilu terakhir yang diboikot oleh
oposisi adalah sangat kacau dan memberi lampu hijau
pada mahkamah konstitusional untuk melakukan
peninjauan kembali, Thaksin mengeluarkan pernyataan
bahwa ada “Sosok karismatik yang
ekstra-konstitusional” ingin menjatuhkan dirinya. Para
analis menduga sosok yang dimaksud adalah Raja
Bhumibol Adulyadej atau Jenderal Prem Tinsulanonda,
mantan PM Thailand di era 80-an. Inilah beberapa
blunder Thaksin yang menghempaskannya dari kursi
kekuasaan berkaitan dengan konfliknya dengan raja.
Konflik ini sebenarnya sudah terlihat jelas setahun
setelah terpilihnya Thaksin, tepatnya pada saat ulang
tahun raja. Melalui pidato resminya di televisi, raja
menyatakan bahwa Thailand sedang mengalami kemunduran
menuju sebuah bencana akibat arogansi, egotisme dan
standar ganda yang diterapkan Thaksin, dengan sangat
jelas raja menyatakan ”Dapat saya lihat PM bermuka
tebal, ia mungkin tidak tahu harus berbuat apa, karena
tampaknya tak ada sesuatu pun yang mengalami kemajuan.
Karena itulah banyak orang telah memperingatkan bahwa
negara sedang mengarah pada bencana bukan kemakmuran.
Segala sesuatu menjadi semakin buruk dan memburuk”.
Sementara di sisi lain Thaksin juga membuka konflik
dengan kelas menengah perkotaan, di bidang politik ia
memperkenalkan falsafah ”politik tenang”, yang
sebenarnya merupakan anastesi terhadap bangunan civil
society, organisasi independen, media massa dan
sebagainya. Sementara mentalitas dagang yang
diterapkannya dalam mengelola negara dinilai sebagai
bentuk pengingkaran terhadap demokrasi, sebab sangat
tidak masuk akal kalau manajemen perusahaan yang
sifatnya tiran dapat diterapkan untuk mengelola negara
secara demokratis. Di bidang ekonomi, kelakuan Thaksin
yang memberi hak-hak istimewa dan berbagai kemudahan
kepada keluarganya dalam bisnis telah mengundang
kemarahan kalangan bisnis yang merasakan
ketidakadilan. Puncak skandal tersebut adalah pada
saat Thaksin mengeluarkan kebijakan pembebasan pajak
penjualan senilai US$ 1.9 Milyar, pada saat penjualan
perusahaan telekomunikasi miliknya yakni Shin Corp.
kepada Temasek-Singapura. Hal inilah yang
membangkitkan kemarahan kelas menengah-atas Thailand
yang kemudian bergerak dengan aksi-aksi protes di
jalanan yang menjadi titik awal krisis politik
pemerintahan Thaksin di tengah-tengah turunnya
popularitas Thaksin akibat tindakan represif di
Thailand Selatan. 

Momentum inilah yang kemudian menjadi pintu masuk bagi
raja, pilihan kudeta tampaknya memang alternatif
terakhir sebab sebelum kudeta militer, raja sempat
melakukan intervensi di tengah-tengah situasi politik
Thailand yang sedang memanas. Hasilnya adalah Thaksin
menyatakan mundur dari jabatannya sebagai PM, namun
hanya sementara, kemudian dengan melenggang ia kembali
ke kursi kekuasaan, tindakan yang arogan dan dapat
melecehkan kewibawaan raja. Keberanian Thaksin ini
tentu tak lepas dari kesadarannya bahwa Partai Thai
Rak Thai yang dibangunya selama 5 tahun dengan basis
pendukung yang sama dengan basis pendukung raja yakni
masyarakat pedesaan, telah menjadi partai terkuat
sepanjang sejarah politik Thailand. Tindakannya
tersebut mungkin adalah bentuk excersise power-nya,
karena yakin ia populer di mata rakyatnya tapi ia lupa
bahwa rakyat lebih mencintai rajanya.  Keseluruhan
kondisi inilah yang juga mendorong rakyat Thailand
memaklumi kudeta damai oleh militer tersebut sebab
jalan demokratis dianggap telah buntu. Terbukti dari
salah satu poling atas 2.000 orang Thailand sehari
setelah kudeta, hampir 84% mendukung dan hampir 75%
menyatakan yakin bahwa kudeta akan memperbaiki kondisi
politik di Thailand. Kebuntuan politik terjadi tak
lain karena mesin politik Thaksin telah bekerja cukup
efektif melakukan kooptasi terhadap struktur kekuasaan
yang ada (Thaksin memasukkan rekan-rekan seangkatannya
di birokrasi sampai militer) sehingga instrumen
demokrasi pun tidak mampu menjadi solusi. Hal ini
tercermin dari pernyataan Thitinan Pongsudhirak
seorang ilmuwan politik, direktur Institut Studi
Internasional Universitas Chulalongkorn di Bangkok
dalam wawancaranya dengan Newsweek beberapa waktu yang
lalu menyatakan “Seandainya dilakukan pemilu besok
dengan supervisi oleh PBB, Thaksin akan menang dan ini
adalah masalah bagi Thailand" Bahkan demokrasi jalanan
yang terbukti beberapa kali berhasil menumbangkan
rezim militer di Thailand pun ternyata tidak mampu
menjatuhkan Thaksin. Padahal dalam aksi-aksi tersebut,
terlibat seorang tokoh demokrasi yang sangat
dihormati, Chamlong Srimuang yang dianggap sebagai
tokoh yang telah menjatuhkan Jenderal Suchinda
Krapyayoon dan Chuan Leek Pai, dua orang PM sebelum
Thaksin. Akhirnya rasa frustasi rakyat yang mengalami
kebuntuan di jalan demokratis, kembali menggantungkan
harapan kepada raja yang terbukti berhasil
menyelesaikan dengan baik beberapa krisis politik.
Raja pada akhirnya terpaksa memainkan kartu penentu
yang penuh resiko yakni militer untuk menurunkan
Thaksin, setelah jalur kultural tidak menyelesaikan
persoalan. Meskipun pihak kerajaan menyatakan tidak
memerintahkan kudeta, namun penunjukan pimpinan kudeta
Jenderal Sonthi Bonyaratkalin sebagai pimpinan Dewan
Reformasi paska kudeta dapat dianggap sebagai restu
raja atas kudeta tersebut. Selain itu Sonthi dikenal
sebagai seorang loyalis yang sangat berbakti pada raja
dan juga merupakan orang yang sangat dekat dengan
Jenderal Prem Tinsulanonda ketua dewan penasehat raja.
Sehingga mustahil rencana kudeta tidak sampai ke
telinga raja, etika bagi seorang abdi yang setia
menutup kemungkinan bahwa kudeta adalah inisiatif
Sonthi sendiri.
 
Meskipun banyak kritik dan kecemasan terhadap kudeta
militer Thailand, karena dianggap akan menghambat
kematangan demokrasi, namun perlu diingat bahwa
konstitusi Thailand sendiri hingga hari ini masih
sangat lemah dalam hal check and balance, dan ini
membuka peluang lahirnya pemerintahan yang dapat
mengkooptasi struktur kekuasaan yang ada untuk
kepentingan diri dan golongannya. Pemerintahan yang
dapat memanfaatkan demokrasi untuk mencederai
demokrasi sendiri, yang merasa sah melakukan
pembantaian yang melanggar rasa kemanusiaan karena
dilakukan secara demokratis. Oleh karena itulah, salah
satu agenda yang dibebankan kepada Dewan Reformasi
Thailand selain mempersiapkan pemilu adalah membuat
rancangan konstitusi, sebab elit di Thailand sangat
sadar bahwa Konstitusi 1997 Thailand membutuhkan
amandemen terutama di sisi check and balance terhadap
kekuasaan PM. Ini menjadi penting untuk mencegah
terulangnya krisis politik akibat PM yang super power 
dan juga menutup kemungkinan kudeta militer. Salah
satu alasan kudeta adalah kekuasaan Thaksin yang
terlalu besar, telah memberinya peluang melakukan KKN
dan menyebabkan perpecahan dalam masyarakat yang
mengarah pada tindak kekerasan, demi melanggengkan
kekuasaan, ini dimungkinkan oleh absennya check and
balance.  Jenderal Sonthi, menyatakan hal tersebut
pada bulan Mei lalu, bahwa raja sangat gundah atas
krisis politik yang menyebabkan perpecahan rakyatnya,
dan sebagai tentaranya raja, ia ingin membantu raja
menghilangkan kegundahannya. ”Tentara akan mematuhi
apapun yang disarankan raja” demikian sang jenderal
menegaskan kepatuhannya. Pengalaman Raja Bhumibol yang
sejak naik tahta 60 tahun yang lalu hingga hari ini,
telah menyaksikan 18 kudeta militer, 15 kali
pergantian konstitusi dan 21 orang Perdana Menteri ini
tentu menguatkan keyakinan rakyat Thailand, termasuk
sebagian rakyat yang tidak menyetujui kudeta militer,
bahwa Raja Bhumibol akan dapat membawa bangsanya
keluar dari krisis politik. Dari pengalaman empirik
rakyat dapat melihat bagaimana selama ini para
jenderal dan politisi yang bertikai, menghadap raja,
bersimpuh dan tunduk padanya. Thaksin adalah
pengecualian. Beberapa tahun ini, akan menjadi ujian
bagi Raja Bhumibol dan Jenderal Sonthi untuk membawa
Thailand kembali ke jalan demokrasi. Jika berhasil,
ini akan menjadi sebuah sejarah baru peran raja dan
militer dalam mewujudkan demokrasi di Thailand.    
 
* Ketua Umum PP HIKMAHBUDHI Periode 2005-2007


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 




** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke