| Ketika Kematian Menjadi Pilihan Nalini Muhdi Mahasiswa cemerlang itu terbujur kaku dengan tali yang masih melilit lehernya. Tak dinyana, sebaris pesan singkat di telepon genggam itu ternyata bermakna dalam. "Aku pergi ya..," tulisnya ke
teman dekatnya. Beberapa hari sebelumnya seorang teman juga menemukan secarik catatan yang tampak main-main, seperti keluhan anak remaja yang tengah patah hati. "My life is dead," coretnya di kertas lusuh itu. Kemudian, awan kesedihanpun pecah di pagi buta pada akhir September lalu di sebuah kampus ternama di Surabaya. Tubuh mahasiswa itu ditemukan tergantung di tangga gedung kuliahnya. Mengenaskan. Betapa sering akhir-akhir ini kita mendengar orang mengakhiri hidup dengan memilih hari kematiannya. Bunuh diri. Sesederhana itukah pilihan seseorang ketika tengah dilanda kemelut kehidupan? Bukan faktor tunggal Penyebab bunuh diri ternyata bukan ditentukan satu faktor semata. Ada beberapa
interaksi penyebab yang menyebabkan seseorang memilih meninggalkan dunia yang ingar bingar ini. Mulai dari faktor biologis, masalah psikologis, sosio-budaya dan lingkungan seseorang. Jadi, tidak bisa dikatakan bahwa seseorang melakukan bunuh diri hanya gara-gara terlilit utang yang tidak terbayar. Penyebabnya cukup kompleks. Tak pelak, kondisi masyarakat kita saat ini yang begitu banyak dilahap bencana, kesulitan ekonomi, perubahan sosial-politik yang cukup menekan perasaan, dan mencuatnya gangguan-gangguan mental (terutama depresi) yang kerap tak disadari oleh yang bersangkutan jauh dari penanganan yang adekuat. Situasi ini membuat bangsa kita menjadi rentan terhadap risiko bunuh diri. Yang diterjemahkan sebagai suatu keadaan meningkatnya tendensi untuk melakukan bunuh diri. Tema itulah yang diangkat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
tahun 2006 untuk menandai Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang diperingati hari ini: Building Awareness-Reducing Risk: Mental Illness and Suicide. Menurut catatan WHO, setiap tahun di seluruh dunia diperkirakan sejuta orang meninggal karena bunuh diri. Itu yang meninggal (committed suicide), belum lagi yang melakukan percobaan bunuh diri (attempted suicide) dan tidak meninggal, tentu berlipat jumlahnya. Bahkan, dalam rentang usia 25 tahun-35 tahun, usia yang tergolong sangat produktif, bunuh diri menjadi penyebab kematian ketiga terbanyak. Dampak yang merugikan bagi masyarakat. Ada ambivalensi Seseorang memutuskan ingin mengakhiri kehidupannya sering kali bukan keputusan tiba-tiba, apalagi jika penyebabnya depresi. Ada ambivalensi yang sangat kuat sebelumnya yang menyebabkan mereka sering memberi penanda, catatan dan
peringatan kepada orang-orang di sekelilingnya. Apakah ada perubahan perilaku yang kerap samar, lebih pendiam dan pemurung, catatan tentang keputusasaannya, ucapan kepada orang dekat yang sering malah ditanggapi dengan nasihat stereotip, seperti "Kok ngomong gitu sih, seperti tidak kenal Tuhan saja.... Dosa lho!" Padahal, saat itu mereka sedang dalam kegamangan antara ingin bunuh diri dan takut mati. Akibatnya, mereka tak merasa dimengerti dan kian putus asa. Tahu-tahu sudah terlambat dan menjadi santapan berita sensasional beberapa hari kemudian. Tak dapat dimungkiri, peran media massa dalam menyosialisasikan kesehatan jiwa masyarakat sangat strategis. Perannya penting dalam memberi informasi dan mendidik masyarakat. Namun, dalam masalah pencegahan bunuh diri, pemberitaan bisa menjadi bumerang ketika informasi itu kebablasan dan tak
memberi batas mana yang harus diketahui masyarakat atau mana yang disimpan saja dalam catatan reportase mereka. Misalnya, sering mereka memberitakan tentang cara seseorang melakukan bunuh diri secara rinci (maksudnya mungkin memberi kesan dramatis atau memberi detail yang "menarik") atau menyimpulkan secara sederhana bahwa mereka melakukan bunuh diri lantaran sebab ini-itu yang terlihat sepele. Ini dapat mendorong terjadinya peniruan penyelesaian masalah lewat bunuh diri (copycat suicide), terutama oleh orang-orang yang belum matang secara mental-emosional atau seseorang yang saat itu tengah kalut menghadapi kesulitan. Semacam ada pembenaran ketika mereka membaca atau mendengar ada orang lain yang melakukan cara tersebut. Kisah remaja yang tidak mampu membayar uang sekolah atau pria dewasa yang diuber-uber penagih utang dan tak dapat
melunasinya, lalu memilih menyelesaikannya lewat gantung diri, sering lantas mendapat simpati dari masyarakat. Namun, maknanya menjadi bias karena yang disoal justru "hanya" penyebab kesulitan hidupnya. Di sini bukan masalah benar atau salah, tetapi tentang bagaimana cara seseorang menghadapi masalah dalam kehidupan. Sering kali media massa terjebak melihat tindakan tersebut sebagai masalah "hitam-putih" semata. Padahal, media massa justru dapat menjadi sumber informasi bagi individu-individu yang sedang kalut, depresi, dan ingin bunuh diri, ke mana mereka dapat meminta bantuan. Misalnya memuat nomor hotline service suatu biro konsultasi. Sejatinya, orang yang mau melakukan bunuh diri biasanya melalui fase cry for help. Di situlah intervensi kejiwaan sangat berperan. Saat ini kita justru membutuhkan contoh bagaimana cara pemecahan
masalah yang baik, sehat, dan tidak menyimpang dari masalah utama. Sesuatu yang kian langka dicari, bahkan dari para pemimpin di negeri ini. Nalini Muhdi Psikiater dan Humas Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Pusat |