Ronny:
Cerita yang bagus untuk dicermati dan dipahami

Jehoshua Lawalata <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
God is only as big as your mind when you try to shape Him. A reading 
to understand.

====================================================================

KISAH PELACUR YANG MEMBUNUH TUHANNYA

Senja itu senyap ketika angin mendesir menerbangkan daun yang gugur 
perlahan. Pelacur itu mengutuk nasibnya. Dua hari lalu rekannya mati
Dengan mengerikan. Saat pemakaman jenazahnya tak bisa masuk liang.
Tubuhnya tiba-tiba memanjang sehingga panjangnya melebihi ukuran 
liangnya. Menurut orang-orang tua ia dikutuk oleh langit dan bumi.
Setelah didatangkan seorang kyai barulah jenazahnya bisa dimakamkan.
Peristiwa itu demikian membekas di hatinya hingga terbitlah sesal.
Sejak itu ia selalu murung saja memikirkan masa depannya. Dan sejak
itu juga dia ingat kembali masa-masa kecilnya.

Dulu ia bersama teman-temannya biasa ke surau untuk mengaji selepas
maghrib. Ia dulu sering ikut majelis taklim. Ia dulu rajin berpuasa,
tarawih dan ikut membantu menyiapkan sahur untuk keluarga. Tapi sejak
ia menikah dengan tetangga desanya nasibnya menjadi berubah. Suaminya
ternyata penipu, pemabuk dan penjudi. Ketika seluruh hartanya habis 
di meja judi, ia menjual istrinya ke seorang germo. Dan, singkat 
cerita, sejak itulah dia menjadi seorang pelacur.

Dan kematian rekannya itu menjadikannya merasa berdosa, sangat 
berdosa. Ia ingat ajaran ustad-ustadnya di kampung dulu, tentang 
siksa neraka bagi pelacur seperti dirinya. Ia dulu pernah membaca
cerita bergambar yang mengisahkan siksa neraka, di mana para pelacur 
kemaluannya ditusuk dengan besi panas di dalam ruang api yang 
menyala-nyala.

Dan di senja yang senyap itu ia sangat sedih, ia merasa tak lagi
berharga di mata Tuhan. Pikirannya penuh dengan bayang-bayang
murka Tuhan. Ia lalu ingat lagi masa remajanya. Dulu ustadnya dengan 
hidup menceritakan bagaimana Tuhan menyiksa para pendosa dengan 
kejam. Tuhan mengawasi setiap tindak-tanduk manusia, memerintahkan 
malaikat mencatat segala amalnya, dan menghukum atau memberi
kenikmatan yang tak terhingga. Dan di senja itu juga ia sangat 
murung. Setelah berpikir cukup lama ia memutuskan pergi mencari 
ulama untuk meminta nasihatnya.

Maka esok harinya ia meminta ijin pada germonya untuk berbelanja. 
Tapi Tentu saja ia tak berbelanja, ia pergi ke mesjid terdekat. 
Menemui ulama di sana, dan tentu saja hujan nasihat menyiram 
pikirannya. Dan demikianlah ia berjalan dari satu mesjid ke mesjid
lainnya, dari satu majelis taklim ke majelis taklim lainnya. Dan 
hujan nasihat itu semakin deras. Semuanya mirip, tentang ampunan dan 
janji sorga, dan, lagi-lagi, tentang neraka yang mengerikan, tentang
Tuhan Yang Maha Adil yang memberi balasan setimpal atas hamba-
hambanya; dia harus bertobat, kembali ke jalan lurus, banyak salat, 
dan istighfar.

Tapi itu semua tak bisa menentramkannya, sebab setiap kali ia salat, 
istighfar, bayangan murka Tuhan dalam bentuk siksa neraka selalu 
saja Hadir di pikirannya. Kembali dia mengutuki nasibnya. Maka 
hatinya gundah, dan tetap saja ia masih merasa kotor di hadapan 
Tuhan. Ia selalu ingat siksa neraka itu. Hingga akhirnya setelah 
beberapa minggu tak juga merasa tenang ia memutuskan tak lagi 
mencari ketenangan itu. Ia selalu ingat siksa Tuhan di neraka. Ia 
tak lagi yakin ada ampunan dari-Nya karena bayangan siksa-Nya yang
demikian kejam terus saja menghantuinya, karena ia masih melacur, 
lagipula ia tak ada pekerjaan lain selain melacur karena ia tak 
punya keahlian lainnya - jadi bagaimana mungkin ia diampuni jika 
bertobat tetapi mengulangi kesalahan yang sama; tapi jika ia
tak melacur ia pasti kelaparan. 

Ia merasa tak punya pilihan lain, hingga akhirnya ia secara tak 
sadar telah menarik kesimpulannya sendiri tentang Tuhan: Dia adalah 
Yang Maha Keras di dalam Maha Keadilan-Nya. Dia adil, dan menepati 
janji, maka tentunya siksaan itu pasti dijatuhkan. Dirinya telah 
ditakdirkan menjadi pelacur selamanya dan karena itu akan tetap 
bergelimang dosa. Dengan pikiran begitu ia patah semangat. 
Pikirannya kalut dan akhirnya ia nekat hendak bunuh diri. Ya, bunuh 
diri! Bukankah sama saja mati nanti dengan mati sekarang, toh 
hukuman sudah menanti. Memang benar dia pernah dengar sifat-Nya yang 
Maha Pengampun. Ia memang pernah dengar bahwa sebelum nyawa sampai 
ke kerongkongan ampunan-Nya masih terbuka. Akan tetapi ia juga 
pernah mendengar bahwa manusia berdosa mesti masuk neraka dulu untuk 
disucikan dari kotoran-kotoran dosanya, baru diangkat ke sorga. 

Jadi, pikirnya, mungkin, sekali lagi mungkin, dirinya akan diampuni, 
tetapi tetap saja ia mesti masuk neraka, sebab Tuhan Maha Adil dan 
Menepati Janji. Lagipula tak ada jaminan ia masih hidup esok hari, 
dan tak ada jaminan dia akan mati dalam keadaan telah bertobat.
Selain itu cap dirinya sebagai pelacur sungguh sulit dihapuskan. 
Bahkan kalau ia meninggalkan dunia pelacuran ini, sebutan "bekas 
pelacur" tetap saja memalukan. Bahkan di dunia ini sesungguhnya dia 
telah dihukum secara sosial dan psikologis. Bahkan di dunia
ini dia sudah dihukum! Jadi Sekali lagi, hukuman itu tampak sebagai 
sebuah keniscayaan.

Sekarang ia harus memikirkan cara bunuh diri yang paling efisien dan 
tidak menyakitkan. Gantung diri jelas tak nyaman. Terjun dari gedung 
bertingkat juga tak mungkin sebab dia takut ketinggian. Ini persoalan
serius, ia harus memikirkannya masak-masak. Dan malam ini, sambil 
melakukan pekerjaannya melayani lelaki, pikirannya sibuk memikirkan 
cara bunuh diri secara efisien dan tak menyakitkan. Dan pada dini 
hari sekitar jam 4 dia sudah menemukan caranya.

Dua hari kemudian ia pergi dari lokalisasi ke desa di selatan kota 
yang sering dikunjunginya jika dia stres untuk melaksanakan niatnya. 
Di ujung desa itu terdapat lembah ngarai yang pemandangannya sangat 
indah. Di sebelah timur ngarai itu terdapat hutan lebat, dan gunung 
yang tak begitu tinggi. Saat matahari muncul dari balik gunung itu 
sinar emasnya meluncur seperti lempengan emas menerpa dedaunan 
pepohonan hutan itu.

Sementara itu kabut merayap naik dari ngarai lalu dengan pelan dan 
halus menyelimuti hutan dan lubang ngarai yang menganga itu. Meski 
di atas ngarai, ia tak merasa berada di ketinggian jika kabut itu 
sudah menutupinya, sebab nanti hanya akan tampak hamparan
permadani putih membentang di atas ngarai. Karenanya dia bisa 
berjalan ke permadani itu dan, tentu saja, ia akan jatuh ke ngarai 
yang curam dan berbatu. Sungguh tempat ideal untuk bunuh diri. Saat 
pelacur itu sampai di tempat itu di pagi hari, ngarai tersebut sudah
hampir tertutup oleh kabut, dan permadani putih itu sudah terbentuk. 
Keadaannya sepi, dan hanya desir angin yang mengisi kekosongan. Dia 
tinggal menunggu beberapa saat lagi, dan terlaksanalah rencananya,
tanpa harus takut.

Demikianlah, ketika permadani itu sudah terbentuk, ia menarik nafas 
panjang, mengepalkan kedua tangan, ditegakkannya kepala dan 
punggungnya, lalu dengan langkah pelan tapi pasti ia berjalan ke 
bibir ngarai.Angin masih berdesir,dan di atas seekor burung
melayang seolah ingin menyaksikan detik-detik yang mendebarkan ini. 
Langit biru cerah, udara dingin, sepi, dan langkah kakinya terdengar 
berdetak keras saat menapak tanah. Dalam hitungan detik ia sampai di 
bibir ngarai. Ia tak menatap ke bawah, hanya memandang permadani 
putih itu. Sejenak ia tampak bimbang, bibirnya terkatup. Lalu 
dipejamkan matanya dan seiring hembusan angin ia mengangkat kakinya 
maju ke depan... Di kejauhan terdengar suara cicit burung. Daun
gemerisik disentuh angin. Bukk... pelacur itu terjerembab... ke 
belakang! Di saat yang menentukan itu sebuah tangan menarik badannya 
dengan keras. Jadi ia tak jadi mati.

Pelacur itu meringis kesakitan, lalu menoleh ke belakang. Di 
lihatnya seorang lelaki setengah baya, sedikit beruban, memanggul 
ikatan rumput, dengan sabit di pinggangnya. Lelaki itu 
tersenyum. "Kenapa?" tanyanya pelan, sambil meletakkan ikatan 
rumput, lalu menolong pelacur itu berdiri. Pelacur itu, setelah
terhenyak heran sejenak, merasa kecewa, sedih dan marah, lalu duduk 
di atas tanah. Kemudian terdengar isak tangis di kesunyian. Lelaki 
itu membiarkannya menangis. Setelah beberapa lama isak itu semakin
pelan, lalu berhenti sama sekali.

"Kenapa?" kembali ia bertanya. Pelacur itu hanya diam. Angin menderu 
sedikit lebih kencang. Setelah beberapa lama ia mendesah. "Mengapa 
paman selamatkan aku?" protesnya.

"Aku hanya mengikuti kata hati. Bunuh diri itu perbuatan buruk, maka 
aku mencegahmu. Tampaknya kau menanggung beban persoalan yang sangat 
berat hingga kau berbuat nekat. Ceritakanlah, barangkali aku bisa
meringankannya. "

"Tak usahlah paman. Aku sudah berminggu-minggu mencoba 
menguranginya, tapi itu bahkan menambah bebanku. Lagipula aku tak 
ingin membebani paman dengan persoalanku. "

Lelaki itu tersenyum. "Mari duduk. Ceritakan saja, aku tak kan 
merasa terbebani." Setelah ragu sejenak, pelacur itu menurut. Ia 
duduk di atas batu, sedangkan lelaki itu duduk di depannya, juga di 
atas batu. Hening sesaat. Perempuan itu hanya menundukkan kepalanya. 
Angin bertambah kencang, kabut itu mulai tersingkap dan permadani 
itu perlahan-lahan terurai,menyingkapkan dasar ngarai. Rambut 
pelacur itu berkibar, dan beberapa helai menutupi wajahnya.Burung
di langit itu masih berputar, seperti tak hendak melewatkan 
peristiwa ini. Kemudian, sambil menyibakkan rambut yang menutup 
wajahnya itu, dia mengangkat kepalanya dan menatap lelaki itu. Lalu 
ia mulai menceritakan semuanya, ya, semuanya, dari awal hingga
akhir.

Setelah selesai, pelacur itu menunduk lagi, dan tak terasa matanya 
kembali berlinang. "Hmm, jadi itu persoalannya. Jadi kau yakin 
Tuhan, walau mungkin akan mengampunimu, Dia tetap akan menghukummu 
atas dosa-dosamu. Sungguh adil Tuhanmu itu, tetapi Dia juga
sungguh keras. Tak memberimu pilihan selain melacur, hmm, Dia 
sungguh keras."

Perempuan itu hanya menganggukkan kepalanya. Di atasnya, burung itu 
masih berputar, lalu meluncur turun ke pepohonan hutan.Sementara itu 
kabut sudah semakin tipis, dan matahari mulai mengirimkan hawa
panasnya. Tetapi angin masih kencang.

"Aku mau bertanya, seandainya ada orang yang membebaskanmu dari 
dunia pelacuran, apakah kau masih yakin Tuhan akan menghukummu? "

Sejenak pelacur itu berpikir. "Ya," jawabnya.

"Mengapa?"

"Sebab aku terlampau kotor, dan hanya api neraka saja yang bisa 
menghapusnya. Bukankah Dia itu Hakim Maha Adil? Tentunya kesalahan 
tak dihapus begitu saja. Bukankah menurut kitab suci yang pernah aku 
baca perbuatan buruk sebesar zarah sekalipun akan mendapat 
balasannya?"

"Jadi menurutmu Tuhan itu bagaimana?"

"Dia Maha Adil. Dia pasti menepati janji. Aku ingat dulu ustad di 
desaku mengatakan begitu. Dia akan menghukumku..." sampai di sini 
dia menangis lagi.

Lelaki itu menggelengkan kepalanya. tampak jelas dia begitu 
masygul."Terlalu banyak orang yang seperti dia" katanya dalam hati. 
Tapi ia sadar bahwa pelacur itu sudah banyak mendapat nasihat, jadi 
dia merasa tak perlu memberinya nasihat lagi. Akhirnya, setelah
menimbang-nimbang sejenak dia berkata: "Kau tertekan sekali. Hidupmu 
demikian pedih karena Tuhanmu menghendaki begitu, kan? Tak memberimu 
pilihan selain melacur, dan tentu akan menghukummu, " katanya, 
mengulang kata-katanya yang tadi telah diucapkan.

Sambil terisak pelacur itu mengangguk, "Ya, Dia tak memberiku banyak 
pilihan."

"Jadi kalau begitu Tuhanmu itulah sumber masalahnya,sebab Dia-lah 
yang menjadikanmu tertekan begini."

Mendengar ini, pelacur itu agak ragu. Benarkah Tuhannya yang menjadi 
sumber masalah? Benarkah takdir-Nya yang menciptakan semua persoalan 
yang menimpanya kini? Ia jadi bimbang, tak tahu apa yang
mesti dikatakan. Seketika pikirannya kosong, kalut. Ia jadi takut 
sendiri. Apakah takdir Tuhan yang mempermainkannya? Ia tiba-tiba 
ingat betapa para lelaki di lereng Merapi yang tidur lelap bersama 
istri mereka yang sah tersapu oleh hawa panas dan desa mereka 
hancur, sementara itu para lelaki kaya yang selingkuh dan 
menidurinya tak tersentuh sama sekali oleh bencana ini. Apakah 
penduduk desa itu lebih jahat daripada lelaki kaya yang menidurinya? 

Apakah penduduk desa itu lebih bejat moralnya ketimbang penduduk 
kota? Apakah perbuatan maksiat di sana lebih banyak dan lebih 
dahsyat ketimbang di kota? Jika tidak, kenapa bencana itu menimpa 
mereka? Ia lalu membandingkannya dengan nasibnya sendiri. Ia ingat 
bekas suaminya, ia ingat germonya. Ia ingat maka kecilnya. Ia ingat 
suara anak-anak desa yang mengaji. Ia ingat penduduk desanya yang 
rajin bertani, mencari nafkah secara halal, tetapi tak kunjung 
makmur. Ia ingat lelaki yang menidurinya, yang mencuri, korupsi 
tetapi hidupnya makmur. 

Jadi di mana keadilan Tuhan? Jadi apakah Tuhan selama ini hanya 
mempermainkan manusia? Lagipula, adakah jaminan penduduk yang 
tertimpa bencana itu masuk sorga? Siapakah yang bisa memastikan para 
lelaki yang menidurinya itu kelak mati sebelum bertobat? Dan 
kepalanya seperti melayang,ia bingung. Tapi ia menjadi jengkel, 
sebab lelaki ini justru menambah persoalan bagi dirinya. Bukankah 
lebih baik dia mati tadi?

"Jika menurutmu Tuhan itu sumber masalah, kau abaikan saja Dia, 
atau... "sejenak dia berhenti. Lalu dengan pelan berkata sambil 
tersenyum misterius:"Bunuhlah Dia. Kujamin masalahmu hilang,"

Dan pelacur itu kaget lalu bertambah jengkel. Membunuh Tuhan? "Apa 
maksud paman?"

"Ya, tinggalkan dia. Hiduplah tanpa Tuhan."

Pelacur itu jadi ragu, jangan-jangan lelaki ini tak waras. Tapi, 
setelah berpikir agak lama, rasanya anjurannya tampak masuk akal. 
Jika ia tak memikirkan Tuhannya lagi, tak memikirkan sorga neraka, 
tentunya ia tak perlu takut lagi, walau hati kecilnya masih cemas 
tentang keadaannya setelah mati.

Tetapi jika ia tak takut lagi kepada Tuhannya yang keras itu, 
bukankah ia dapat hidup dengan lebih nyaman dan tenang? 
Ketidakpastian nasibnya di akhirat akan lenyap, sebab ia telah 
membunuh Tuhan yang menguasai dunia-akhirat. Memikirkan hal ini, 
seketika hatinya menjadi tenang, terbitlah terang di pikirannya. Ya, 
ia akan bunuh atau tinggalkan saja Tuhannya itu. Ia akan menapak 
hidup ini dengan riang dan bebas dari beban dosa dan kecemasan akan 
murka-Nya. Ia merasa bebas. 

Langit masih biru, awan mulai berarak dan tiupan angin menyusut. 
Daun gemerisik di kejauhan.

Jadi demikianlah, pelacur itu, setelah berterima kasih kepada lelaki 
itu, pulang ke lokalisasi. Dia kini merasa siap menentukan nasibnya 
sendiri. Ia tak mau tunduk pada takdir yang menetapkannya jadi 
pelacur.

Karena ia sudah membunuh Tuhan, bukankah takdir itu sudah tak 
berlaku lagi? Maka dengan mantap ia bilang kepada germonya untuk 
berhenti sebagai pelacur. Ia siap cari kerja lagi, apa saja,
asal bukan melacur. Pikirannya kini dipenuhi banyak rencana, dan 
seiring dengan semakin tenangnya pikirannya itu, ia merasakan banyak 
kesempatan terbuka lebar di hadapannya. Ia punya rencana jadi TKW, 
atau pembantu domestik. Ia juga punya rencana untuk membuka warung 
makan. Modalnya bisa pinjam temannya. Pokoknya sejak ia membunuh 
Tuhan, pilihan tak lagi terbatas. Ia tak lagi hanya punya pilihan 
melacur!

Takdir-Nya sudah dihancurkan! Ah, benar sekali nasihat lelaki itu: 
membunuh Tuhan yang jadi sumber masalah. Kenapa tidak dari dulu 
saja! Kini ia jadi pembantu. Sekarang dia tenang dan bahagia dengan 
keadaannya yang sekarang. Pagi itu ia merasa dadanya sangat lapang.
Majikannya akan pergi selama seminggu, dan dia boleh pergi ke mana 
saja selama seminggu ini. Dia ingin berlibur, dan tempat pertama 
yang muncul di pikirannya adalah ngarai itu. Ya, ngarai yang 
mengubah jalan hidupnya. 

Pagi buta dia berangkat. Setelah tiga jam sampailah dia di sana. 
Pemandangannya masih sama, masih sepi dan masih berangin. Hanya saja 
burung yang berputar di angkasa tak ada. Ia duduk di batu tempat dia 
berbincang dengan lelaki itu. Ia tersenyum ketika mengenang 
pertemuan itu. Angin dingin kembali berhembus, menyejukkan wajahnya, 
dan angin itu juga yang menyibakkan rambut menutupi wajahnya. Ia
memejamkan matanya, menarik nafasdalam-dalam, seolah-olah hendak 
menghisap masuk semuakesunyian yang tenang itu ke dalam hatinya, 
seolah hendak menyimpannya dalam hati.

Tiba-tiba dia merasakan sentuhan di bahunya.

Saat membuka mata dia melihat lelaki yang dulu itu sudah berada di 
depannya. Tapi kini ia tak membawa ikatan rumput, hanya sabit di 
pinggangnya. "Bagaimana keadaanmu?" tanyanya, dengan senyum yang 
masih sama seperti yang dulu.

Kini bekas pelacur itu membalas senyum itu dengan senyum pula. "Jauh 
lebih baik. Aku merasa lebih bahagia dan tenang. sekali lagi, terima 
kasih atas nasihat paman," sahutnya ramah.

"Oh ya? Ceritakanlah padaku. Berbagilah kebahagiaanmu denganku." 
Lalu lelaki itu duduk di atas batu tepat di depannya. Persis seperti 
pertemuan pertama dulu. Kali ini bekas pelacur itu tak ragu lagi 
untuk menceritakan semuanya, ya, semuanya, dari sejak pertemuan 
pertama sampai pertemuan yang sekarang. 

Dan lelaki itu tertawa kecil, mengangguk-anggukan kepalanya. "Hmm, 
kau telah menemukan ganti atas Tuhanmu yang kau bunuh dulu. Kau
telah menemukan Tuhan baru."

Bekas pelacur heran mendengar ucapannya. Mendapatkan ganti Tuhan 
yang baru? Memangnya ada berapa banyak Tuhan itu? "Apa maksudmu?"

"Apakah kau tahu bahwa Tuhan itu tunduk kepada pikiran orang?" 
Perempuan itu menggeleng, dan bertambah heran. Lelaki itu bangkit 
berdiri, menatap hamparan langit, lalu berkata: "Dulu kau 
menundukkan Tuhan dengan pikiranmu. Kau jadikan dia Tuhan yang Adil 
dan Keras. Tuhan yang tak memberimu pilihan. Maka Tuhanpun menuruti 
keinginanmu. Jadi bukan Tuhan sumber masalahmu, tapi kau sendiri." 

Seketika itu juga pikirannya kembali kosong, tapi kini tak kalut 
lagi. Ia lalu lagi-lagi ingat dulu waktu kecil saat mengaji
kitab-kitab agama, ustadnya membacakan hadits qudsi, yang artinya 
kurang lebih menyatakan bahwa Tuhan itu adalah sesuai dengan 
anggapan dan pikiran orang, karena itu orang mesti berbaik sangka 
kepada-Nya. Kini kepalanya kembali melayang, tapi ia tak bingung 
lagi, juga tak jengkel lagi. Tiba-tiba dadanya bertambah lapang. Ia 
merasa bahagia karena telah mendapatkan Tuhan yang sama sekali lain 
dengan yang dulu. Tuhan yang membebaskan, memberi banyak pilihan, 
ampunan.

Dia tiba-tiba merasa Tuhannya yang sekarang jauh lebih ramah dan 
pengasih. Dia memberinya kebebasan dari pelacuran. Dia tiba-tiba 
sadar musibah yang berwujud rasa tertekan yang dulu menimpa dirinya 
bukan hanya sekedar musibah. Dia ingat musibah di lereng merapi.
Dia ingat lelaki korup tapi makmur yang menidurinya. Dia ingat 
penduduk desa yang bekerja keras dan halal tapi tak juga makmur. 
Kini ia memandang itu semua secara berbeda.

Takdir tak mempermainkan! Ya, takdir tak mempermainkan manusia. 
Manusialah yang bermain-main dengan takdirnya sendiri. Sungguh sulit 
dijelaskan, tapi pengalamannya mengatakan begitu. Bekas pelacur itu 
tersenyum. Lelaki itu juga tersenyum, dan setelah mengucap salam dia
pergi, mencari rumput dengan sabitnya yang terselip di pinggang. 
Sejenak kemudian bekas pelacur itu tiba-tiba seperti mendengar 
panggilan shalat. Dan kali ini hatinya bergetar, sebab hatinya rindu 
ingin segera menemui dan bercakap-cakap lebih banyak dengan Tuhannya 
yang baru ini.

Hayya alal falah....panggilan itu kembali bergema di kalbunya. Angin 
masih semilir, daun gemerisik pelan ditengah sunyi. Pelan sekali...





** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke