| Kemenangan Yunus untuk Kaum Papa Oslo, Jumat - Peraih Nobel Perdamaian 2006 Muhammad Yunus menegaskan, penganugerahan Nobel kepada dirinya merupakan sebuah kemenangan bagi kaum papa di seluruh dunia. "Ini adalah berita fantastis bagi kami semua, bagi Bank Grameen, bangsa
Banglades, semua orang miskin di negara ini, dan semua orang miskin di seluruh dunia," kata Yunus, Jumat (13/10), mengomentari pemberian Nobel Perdamaian kepada dirinya. Dia menambahkan, penganugerahan Nobel ini merupakan puncak pengakuan atas upaya memberantas kemiskinan. Sebelumnya, Yunus telah memperoleh sejumlah penghargaan karena keuletannya membela kaum miskin, terutama perempuan. "Ini adalah penghargaan terbaru dan sangat spesial," katanya. Yunus memulai program pemberantasan kemiskinan di Banglades pada tahun 1974. Melalui programnya, jutaan orang miskin di Banglades bisa terbebas dari isapan lintah darat dan tengkulak, salah satunya adalah Sufia Begum, perajin bambu. Saat itu, Sufia berutang
kepada tengkulak untuk modal membuat bangku dari bambu. Untuk setiap bangku, dia meminjam uang 5 taka atau kurang dari Rp 850. Namun, dia harus mengembalikan utang tersebut berikut bunganya sebesar Rp 184. "Saya berkata pada diri sendiri, oh Tuhan, hanya karena lima taka dia menjadi budak. Saya tidak mengerti mengapa mereka harus menjadi begitu miskin padahal mereka bisa membuat barang kerajinan yang bagus," kata Yunus. Yunus menambahkan, setelah mendapatkan Nobel, tanggung jawabnya untuk memberantas kemiskinan menjadi lebih berat. "Ini memberi beban tanggung jawab yang lebih besar. Kami harus menghapus kemiskinan dari negara ini dan juga berupaya lebih keras untuk menghapus kemiskinan di seluruh dunia," ujarnya. Dia berharap, program pemberantasan kemiskinan di seluruh dunia dapat dilakukan lebih intensif di masa depan. Selain itu, dia memimpikan program pemberian kredit mikro dapat dilakukan di seluruh dunia. Yunus juga menunjukkan betapa pentingnya program pemberantasan kemiskinan untuk menciptakan keamanan dunia. "Pemberantasan kemiskinan akan mendatangkan perdamaian yang nyata. Anda tidak akan dihormati dan punya harga diri selama Anda masih terjepit dalam kemiskinan," katanya. Presiden bisa menerima Meskipun Hadiah Nobel Perdamaian 2006 tidak jatuh ke tangannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengaku bisa menerima semuanya dan senantiasa mengucap syukur. Sebab, itulah jalan yang terbaik dan yang sudah direncanakan Tuhan yang Maha
Kuasa. Presiden memberikan ucapan selamat kepada pemenang Nobel Perdamaian tersebut. Harapan Presiden, kemenangan Nobel Perdamaian tersebut dapat segera mewujudkan perdamaian dunia. Presiden Yudhoyono mengatakan itu seusai shalat tarawih dan silaturahmi bersama dengan ulama, pimpinan daerah, dan masyarakat Demak di Masjid Agung Demak, Jawa Tengah, Jumat (13/10) malam. Presiden mengingatkan, tanpa hadiah Nobel pun jangan sampai itu mengurangi semangat melanjutkan tugas bangsa dan negara Indonesia untuk menyelesaikan permasalahan Aceh dan masalah lain di negeri yang masih harus diupayakan.(AFP/REUTERS/INU/HAR/BSW) |