On Wed, 18 Oct 2006 06:15:08 +0700, Fatahillah wrote
> Namo Buddhaya,
>
> Kalyana mitta,
> Maaf kalau sebelumnya pernah di post ( sebab saya tidak bisa
> menemukan post-nya ). Apakah ada yang bisa memberikan entah itu
> penjelasan, pengertian, perincian ataupun contoh mengenai " Bentuk
> Itu Kosong, Kosong Itu Bentuk ". Saya sering sekali mendengar
> kalimat ini tetapi baru semalam saya berpikir pengertian dari
> kalimat ini apa ?? Ketika saya ditanya, apa yang dimaksud dengan "
> Bentuk Itu Kosong dan Kosong Itu Bentuk ".
[1] Fenomena yang terkondisi adalah tidak kekal, terkondisi oleh berbagai faktor dan memiliki sifat utaman berubah dari momen ke momen berikutnya menuju kelapukan, kehancuran, penghabisan, kematian, dsb. contoh manusia tidak kekal, lahir, sakit, tua, mati, jadi penuaan telah terjadi ketika sesaat terjadinya konsepsi (pembuahan), pelan-pelan menuju kematian (belum lahir dari kandungan ibu saja sudah menuju kematian).
[2] fenomena terkontaminasi adalah dukkha (derita,ketidakpuasan), terkontaminasi
karena dipicu oleh ketidaktahuan, kemelekatan, dan amarah. contoh karena
ketidaktahuan kita percaya bahwa membunuh tidak mendatangkan akibat buruk
apapun, dikemudian hari kita menderita akibat perbuatan tersebut; melekat (tak
ingin kehilangan, ingin memiliki sebanyak-banyak atas hal-hal duniawi yg
'tidak kekal' demi kepentingan pribadi, atas dasar ketidaktahuan),
mengumpulkan uang sebanyak2nya atas dasar tamak, bahkan mengorbakan orang
lain, dsb, akibat buruknya adalah meninggalkan jejak tamak, memperkuat
kemelekatan pada duniawi yg ada dalam batin kita, ujung2nya jg menderita fisik dan mental. kalau amarah sudah jelas akibatnya, efek jangka pendek dan panjang.
dan [3]semua fenomena tanpa "aku" sejati (secara khusus berkaitan dgn badan
jasmani juga bisa direlasikan dgn hal lain), dan semua fenomena itu kosong (emptiness).
satu lagi adalah [4] Nirvana or State beyond sorrow (transcendence of suffering) is peace, saya tidak menguraikan bagian ini karena belum perlu. jadi total ada 4 bagian yg disebut "The four Buddhist axioms or seals or promulgations".
"4 Budddhist Seals" ini merupakan penjabaran penjelasan dari "4 Kebenaran Mulia (Four Noble Truths)", kemudian penjabaran 3 jenis penderitaan, derita biasa, derita karena perubahan, dan derita karena terkondisi, derita karena terkondisi inilah yang akhirnya dijelaskan dalam 4 buddhist seals itu. oke kembali ke pertanyaan.......
Mengapa disebut kosong? contoh batang pohon pisang, tidak ada intinya, kalau kita buka terus-menerus, semuanya kulit; pelepah pisang terbangun oleh kulit-kulit, jadi sesungguhnya batang pohon pisang itu adalah fenomena terkondisi. kosong bukan berarti tidak eksis, toh batang pohon pisang itu hadir di hadapan kita karena berbagai faktor (salah satunya adalah pengabungan dari berbagai kulit-kulit itu), kosong berarti dia tidak bisa berdiri sendiri, eksistensi (kemunculan, keberadaan) batang pohon pisang sangat tergantung pada faktor2 lain. begitu jg dgn badan jasmani.
kosong adalah isi (batang pohon pisang yg dikatakan kosong "tidak ada inti sesungguhnya" itu telah eksis karena pengabungan berbagai faktor) [fenomena pada tingkat konvensional yg bisa kita terima dan mengerti melalui penalaran dan logika bahwa pengabungan kulit-kulit itu menjadikan ia dgn nama batang pohon pisang]
isi adalah kosong (ketika semua faktor2 pengabungan pembentuk batang pohon pisang itu dipisahkan, maka pelepah pisang itu pun hilang), [tidak kekal]
masih byk contoh yg bisa diajukan, tapi satu contoh itu semoga sudah cukup.
contoh pelepah pisang ini diambil dari Karya Arya Nagarjuna, Suhrlekkha
(Letter to a Friend)
mengapa Buddha memberi penjelasan seperti ini??? karena di jaman itu
berekembang pemahaman bahwa ada suatu roh (soul) yg kekal, yg tidak berubah,
dan bisa berdiri sendiri; dan byk teori2 non-buddhis (thirtika) yg tidak
sesuai dengan dharma, oleh karena itu Buddha menjelaskan ini semua utk
membuktikan secara nalar dan logika bahwa teori mereka tidak benar.
lantas tujuannya apa??? tujuan utama adalah mengusir ketidak-tahuan
(ignorant); setelah tau tidak kekal, setelah tau itu 'kosong', masih adakah sesuatu yg perlu kita 'lekati', genggam erat tak mau lepas? bahkan sampai mati-pun tak mau melepasnya??
Pemahaman kekosongan memang perlu ekstra daya upaya, karena
tulisan email dan diskusi kita hanya sampai pada tingkat pengetahuan, tanpa ada perenungan, meditasi, dan menerapkan dlm kehidupan, tetap tidak akan membawa manfaat maksimal.
ingat bahwa ketidak-tahuan selalu hadir dlm diri kita, karena ketidaktahuan
kita melekat, karena ketidaktahuan kita marah, karena ketidaktahuan kita
berbuat tidak bajik. dng belajar dharma dan mengusir sebanyak-banyak
ketidaktahuan, kita bisa berbuat kebajikan semakin banyak dan kualitasnya
semakin bagus.
>
> Apakah ini termasuk dalam ucapan dari Sang Buddha ? Jika Iya
> terdapat di Khotbah / Sutta yang mana ??
Bisa ditemukan di Prajnaparamita Hridaya Sutra, perbincangan Antara Arya Sariputra dan Arya Avalokitesvara, percakapan mereka terjadi karena dorongan dari Buddha Shakyamuni, walaupun bukan dibabarkan oleh Buddha Shakyamuni sendiri, tapi di bagian akhir, Buddha bagkit dari duduknya memuji dan menyanjung Arya Avalokitesvara dan membenarkan semua ucapannya.
karena kekuatan itulah, maka percakapan itu dianggap pembabaran Dharma dari Buddha Shakyamuni dgn cara memotivasi terjadinya dialog itu, umumnya disebut sebagai upaya-kausalya (”skillfull means”)
--------------------
The Heart Sutra
Thus have I heard. Once the Blessed One was dwelling in Rajagriha at Vulture Peak mountain, together with a great gathering of the sangha of monks and a great gathering of the sangha of bodhisattvas. At that time the Blessed One entered the samadhi that expresses the dharma called "profound illumination," and at the same time noble Avalokiteshvara, the bodhisattva mahasattva, while practicing the profound prajnaparamita, saw in this way: he saw the five skandhas to be empty of nature.
Then, through the power of the Buddha, venerable Shariputra said to noble Avalokiteshvara, the bodhisattva mahasattva, "How should a son or daughter of noble family train, who wishes to practice the profound prajnaparamita?"
Addressed in this way, noble Avalokiteshvara, the bodhisattva mahasattva, said to venerable Shariputra, "O Shariputra, a son or daughter of noble family who wishes to practice the profound prajnaparamita should see in this way: seeing the five skandhas to be empty of nature. Form is emptiness; emptiness also is form. Emptiness is no other than form; form is no other than emptiness. In the same way, feeling, perception, formation, and consciousness are emptiness. Thus, Shariputra, all dharmas are emptiness. There are no characteristics. There is no birth and no cessation. There is no impurity and no purity. There is no decrease and no increase. Therefore, Shariputra, in emptiness, there is no form, no feeling, no perception, no formation, no consciousness; no eye, no ear, no nose, no tongue, no body, no mind; no appearance, no sound, no smell, no taste, no touch, no dharmas, no eye dhatu up to no mind dhatu, no dhatu of dharmas, no mind consciousness dhatu; no ignorance, no end of ignorance up to no old age and death, no end of old age and death; no suffering, no origin of suffering, no cessation of suffering, no path, no wisdom, no attainment, and no non-attainment. Therefore, Shariputra, since the bodhisattvas have no attainment, they abide by means of prajnaparamita.
Since there is no obscuration of mind, there is no fear. They transcend falsity and attain complete nirvana. All the buddhas of the three times, by means of prajnaparamita, fully awaken to unsurpassable, true, complete enlightenment. Therefore, the great mantra of prajnaparamita, the mantra of great insight, the unsurpassed mantra, the unequaled mantra, the mantra that calms all suffering, should be known as truth, since there is no deception. The prajnaparamita mantra is said in this way:
OM GATE GATE PARAGATE PARASAMGATE BODHI SVAHA
Thus, Shariputra, the bodhisattva mahasattva should train in the profound prajnaparamita.
Then the Blessed One arose from that samadhi and praised noble Avalokiteshvara, the bodhisattva mahasattva, saying, "Good, good, O son of noble family; thus it is, O son of noble family, thus it is. One should practice the profound prajnaparamita just as you have taught and all the tathagatas will rejoice."
When the Blessed One had said this, venerable Shariputra and noble Avalokiteshvara, the bodhisattva mahasattva, that whole assembly and the world with its gods, humans, asuras, and gandharvas rejoiced and praised the words of the Blessed One.
Lotsawa Bhikshu Rinchen De translated this text into Tibetan with the Indian pandita Vimalamitra. It was edited by the great editor-lotsawas Gelong Namkha and others. This Tibetan text was copied from the fresco in Gegye Chemaling at the glorious Samye vihara. It has been translated into English by the Nalanda Translation Committee, with reference to several Sanskrit editions.
--------------------
>
> Salam Metta,
>
> Erlin
>
Semoga tidak ada penjelasan yg salah ataupun melenceng, semoga bermanfaat.
Salam dari Dharamsala, India
J u
n a i d i
Tibetan Language & Buddhist Philosophy
Library of Tibetan Works & Archives
Centre for Tibetan Studies & Researchs
Gangchen Kyishong Dharamsala - 176215
Himachal Pradesh - I n d i a
"May I become at all times, both now and forever; a protector for those without protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack of shelter; and a servant to all in need"-- H.H. The 14th Dalai Lama, Tenzin Gyatso -- Bodhicharyavatara [Tib. Jang-chub Sem-pa'i Cod-pa Nyid Jug-pa Zhug-so; Ing. The Guide to the Bodhisattva Way of Life, Chapter III, Verse 18-19]~ Shantideva
> Namo Buddhaya,
>
> Kalyana mitta,
> Maaf kalau sebelumnya pernah di post ( sebab saya tidak bisa
> menemukan post-nya ). Apakah ada yang bisa memberikan entah itu
> penjelasan, pengertian, perincian ataupun contoh mengenai " Bentuk
> Itu Kosong, Kosong Itu Bentuk ". Saya sering sekali mendengar
> kalimat ini tetapi baru semalam saya berpikir pengertian dari
> kalimat ini apa ?? Ketika saya ditanya, apa yang dimaksud dengan "
> Bentuk Itu Kosong dan Kosong Itu Bentuk ".
[1] Fenomena yang terkondisi adalah tidak kekal, terkondisi oleh berbagai faktor dan memiliki sifat utaman berubah dari momen ke momen berikutnya menuju kelapukan, kehancuran, penghabisan, kematian, dsb. contoh manusia tidak kekal, lahir, sakit, tua, mati, jadi penuaan telah terjadi ketika sesaat terjadinya konsepsi (pembuahan), pelan-pelan menuju kematian (belum lahir dari kandungan ibu saja sudah menuju kematian).
[2] fenomena terkontaminasi adalah dukkha (derita,ketidakpuasan), terkontaminasi
karena dipicu oleh ketidaktahuan, kemelekatan, dan amarah. contoh karena
ketidaktahuan kita percaya bahwa membunuh tidak mendatangkan akibat buruk
apapun, dikemudian hari kita menderita akibat perbuatan tersebut; melekat (tak
ingin kehilangan, ingin memiliki sebanyak-banyak atas hal-hal duniawi yg
'tidak kekal' demi kepentingan pribadi, atas dasar ketidaktahuan),
mengumpulkan uang sebanyak2nya atas dasar tamak, bahkan mengorbakan orang
lain, dsb, akibat buruknya adalah meninggalkan jejak tamak, memperkuat
kemelekatan pada duniawi yg ada dalam batin kita, ujung2nya jg menderita fisik dan mental. kalau amarah sudah jelas akibatnya, efek jangka pendek dan panjang.
dan [3]semua fenomena tanpa "aku" sejati (secara khusus berkaitan dgn badan
jasmani juga bisa direlasikan dgn hal lain), dan semua fenomena itu kosong (emptiness).
satu lagi adalah [4] Nirvana or State beyond sorrow (transcendence of suffering) is peace, saya tidak menguraikan bagian ini karena belum perlu. jadi total ada 4 bagian yg disebut "The four Buddhist axioms or seals or promulgations".
"4 Budddhist Seals" ini merupakan penjabaran penjelasan dari "4 Kebenaran Mulia (Four Noble Truths)", kemudian penjabaran 3 jenis penderitaan, derita biasa, derita karena perubahan, dan derita karena terkondisi, derita karena terkondisi inilah yang akhirnya dijelaskan dalam 4 buddhist seals itu. oke kembali ke pertanyaan.......
Mengapa disebut kosong? contoh batang pohon pisang, tidak ada intinya, kalau kita buka terus-menerus, semuanya kulit; pelepah pisang terbangun oleh kulit-kulit, jadi sesungguhnya batang pohon pisang itu adalah fenomena terkondisi. kosong bukan berarti tidak eksis, toh batang pohon pisang itu hadir di hadapan kita karena berbagai faktor (salah satunya adalah pengabungan dari berbagai kulit-kulit itu), kosong berarti dia tidak bisa berdiri sendiri, eksistensi (kemunculan, keberadaan) batang pohon pisang sangat tergantung pada faktor2 lain. begitu jg dgn badan jasmani.
kosong adalah isi (batang pohon pisang yg dikatakan kosong "tidak ada inti sesungguhnya" itu telah eksis karena pengabungan berbagai faktor) [fenomena pada tingkat konvensional yg bisa kita terima dan mengerti melalui penalaran dan logika bahwa pengabungan kulit-kulit itu menjadikan ia dgn nama batang pohon pisang]
isi adalah kosong (ketika semua faktor2 pengabungan pembentuk batang pohon pisang itu dipisahkan, maka pelepah pisang itu pun hilang), [tidak kekal]
masih byk contoh yg bisa diajukan, tapi satu contoh itu semoga sudah cukup.
contoh pelepah pisang ini diambil dari Karya Arya Nagarjuna, Suhrlekkha
(Letter to a Friend)
mengapa Buddha memberi penjelasan seperti ini??? karena di jaman itu
berekembang pemahaman bahwa ada suatu roh (soul) yg kekal, yg tidak berubah,
dan bisa berdiri sendiri; dan byk teori2 non-buddhis (thirtika) yg tidak
sesuai dengan dharma, oleh karena itu Buddha menjelaskan ini semua utk
membuktikan secara nalar dan logika bahwa teori mereka tidak benar.
lantas tujuannya apa??? tujuan utama adalah mengusir ketidak-tahuan
(ignorant); setelah tau tidak kekal, setelah tau itu 'kosong', masih adakah sesuatu yg perlu kita 'lekati', genggam erat tak mau lepas? bahkan sampai mati-pun tak mau melepasnya??
Pemahaman kekosongan memang perlu ekstra daya upaya, karena
tulisan email dan diskusi kita hanya sampai pada tingkat pengetahuan, tanpa ada perenungan, meditasi, dan menerapkan dlm kehidupan, tetap tidak akan membawa manfaat maksimal.
ingat bahwa ketidak-tahuan selalu hadir dlm diri kita, karena ketidaktahuan
kita melekat, karena ketidaktahuan kita marah, karena ketidaktahuan kita
berbuat tidak bajik. dng belajar dharma dan mengusir sebanyak-banyak
ketidaktahuan, kita bisa berbuat kebajikan semakin banyak dan kualitasnya
semakin bagus.
>
> Apakah ini termasuk dalam ucapan dari Sang Buddha ? Jika Iya
> terdapat di Khotbah / Sutta yang mana ??
Bisa ditemukan di Prajnaparamita Hridaya Sutra, perbincangan Antara Arya Sariputra dan Arya Avalokitesvara, percakapan mereka terjadi karena dorongan dari Buddha Shakyamuni, walaupun bukan dibabarkan oleh Buddha Shakyamuni sendiri, tapi di bagian akhir, Buddha bagkit dari duduknya memuji dan menyanjung Arya Avalokitesvara dan membenarkan semua ucapannya.
karena kekuatan itulah, maka percakapan itu dianggap pembabaran Dharma dari Buddha Shakyamuni dgn cara memotivasi terjadinya dialog itu, umumnya disebut sebagai upaya-kausalya (”skillfull means”)
--------------------
The Heart Sutra
Thus have I heard. Once the Blessed One was dwelling in Rajagriha at Vulture Peak mountain, together with a great gathering of the sangha of monks and a great gathering of the sangha of bodhisattvas. At that time the Blessed One entered the samadhi that expresses the dharma called "profound illumination," and at the same time noble Avalokiteshvara, the bodhisattva mahasattva, while practicing the profound prajnaparamita, saw in this way: he saw the five skandhas to be empty of nature.
Then, through the power of the Buddha, venerable Shariputra said to noble Avalokiteshvara, the bodhisattva mahasattva, "How should a son or daughter of noble family train, who wishes to practice the profound prajnaparamita?"
Addressed in this way, noble Avalokiteshvara, the bodhisattva mahasattva, said to venerable Shariputra, "O Shariputra, a son or daughter of noble family who wishes to practice the profound prajnaparamita should see in this way: seeing the five skandhas to be empty of nature. Form is emptiness; emptiness also is form. Emptiness is no other than form; form is no other than emptiness. In the same way, feeling, perception, formation, and consciousness are emptiness. Thus, Shariputra, all dharmas are emptiness. There are no characteristics. There is no birth and no cessation. There is no impurity and no purity. There is no decrease and no increase. Therefore, Shariputra, in emptiness, there is no form, no feeling, no perception, no formation, no consciousness; no eye, no ear, no nose, no tongue, no body, no mind; no appearance, no sound, no smell, no taste, no touch, no dharmas, no eye dhatu up to no mind dhatu, no dhatu of dharmas, no mind consciousness dhatu; no ignorance, no end of ignorance up to no old age and death, no end of old age and death; no suffering, no origin of suffering, no cessation of suffering, no path, no wisdom, no attainment, and no non-attainment. Therefore, Shariputra, since the bodhisattvas have no attainment, they abide by means of prajnaparamita.
Since there is no obscuration of mind, there is no fear. They transcend falsity and attain complete nirvana. All the buddhas of the three times, by means of prajnaparamita, fully awaken to unsurpassable, true, complete enlightenment. Therefore, the great mantra of prajnaparamita, the mantra of great insight, the unsurpassed mantra, the unequaled mantra, the mantra that calms all suffering, should be known as truth, since there is no deception. The prajnaparamita mantra is said in this way:
OM GATE GATE PARAGATE PARASAMGATE BODHI SVAHA
Thus, Shariputra, the bodhisattva mahasattva should train in the profound prajnaparamita.
Then the Blessed One arose from that samadhi and praised noble Avalokiteshvara, the bodhisattva mahasattva, saying, "Good, good, O son of noble family; thus it is, O son of noble family, thus it is. One should practice the profound prajnaparamita just as you have taught and all the tathagatas will rejoice."
When the Blessed One had said this, venerable Shariputra and noble Avalokiteshvara, the bodhisattva mahasattva, that whole assembly and the world with its gods, humans, asuras, and gandharvas rejoiced and praised the words of the Blessed One.
Lotsawa Bhikshu Rinchen De translated this text into Tibetan with the Indian pandita Vimalamitra. It was edited by the great editor-lotsawas Gelong Namkha and others. This Tibetan text was copied from the fresco in Gegye Chemaling at the glorious Samye vihara. It has been translated into English by the Nalanda Translation Committee, with reference to several Sanskrit editions.
--------------------
>
> Salam Metta,
>
> Erlin
>
Semoga tidak ada penjelasan yg salah ataupun melenceng, semoga bermanfaat.
Salam dari Dharamsala, India
Tibetan Language & Buddhist Philosophy
Library of Tibetan Works & Archives
Centre for Tibetan Studies & Researchs
Gangchen Kyishong Dharamsala - 176215
Himachal Pradesh - I n d i a
"May I become at all times, both now and forever; a protector for those without protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack of shelter; and a servant to all in need"-- H.H. The 14th Dalai Lama, Tenzin Gyatso -- Bodhicharyavatara [Tib. Jang-chub Sem-pa'i Cod-pa Nyid Jug-pa Zhug-so; Ing. The Guide to the Bodhisattva Way of Life, Chapter III, Verse 18-19]~ Shantideva
__._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
