MENGEJAR AWAN (1)
Apa itu kebahagiaan sejati? Seringkali kita berpikir bahwa kita tidak
dapat menjadi bahagia jika kita tidak mendapatkan apa yang kita
inginkan. Terdapat sejuta cara untuk menjadi bahagia, akan tetapi
karena kita tidak mengetahui bagaimana membuka pintu menuju
kebahagiaan, kita hanya mengejar hal-hal yang kita inginkan.
Kenyataannya adalah, semakin anda mengejar kebahagiaan, semakin anda
menderita.
Saya memiliki sebuah cerita menarik untuk anda tentang sebuah anak
sungai yang mengalir turun dari puncak gunung. Anak sungai ini masih
sangat muda, dan tujuan dia adalah mencapai lautan. Ia hanya ingin
berlari secepat-cepatnya. Tetapi ketika ia mencapai daratan, dataran
rendah, dan hamparan di bawahnya, ia mulai pelan; dia menjadi sungai.
Sebuah sungai tidak dapat mengalir secepat anak sungai muda.
Mengalir perlahan-lahan, ia mulai memantulkan awan di langit. Terdapat
banyak jenis awan dengan warna dan bentuk yang berbeda. Segeralah
sungai tersebut menghabiskan seluruh waktunya mengejar awan, satu demi
satu. Tetapi awan-awan itu tidak akan tinggal diam, mereka datang dan
pergi, dan ia mengejar mereka. Ketika sungai itu melihat tidak ada
awan yang ingin tinggal bersamanya, hal ini membuat dia sangat sedih,
dan ia menangis.
Suatu hari, ada angin kencang yang meniup pergi seluruh awan. Langit
menjadi biru terang. Akan tetapi karena di sana tidak ada awan, sungai
itu mulai berpikir bahwa hidup sudah tidak berarti lagi. Dia tidak
mengetahui bagaimana menikmati langit biru. Ia mendapatkan langit
tersebut kosong, dan hidupnya juga tampak kehilangan arti.
Malam itu, rasa putus asanya begitu berat sehingga ia ingin membunuh
dirinya. Tetapi bagaimana sebuah sungai membunuh dirinya sendiri? Dari
seseorang anda tidak dapat menjadi bukan siapapun; dari sesuatu anda
tidak dapat menjadi tanpa sesuatu. Sepanjang malam, sungai tersebut
menangis, air matanya membasahi pinggiran sungai. Itu adalah pertama
kalinya ia kembali pada dirinya sendiri. Sebelumnya, ia selalu berlari
dari dirinya. Alih-alih mencari kebahagiaan di dalam, dia telah
mencarinya di luar. Jadi untuk pertama kalinya ia kembali kepada diri
sendiri dan mendengarkan suara dari air matanya, ia menemukan sesuatu
yang mengejutkan: dia menyadari bahwa ia, kenyataannya, terbentuk dari
awan.
Hal ini aneh. Dia telah mengejar-ngejar awan, berpikir bahwa ia tidak
dapat menjadi bahagia tanpa awan, namun dia sendiri terbentuk dari
awan. Apa yang ia cari-cari telah ada di dalam dirinya.
Diterjemahkan oleh : Dayapala Pema Lodoe
Diedit oleh : Bhante Dharmavimala
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta
kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas
dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua,
para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/