--- In [email protected], robin wiliam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Sekuntum teratai untuk anda seorang calon buddha,
>   
>   Mengapa Buddha memberi penjelasan seperti ini??? karena di jaman itu
> berekembang pemahaman bahwa ada suatu roh (soul) yg kekal, yg tidak berubah,
> dan bisa berdiri sendiri; dan byk teori2 non-buddhis (thirtika) yg tidak
> sesuai dengan dharma, oleh karena itu Buddha menjelaskan ini semua utk
> membuktikan secara nalar dan logika bahwa teori mereka tidak benar
>   
>   Ko jun Maafkan ketidaktahuan saya,
>   bukankah di Mahayana sendiri konsep tanpa adanya roh itu ditentang oleh adanya konsep alam bardo yang mempunyai kesan alam manusia setelah meninggal ada alam bawah antara yang membatasi antara alam manusia dengan kelahiran selanjutnya dengan demikian sebenarnya konsep tersebut telah menegaskan adanya jiwa (soul)?
>   
>   Mohon pencerahannya,
>   

Dear Robin,

Akhirnya saya sadar siapakah anda hahaha....(dari email sebelumnya sih, anda bilang baru pulang dari bandung...akhirnya saya connect, ini Robin yg mana)

Back to the question, saya share aja, bukan mutlak atau valid bener, silakan cek lagi, karena saling crosscheck itu penting, agar minimal kita bener dan tepat dulu tentang bbrapa hal dlm buddhism.

Mahayana memang menganut konsep bardo (alam perantara) yg sama sampai saat ini belum pernah saya temukan dalam pembahasana Hinayana, Hinayana, maupun sub bagian lainya dari Hinayana.

Konsep Mahayana menyebutkan bahwa kita terlahir ke alam bardo (jadi mirip dengan prose kelahiran kembali, tapi prosesnya tidak kompleks seperti kelahiran manusia, makhluk yg di alam bardo biasanya akan bertahan selama 49 hari waktu bardo (saya tidak tahu padadaman dgn waktu di bumi), mereka tidak memiliki badan jasmani solid (juga bukan roh yg kekal); saya blom menemukan sumber yg menyebutkan itu adalah roh yg kekal atau sejenisnya, tapi itu disebutkan sebagai 'energi' atau kumpulan 'energi' (byk yg menggunakan istilah lain, 'energi' juga saya kutip, karena tidak semua menggunakan istilah sama, atau sesuatu yg merepresentasi batin seseorang), batin itu bergerak sangat cepat, karma baik dan buruk sangat pengaruh pada pergerakan mereka, ini yg mendorong ia terlahir kembali di salah satu alam (neraka, binatang, setan kelaparan, manusia, asura, atau dewa atau alam lainnya).

Disebutkan bahwa makhluk yg terlahir ke bardo adalah tahap persiapan menuju kelahiran kembali. Setelah 49 hari mereka akan mati di alam bardo dan lahir kembali lagi ke bardo, proses ini berulang terus sampai mereka menemukan tempat yg cocok atas karmanya pendorongnya, ketika mereka menemukan tempat yg cocok, maka mereka akan segera mati saat itu juga, dan terlahir ke rahim seorang ibu (sebagai contoh manusia), mgkn karena saat itu ada proses penyatuan sel sperma dan zigot. msh byk contoh lagi.

Penjelasanya juga masih panjang dan banyak, karena kalau di tarik ke belakang, kita bisa mulai dari proses kematian setahap-setahap (asumsi ini kematian normal, bukan kecelakaan, atau mati mendadak karena serangan jantung, kematian akibat pembuluh darah otak pecah, atau sejenisnya yg merupakan mati mendadak).

jadi tetap tidak mengenal adanya soul, ataupun eternal soul, soul biasanya orang bilang sama persis dgn si empunya badan jasmani; jadi saya tidak melihat ada pertentangan apapun dari konsep ini dlm aliran manapun dlm buddhism.


saya betul2 berharap tidak ada yg meleset atau salah, kalau ada yg merasa kurang bener, mohon koreksi. karena saya tidak mau membuat orang salah paham atau menunjuk jalan yg salah.

Salam dari Dharamsala, India

>                                                                           Robin Williams Idris
>                                                                            Dokter pelipur hati
>

 
J u n a i d i
Tibetan Language & Buddhist Philosophy

Library of Tibetan Works & Archives
Centre for Tibetan Studies & Researchs
Gangchen Kyishong Dharamsala - 176215
Himachal Pradesh - I n d i a

"May I become at all times, both now and forever; a protector for those without protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack of shelter; and a servant to all in need"-- H.H. The 14th Dalai Lama, Tenzin Gyatso -- Bodhicharyavatara [Tib. Jang-chub Sem-pa'i Cod-pa Nyid Jug-pa Zhug-so; Ing. The Guide to the Bodhisattva Way of Life, Chapter III, Verse 18-19]~ Shantideva


__._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke