| Kegagalan Negara Agraris Maraknya Urbanisasi ke Jakarta Menjadi Buktinya
Jakarta, Kompas - Derasnya arus urbanisasi ke Jakarta seiring dengan kembalinya arus mudik Lebaran merupakan bentuk kegagalan konsistensi Indonesia sebagai negara agraris. Salah satu akar persoalan yang mendasarinya adalah
sempitnya akses petani kecil dan buruh tani terhadap tanah serta infrastruktur pertanian. Kondisi itu semakin parah karena pembangunan yang titik beratnya pada ide-ide pertumbuhan masih menempatkan kota-kota besar seperti Jakarta sebagai pusatnya. Di sisi lain, menurut Ketua Konsorsium Pembaharuan Agraria, Usep Setiawan, berbagai persoalan di pedesaan seperti minimnya infrastruktur dan kesulitan tanah terus terjadi. "Tidak mengherankan jika warga desa mengalir terus ke kota untuk mencari penghasilan," kata Usep, Sabtu (28/10). Buruknya kondisi di desa diungkapkan oleh empat orang urban yang sempat ditemui di Terminal Pulo Gadung, Jakarta Timur, Sabtu dinihari. Katim, seorang buruh tani asal desa Telaga, Pemalang, Jawa Tengah mengaku bersama dengan tiga orang temannya,
Muchsinin, Kirno dan Kliwon mengadu nasib ke Jakarta karena kondisi lahan di desanya sangat memprihatinkan. Kekeringan menyebabkan banyak lahan telantar. Katim juga mengatakan, jaringan irigasi, jalan dan listrik belum menyentuh desanya. Demi menghidupi keluarganya, Katim memberanikan diri ke Jakarta. "Ini pertama kali saya datang ke Jakarta dan tidak tahu nanti mau kerja di mana. Yang kami tahu di sini banyak proyek, mungkin nanti kami akan mencari kerja di proyek-proyek itu," tuturnya. Menurut Katim, saat ini hampir semua laki-laki di desanya pergi merantau ke kota. "Tidak banyak yang dapat dikerjakan di desa. Kalau menanam, hasilnya hanya dapat untuk makan saja, tidak cukup menghasilkan uang," kata Katim. Antropolog dari Universitas Indonesia, J Emmed M Prioharyono,
mengemukakan bahwa di samping daya tarik megnet perkotaan yang sangat kuat, urbanisasi juga didorong oleh faktor dari desa sendiri, yakni kemiskinan di wilayah pedesaan. "Mereka mendapat bukti dari sanak saudara mereka bahwa di Jakarta bisa mendapatkan penghasilan yang lebih baik daripada di desa," kata Emmed. Reforma agraria Menyikapi masalah tersebut, menurut Usep, reforma agraria dapat menjadi jawabannya. Langkah itu dinilai dapat menggerakan ekonomi di desa. Ia menyebutkan salah satu langkah operatif yang dapat dilakukan dalam reforma agraria adalah redistribusi tanah dan kemudahan memperoleh kredit modal bagi para petani dan buruh tani. "Jika pilar-pilar itu disediakan oleh
pemerintah, temasuk juga infrastruktur pendukungnya, ekonomi pedesaan akan bergerak dan urbanisasi dapat diantisipasi," ungkapnya. Namun, ia menilai pemerintah kurang serius menangani kondisi tersebut. Rakyat justru berjuang sendiri untuk tetap bertahan hidup. Usep melihat ada banyak peluang dapat dilakukan oleh pemerintah seperti redistribusi lahan bekas perkebunan dan hutan. Langkah itu, kata dia, dapat menahan orang untuk tetap tinggal di desa dan mengelola lahan. Dengan demikian pilihan untuk tetap menjadi negara agraris dapat terjaga karena kaum tani serta buruh tani dimampukan. (JOS) |