[EMAIL PROTECTED] writes :
*Anak Itu Lahir Dengan Selamat*
Dituturkan langsung oleh Rohani, Medan
----------------------------------------------------------
Sosok kecil, ramah dan murah senyum tentunya sudah tidak asing lagi bagi
umat di Vihara Bodhi. Sdri Rohani; begitu biasanya ia disapa, merupakan
aktivis yang telah banyak memberikan sumbangan pada perkembangan Buddha
Dharma dan organisasi. Beberapa bulan setelah pernikahannya dengan
suaminya yang juga aktivis dalam buddhisme, beliau diminta oleh beberapa
dokter untuk mengugurkan kandungan karena janin tidak normal. Tetapi
atas kasihnya dan pengertian yang mendalam tentang Dharma membuatnya
memiliki buah hati yang comel. Sekarang ini beliau hidup bahagia bersama
suami dan anaknya dengan tidak lupa untuk mempraktekkan Buddha Dharma.
AWAL MULANYA
Lebih kurang tiga minggu setelah pernikahanku, saya terjatuh di kamar
mandi dan mencederai tulang ekorku. Setelah berobat ke sinshe selama
hampir 2 minggu, saya pergi melakukan pemotretan sinar X (rontgen) pada
bagian pinggang dan panggul. Begitu keluar dari kamar rontgen, perut
saya terasa sangat mules. Dalam hati saya berpikir, "Jangan-jangan saya
hamil". Saya pernah beberapa kali rontgen untuk mengetahui keadaan
tulang belakang saya yang pernah cedera pada saat saya berumur belasan
tahun tapi belum pernah sekalipun sakit perut setelah itu. Apalagi
sakitnya lain daripada sakit lambung yang kadang saya alami.
Kecurigaan saya sirna ketika besoknya saya mendapatkan mens (haid) yang
hanya berupa sedikit bercak darah saja. Namun besoknya tidak ada lagi
sama sekali dan lusanya sedikit lagi. Kerucigaan saya muncul kembali.
Saya membeli alat Test kehamilan dan melakukan tes, ternyata hasilnya
memang positif. Saya dan suami yang menemani saya pada saat pengetesan
sangat bahagia, tapi malam itu juga saya mendapatkan pendarahan lagi.
Kali ini saya sangat cemas karena sudah tahu bahwa itu bukan darah haid.
Lebih-lebih lagi karena jumlah darahnya jauh lebih banyak dibandingkan
hari sebelumnya.
Keesokan sorenya kami ke dokter tulang yang sekaligus menyandang gelar
SPOG (ahli kebidanan). Setelah dokter melihat hasil rontgen dan
menerangkan tentang masalah tulang saya, saya memberitahukan dokter
bahwa saya mungkin sedang hamil. Saya di USG. Tidak diragukan lagi, saya
100% hamil. "Janinmu antara melekat dan tidak lho. Hamil kok rontgen,
anakmu bisa cacat lho", kata si dokter tapi saya dan suami hanya
tertawa. Terlalu bahagia untuk mengkhawatirkan kata "cacat" yang
dikatakan si dokter. Setelah beristirahat dan diberikan suntikan penguat
janin selama 2 hari terturut-turut, saya tidak mengalami pendarahan lagi.
Untuk pemeriksaan rutin bulanan, kami memutuskan untuk mencari dokter
yang "hanya" spesialis kandungan saja. Karena dokter pertama yang saya
cari, cukup pintar tapi terlalu serba tahu sehingga kami agak deg-degan.
Beliau bisa mengobati pasien secara akupuntur, beliau juga dokter
tulang, juga spesialis kebidanan dan juga melayani perawatan kecantikan
(kulit dan tubuh).
Dokter kedua saya yang saya kunjungi cukup terkenal. Beliau direktur
sebuah RS Swasta di Medan. Oleh beliau saya disarankan untuk
menggugurkan kandangan saya saja. Beliau takut kalau anak saya kandung
nantinya idiot atau mendapatkan masalah jantung atau menderita anemia, dll.
Suami dan saya langsung saja lemas begitu mendengar penjelasan kata
"CACAT" yang dimaksud oleh dokter yang pertama. Kami sangat sedih dan
bingung.
Satu-satunya hal yang terpikirkan olehku saat itu adalah ‘mengadukan’
kesedihan dan kegalauan hatiku pada para Buddha dan Bodhisatva. Di depan
Bodhisatva Rupang Avalokitesvara (Kwan-Im) yang dicetak di sampul sebuah
kitab suci, saya memohon petunjuk. Saya bersujud dan ‘mengadukan’
masalah saya kepada-Nya. Walaupun hanya merupakan komunikasi satu arah,
saya merasa lebih lega, lebih tenang, dan mulai bisa memikirkan langkah
yang selanjutnya. ( Walaupun saya tahu bahwa membicarakan masalah kita
kepada orang lain terkadang memang sangat membantu, tetapi ‘mengadu’
kepada Buddha maupun Bodhisatva juga bisa sangat melegakan karena mereka
tidak pernah menertawakan kita, tidak pernah membocorkan rahasia kita,
dan selalu menjadi pendengar yang setia. Kita juga tidak perlu takut
kalau "Mereka" akan khawatir atau menderita gara-gara memikirkan masalah
kita.)
Saya sangat takut dan terus mengelak dari kata "menggugurkan". Saya
pergi ke toko buku untuk mencari buku-buku mengenai efek rontgen dan
radiasi terhadap kehamilan. Informasi-informasi yang saya peroleh justru
membuat saya lebih pesimis ketimbang optimis. Memang sih dinyatakan
kalau rontgen aman bagi "orang hamil" jika dosis radiasinya tidak lebih
dari 10 rad tapi ketika saya menghubungi pimpinan klinik tempat saya
rontgen, Bapak tersebut hanya bisa mengatakan, "Hamil kok rontgen?.
Kalau dokter menyarankan kamu untuk menggugurkan ya gugurkan saja". Saya
sungguh kecewa. Mengapa masalah menggugurkan seorang "calon manusia"
dianggap seperti membuang seloyang "kue" yang gosong ke dalam tong sampah?!
Mengapa begitu mudah menyarankan para orang tua untuk menggugurkan
kandungan mereka? Mungkin tujuan para dokter memang baik (contohnya jika
si calon anak idiot, orang tua akan sangat terbebani baik mental maupun
materi; bagaimana masa depan si anak jika orang tuannya meninggal
duluan? Tapi sebelum memvonis untuk mengakhiri hidup seorang calon
manusia, sudah 100% kah kalau si calon manusia tersebut akan menderita
penyakit tersebut? Apakah memang tidak ada lagi upaya lain yang bisa
dilakukan untuk menyembuhkan penyakitnya baik selama dalam kandungan
maupun setelah dilahirkan?
Janin yang telah digugurkan itu sangat menyedihkan. Mereka harus terus
hidup tapi bukan sebagai seorang manusia, tetapi sebagai seorang hantu
yang penasaran. (Bagi yang telah terlanjur melakukannya, sebaiknya bisa
melakukan chiau to, maupun pelimpahan jasa agar roh-roh penasaran
tersebut bisa lebih cepat tumimba lahir [dilahirkan kembali] ).
Seorang anak yang terlahir normalpun bisa saja menjadi cacat gara-gara
kecelakaan maupun sakit misalnya gara gara virus yang menyebabkan radang
selaput otak, deman yang terlalu tinggi, dll.
Walaupun saya 100% tidak mau menggugurkan kandungan saya, saya tetap
tidak bisa memutuskannya secara sepihak karena "anak" adalah milik
"suami dan istri". Bukannya suamiku tidak merasa berat untuk
menggugurkan kandunganku, tetapi dia terlalu cemas dengan masa depan
anak kami jika ia benar terlahir cacat.
Terus terang, saya sendiri juga sangat mencemaskan hal tersebut tetapi
saya juga percaya kepada ajaran Sang Bhagava terutama pada "karma"
Saya memeriksakan diri ke dokter kandungan di luar negeri. Setelah
pemeriksaan, saya juga mendapatkan jawaban yang sama. Setelah kembali ke
tanah air, saya dan suami melakukan berbagai pertimbangan diskusi,
akhirnya saya mendapatkan persetujuan dari suami saya untuk melanjutkan
kehamilan. Suami saya bertanya kepada saya, "kamu yakin bisa?". Saya
jawab, "Ya, tapi harus dengan bantuanmu karena anak jenis apapun yang
kita dapatkan adalah hasil dari karma kita berdua".
Yach, saat itu saya bisa sedemikian gigih mempertahankan kandungan saya
karena saya mengenal Buddha Dharma. Saya yakin diantara beribu-ribu
sutra; diantara para Buddha dan Bodhisatva yang tak terhitung jumlahnya,
pasti terdapat suatu petunjuk. Benar saja, di dalam Bhaisajyaguru Sutra,
saya mendapatkan semangat baru dan petunjuk yang sangat amat berharga.
Satu-satunya kecemasan dan ketakutan saya setelah itu adalah apakah
"karma buruk" (yang entah seberat apa yang menyebabkan seseorang
mendapatkan anak yang cacat) kami bisa sempat kami perbaiki / ubah dalam
waktu beberapa bulan? Mampu dan sempatkah kami?
*KESEMBUHAN *
Sejak itu, saya benar-benar menjaga kesehatan; memeriksakan diri ke
dokter secara rutin, mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi. Ibu saya
secara rutin memasakkan pati ayam dengan ginseng dan /‘toung choung
chau’/ untuk saya tetapi Beliau tidak pernah memesan ayam itu duluan,
juga tidak pernah menyuruh si penjual untuk menyembelih ayam yang masih
hidup. Beliau hanya membeli ayam kampung yang memang kebetulan sudah
disembelih. Sebelum meminum pat ayam tersebut, saya selalu membaca ‘Namo
Amitabha Buddha‘ sebanyak 7 kali. Jasa dari pengagungan nama Buddha
tersebut saya limpahkan kepada si "ayam" agar dia bisa mendapatkan
tumimbal lahir yang baik.
Selain itu, saya membaca mantra dan nama Buddha setiap hari (kapan saja,
dimana saja, setiap ada kesempatan dalam 24 jam) baik pada saat
istirahat, pada saat melakukan aktivitas sehari-hari, diperjalanan,
maupun ketika akan tidur. Sampai-sampai setiap kali saya terjaga dari
tidur, baik pada saat tengah malam maupun di pagi hari, saya sering
mendapati diri saya sedang membaca Dharani maupun Mantra; mungkin saya
hanya setengah tidur, entahlah.... kadang-kadang saya sangat sadar
sedang membaca dan tiba-tiba karena sesuatu seperti suara, dll, saya
terbangun dan baru menyadari kalau ternyata tadinya saya sedang
tertidur. Dharani yang saya pilih saat itu adalah Maha Karuna Dharani,
dan Mantra Bhaisajyaguru Buddha. Pertimbangan saya adalah bahwa Maha
Karuna Dharani (Ta Pei Cou) adalah Dharani dari Bodhisatva
Avalokitesvara (Kwan Im) yang sangat terkenal welas asihNya sedangkan
Mantra Bhaisajyaguru Buddha adalah mantra dari Buddha Bhaisajyaguru yang
pernah berikrar untuk membebaskan semua makhluk dari penyakit dan
malapetaka.
Kami (suami, ibu saya, dan saya) melakukan lebih banyak lagi perbuatan
baik (seperti: melepaskan makhluk hidup, berdana untuk pendirian vihara
dan pembuatan Buddha/Bodhisatva rupang; mencetak kitab suci; athasila;
melakukan kegiatan sosial, dll) yang jasa-jasanya kami limpahkan kepada
kandungan saya.
Selain itu, saya juga beribadah ke Vihara setiap hari Uposatha. Kami
juga meminta bantuan anggota Sangha untuk membantu janin kami melakukan
kegiatan / ritual yang bisa meringankan karma kehidupan lalunya.
Walaupun saya agak mendapatkan halangan untuk berbicara dengan anggota
sangha karena bertemu dengan umat yang sok tahu yang mengatakan bahwa
anggota sangha tidak punya waktu untuk membantu padahal begitu anggota
Sangha menerima surat saya (padahal belum kenal), Beliau segera
menghubungi saya dan menyatakan bersedia untuk membantu.
Saya memohon setulus hati kepada Avalokitesvara Bodhisatva (Kwan Im)
untuk menolong saya agar tidak mendapatkan anak yang cacat. Apapun karma
buruk yang pernah saya lakukan baik secara sengaja maupun tak sengaja,
biarkanlah saya menerimanya dalam bentuk yang lain.
Jikalau bayi yang saya kandung memang harus cacat sesuai dengan karma
masa lalunya, biarkanlah ‘dia’ bertumimbal lahir sekarang berkat
pelimpahan jasa kami untuknya. (Artinya: saya akan "keguguran" bukan
"menggugurkan", dimana janin "dibunuh" dengan sengaja sehingga ‘dia’
harus menjadi hantu penasaran untuk menghabiskan sisa hidupnya yang
seharusnya dia jalani sebagai seorang manusia.)
Melihat perut saya yang semakin buncit, merasa bayi mungil yang bergerak
di dalamnya, dan menebak-nebak perkembangannya dari bulan ke bulan
merupakan masa yang sangat indah. Pikiran saya sangat tenang. Siang dan
malam saya membaca mantra tapi anehnya saya sering memimpikan hal yang
tidak-tidak yang selalu membuat saya tersentak bangun karena mimpi
tersebut begitu nyata. Anehnya lagi mimpi tersebut selalu berhubungan
dengan cecak dan lokasi mimpinya selalu di kamar tidur kami.
Beberapa kali saya bermimpi kalau kami sedang tidur dan tiba-tiba ada
seekor cecak yang melompat ke tengah ranjang kami untuk menyerang
"sesuatu" yang berada di sana. Tapi saya tidak tahu apa yang diserang.
Selalu saja saya tersentak kaget dan terbangun. Sibuk membolak-balik
bantal dan guling untuk memastikan memang tidak ada cecak disana. Saya
pikir mungkin karena di rumah baru kami sering mendengar decakan cecak
yang sangat kuat baik siang maupun malam.
Saya menceritakan mimpi saya kepada seorang teman. Karena khawatir, dia
menanyakan arti mimpi tersebut kepada seorang kenalannya yang bisa
berhubungan dengan ‘datuk’. Saya diberitahukan bahwa kandungan saya
sudah rusak. Pikiran saya sempat kacau beberapa hari.
Suatu malam, saya bermimpi melihat langit-langit kamar tidur kami penuh
dengan awan putih. Di antara awan putih itu tampak sebuah leher botol
seperti botol aqua 1500 ml. Tiba-tiba dari tengah ranjang kamu keluar
seekor "jangkrik raksasa" yang berwarna coklat yang terlihat seperti
seekor ayam yang gosong terpanggang.
Jangkrik raksasa yang berukuran kira-kira 50 cm itu terbang ke
langit-langit dan masuk ke dalam lubang botol yang kecil itu. Saya
terperanjat dan terbangun sambil berseru., "Lihat!". Saya terduduk
dengan posisi tangan kanan menunjuk ke langit-langit, tangan kiri
menepuk suami saya yang sedang tidur agar dia bangun dan melihat
pemandangan yang menakjubkan itu. Pada saat bersamaan saya tersadar
bahwa itu hanyalah sebuah mimpi.
Saya pikir saya memang benar-benar terlalu banyak pikiran karena
kebetuan memang ada seekor jangkrik yang berwarna coklat (sama seperti
yang terlihat dalam mimpiku; hanya saja ukurannya yang berbeda dan yang
dalam mimpi itu jangkrik yang sudah mati) di kamar mandi kami. Jangkrik
hidup itu berada di kamar mandi kami selama 2 atau 3 hari tanpa
berpindah-pindah tempat.
Tidak lama berselang, saya bermimpi ada "sesuatu" yang memandang kami
dari jendela kamar. Setelah melihat jelas, ternyata "sesuatu" itu adalah
seekor jangkrik yang kira-kira 50 cm tingginya, berwarna hijau, montok,
dan kelihatan sangat lucu (mirip grasshopper dalam film-film kartun).
Dia berdiri di jendela kamar tidur kami sambil tersenyum, lalu tiba-tiba
dia melompat ke tengah ranjang kami. Saya kaget dan terbangun.
Saya menceritakan pada suami saya tentang mimpi tersebut. Saya katakan
padanya bahwa jangkrik coklat itu mungkin hanya pikiranku saja tapi
kenapa saya bisa tiba-tiba bermimpi tentang jangkrik hijau? Suami saya
memberitahukan saya bahwa pada saat saya ke luar negeri (kurang lebih
seminggu sebelum mimpi tersebut) di rumah kami memang masuk seekor
jangkrik hijau yang juga tinggal selama beberapa hari.
Saya sangat penasaran dan gelisah dengan mimpi-mimpi itu. Akhirnya suatu
hari ketika saya sembhayang ke Vihara Setia Budi, saya meminta petunjuk
Kuan Te Kong. Setelah berulang kali saya mencoba, akhirnya melalui
sebuah "chiam" dikatakan bahwa "Kwan Im sedang menyirami tanaman bambu
yang baru tumbuh dengan air suci-Nya (Kan Lu Sui).
Waktu terus berlalu. Akhirnya masa kelahiranpun mendekat. Mama saya
sangat khawatir dan membaca Ksitigarbha Sutra sebanyak mungkin dan
melakukan pelimpahan jasa untuk saya. Bayi saya dilahirkan secara bedah
caesar menimbang masalah tulang saya dan posisi bayi yang sungsang.
Tetapi beberapa hari sebelum operasi, saya bermimpi melihat seekor cecak
yang ketakutan (ukuran normal) hendak keluar dari jendela samping kamar
tidur kami, tapi begitu dia menjulurkan kepalanya, seekor cecak yang
ukurannya 4 atau 5 kali lebih besar darinya, membuka mulut dan
menelannya begitu saja.
Kami memilih tanggal 2 April 2001, hanya beberapa hari lebih cepat dari
hari kemungkinan lahir normal, tetapi ketika periksa ke dokter, dokter
menyuruh kami memilih hari di akhir Maret. "Takut ngak sempat", katanya.
Saya menjadi sangat cemas dan tertekan. Walaupun hanya dimajukan
seminggu sampai 10 hari tapi cukup memusingkan karena semua jadwal tugas
saya selama cuti hamil yang sudah saya susun menjadi kacau. Selain itu,
jumlah Mantra dan Sutra yang harus saya baca sesuai dengan kaul saya
juga harus saya penuhi dalam waktu yang lebih singkat.
Walau telah mempersiapkan diri selama 7 bulan ternyata saya masih tetap
takut untuk menghadapi kenyataan. "Gimana jika anakku terlahir cacat?"
Akhirnya hari yang di pilih tiba, dibawah pengaruh obat bius (padahal
hanya bius lokal) semakin lama saya semakin tidak bisa membaca Mantra
Maha Karuna Dharani. Setiap kali baca, selalu macet dan tidak bisa
mengingat kelanjutannya. Akhirnya saya beralih ke pelafalan nama Buddha
dan Bodhisatva saja yakni "Nam Yau Se Fo" dan "Namo Kwan Se Im Phu Sat".
Suara tangisan nyaring terdengar. Saya sangat ketakutan karena perawat
belum membawa si kecil ke sampingku. Saya memohon kepada Avalokitesvara
Bodhisatva. Akhirnya sikecil yang tengah menangis dibawa ke sisiku.
Tangisnya terhenti, kedua matanya terbuka lebar, salah satu tangannya
bergerak tak menentu. Walaupun tak bisa melihat jelas tanpa kacamata
tapi perasaan saya mengatakan anakku normal. "Terima kasih Kwan Im Phu
Sat. Terima kasih", sambil mengucapkan ini dalam hati, air mata saya
mengalir keluar. Saya tidak tahu apakah itu tangis bahagia, tangis
terima kasih, tangis lega, atau tangis dari ketakutan yang terpendam
selama berbulan-bulan. Entahlah--- yang pasti, air mataku terus mengucur
selama saya tidak sadarkan diri (ketika jumlah obat bius yang ditambah
pada saat dokter menjahit bekas sayatan).
Samar-samar saya mendengar suara ibu saya yang mengatakan, "Bayinya
sehat, Jangan Khawatir". Akhirnya saya sadar kalau saya sudah berada
dikamar pasien. Suami, kedua orang tua saya, ibu mertua saya dan tante
saya sedang menatap saya dengan cemas karena saya terus gemetar (suhu di
kamar operasi sangat dingin) dan air mata saya terus bercucuran (lebih
dari satu jam).
Ketika dokter datang melihat saya, beliau mengoloki saya karena saya
terus mengucurkan air mata selama tak sadarkan diri. Beliau bertanya
"Gimana, cacat tidak?". Sekarang anak kami sudah berusia hampir 3 tahun.
Suami dan saya menamakannya: Kent Siddharta Canglu yang berarti Kent
adalah cita-cita dari keluarga Cang dan Lu yang tercapai.
Terima kasih yang sedalam-dalamnya saya ucapkan kepada Ibu dan suami
saya yang tercinta, Yang Arya Bhante Jinnadhammo Mahathera di Medan,
Yang Arya Bhikksuni Coung Khai di Jakarta, Yang Arya Bhiksu Pratama di
Medan dan masih banyak lagi pihak yang tidak dapat disebutkan satu per
satu.
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail.
[Non-text portions of this message have been removed]
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta
kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas
dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua,
para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/