Kompas, Rabu, 01 November 2006
Perdamaian dan Kemiskinan
Ginandjar Kartasasmita
"Perdamaian tidak akan dapat diraih hingga sebagian besar rakyat menemukan cara keluar dari kemiskinan...," Ketua Komite Nobel Ole Danbolt Mjoes.
Penganugerahan Hadiah Nobel Perdamaian 2006 kepada Muhammad Yunus dan Grameen Bank merupakan berita mengejutkan dan disambut gembira oleh dunia.
Makna perdamaian
Masyarakat atau bangsa di mana pun pasti mendambakan suasana damai. Perdamaian dapat diartikan sebagai upaya menuju suasana damai, aman dan tentram, bebas dari permusuhan dan pertikaian, bebas dari tekanan oleh pihak terhadap pihak lain dalam bentuk apa pun. Bentuk tekanan yang paling mudah dipahami adalah tekanan fisik atau politik. Maka, perdamaian cenderung ditafsirkan sebagai upaya terbebas dari penjajahan, penindasan, atau tekanan politik.
Realitas menunjukkan, bentuk penjajahan dan tekanan suatu bangsa atas bangsa lain, atau suatu masyarakat atas masyarakat lain, bukan hanya berupa tekanan fisik. Bentuk penjajahan dan tekanan di era global bisa bersifat amat halus, bahkan sering memiliki kekuatan legal.
Kemiskinan dapat dikategorikan sebagai hasil penjajahan nonfisik. Oleh karena itu, perdamaian akan tetap menjadi isu membara selama tingkat kemiskinan yang jadi penyebab ketidakdamaian di Indonesia maupun dunia masih amat besar.
Hadiah Nobel Perdamaian bagi Muhammad Yunus dan Grameen Bank menunjukkan pemberantasan kemiskinan dapat merupakan jalan keluar dari dunia yang penuh konflik dan pertikaian. Pesan moralnya adalah mengupayakan perdamaian tidak cukup sekadar menghentikan perang atau meredakan pertikaian, tetapi harus merupakan perjuangan membangun dunia yang berkeadilan.
Karena itu, dunia dipandang perlu lebih memerhatikan pemberantasan kemiskinan sebagai salah satu bentuk terburuk ketidakadilan. Salah satu penyebab ketidakdamaian, yakni hilangnya martabat kemanusiaan karena kemiskinan serta keputus-asaan karena tak ada jalan keluar dari perangkap kemiskinan, harus diatasi mulai dari akarnya.
Maka, pada hakikatnya, penghargaan Nobel Perdamaian tahun ini bukan hanya penghargaan bagi Yunus dan Grameen Bank, tetapi juga bagi upaya pemberantasan kemiskinan melalui program pembangunan yang berkeadilan serta berkelanjutan (sustainable) di seluruh dunia.
Upaya pemberantasan kemiskinan itu mulai mengemuka di akhir 1980-an sebagai reaksi paradigma pembangunan yang mementingkan pertumbuhan, tetapi menimbulkan kesenjangan dan ketidakadilan yang kian besar di masyarakat.
Upaya untuk membalik paradigma pembangunan seperti itu telah dilakukan di Indonesia melalui pengembangan program pemberantasan kemiskinan yang holistik, seperti Program Inpres Desa Tertinggal (IDT).
Menumbuhkan kemandirian
Dalam mengembangkan program untuk Grameen Bank, Yunus menekankan, sasaran program harus lapisan paling miskin. Maka, sasaran utama Grameen Bank adalah perempuan yang paling rawan (vulnerable) terhadap dampak kemiskinan.
Program pembangunan berkeadilan seperti dilakukan Grameen Bank dan diupayakan melalui IDT bukan bersifat hadiah untuk kemiskinan, tetapi justru menumbuhkembangkan kapasitas masyarakat yang menjadi sasaran program itu. Upaya pengembangan kapasitas masyarakat itu dilakukan masyarakat sendiri, tetapi melalui mekanisme kelompok. Pembentukan kelompok merupakan langkah awal paling strategis dan menentukan keberhasilan program itu selanjutnya. Dalam kelompok, masyarakat miskin bersama menentukan penggunaan dana itu dan pengawasannya. Dengan demikian, selain menumbuhkan kegotong-royongan juga membangun kemandirian masyarakat itu sendiri.
Untuk memperkuat penumbuhan kemandirian masyarakat, dilakukan pendampingan terhadap masyarakat sasaran. Pendamping diusahakan, pertama- tama, dari anggota masyarakat sendiri yang mampu atau petugas di desa, seperti penyuluh pertanian, guru, dan sebagainya. Jika itu tidak memadai, diperbantukan tenaga sukarela yang sudah terlatih yang harus bersedia tinggal di tengah masyarakat miskin. Pendekatan serupa digunakan Grameen Bank, staf bank itu langsung mendatangi masyarakat sasaran door to door.
Cara itu bukan hanya terbukti efektif bagi pengentasan masyarakat dari kemiskinan, tetapi juga menguntungkan Grameen Bank.
CK Prahalad, misalnya, juga menunjukkan, dunia korporasi dapat memperoleh keuntungan dengan melibatkan secara aktif kelompok miskin dalam proses bisnis secara menguntungkan (The Fortune at the Bottom of the Pyramid. Eradicating Poverty through Profits, 2006).
Dalam program IDT, pemerintah tak mengambil keuntungan, tetapi akan mengembalikan hasil putaran dana ke masyarakat menjadi dana bergulir sehingga dana produktif di masyarakat terakumulasi kian besar. Adapun biaya yang digunakan untuk keperluan itu tidak besar. Dalam IDT, modal usaha yang diterima anggota kelompok bernilai sekitar 40 dollar AS, tak jauh beda dengan pinjaman yang diberikan Yunus 30 tahun lalu saat memulai upaya ini, senilai 27 dollar AS. Untuk masyarakat miskin, di pedesaan yang miskin pula, nilai itu sudah memadai jika dikelola dan dibimbing dengan baik.
Program pemberantasan kemiskinan seperti itu semestinya mendapat tempat dalam arus utama pembangunan ekonomi. Dengan pendekatan tersebut, demokratisasi ekonomi akan dapat diwujudkan dan masyarakat miskin akan memperoleh pijakan yang lebih fair dalam menghadapi pasar bebas. Para ekonom kontemporer dunia, seperti Joseph Stiglitz (pemenang Hadiah Nobel 2001 di bidang ekonomi) dan Jeffery Sachs (The End of Poverty, 2005), telah menunjukkan pemikiran ke arah itu. Mereka sangat kritis terhadap kebijakan negara maju yang dimotori IMF dan Bank Dunia dalam penanganan masalah ekonomi dan pembangunan dunia berkembang. Diberikannya penghargaan Nobel Perdamaian 2006 kepada Muhammad Yunus dan Grameen Bank makin menegaskan bahwa pembangunan ekonomi berbasis kerakyatan dan bertemakan pemberantasan kemiskinan merupakan pilihan yang tidak dapat ditawar-tawar.
Ginandjar Kartasasmita
Ketua Dewan Perwakilan Daerah; Ketua Dewan Pakar ICMI


Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke