BAGAIMANA SANG BUDDHA WAFAT ?

 

Selama hari Vesak, kita telah diberitahukan bahwa hari
itu juga merupakan hari dimana Sang Buddha mencapai
Parinibbana. Tetapi tidak banyak orang mengetahui
bagaimana Sang Buddha wafat. Teks-teks kuno
menampilkan dua kisah tentang wafatnya Sang Buddha.
Apakah wafatnya Sang Buddha direncanakan dan merupakan
kehendak Sang Buddha, atau apakah karena keracunan
makanan, atau ada hal lain yang berkaitan satu sama
dengan yang lain ? Inilah jawabannya.

Mahaparinibbana Sutta, yang merupakan kotbah panjang
dalam Tipitaka Pali, tidak diragukan lagi merupakan
sumber yang paling dapat dipercaya untuk perincian
atas wafatnya Siddhattha Gotama (563-483 SM), Sang
Buddha. Mahaparinibbana Sutta disusun dalam bentuk
naratif yang membiarkan para pembaca untuk mengikuti
kisah hari-hari terakhir Sang Buddha, yang dimulai
dari beberapa bulan sebelum Beliau wafat.

Walaupun demikian, untuk memahami apa yang
sesungguhnya terjadi terhadap Sang Buddha adalah suatu
hal yang tidak sederhana. Sutta, atau kotbah,
melukiskan dua kepribadian Sang Buddha yang saling
bertolak belakang, yang satu mengesampingkan yang
lainnya.

Kepribadian Sang Buddha yang pertama adalah sebagai
pembuat keajaiban yang menyeberangkan diriNya dan
rombongan para bhikkhu ke seberang Sungai Gangga (D
II, 89), Yang dengan mata batin melihat keberadaan
para dewa di atas bumi (D II, 87), Yang dapat hidup
sampai akhir dunia dengan syarat seseorang
mengundangNya untuk melakukan hal itu ( D II, 103),
Yang menentukan waktu kemangkatanNya( D II, 105), dan
Yang kemangkatanNya dimuliakan dengan hujan bunga
surgawi, serbuk kayu cendana dan musik surgawi (D II,
138).

Kepribadian Sang Buddha yang lainnya adalah sebagai
layaknya makhluk berusia lanjut yang jatuh sakit ( D
II, 120), Yang hampir kehilangan hidupNya karena sakit
yang teramat sangat selama masa vassaNya (retreat
musim hujan)yang terakhir di Vesali( D II, 100), dan
Yang harus menghadapi penyakit dan kemangkatanNya yang
tak didugaNya setelah mengkonsumsi hidangan khusus
yang ditawarkan oleh penjamuNya yang dermawan.

Dua kepribadian ini bergantian muncul dalam
bagian-bagian yang berbeda dari cerita naratif
tersebut. Lebih dari itu, di dalamnya juga nampak dua
penjelasan mengenai penyebab mangkatnya Sang Buddha :
Yang pertama, kemangkatan Sang Buddha disebabkan oleh
pengiringNya, Ananda, yang gagal mengundang Sang
Buddha untuk tetap hidup sampai akhir dunia atau
bahkan lebih lama dari itu (D II, 117). Yang kedua
adalah bahwa Sang Buddha mangkat karena sakit yang
mendadak yang dimulai setelah Beliau makan makanan
yang dikenal sebagai "Sukaramaddava" (D II, 127-157).

Kisah yang pertama mungkin suatu legenda, atau hasil
dari suatu pergumulan politil di dalam komunitas
Buddhist selama tahap transisi, sedangkan kisah yang
terakhir terdengar lebih realistis dan akurat dalam
menggambarkan situasi kehidupan nyata yang terjadi di
dalam hari-hari terakhir Sang Buddha. 

Sejumlah studi telah memusatkan perhatian pada
asal-muasal hidangan khusus yang dimakan oleh Sang
Buddha selama makanan terakhirNya sebagai penyebab
kemangkatanNya. Bagaimanapun juga, ada pendekatan lain
 yang didasarkan pada deskripsi tentang gejala-gejala
dan tanda-tanda yang diberikan dalam Sutta, yang bisa
dijelaskan oleh pengetahuan medis modern. 

Dalam salah satu lukisan dinding yang berada di Wat
(Vihara) Ratchasittharam, Sang Buddha dalam keadaan
mendekati ajalNya, tetapi Beliau masih menyempatkan
diri untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan oleh petapa Subhadda, yang menjadi siswa
terakhirNya, yang setelah ditahbis menjadi anggota
sangha, kemudian menjadi seorang Arahat.


Apa yang kita ketahui

Dalam Mahaparinibbana Sutta, kita diberitahukan bahwa
Sang Buddha menderita sakit secara tiba-tiba setelah
Beliau memakan suatu hidangan khusus yang lezat,
Sukaramaddava, yang secara harafiah diterjemahkan
sebagai "daging babi lunak", yang telah disiapkan oleh
penjamu dermawanNya, Cunda Kammaraputta. Nama dari 
hidangan tersebut menarik perhatian dari banyak
sarjana, dan hal itu menjadi fokus dari riset akademis
terhadap asal muasal makanan hidangan atau bahan baku
yang digunakan di dalam memasak hidangan khusus ini.

Dalam Sutta sendiri selain menyediakan detil-detil
yang berkaitan dengan tanda-tanda dan gejala-gejala
dari penyakit Sang Buddha, juga menyertakan beberapa
informasi yang dapat diandalkan mengenai keadaan Sang
Buddha selama empat bulan sebelumnya, dan uraian ini
juga sangat berarti secara medis.

Sutta di awali dengan rencana Raja Ajatasattu untuk
menaklukkan negara saingannya, kerajaan Vajji. Sang
Buddha melakukan perjalanan ke Vajji untuk memulai
vasssa (retreat musim hujan) terakhirNya. Dalam masa
vassa ini Beliau jatuh sakit. Gejala dari  penyakiNya
adalah tiba-tiba dan sakit yang teramat sangat. 

Walau demikian, di dalam Sutta tidak diuraikan tentang
ciri-ciri dan letak penyakitNya. Sutta itu hanya
menyinggung sekilas penyakit Beliau, dan dikatakan
penyakitnya sangat keras, dan hampir membunuhNya.

Sesudah itu, Sang Buddha dikunjungi oleh Mara, Dewa
Kematian, yang mengundang Beliau untuk mangkat. Sang
Buddha tidak menerima undangan dengan segera. Hanya
setelah Ananda, pengiringNya, gagal untuk mengenali
isyarat yang diberikanNya mengenai kemangkatan Beliau.
Sepotong pesan ini, meskipun terkait erat dengan mitos
dan hal supernatural, memberikan kita beberapa
informasi medis yang sangat berarti. Saat sutta ini
disusun, penulisnya berada dalam keadaan terkesan
bahwa Sang Buddha wafat bukan oleh karena makanan yang
Beliau makan, tetapi dikarenakan Beliau telah memiliki
penyakit yang serius dan akut serta memiliki
gejala-gejala yang sama dengan  penyakit yang pada
akhirnya membuatNya mangkat.


Waktu Kejadian

Umat Buddha tradisi Theravada berpegang pada asumsi
bahwa Buddha Historis wafat pada malam bulan purnama
dalam penanggalan bulan di bulan Visakha (yang
kadangkala jatuh pada bulan Mei sampai Juni). Tetapi
waktu tersebut bertolak belakang dengan informasi yang
terdapat dalam Sutta, dimana secara jelas bahwa Sang
Buddha segera mangkat setelah masa vassa(retreat musim
hujan), kemungkinan besar adalah pada musim gugur atau
pertengahan musim dingin, yaitu antara bulan November
hingga Januari.

Uraian tentang keajaiban akan mekarnya daun-daun dan
bunga-bunga pada pohon-pohon sala ketika Sang Buddha
berbaring di antaranya, menunjukkan periode waktu yang
diberikan dalam sutta.

Bagaimanapun juga, musim gugur dan musim dingin adalah
musim yang tidak cocok untuk pertumbuhan jamur, yang
menurut beberapa sarjana dipercaya sebagai sumber
racun yang dimakan Sang Buddha selama memakan makanan
terakhirNya.


Diagnosa

Sutta menceritakan kepada kita bahwa Sang Buddha jatuh
sakit dengan seketika setelah menyantap Sukaramaddava.
Karena kita tidak mengetahui segalanya tentang sifat
dasar makanan ini, menjadi sukar bagi kita untuk
mengatakannya sebagai penyebab langsung dari penyakit
Sang Buddha. Tetapi dari uraian yang diberikan,
diketahui bahwa serangan penyakit tersebut berlangsung
cepat.

Ketika menyantap, Sang Buddha merasa ada sesuatu yang
tidak beres dengan makanan itu dan ia menyarankan
penjamuNya untuk menguburkan makanan tersebut. Segera
setelah itu, Sang Buddha menderita sakit perut yang
parah dan mengeluarkan darah dari rektumNya.

Masuk akal untuk kita asumsikan bahwa penyakit itu
dimulai ketika Sang Buddha sedang menikmati
makananNya, sehingga membuatNya berpikir bahwa ada
sesuatu yang salah dengan makanan yang tidak familiar
itu. Karena kasih sayangNya kepada orang lain, maka
Beliau sarankan agar makanan itu dikubur. 

Apakah makanan yang beracun sebagai penyebab dari 
penyakit itu? Sepertinya tidak demikian. Gejala-gejala
yang diuraikan tidak mengindikasikan keracunan
makanan, yang bisa sangat akut , tetapi dapat
dipastikan menyebabkan diare dengan darah. Umumnya,
makanan beracun disebabkan oleh bakteri yang tidak
segera membelah diri, tetapi mengalami suatu masa
inkubasi selama dua sampai 12 jam untuk membelah diri,
umumnya disertai dengan diare dan muntah-muntah yang
akut, bukan dengan pendarahan.

Kemungkinan yang lain  adalah bahan kimia beracun,
yang juga memiliki  efek cepat, tetapi bukanlah hal
yang biasa bagi bahan kimia beracun menjadi penyebab
pendarahan usus yang sangat parah. Makanan yang
beracun dengan pendarahan usus langsung hanya bisa
disebabkan oleh bahan kimia yang bersifat
menghancurkan (korosif) seperti asam cuka yang keras,
yang dapat dengan mudah menimbulkan penyakit seketika.
Tetapi bahan kimia yang bersifat menghancurkan
tersebut sudah pasti akan menyebabkan pendarahan pada
usus bagian atas, yang menimbulkan muntah darah. Tidak
satupun tanda-tanda parah tersebut disebutkan dalam
teks.

Penyakit-penyakit radang dinding lambung juga dapat
diabaikan dari daftar penyakit tersebut. Kendati
faktanya bahwa penyakit ini menyerang dengan cepat,
penyakit ini jarang diikuti oleh kotoran (feces)
berdarah. Radang lambung dengan pendarahan usus
menghasilkan kotoran berwarna hitam ketika radang
menembus suatu pembuluh darah. Tukak pada saluran
pencernaan yang lebih atas akan lebih memungkinkan
mengakibatkan muntah darah, bukan pendarahan melalui
rektum.

Bukti lain yang menyangkal kemungkinan ini adalah
seorang pasien dengan radang lambung yang besar pada
umumnya tidak mempunyai selera makan. Dengan menerima
undangan untuk makan siang bersama sang penjamu, kita
dapat berasumsi bahwa Sang Buddha merasa sesehat yang
dirasakan orang manapun yang berada di awal usia
80nya. Dengan usiaNya yang demikian, kita tidak bisa
mengesampingkan kemungkinan bahwa Sang Buddha tidak
mempunyai suatu penyakit kronis, seperti TBC atau
kanker atau suatu infeksi/peradangan tropis seperti
penyakit tipus atau disentri, yang sangat lazim di
jamanNya.

Penyakit-penyakit ini bisa mengakibatkan pendarahan
usus bawah, tergantung pada letaknya.
Penyakit-penyakit ini juga sesuai dengan sejarah dari
penyakit awal Sang Buddha sepanjang masa vassa
(retreat musim hujan). Tetapi penyakit-penyakit ini
dapat dikesampingkan, karena pada umumnya
penyakit-penyakit ini diikuti oleh gejala lain,
seperti kelesuan, hilangnya selera makan, penurunan
berat badan, busung atau buncit pada perut bagian
bawah (abdomen). Tidak satupun gejala tersebut di
sebutkan dalam sutta.

Wasir besar dapat menyebabkan pendarahan parah pada
daerah pembuangan, tetapi sepertinya wasir mustahil
dapat menyebabkan sakit yang sangat parah pada perut
bagian bawah (abdomen) kecuali jika tersumbat. Tetapi
hal itu akan sangat mengganggu perjalanan Sang Buddha
ke rumah penjamuNya, dan jarang sekali pendarahan
wasir disebabkan oleh makanan.


Mesenteric infarction

Penyakit yang sesuai dengan gejala-gejala yang yang
telah
dideskripsikan, yang disertai rasa sakit hebat pada
perut bagian bawah (abdominal) dan mencret darah,
umumnya ditemukan pada orang-orang usia lanjut, dan
dipicu oleh makanan adalah mesenteric infarction
(terganggunya jaringan pembuluh darah sekita usus),
yang disebabkan oleh tersumbatnya pembuluh darah di
mesentery. Hal ini sangat mematikan. Ischaemia
Mesenteric akut (berkurangnya suplai darah ke
mesentery)adalah suatu kondisi yang parah dengan
resiko kematian yang  tinggi.

Mesentery adalah bagian dari dinding usus yang
mengikat  keseluruhan bidang usus sampai rongga
abdominal. Terhambatnya suplai darah di sekitar usus
biasanya menyebabkan kematian pada jaringan tisu di
bagian besar dari saluran usus bagian akhir
(intestinal tract), yang akan mengakibatkan luka
sayatan pada dinding saluran usus bagian akhir.

Secara normal hal ini menghasilkan sakit yang teramat
sangat pada perut bagian atas (abdomen) dan mencret
darah. Pasien pada umumnya meninggal karena kekurangan
darah yang sangat parah. Kondisi ini sesuai dengan
informasi yang diberikan dalam sutta. Hal ini juga
dikuatkan kemudiannya ketika Sang Buddha meminta
Ananda untuk mengambil sedikit air untukNya untuk
diminum, yang menandakan Beliau sangat haus.

Seperti yang dikisahkan, Ananda menolak, karena Ananda
tidak menemukan sumber air bersih. Ananda berargumen
dengan Sang Buddha bahwa aliran sungai yang terdekat
telah dikeruhkan oleh rombongan kereta besar. Tetapi
Sang Buddha meminta Ananda dengan tegas untuk
mengambil air bagaimanapun juga.

Sebuah pertanyaan muncul pada poin ini: Mengapa Sang
Buddha tidak pergi sendiri saja ke sumber air,
daripada mendesak Ananda yang enggan untuk
melakukannya ? Jawabannya sederhana. Sang Buddha 
sedang menderita shock yang disebabkan oleh kehilangan
banyak darah. Beliau tidak mampu berjalan lagi, dan
dari saat itu sampai ke tempat peristirahatan
terakhirNya Beliau hampir dapat dipastikan berada
dalam tandu.

Jika situasinya memang demikian, sutta tidak
mengisahkan tentang perjalanan Sang Buddha ke
peristirahatan terakhirnya, kemungkinannya  karena si
penulis merasa bahwa hal itu akan memalukan Sang
Buddha. Secara geografis, kita mengetahui bahwa jarak
antara tempat yang di percaya sebagai rumah Cunda
dengan tempat dimana Sang Buddha mangkat adalah
sekitar 15 sampai 20 kilometer. Tidaklah mungkin bagi
seorang pasien penderita penyakit yang mematikan
seperti itu untuk berjalan kaki dengan jarak seperti
itu.

Lebih memungkinkan, apa yang terjadi adalah Sang
Buddha dibawa dalam sebuah tandu oleh sekelompok
bhikkhu ke Kusinara (Kushinagara).

Yang menjadi point perdebatan adalah apakah Sang
Buddha benar-benar bertekad untuk mangkat di kota ini
(Kusinara), mengingat bahwa kota ini diperkirakan
tidak lebih besar dari dari sebuah kota kecil. Dari
arah perjalanan Sang Buddha yang diberikan dalam
sutta, Beliau menuju ke utara dari Rajagaha. Ada
kemungkinan Beliau tidak berniat untuk mangkat di
sana, tetapi di kota tempat kelahiranNya dimana
membutuhkan waktu tiga bulan untuk sampai ke sana.

Dari sutta, sudah jelas bahwa Sang Buddha tidak
mengantisipasi penyakit mendadakNya, jika tidak,
Beliau tidak akan menerima undangan penjamuNya.
Kusinara mungkin merupakan kota yang terdekat dimana
Beliau bisa menemukan seorang dokter untuk merawat
diriNya. Tidaklah sukar untuk membayangkan sekelompok
bhikkhu dengan terburu-buru membawa Sang Buddha di
atas sebuah tandu menuju ke kota yang terdekat untuk
menyelamatkan hidupNya.

Sebelum mangkat, Sang Buddha menjelaskan kepada Ananda
untuk tidak menyalahkan Cunda atas kemangkatanNya dan
Beliau mangkat bukan disebabkan memakan Sukaramaddava.
Pernyataan ini sangat penting. Makanan tersebut
bukanlah penyebab secara langsung atas kemangkatanNya.
Sang Buddha mengetahui bahwa gejala penyakit yang
muncul merupakan  gejala yang pernah Beliau alami
beberapa bulan lebih awal, yang telah hampir
membunuhNya.

Sukaramaddava, apapun bahannya ataupun cara
memasaknya, bukanlah penyebab langsung dari penyakit
mendadakNya.


Tahapan perkembangan penyakit

Mesenteric infarction adalah suatu penyakit yang
biasanya ditemukan di antara orang lanjut usia,
disebabkan oleh penyumbatan pada  pembuluh darah utama
yang menyuplai bagian tengah dinding saluran usus
kecil bagian akhir dengan darah. Penyebab yang paling
umum dari  penyumbatan ini adalah melemahnya dinding
pembuluh darah (vessel), pembuluh darah besar
mesenteric, yang menyebabkan sakit yang teramat sangat
pada perut bagian atas (abdomen), yang juga dikenal
sebagai abdominal angina (keram perut).

Secara normal, rasa sakit dipicu oleh makanan yang
berat (besar), yang memerlukan aliran darah lebih
tinggi ke saluran pencernaan. Ketika penyumbatan
terjadi, saluran usus kecil kehilangan  persediaan
darah nya , yang kemudian terjadi hambatan suplai
darah, atau mati rasa setempat (gangrene), pada bagian
saluran usus akhir (intestinal tract). Hal ini pada
gilirannya mengakibatkan luka sayatan pada dinding
saluran usus akhir, pendarahan yang sangat dalam pada
saluran usus akhir, dan kemudian diare berdarah.

Penyakit menjadi tambah parah ketika cairan dan isi
usus mengalir ke luar melalui rongga peritoneal,
sehingga menyebabkan radang selaput perut atau radang
dinding abdominal.

Ini sudah merupakan kondisi yang mematikan bagi si
pasien, yang sering kali meninggal karena kehilangan
darah dan cairan tubuh lainnya. Jika tidak diperbaikan
dengan pembedahan, penyakit ini sering berkembang
menjadi septic shock karena masuknya racun-racun
bakteri ke dalam aliran darah.


Analisa Retrospektif (kebelakang)

Dari hasil diagnosa tersebut di atas, kita dapat lebih
meastikan  bahwa  Sang Buddha menderita mesenteric
infarction yang disebabkan oleh penyumbatan pada
superior mesenteric artery. Inilah penyebab rasa sakit
yang hampir saja merenggut ajal Beliau beberapa bulan
lalu saat vassa (retret) musim hujan terakhirNya.

Dengan berkembangnya penyakit itu, sebagian dari
selaput lender usus Beliau terkelupas, dan di sinilah
yang menjadi menjadi asal muasal  pendarahan tersebut.
Arteriosclerosis, pengerasan dinding pembuluh darah
akibat penuaan, merupakan penyebab dari  tersumbatnya
pembuluh darah, penyumbatan kecil yang tidak akan
mengakibatkan diare berdarah, tapi merupakan gejala,
yang juga kita kenal sebagai abdominal angina (keram
perut).

Beliau mendapat serangan kedua ketika sedangan makan
Sukaramaddava. Pada awalnya rasa sakit itu tidak
begitu hebat, tapi membuat Beliau merasa ada yang
sesuatu yang tidak beres. Mempertanyakan akan makanan
itu, Beliau lalu meminta tuan rumah untuk menguburkan
makanan itu sehingga yang lain tidak akan menderita
karenanya. 

Segera, Sang Buddha menyadari bahwa penyakit itu
serius, dengan adanya mencret darah yang disertai rasa
sakit yang hebat pada bagian perut. Karena kehilangan
banyak darah, Beliau mengalami shock. Tingkat
dehidrasi atau kehilangan cairan darah sudah
sedemikian parah sehingga Beliau tidak sanggup lagi
mempertahankan diri dan harus berteduh di sebuah pohon
di sekitar situ.

Merasa sangat haus dan kelelahan, Beliau meminta
Ananda untuk pergi mengambilkan air untuk diminumNya,
walaupun Beliau mengetahui bahwa airnya keruh. Di
sanalah Beliau pingsan  sehingga rombongan pengiring
Nya membawa Beliau ke kota terdekat, Kusinara, dimana
ada peluang untuk menemukan dokter atau penginapan
untuk memulihkan diriNya.

Mungkin benar Sang Buddha menjadi lebih baik setelah
minum untuk menggantikan cairan tubuhNya yang hilang,
dan beristirahat di atas tandu. Pengalaman dengan
gejala-gejala yang sama memberitahukan Beliau bahwa
penyakitNya yang tiba-tiba ituadalah serangan kedua
dari penyakit yang sudah ada. Beliau memberitahukan
Ananda bahwa bukan makanan itu sebagai penyebab
penyakitNya, dan Cunda jangan di salahkan. 

Pasien yang mengalami shock, dehidrasi, dan kehilangan
banyak darah biasanya merasa sangat dingin. Inilah
sebabnya Beliau meminta pengiringNya untuk menyiapkan
pembaringan yang dialasi dengan empat lembar Sanghati.
Sesuai dengan disiplin monastic Buddhist (Vinaya),
Sanghati adalah selembar kain atau seprei, yang
diijinkan oleh Sang Buddha utnuk dipakai oleh para
bhikkhu dan bhikkhuni pada musim dingin.

Informasi ini mencerminkan betapa Sang Buddha merasa
dingin karena kehilangan darahNya. Secara klinis,
tidaklah memungkinkan bagi pasien yang sedang dalam
keadaan shock dengan rasa sakit yang hebat di bagian
perut, kemungkinan besar mengalami peritonitis atau
peradangan pada dinding perut, pucat, dan sedang
menggigil kedinginan, untuk bisa berjalan.

Kemungkinan terbesar Sang Buddha diistirahatkan di
sebuah penginapan yang terletak di kota Kusinara, di
mana Beliau dirawat dan diberi kehangatan. Pandangan
ini juga sesuai dengan deskripsi tentang Ananda yang
menangis, tidak sadarkan diri, dan berpegangan pada
pintu penginapan setelah tahu Sang Buddha akan segera
wafat.  

Secara normal,pasien yang menderita mesenteric
infarction dapat hidup 10 sampai dengan 20 jam. Dari
sutta kita tahu Sang Buddha wafat sekitar 15 sampai 18
jam setelah serangan itu. Selama jangka waktu itu,
para pengiringNya telah mengusahakan upaya terbaik
mereka untuk menyamankan Beliau, misalnya, dengan
menghangatkan kamar istirahatNya, atau dengan
meneteskan beberapa tetes air ke mulut Beliau untuk
menghilangkan rasa hausNya yang terus-menerus, atau
dengan memberikan Beliau minuman herbal. Namun kecil
sekali kemungkinannya pasien yang sedang mengigil
kedinginan akan membutuhkan seseorang untuk mengipasi
diriNya sebagaimana yang dideskripsikan dalam sutta.  
 

Beliau mungkin silih berganti pulih dari kndisi
kelelahan sehingga memungkinkan diriNya untuk
melanjutkan pembicaraan dengan beberapa orang.
Kebanyakan kata-kata terakhir Beliau kemungkinan benar
adanya, dan kata-kata tersebut dihafal dari satu
generasi bhikkhu ke generasi bhikkhu lainnya hingga
ditranskripkan. Tapi pada akhirnya, di malam yang
semakin larut, Sang Buddha wafat saat septic shock
kedua menyerang. Penyakit Beliau berasal dari
sebab-sebab yang alami ditambah usia lanjut,
sebagaimana yang bisa menimpa siapa saja.


Kesimpulan

Hipotesisa yang secara garis besar di uraikan di atas
menjelaskan beberapa kejadian dari kisah di dalam
sutta, sebut saja, desakan agar Ananda pergi
mengambilkan air, permintaan Sang Buddha agar tempat
tidurnya dilapisi empat lembar kain, permintaan agar
makanan itu dikubur, dan lain sebagainya. 

Hipotesa ini juga menyingkap kemungkinan lain yaitu
sarana transportasi yang digunakan oleh Sang Buddha
untuk pergi ke Kusinara dan ranjang kemangkatanNya.
Sukaramaddava, apapun sifat dasarnya, sepertinya
bukanlah penyebab langsung dari penyakit Beliau. Sang
Buddha wafat bukan karena keracunan mankanan.
Melainkan, karena porsi makan, yang relatif terlalu
besar untuk saluran pencernaanNya yang sudah
bermasalah. Porsi makan inilah yang memicu serangan
mesenteric infarction kedua yang mengakhiri hidupNya. 
  


-End-



*)Dr. Bhikkhu Mettanando adalah Bhikkhu Thailand yang
telah mengajar meditasi selama lebih dari tiga puluh
tahun. Beliau mendapatkan S1 untuk sains dan gelar
dokter dari Universitas Chulalongkorn, Thailand, dan
menguasai bahasa Sanskerta dan kebudayaan agama India
kuno berkat gelas Master yang diperolehnya dari
Universitas Oxford. Beliau juga mendapat gelar Master
Theologi dari Havard Divinity School dan PhD. dari
Universitas Hamburg, Jerman. Tesisnya difokuskan pada
Meditasi dan Penyembuhan dari Tradisi Theravada di
Thailand dan Laos. Saat ini mengajar Agama Buddha dan
Meditasi di Universitas Chulalongkorn dan Universitas
Assumption, juga aktif di bidang pengobatan alternatif
dalam hospice and palliative care, dan mengajar etika
medis pada dokter dan perawat Thailand maupun secara
internasional.  


Judul asli: How Buddha Died
Oleh: Dr. Bhikkhu Mettanando
Diterjemahkan oleh: Bhagavant.com


 
____________________________________________________________________________________
Low, Low, Low Rates! Check out Yahoo! Messenger's cheap PC-to-Phone call rates 
(http://voice.yahoo.com)




** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke