Setelah beberapa posting dari saya yang saya tulis terinspirasi dari berbagai kejadian dalam hidup saya, atau dari apa-apa yang selintas saya baca dan pahami dan kemudian ide dan penuturan-penuturannya itu muncul di dalam seperti air yang mengalir dari sumbernya, teratur dan beriringan, butiran-butiran bening yang mengisi ruang pikir dalam diri saya, dan kemudian jadilah beberapa tulisan.
 
Kadang ada pemikiran yang melompat-lompat dari satu titik ke titik lainnya yang kalau saya amati lagi, akan kelihatan tidak mengalir, tapi toh saya biarkan juga untuk diposting, sekedar melihatnya sebagai satu atau dua air terjun kecil yang membasahi empang yang sama, membahas bagian kehidupan yang senada, bahwa kita sama-sama manusia yang perlu menghargai dan mengasihi manusia lain lepas dari kejadian dan kesalahan mereka di masa lalu karena toh, mungkin mereka juga seperti kita, pernah salah dan kenapa kita tidak memberikan kasih kepada mereka sebagai bentuk maaf kita sebagai manusia, apalagi kalau mereka itu orang tua kita.
 
Tapi mohon tidak salah sangka bahwa kasih atau welas asih itu sama dengan lemah lembut dan atau lemah hati, hmm, tidak juga seperti itu, mungkin untuk anak balita yang lagi kesakitan, kita kadang perlu lemah lembut dan memberikan penghiburan kepadanya, walaupun kadang kita mesti agak sedikit tegas kepadanya agar tangisnya tidak berkelanjutan dan dia bisa dengan gagah menghadapi rasa sakit karena jatuh dari sepeda-misalnya, itu kembali kepada diri kita yang menilai situasi dan lalu mengambil tindakan yang sesuai dengan situasi yang berkembang – seperti teori perang sun tzu :D. – untuk tujuan-tujuan baik di masa depan; agar si anak itu bisa tabah dan kuat menerima sakit dan jatuh, untuk bangun dan berjuang lagi.
 
Menurut guru saya, itu pelajaran untuk mengenali perbedaan antara welas asih dengan lemah hati.
 
Sebetulnya saya mungkin tidak bisa mengajarkannya dengan baik kepada anda, karena memang saya bukanlah guru, saya sekedar membagi apa yang saya dapatkan ke anda, jadi, seperti ada beberapa rekan yang bertanya kepada saya, apakah tulisan saya itu boleh ngutip dari buku, atau itu boleh mengutip dari omongan orang, atau memang saya mengalami dan memahami apa yang saya tuliskan itu dari pengalaman saya sendiri. Upaya menjawab yang saya lakukan via japri sepertinya tidak berhasil dengan baik, bahkan si penanya malah menyimpulkan bahwa "saya sekedar menulis hanya karena saya mendapat pemahaman dari pengalaman hidup saya, dan saya hubungkan dgn dhamma yang ada, dan jika tulisan itu dibarengin dgn pembuktian, maka tulisan saya akan lebih mengena, lebih seru untuk dibaca. dan tidak membosankan."
 
Dan lalu saya menjawab, ya itu terserah kepada anda mau menyimpulkannya demikian dan sori saja kalau tulisan saya itu membosankan bagi anda karena saya tidak menuliskan pembuktian yang saya alami, hehehe dan kalau pun itu ada dan lalu kalau itu saya tulis, mungkin malah saya jadi bersalah kepada para orang Suci yang mungkin pernah menceritakannya dengan versi lain dan terutama kepada diri saya sendiri karena memberitahukan sesuatu yang mungkin mestinya cuma saya sendiri yang boleh tahu detail runutan ceritanya atau kronologisnya. Dan penulisan semacam itu tentunya malah mengarahkan saya seperti orang yang sok pinter dan sok berpengalaman, hehehe padahal mungkin banyak yang jauh lebih berpengalaman dari saya dan pembuktian mereka jauh lebih banyak dari pada saya dan mereka mungkin malah tidak hadir di milis ini saa sekali. Dan  yang paling utama tentu adalah tidak ada jaminan bahwa kalau pun pengalaman itu (kalau ada) saya tuiiskan kehadapan anda semua, lalu anda akan percaya pada saya. Toh cerita pengalaman seperti itu dengan gampang nya bisa dikarang oleh orang yang suka membaca. Apa anda lupa ada teori yang mengatakan bahwa pikiran itu bisa memberikan tipuan yang anda butuhkan untuk menjerumuskan anda pada kesimpulan yang memang anda butuhkan (kurang lebih demikian pengertiannya). Selain itu, seperti yang sering saya katakan, bahwa saya menulis itu, bukan untuk membuat anda percaya kepada saya, saya sekedar menulis apa yang bisa saya tuliskan.
 
Ada satu hal lain yang mungkin anda itu lupa atau tidak menyadarinya. Anda masing-masing, toh sudah mempunyai saringan pemikiran-pemikiran yang menjadi dasar bagi anda untuk menentukan apakah sesuatu itu benar atau tidak, dan kalau memang saringan anda itu telah anda uji dan anda bentuk dari pengalaman-pengalaman yang benar, tentu anda akan diberikan juga kemampuan untuk menilai dan melihat dengan jernih apa-apa yang anda hadapi dan baca.
 
Kalau saringan dan kemampuan menilai itu benar rasanya keduanya akan cukup untuk bisa membuat anda menilai sendiri dan kalaupun bertanya, tentu dalam bentuk konfirmasi atau pertanyaan yang anda sendiri tahu jawabannya sebagai bagian dari kemampuan itu tadi. Lain hanya kalau saringan anda itu juga dibentuk bukan dari pengalaman anda sendiri, tapi sekedar dari pengertian orang lain baik itu dari yang anda dengar, baca atau tonton, atau juga bisa disebut meminjam saringan orang lain tentu kalau yang disaring terlalu halus atau tidak berbentuk atau terlalu liat-fleksibel-dinamis dan gampang lolos dari saringan anda, anda malah jadi bingung, kan boleh minjam :D.
 
Bingung? Ya, silahkan mencari tiang untuk bersandar , yah, hehehe.anda lanjut saja membaca sampai akhir karena saya akan mencoba menjelaskannya dengan sedikit melenceng atau berputar jauh.
 
----bersambung---


Diskusi dan pertanyaan mohon di kirim ke japri;[EMAIL PROTECTED]


Want to start your own business? Learn how on Yahoo! Small Business. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke