Wajah Asli dan Palsu
 
 
 
 
 Kekotoran batin bisa berdiri sendiri? Kemunculan kekotoran batin tergantung 
pada faktor lain? Banyak diantara orang yang bilang sungguh tidak mungkin 
mengikis habis kekotoran batin.
 
 
 Jika kemunculan sesuatu tidak tergantung pada faktor lain, maka 'sesuatu' itu 
tidak mungkin dipisahkan elemen-elemenya, jika kekotoran batin bisa berdiri 
sendiri tanpa dibangun oleh faktor-faktor lain, maka tidak mungkin kita 
menghancurkannya, tapi lihatlah apa yang terjadi di dunia ini, perpisahan 
terjadi di semua tempat, manusia berpisah setiap hari, oleh karena itu kita 
juga bisa mencabut akar-akar kekotoran batin, kita mampu mencabut keserakahan, 
kemarahana, dan ketidaktahuan.
 
 
 Semua manusia, wanita maupun pria mampu merealisasikan tingkat Arahat, ketika 
mereka menghancurkan kemelekatan dan semua nafsu keinginan negatif, namun 
mereka tetap memiliki rasa kasih sayang dan masih berkaitan dengan makhluk 
lain, tentu saja kita bisa mengikis habis kekotoran batin apabila kita mengerti 
bahwa kekotoran batin tersusun dari berbagai faktor yang bisa kita kikis 
sedikit demi sedikit, lantas mengapa tidak banyak orang yang bisa mengikisnya?
 
 
 Banyak orang yang tidak tertarik pada ajaran mendalam yang merupakan obat 
penawar bagi kekotoran batin, sangat jarang orang yang tertarik untuk 
mempelajari dan mengerti hal-hal fundamental fenomena karena mereka sangat 
familiar dengan kekotoran batin sejak waktu yang lama sekali, mereka sangat 
akrab dan familiar dengan amarah, serakah, dan kebodohan, tiga sekawan ini 
muncul secara spontan tanpa bersusah payah, ketahuilah bahwa kekotoran batin 
tidak bisa muncul sendirinya, namun ia punya faktor yang menyebabkan ia muncul.
 
 
 Lihatlah wajahmu di depan cermin, pantulan cermin menyebabkan wajah anda 
menjadi dua, satu wajah asli dan satu lagi wajah di dalam cermin, wajah yang 
berada dalam cermin bukanlah wajah sesungguhnya, ia tidak bisa muncul tanpa ada 
wajah sesungguhnya, namun wajah palsu itu eksis dan bisa dilihat oleh mata, 
tapi eksistensinya tergantung kepada wajah kita yang sesungguhnya, butuh alat 
yang bernama cermin, butuh jarak antara obyek dan cermin, kemudian cermin harus 
bersih, jadi wajah palsu baru bisa muncul, kemudian kita bisa pakai lipstik, 
bedak, make up dan sebagainya, tapi wajah palsu itu tidak bisa beroperasi atau 
berfungsi sebagaimana wajah sesungguhnya; kita selama ini memiliki pemahaman 
salah terdairi diri sendiri, kita menunjuk wajah palsu yang merupakan pantulan 
dari cermin sebagai wajah asli, wajah yang bisa berfungsi sebagai wajah 
sesungguhnya, padahal kemunculan wajah palsu itu sangat tergantung pada wajah 
aslinya.
 
 
 Nagarjuna membedakan 2 jenis kebenaran, kebenaran konvensional dan kebenaran 
sejati, jika seseorang menyadari bahwa ia telah dikelabui oleh wajah palsu 
hasil pantulan dari cermin, bahwa wajah palsu itu telah mendapat label wajah 
asli, dan menyadari bahwa wajah palsu tidak akan bisa muncul tanpa adanya wajah 
asli, ketika ia menyadari semua ini, seseorang akan sangat sedih dan kecewa.
 
 
 Satu sisi ia eksis karena bisa dilihat dengan menggunakan salah satu panca 
indra (kebenaran konvensional), satu sisi lagi kemunculannya sangat tergantung 
pada faktor lain (kebenaran sejati) yaitu wajah asli, maka itu disebut 
'kosong', kita kita mulai memikirkan hal-hal demikian, mulai melakukan analisa 
sederhana, Aryadeva bilang, “Anda sedang mengoyak kekotoran batin sedikit demi 
sedikit!” tapi kebanyakan dari kita tidak percaya bahwa kita mampu melakukan 
analisa maupun mengoyak kekotoran batin, jika kita mengarahkan cara berpikir 
kita pada analisa sederhana seperti disebutkan tadi, bertanya, mengambil dan 
mencoba untuk menggunakan cara ini, maka kita sedang menuju 'pembebasan'.
 
 
 Seseorang akan mengerti apabila mulai dengan studi, baik itu dengan cara 
membaca, mendengar, melihat, kemudian merenungkan hasil studi, membuat hasil 
itu menjadi sesuatu yang sangat familiar bagi batin kita dengan cara meditasi, 
oleh karena itu kita harus mulai melihat realitas sesungguhnya dari segala 
fenomena, paling minimal ada rasa ingin tahu terlebih dahulu, sangat bagus 
apabila kita mulai tertarik pada 'kekosongan', karena kita bagus bagi kita 
untuk mulai menamkan benih serta mulai mengoyak kekotoran batin.
 
 
 Menurut anda, apakah kita perlu mencabut akar-akar kekotoran batin? Kekotoran 
batin memastikan kita mengalami penderitaan, oleh karena itu kita harus 
mencabutnya, dan bagaimana mencabutnya?
 
 
 Pertama bangkitkanlah keinginan murni untuk melepaskan diri dari kekotoran 
batin, kemudian mulai menamkan benih serta mengoyak kekotoran batin. Sampai 
detik ini kita masih belum punya bayangan jelas tentang 'kekosongan', namun 
kita memiliki penjelasan yang cukup lengkap, bayangan mental atas 'kekosongan' 
muncul dari pengalaman, batin kita mampu mengerti 'kekosongan'
 
 
 dengan melihat tembus kekosongan, kita akan mengerti bahwa kekotoran batinlah 
yang merantai kita dalam samsara, dengan berlatih 6 paramita beserta pengertian 
benar tentang 'kekosongan' maka semua kegiatan ini akan memawa anda semakin 
dekat dengan pembebasan. Aryadeva bilang, siapa sih yang tidak tertarik pada 
ajaran dharma demikian? Mereka yang tidak memiliki batin jernih adalah mereka 
yang dungu!
 
 
 Dengan memahami 'kekosongan' saja akan membuat latihan anda semakin bagus dan 
maju, memahami 'kekosongan' seperti orang yang mampu melihat diantara orang 
buta, jika semuanya buta, maka kelompok orang itu tidak akan bisa berjalan jauh 
atau mencapai tujuan mereka.
 
 
 Apakah dengan memahami 'kekosongan' saja bisa membawa kita mencapai 
pembebasan? Tentu saja tidak cukup, kurang apa lagi? Anda butuh bodhicitta, 
aktifitas bodhisatwa, 6 paramita (kebijaksanaan dan upaya-kausalya) untuk 
membawa pada pencerahan total. Arahat mengerti sebagian dari hal itu, tapi 
Arhat tidak menerapkan bodhicitta, aktifitas bodhisatwa dan upaya-kausalya.
  

J u n a i d i
Tibetan Language & Buddhist Philosophy

Library of Tibetan Works & Archives
Centre for Tibetan Studies & Researches
Gangchen Kyishong Dharamsala - 176215
Himachal Pradesh - I n d i a

"May I become at all times, both now and forever; a protector for those without 
protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with 
oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those 
in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack 
of shelter; and a servant to all in need"-- H.H. The 14th Dalai Lama, Tenzin 
Gyatso -- Bodhicharyavatara [Tib. 
J'ang.chub.sem.pa'i.c'od.pa.nyid.jug.pa.zhug.so; Ing. Guide to the 
Bodhisattva's Way of Life, Chapter III, Verse 18-19]~ Shantideva
 
---------------------------------
Sponsored Link

   Degrees for working adults in as fast as 1 year. Bachelors, Masters, 
Associates. Top schools

Kirim email ke