LOJONG : Melatih Pikiran
H.H. Dalai Lama
Diterjemahkan oleh : Hendy Hanusin
Tanya Jawab
Q. Yang Mulia, bagaimana seseorang menghadapi emosi-emosi negatif yang kuat?
A. Pertama, saya pikir sangat penting untuk mengembangkan pengenalan jernih
bahwa emosi-emosi kesengsaraan ini merusak. Bila anda mempunyai wawasan
mendalam, ketika emosi negatif muncul anda mungkin mempunyai keengganan untuk
bertindak, dan ini membuat sebuah perbedaan. Kedua, emosi-emosi negatif sering
berdasarkan alasan-alasan yang dibuat-buat. Bila demikian, cobalah untuk
melihat benda-benda dari sudut pandang berbeda - ini dapat membuat sebuah
perbedaan. Ketika anda memeriksa hakikat emosi-emosi, anda sering menemukan
bahwa mereka berdasarkan sejenis proyeksi dari pikiran anda pada sebuah
kejadian atau seseorang, dan proyeksi itu mungkin tidak ditemukan. Dengan
memeriksa alasan yang ditekankan, anda dapat sering menghadapi emosi-emosi
negatif. Ketiga, ketika emosi-emosi negatif sudah meledak, merasakan
pengalamannya, salah satu cara terbaik adalah mencoba mengalihkan perhatian
seseorang atau fokus jauh dari persepsi emosi sesungguhnya sehingga intensitas
emosi dikurangi.
Q. Yang Mulia, mengapa hewan-hewan dianggap bentuk makhluk-makhluk hidup yang
lebih rendah daripada manusia? Kelihatannya bagi saya bahwa mereka sama, hanya
berbeda bentuk.
A. Ya, itu benar. Itulah mengapa, daripada memakai manusia dalam pemikiran
kita, kita memakai makhluk-makhluk hidup. Semua makhluk-makhluk hidup adalah
sama. Manusia, dewa-dewa duniawi, serangga-serangga, hewan-hewan - semuanya
sama sebagai makhluk hidup. Semua memiliki pengalaman-pengalaman yang sama.
Namun demikian, ada sebuah perbedaan di otak. Saya pikir kita memiliki
kemampuan lebih besar untuk menganalisa. Dari sudut pandang ini, kita
menganggap tubuh manusia lebih berharga. Satu kali kita menyadari kita memiliki
sebuah inteligensi yang lebih berharga, kita seharusnya juga menyadari bahwa
kita mempunyai sebuah tanggung jawab yang lebih besar. Jagalah makhluk-makhluk
ini daripada memakai mereka !
Q. Yang Mulia, meditasi jenis apa yang ada rekomendasikan untuk seorang umat
awam yang ingin mengikuti jalan Buddha?
A. Sebenarnya tidak banyak perbedaan antara bhiksu-bhiksu dan umat awam. Saya
pikir dasar jalan Buddhis adalah sama. Belajar Empat Kebenaran Mulia dan Dua
Belas Mata Rantai yang Saling Bergantungan. Pertama, belajar, belajar.
Ketika saya berkata belajar, saya tidak bermaksud hanya mengambil
buku, membacanya dan membiarkannya begitu saja. Kita dapat membaca buku-buku
untuk mendapatkan informasi. Ini tentu saja permulaan, dasar berpikir,
kontemplasi, atau refleksi. Dalam tingkat pemahaman Buddhis, ini dikatakan
pemahaman berdasarkan mendengarkan secara sederhana. Ini tidak cukup, dan
seseorang harus melampaui pemahaman ini. Anda harus menemukan sebuah cara
mengintegrasikan apa yang anda pelajari pada pengalaman anda sendiri. Pemahaman
anda akan jalan Buddhis tidak seharusnya semata-mata berdasarkan sebuah
pemahaman tekstual : "Ini dikatakan dalam teks ini" atau "Poin itu dibuat di
dalam teks lain." Lebih baik, seseorang seharusnya dapat mengidentifikasikan
wawasan-wawasan ini pada landasan pengalaman seseorang sendiri. Ada sebuah
pemrosesan informasi dan ini adalah tingkat pemahaman yang dikenal sebagai
memahami melalui berpikir atau kontemplasi. Ini adalah jenis pemahaman yang
kita perlu kembangkan. Saya tidak setuju dengan beberapa orang yang
berkata,"Anda hanya perlu melafal mantra dan tidak perlu belajar." Saya tidak
merekomendasikan ini pada setiap orang, apakah umat awam, pemula, atau
bhiksu-bhiksu. Saya pikir bila anda benar-benar serius mempraktekkan
buddhadharma, untuk mengikuti jalan Buddhis, anda harus belajar. Tanpa
mengetahui, bagaimana kita dapat merubah pikiran kita? Ini akan sangat sulit.
Efek dari keyakinan belaka sangat terbatas.
Saya pikir keyakinan yang tepat atau kepercayaan harus dikembangkan
pada landasan kepastian yang penuh. Bagaimana seseorang mengembangkan
kepastian? Melalui meditasi analitis. Meditasi pemusatan pada satu titik tidak
begitu penting sampai kemudian. Untuk seorang pemula, saya tidak berpendapat
bahwa meditasi pada satu titik itu begitu penting. Meditasi analitis, belajar,
dan berpikir. Itu penting !
Q. Ahli fisika barat sekarang membuat dalil sebuah permulaan ruang-waktu
sebagai big-bang (ledakan besar) - bagaimana itu mempengaruhi konsep Buddhis
akan waktu tanpa awal atau teori karma?
A. Saya sering ditanya pertanyaan ini. Bila teori kosmologi dari sebuah
ledakan besar terbukti adalah benar-benar permulaan alam semesta, maka
pemikir-pemikir Buddhis akan mempunyai banyak untuk dipikirkan, dan tantangan
itu akan membutuhkan banyak garukan kepala. Bila beberapa ledakan besar
dijadikan dalil, maka ini akan sejalan sangat baik dengan teori Buddhis.
Q. Yang Mulia, apakah harus ada penderitaan untuk mengimbangi kebahagiaan?
Apakah mungkin memiliki kebahagiaan total dan harmoni?
A. Dari sudut pandang Buddhis, ketika kita berbicara tentang kebahagiaan dan
penderitaan, kita tidak sedang murni berbicara pada tingkat perasaan atau
sensasi-sensasi. Seseorang dapat berkata bahwa dalam Agama Buddha pengalaman
jelas akan rasa sakit itu adalah sebuah bentuk penderitaan yang dapat
diidentifikasi. Tapi bahkan ketika kita menggolongkannya sebagai sebuah sensasi
yang menyenangkan, seperti kebahagiaan, dari sudut pandang Buddhis bukanlah
kebahagiaan sejati. Ini adalah sebuah bentuk penderitaan karena benih dari
ketidakpuasan berada di dalamnya. Jenis kebahagiaan yang dibicarakan Agama
Buddha dalam kaitannya dengan Empat Kebenaran Mulia adalah sebuah penghentian
total, bukan hanya rasa sakit dan penderitaan tapi juga emosi yang naik-turun
dan seterusnya. Ini adalah sebuah kondisi melampaui perasaan dan sensasi.