Opini                           Jumat, 01 Desember 2006                   
  "Smack Down" TV Kita 
  
  Sunaryono Basuki Ks 
   
  Ketemu sudah kesempatan untuk mendemo TV kita. Kalau untuk beberapa lamanya 
penonton dibuat jengkel dengan acara TV yang terasa membodohi kita, tetapi tak 
ada alasan buat memprotesnya, maka kini acara SmackDown bisa dijadikan sasaran. 
   
  Apalagi di Bandung ada anak tewas, katanya, gara-gara kena smack down 
temannya sehingga pihak TV yang menanyangkan acara SmackDown harus datang ke 
Bandung dan menerima serangan pedas. Di Kulonprogo, Yogyakarta, Maryunani harus 
dirawat di rumah sakit lantaran kena smack down teman-teman sekelasnya. Orang 
menyalahkan dampak buruk tontonan bagi anak-anak. 
   
   
  Acara baru? 
  Acara SmackDown bukanlah barang baru bagi penonton TV di Tanah Air. Pada 
dekade yang lalu, acara ini ditayangkan pada siang hari dan ditonton baik 
orangtua maupun anak-anak. Seorang teman saya selalu menceritakan kepuasannya 
menonton acara ini yang berisi adegan-adegan seru, tendang, banting, tubruk, 
dan tindih. Dia lebih puas menonton acara ini dibanding menonton acara 
pertandingan tinju tingkat apa pun. Dia juga percaya bahwa semua adegan dalam 
acara ini benar-benar dilakukan dengan serius: memukul, membanting, menubruk, 
dan menendang. 
   
  Dia tak membayangkan bahwa sebenarnya dia sedang menyaksikan sebuah tontonan, 
yang memang dimaksud untuk memuaskan keinginan-keinginan hewani manusia: 
sadisme, nafsu saling membunuh, menyakiti, serta melukai. Dan para pelaku 
tontonan tersebut memang dibayar untuk kelihatan bersungguh-sungguh 
melakukannya. Berbeda dengan acara pertandingan tinju, atau bela diri lain. 
Mereka memang bertanding, tidak berpura-pura bertanding. Kalau petinju cuma 
berpura-pura lantaran kalah pun dia dibayar, penonton mencapnya sebagai "main 
sabun". 
   
  Pada dekade yang lalu tak terdengar ada korban dari penonton yang jatuh kena 
smack down walaupun acara disiarkan pada siang hari. Tidak ada pula protes. 
Apakah memang musim protes dan demo belum tiba karena kontrol penguasa yang 
ketat? Apalagi stasiun TV yang menayangkannya juga milik keluarga penguasa? 
   
   
  Persaingan bisnis 
  Ada yang menduga hal ini disebabkan oleh persaingan bisnis. Memang, 
persaingan bisnis kotor. Pada setiap bidang ada persaingan. Jual koran saja 
perlu mengancam pengecer agar tak menjual koran pesaing. Rokok? Tahun 1967, 
ketika saya menjadi guru di sebuah kota kecil Kepanjen di selatan Malang, saya 
mendengar persaingan kotor. 
   
  Di kota ini diproduksi rokok keretek dengan cap Si Kuncung dan Si Kuncung 
Istimewa, meniru nama majalah anak-anak pimpinan Soedjati SA yang punya tiras 
sampai 100.000 eksemplar. Rokok ini sangat digemari dan produksinya meningkat. 
Makin hari permintaan mengalir dan produksi terus ditingkatkan. Namun, 
tiba-tiba rokok tak laku. Banyak pesanan yang dikembalikan, sementara produsen 
sudah telanjur pinjam modal ke bank. Akhirnya pabrik tutup: bangkrut. Ternyata, 
pesaingnya memborong rokok produksinya, lalu menyimpannya di tempat yang 
lembab, dan ketika rokok sudah menjadi lembab, dia menjualnya. Karuan saja 
pembeli menjauh dan penjualan jatuh. 
   
  Acara SmackDown lantaran sudah bolak-balik ditayangkan, harga sewanya murah, 
tetapi penggemarnya masih banyak. Acara tersebut sekarang disiarkan pukul 
sepuluh malam, dengan tujuan agar tak ditonton anak-anak. Tampaknya acara murah 
yang murahan ini menggeser rating acara TV lain yang justru dengan biaya mahal. 
Bukan mustahil pihak yang merasa disaingin berusaha "menggeliat" dengan 
berbagai cara. 
   
  Kalau ada anak-anak yang jadi korban, pasti ada yang salah dengan keluarga si 
anak, yang membiarkan anak menonton TV saat seharusnya sudah tidur. Namun, 
akses anak-anak terhadap acara SmackDown tampaknya bukan dengan TV, tetapi 
dengan permainan yang sudah "mendesa", yakni playstation yang menyediakan juga 
acara SmackDown. Bermain playstation tak perlu tunggu malam hari. Lihat saja 
tempat persewaan playstation yang selalu dipenuhi anak-anak. 
   
  Kalau begitu, apakah sekarang kita menyalahkan dioperasikannya penyewaan 
playstation? Apakah program-programnya pernah disensor? Apa yang salah dengan 
negeri kita yang sudah di smack down oleh berbagai masalah ini? 
   
  Sunaryono Basuki Ks Sastrawan, Tinggal di Singaraja 

 
---------------------------------
Cheap Talk? Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates.

Kirim email ke