Menemukan kompas sejati
   
  Pada awalnya, anda sangat membutuhkan peta dan kompas agar anda tidak 
tersesat dalam perjalanan mendaki gunung, namun ketika anda telah bisa 
menemukan pola pemandangan, anda akan bisa menentukan arah timur, utara, 
selatan dan barat dengan hanya mengandalkan perasaan anda dan pengamatan anda 
akan sekeliling anda sewaktu anda mendaki gunung.
   
  Sama juga halnya dengan mendaki gunung, dalam perjalanan spiritual pada 
awalnya anda membutuhkan peta dan kompas, serta mungkin juga tuntunan para 
pejalan yang telah handal agar anda bisa menemukan pola dan titik penanda arah 
yang anda butuhkan agar tidak tersesat dan jatuh ke jurang atau malah 
berputar-putar saja. Sesesudah kemampuan untuk melihat arah dan menentukan 
tujuan itu ada miliki, tentu anda akan makin sedikit menggunakan waktu anda 
untuk melihat kompas dan melihat peta, anda akan lebih banyak menggunakan 
pola-pola dan pemahaman-pemahaman yang anda temukan di awal perjalanan itu 
sebagai penentu arah timur, utara, barat dan selatan dalam perjalanan spiritual 
anda dan menggunakan pemahaman yang senada untuk menentukan arah langkah anda 
dalam perjalanan anda.
   
  Baik mendaki gunung maupun melangkah di jalan spiritual, pada awalnya 
membutuhkan kecerdasan intelektual anda dan membutuhkan disiplin yang baik, 
tanpa kedua hal itu, anda seringkali akan gagal dalam menemukan arah yang benar 
dan seringkali anda malah akan berputar-putar saja di suatu lingkup yang 
itu-itu saja, dan itu sangat mungkin terjadi tanpa anda sadari. Peta yang 
terbaik sekali pun tidak akan mencantumkan semua arah dan semua tanda, ada saja 
tanda yang entah karena disengaja atau karena bagi si pembuat peta, ketika 
bagian gunung itu dicapai, semestinya para pembaca petanya telah memperoleh 
kemampuan untuk melihat arah dengan perasaan dan pola-pola alam yang ada, maka 
dengan tidak menambahkan keterangan yang terlalu banyak, si pembuat peta 
mengijinkan para pembaca petanya untuk melanjutkan sendiri dan membiarkan tanda 
dan arah itu tercipta atau muncul di benak para pembaca petanya. 
   
  Hanya lalu ketika seorang yang cerdas dan ahli membaca peta, namun tidak 
memiliki kemampuan untuk menemukan pola alam dan mengkaitkannya dengan 
penentuan arah dan penentuan tujuan yang digambarkan di peta itu melakukan 
perjalanan dengan menggunakan peta itu sebagai petunjuk, ybs itu akan sampai 
pada satu tingkatan di mana dia akhirnya akan berputar-putar di tingkatan itu, 
di areal itu, sampai bisa menemukan pola yang dimaksud atau paling tidak 
menyadari kalau dia itu berputar-putar di suatu lingkup saja. Inilah kelemahan 
pemikiran intelektual yang tidak disertai intuisi atau penalaran pola, ya, 
mirip seperti anda mengamati deret bilangan dan menemukan pola atau rumus 
darinya, hanya ini dipraktekkan untuk perjalanan mendaki gunung atau perjalanan 
spiritual. Untuk mendaki gunung itu bisa kita katakan sebagai kompas yang akan 
membantu anda untuk menemukan arah yang benar, dan untuk perjalanan spiritual 
itu merupakan kompas sejati. 
   
  Anda masih berputar-putar? :D
   
  201106
  SJW


Diskusi dan pertanyaan mohon di kirim ke japri;[EMAIL PROTECTED]
 
---------------------------------
Check out the all-new Yahoo! Mail beta - Fire up a more powerful email and get 
things done faster.

Kirim email ke