Kompas,  Jumat, 08 Desember 2006   
  Antara Kemiskinan, Radikalisme, dan Surga 
  
  Maruli Tobing
  Apakah kemiskinan terkait erat dengan radikalisme kelompok berbasis agama? 
  Kalangan intelektual kampus umumnya berpendapat demikian. Maka, solusinya 
adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sebaliknya, selama kemiskinan masih 
melekat dalam irama kehidupan rakyat, radikalisme akan beranak-pinak. Mereka 
kemudian menghubungkannya dengan aksi kelompok teroris di Indonesia. 
  Akan tetapi, Prof Haim Harari, teoretikus fisika dan Ketua Davidson 
Institution of Science Education, meragukan hal tersebut. Bom bunuh diri, 
misalnya, tidak dikenal di negara-negara miskin di Afrika, yang mayoritas 
penduduknya beragama Islam (A View from the Eye of the Storm, 2004). 
  Jauh sebelum tegaknya Republik Indonesia, kemiskinan sudah menjalar di 
pelosok pedesaan Pulau Jawa. Pemberontakan petani maupun Pangeran Diponegoro 
bukanlah akibat kemiskinan, melainkan bentuk penolakan terhadap kebijakan 
kolonial. 
  Ralph Dahrendorf, pelopor sosiologi konflik, menjelaskan radikalisme dengan 
mengacu pada pemikiran Karl Marx. Di setiap pergantian zaman, radikalisme 
selalu dimotori oleh kelompok yang kondisi ekonominya relatif lebih baik. 
  Kelompok ini merasa dipinggirkan dalam proses perubahan yang sedang 
berlangsung. Muncul kekecewaan bercampur kebencian kepada rezim yang berkuasa, 
yang dianggap memblokir peluang mobilitas sosial mereka. 
  Dalam hal ini kesenjangan antara harapan dan kenyataan merupakan bahan bakar 
radikalisme. Dahrendorf berpendapat, kelompok miskin cenderung apatis (The 
Politics of Frustration, Oktober 2005). Lantas, apakah memang demikian? 
  Hasil penelitian Dr Marc Sageman, psikiater forensik AS, sangat membantu 
menjelaskan hal tersebut. Sageman mengambil sampel biografi 400 anggota Al 
Qaeda maupun jaringannya. Hasilnya dituangkan dalam buku Understanding Terror 
Networks (2004). 
  Pakistan 
  Menariknya, Marc Sagemen adalah mantan anggota CIA yang bertugas di Pakistan 
tahun 1980-an. Pada waktu itu, Pakistan disiapkan sebagai pangkalan utama CIA 
dalam mempersenjatai Mujahidin melawan tentara pendudukan Uni Soviet di 
Afganistan. Dengan sendirinya, Marc Sageman tidak asing dengan dunia Mujahidin. 
  Biografi yang dikumpulkan Marc Sageman sebagian besar warga asal Arab, 
komunitas imigran di Eropa Barat, dan warga Indonesia di Malaysia. Mereka 
ternyata bukan berasal dari negara termiskin. Lebih mengejutkan lagi, tidak 
satu pun di antara 400 sampel yang berasal dari Afganistan, salah satu negara 
termiskin di dunia. 
  Dalam kaitannya dengan latar belakang sosial-ekonomi, tiga perempat berasal 
dari keluarga kelas atas dan menengah. Mereka lahir dan dibesarkan dalam 
keluarga yang rukun, penuh perhatian terhadap anak, taat beragama, dan menaruh 
perhatian terhadap masalah kemasyarakatan. 
  Sekitar 60 persen sampel pernah menjadi mahasiswa. Padahal, di negara asal 
imigran tersebut tidak semua orang berkesempatan masuk perguruan tinggi. 
Umumnya mereka bergabung dengan organisasi teroris pada usia rata-rata 26 
tahun. Tiga perempat sudah menikah dan sangat bertanggung jawab kepada 
keluarga. 
  Dari keseluruhan sampel, tidak ditemukan indikasi mengalami "pencucian otak" 
oleh keluarga maupun pendidikan. Sekitar 50 persen di antara mereka sejak kecil 
sudah menekuni agama. Hanya 13 persen dari sampel, yang hampir semua berasal 
dari Asia Tenggara, mengikuti pendidikan di pondok pesantren. 
  Hal menarik lainnya, 70 persen di antara mereka bergabung dalam jihad global 
ketika di perantauan. Sekitar 10 persen lagi adalah imigran baru Arab Magrib di 
Eropa. Dengan demikian, lebih kurang 80 persen terasing di negeri rantau, 
terputus dari ikatan sosial budaya asli, dan jauh dari sanak keluarga. 
  Di tengah suasana demikian, masjid merupakan tempat para imigran untuk 
bertemu sesama perantau. Bertukar pikiran mengenai berbagai masalah dan 
membangun solidaritas. Sekitar 68 persen sampel bergabung dengan organisasi 
teroris melalui hubungan sosial maupun keluarga, yang terbentuk jauh 
sebelumnya. 
  Kekecewaan 
  Biografi teroris yang bergabung dalam Al Qaeda maupun jaringannya tidak 
menunjukkan hal yang terkait dengan masalah kemiskinan. Sembilan belas pelaku 
pembajakan pesawat udara—15 di antaranya asal Arab Saudi—dalam peristiwa 
serangan 11 September, misalnya, bukan dari kalangan melarat. Beberapa orang 
malah sedang melanjutkan pendidikan di Hamburg, Jerman. 
  Mereka sama seperti Osama bin Laden, tokoh pemrakarsa jihad global, yang 
lahir dan besar di lingkungan keluarga kaya raya. Ia mendapat warisan bernilai 
ratusan juta dollar AS ketika masih berusia 20 tahun. 
  Sekembalinya dari perang Afganistan, bin Laden hanya menemukan kekecewaan di 
Arab Saudi. Puncaknya ketika penguasa kerajaan mengizinkan pangkalan militer AS 
dibangun di Arab Saudi. 
  Bin Laden akhirnya hijrah ke Sudan dan kembali ke Afganistan tahun 1996. 
Memilih tinggal di goa-goa di pegunungan Hindu Kush, seperti halnya di zaman 
batu. Dari lokasi inilah ia memimpin perang global menghadapi mesin-mesin 
perang elektronik AS dan sekutunya. 
  Bangkitnya kembali agama sebagai ideologi pergerakan bermula di Mesir tahun 
1970-an dan sama sekali tidak terkait dengan masalah kemelaratan. Ia adalah 
alternatif terhadap ideologi sekuler, sosialisme-nasionalis, yang berkuasa. 
  Kekalahan dalam perang melawan Israel tahun 1967 merontokkan ideologi 
sekuler, termasuk nasionalisme Pan Arab dengan segala mimpi negara modern. 
Maka, yang tersisa hanyalah kekecewaan dan kebencian kepada rezim sekuler. 
  Kelompok-kelompok agama kemudian tampil dengan menjanjikan surga bagi para 
pengikutnya. 
  Indonesia bukan mustahil akan mengikuti irama yang sama jika ideologi sekuler 
gagal mewujudkan janjinya, yaitu Indonesia adil dan makmur. "Surga" akan muncul 
sebagai ideologi alternatif. 
  Wakil Presiden Jusuf Kalla memahami hal ini. Dalam sambutannya pada 
pengukuhan doktor honoris causa Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Dr 
A Hasyim Muzadi di IAIN Sunan Ampel Surabaya, Sabtu (2/12), Kalla meminta tokoh 
agama di Indonesia tidak "menjual" murah surga kepada kaumnya sehingga mereka 
mudah terhasut dan menyerang ke agama lain. 

 
---------------------------------
Access over 1 million songs - Yahoo! Music Unlimited.

Kirim email ke