Kompas, Kamis, 21 Desember 2006                                                 
                                                                                
                                                                                
                                                                                
                                         
 Filsafat
 Yang Heroik dari Warisan Driyarkara 
 
Alfons Taryadi
  Sangat mungkin, Karya Lengkap Driyarkara yang berisi esai-esai filsafat 
setebal 1.501 halaman membuat orang berdecak kagum. Namun, tak kalah penting 
dari karya tulisnya yang diluncurkan baru-baru ini di Jakarta (Kompas, 
2/12/2006) adalah warisannya yang heroik, yakni semangatnya yang pantang 
menyerah dalam menjalankan tugas-tugasnya maupun dalam mengembangkan sampai ke 
puncak bakat-bakat yang dimilikinya. 
Semangat seperti itulah yang kini paling dibutuhkan oleh bangsa Indonesia 
ketika hampir di semua aspek kehidupan kita terpuruk sedalam-dalamnya. 
Dari Prakata, Pengantar Penyunting, dan Kata Pengantar Karya Lengkap 
Driyarkara, yang secara keseluruhan mewakili para pemrakarsanya, yakni Kelompok 
Kompas Gramedia, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Universitas Sanata Dharma, 
dan Penerbit Kanisius, bisa disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: 
* Gagasan-gagasan inspiratif Driyarkara masih relevan sebagai bahan diskusi dan 
inspirasi untuk kehidupan zaman sekarang, pada saat bangsa Indonesia mengalami 
kemunduran di segala aspek, termasuk kemunduran dalam menghargai Pancasila; 
* Jasa Driyarkara terutama dalam merintis, menantang, dan menghidupkan 
pembicaraan yang serius dan mendalam untuk menghadapi persoalan-persoalan 
masyarakat dan bangsa; 
* Driyarkara lewat tulisannya mengajarkan filsafat sebagai sarana untuk 
berpikir jelas, kritis, dan bisa dipertanggungjawabkan;   
* Teladan hidup Driyarkara memberi kesaksian bahwa ia seorang pendidik sejati, 
sedangkan karya tulisnya memberikan latar belakang dan pertanggungjawaban atas 
apa yang dilakukannya; 
* Kebesaran Driyarkara ialah bahwa ia tak pernah seorang filsuf belaka, 
melainkan orang arif pandai yang ramah, rendah hati, dan tetap sederhana sampai 
akhir hayatnya. 
Meneladani   
Mencermati ungkapan keyakinan para pemrakarsa penerbitan Karya Lengkap 
Driyarkara, saya menangkap adanya aspirasi agar figur Driyarkara yang begitu 
dihormati oleh banyak tokoh intelektual Indonesia, seperti Prof Slamet Iman 
Santosa, Prof Dr Fuad Hassan, Soedjatmoko, dan Arief Budiman, diteladani oleh 
anak-anak muda masa kini. Kalangan muda tampaknya menangkap aspirasi tersebut. 
Hal itu terbukti dari tanggapan Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat 
Driyarkara (STF) terhadap booklet Driyarkara Pemikir yang Terlibat Penuh dalam 
Perjuangan Bangsanya, karya Romo F Danuwinata SJ, yang pada awal 2006 beredar 
di lingkungan STF dan kemudian ternyata menjadi Kata Pengantar untuk Karya 
Lengkap Driyarkara. Tanggapan tersebut berbunyi: "Tulisan Romo R Danuwinata SJ 
mudah-mudahan tidak saja mengembalikan mood kita membaca pemikiran Driyarkara, 
tapi terutama mengajak kita meneladani Driyarkara menjadikan filsafat sebagai 
sikap hidup yang emansipatif". 
Meneladani Driyarkara bisa dalam hal berkarya dan dalam cara hidup serta 
bersikap. Karya Lengkap Driyarkara pastilah bisa menjadi lecutan bagi kalangan 
muda untuk menciptakan karya tulis yang monumental, sedangkan cara hidup dan 
bersikap Driyarkara bisa diambil sebagai inspirasi bagi siapa saja yang ingin 
hidup lurus, bersih, sederhana, ramah, dan penuh keprihatinan atas persoalan 
yang dihadapi bangsanya. 
Hukum panen   
Karya Lengkap Driyarkara seberat dua kilogram lebih satu ons itu mungkin 
membuat anak-anak muda terperangah. Namun, prestasi cemerlang Driyarkara 
sebagai filsuf ibarat suatu "panen", suatu hasil rangkaian panjang proses 
menggarap, mengolah, memupuk, dan mengembangkan potensi, dan bakat yang 
dimilikinya. Ada hukum panen yang menuntut orang untuk menyiapkan tanah, 
menabur benih, merawatnya, menyiangi, dan mengairinya jika ia ingin panen. Tak 
ada jalan pintas serba cepat untuk sukses yang besar, kata Covey (1991, 
Principle-centered Leadership). 
Untuk "berpanen" seperti halnya Driyarkara, proses macam apa yang harus 
ditempuh oleh mereka yang mau meneladaninya? Apakah Romo F Danuwinata SJ dalam 
Kata Pengantar telah menggambarkan secara konkret perjuangan Driyarkara sebagai 
murid, mahasiswa, dosen, anggota MPRS, dan intelektual begitu rupa sehingga 
anak-anak muda masa kini dapat melihat apa yang menjadi kunci keberhasilannya? 
Dalam suatu percakapan penulis dengan Romo F Danuwinata SJ, belum lama ini, ia 
mengatakan bahwa Hukum Panen memang tak terpikir olehnya saat ia membuat Kata 
Pengantar tersebut. 
Mungkin saja, catatan-catatan harian Driyarkara yang ditulisnya sejak 1 Januari 
1941 hingga awal 1950 merekam hal-hal yang menyangkut cara ia belajar, 
kemelitannya untuk tahu, keasyikan yang terkait dengan pemecahan suatu problem 
yang dihadapinya, serta pengorbanan diri yang harus ditanggungnya demi 
keberhasilan studi, dan banyak lagi hal semacam itu. Dalam hal ini, saya 
teringat akan almarhum Sutan Takdir Alisjahbana, yang dalam dua kali pertemuan 
saya dengar mengatakan bahwa demi penyelesaian karya-karyanya ia biasa 
mengorbankan tidur siang. 
Dari masa kecil Driyarkara dituturkan bahwa ia terbiasa berjalan kaki setiap 
hari sejauh 5 kilometer ketika bersekolah di Volkschool dan Vervolgschools di 
Cangkreb, dan 8 kilometer ketika ia bersekolah di HIS (Hollands Inlandsche 
Schools) di Purworejo. Di rumah, ia biasa membantu orangtuanya menyirami sirih, 
yang waktu itu merupakan tanaman pokok di Kedunggubah. 
Dalam masa studi Driyarkara sebagai calon imam, tak banyak catatan Romo Danu 
tentangnya, selain bahwa ia dianggap layak mengajar filsafat di Seminari 
Tinggi, mulai 1943, meski sebagai Jesuit ia sendiri masih dalam tahap 
pendidikan. Ia ditahbiskan menjadi imam pada 1947 dengan persiapan yang 
sebagian besar berupa studi pribadi dalam bidang teologi. Dalam tahun itu pula 
ia harus berangkat ke negeri Belanda untuk menyelesaikan studi teologinya. Pada 
1950-1952 ia melanjutkan studi filsafat program doktoral pada Universitas 
Gregoriana, Roma. Di situ ia meraih gelar doktor dengan predikat magna cum 
laude setelah mempertahankan disertasi tentang Malebranche. 
Menarik bahwa selama menyelesaikan tesis doktoralnya, Driyarkara sempat menulis 
untuk Mingguan Bahasa Jawa, Praba, sebuah kolom bertajuk Serat Saking Rome.. 
Sepulang dari Roma, ia mengisi rubrik "Warung Pojok" dalam majalah yang sama 
dengan nama samaran Pak Nala. Dari 5 Oktober 1982 sampai 5 Juli 1988, semua 
tulisannya muncul dalam 58 terbitan, dengan sekitar 147 judul kecil. 
Rupanya dari sejak kecil Driyarkara biasa hidup sederhana, bekerja keras, sadar 
kewajiban. Selama studinya ia juga mengamati kehidupan sosial di Tanah Air 
sehingga mampu menulis tentang kehidupan rakyat kecil secara ringan, tetapi 
menyentuh. 
Bukan karena genius   
Di antara komentar tentang Driyarkara, yang paling mengesankan saya ialah 
catatan NN dalam tulisan "Bekerja Mengusangkan-diri Dari Pegunungan Menoreh 
Hingga Tanah Abang" (Kompas, 13/2/1967). Di situ, NN antara lain menggambarkan 
kepribadian Driyarkara sebagai berikut: 
Seorang yang serius, yang selalu bersungguh-sungguh dan berusaha sekuat tenaga 
dalam melakukan tugas-tugasnya. Ia dapat cemerlang prestasinya, bukan terutama 
karena ia seorang genius, tetapi terutama karena kesungguhan kerja dan 
usahanya. Inilah yang akhirnya berhasil memperkembangkan sampai ke puncaknya 
bakat-bakat yang dimilikinya… (aslinya dalam ejaan lama). 
Kesaksian tersebut mengungkapkan apa yang heroik dari warisan Driyarkara. 
Heroisme, kata Chris Lowney, (2003, Heroic Leadership), tidak terletak dalam 
pekerjaan. Kitalah yang menginjeksikannya ke dalam pekerjaan dan tugas kita. 
  
Alfons Taryadi Budayawan 

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke