----- Original Message ----- From: "siwu" <[EMAIL PROTECTED]> To: Sent: Monday, 01 January:10 PM Subject: Master Hsuan Hua
Mohon bantuan rekan-rekan untuk menyebarluaskan Jejak Agung ini ke milis-milis Buddhis yang lain ataupun ke rekan-rekan yang lain. "Saya datang dari ruang kosong dan kembali ke ruang kosong." Master Hsuan Hua) Jejak agung ini dipersembahkan oleh: Tjahyono Wijaya Master Hsuan Hua adalah Sesepuh ke-9 Chan Buddhisme (Zen) garis silsilah Wei Yang yang diwarisi dari Master Xu Yun (Hsu Yun), pengembang Ikrar Agung menanggung penderitaan semua makhluk, pembawa Buddha Dharma ke negeri Paman Sam, pendiri Sagely City of Ten Thousand Buddhas dan Dharma Realm Buddhist Association (DRBA – Assosiasi Buddhis Alam Semesta), pembentuk Komunitas Sangha pertama dan pelengkap Tri Ratna di Amerika, penerjemah Sutra Buddhis ke berbagai bahasa, pendiri institusi pendidikan Buddhis dan praktisi kerukunan beragama. Tahun 1918, 26 April (16 bulan 3 Imlek) lahirlah seorang bayi mungil bermarga Bai di Shuang Cheng, Ji Lin, Tiongkok. Anehnya, selama 3 hari 3 malam sejak kelahirannya, bayi ini terus menangis. Namun ibunya paham apa yang terjadi. Di malam menjelang kelahiran sang bocah, ibunya bermimpi melihat Buddha Amitabha, seluruh alam semesta berada dalam naungan cahaya emas yang berkilau, langit dan bumi berguncang, ibunya tertegun menampak fenomena ini. Sesaat ibu bermarga Hu yang penganut vegetarian dan rajin melafalkan nama Buddha ini, terjaga dari tidur. Mimpikah ini? Tetapi mengapa tercium aroma harum yang tak pernah ada sebelumnya? Tanpa sadar ia melafalkan nama Buddha. Tak lama kemudian lahirlah Yu Shu (Yu Xi). 1928, melihat bayi meninggal. Yu Shu kemudian bertekad ingin menjadi bhiksu agar terbebas dari kematian, tetapi ibunya berharap ia menunda hingga sang ibu meninggal. 1929, karena bertabiat keras dan sering menyusahkan orang tua, melakukan pertobatan dengan bersujud masing-masing tiga kali pada orang tua setiap pagi dan malam hari. Akhirnya ia bersujud sebanyak 830 kali setiap harinya kepada langit, bumi, pemimpin negara, ayah, ibu, guru dan sebagainya. Penduduk dusun menyebutnya "Anak Berbakti Keluarga Bai". 1930, sebuah mimpi menyadarkannya bahwa kematian bisa datang setiap saat, karena itu ia harus segera mempelajari Dharma. 1932, menerima Trisarana dari Bhiksu Chang Zhi. Mulai duduk di bangku sekolah. 1933, bergabung dalam beberapa organisasi Buddhis dan sosial. Membabarkan 'Sutra Altar", "Sutra Intan", "Sutra Amitabha" dan sebagainya. Menulis puisi berpasangan mempersatukan Chan silsilah Selatan dan Utara. "(Pencerahan) Seketika dan Bertahap meski berbeda, keberhasilannya adalah satu, kenapa terpisah menjadi Selatan dan Utara; Suci dan Awam sementara berbeda, benih akarnya adalah sama, jangan membicarakan Timur dan Barat." 1935, tidak tergoda lagi oleh lawan jenis, baik dalam mimpi maupun oleh seorang anggota Dao De Hui (Organisasi Moralitas). 1936, ibu meninggal. Musim semi, jalan menuju pemakaman sulit dilalui karena berlumpur. Malam sebelum hari pemakaman, ia memohon pada naga langit untuk menurunkan salju. Pagi hari turunlah salju membuat jalanan berlumpur menjadi mudah dilalui. Yu Shu menetap di samping makam sang ibu. Tanggal 8 bulan 4 Imlek menjadi bhiksu di Vihara San Yuan di Harbin di bawah bimbingan Bhiksu Chang Zhi. Bernama Dharma An Tse (Damai Welas Asih) dan sebutan To Lun (Du Lun - Roda Pembebas). Setelah menerima Vinaya Sramanera, berdiam di gubuk dekat makam ibu selama 3 tahun sebagai pernyataan rasa bakti. Selama itu ia tekun melatih diri dan bermeditasi dengan hanya makan sekali dalam sehari. Bahkan pernah selama 23 hari bermeditasi dengan tanpa sebutir nasipun mengisi perutnya. Mengembangkan 18 Ikrar Agung. Suatu hari datang Sesepuh Hui Neng dan mengatakan, "Nantinya kau akan pergi ke Amerika, …, menyadarkan banyak orang sejumlah pasir Sungai Gangga yang tak terhitung, inilah awal berkembangnya Buddha Dharma di dunia Barat." 1938, mengakhiri masa bakti 3 tahun, berdiam di Goa Mi Tuo. Sering menyembuhkan berbagai penyakit dan gangguan yang dialami para umat dengan menggunakan Maha Karuna Dharani, Mantra Empat Puluh Dua Tangan Mata, Surangama Dharani serta menganjurkan penderita untuk berbuat kebajikan, vegetarian dan melafalkan nama Buddha. 1945, berikrar bila dapat hidup hingga usia 100 tahun maka akan membakar tubuh sebagai persembahan pada Buddha memohon Penerangan Sempurna. 1946, berangkat ke Tiongkok Selatan mencari Master Xu Yun). 1947, menerima penahbisan penuh di Vihara Fa Yu, Putuoshan. 1948, bertemu Master Xu Yun di Vihara Nan Hua. Berikut Gong An kedua tokoh besar ini. An Tse: "Master Xu Yun melihat saya berkata demikian adanya, Saya melihat Master Xu Yun membuktikan demikian adanya, Master Xu Yun dan saya demikian adanya, Semoga semua makhluk juga demikian adanya." Master Xu Yun menjawab, "Demikianlah, demikianlah." Menjabat pengawas dan kepala bidang pengajaran di Akademi Vinaya Vihara Nan Hua. 1949, meninggalkan institusi pendidikan berfokus pada penelitian Sutra. Pergi Ke Hong Kong dua kali dan ke Thailand mempelajari kondisi Buddhisme di negara Gajah Putih. , menetap di Hong Kong mendirikan Vihara Xi Le Yuan, Vihara Chan Ci Xing dan Hong Kong Buddhist Lecture Hall. Menerbitkan majalah Xin Fa (Dharma Hati). 1956, menerima surat penobatan dari Master Xu Yun menjadi Sesepuh ke-9 Chan Buddhisme garis silsilah Wei Yang dengan nama Dharma: Hsuan Hua (Mengumumkan dan Merubah). 1958, siswa Master Hsuan Hua mendirikan perwakilan Hong Kong Buddhist Lecture Hall di San Fransisco, Amerika. 1959, Master Hsu Yun wafat. Berdiri Sino-American Buddhist Association (Assosiasi Buddhis Tionghoa-Amerika) di Amerika, cikal bakal Dharma Realm Buddhist Association. 1961, membabarkan Dharma di Australia. , tiba di San Fransisco, Amerika. Berpuasa hanya minum air selama 5 minggu untuk menyelamatkan dunia dari "Krisis Kuba" antara Uni Sovyet dan Amerika. 1963, meninggalkan China Town menetap di ruang bawah tanah yang tak berjendela dan lembab. Menyebut diri sendiri sebagai "Bhiksu dalam Makam". Juli 1967, Buddhist Lecture Hall dipindahkan ke Klenteng Tian Hou, China Town. Imlek 1968, membuat dua pernyataan: 1, teratai Dharma di Amerika akan berkembang; 2, Master Hsuan Hua menjamin tidak akan membiarkan terjadinya gempa selama berada di San Fransisco. Musim semi tahun 1968, sekitar 30 mahasiswa University of Washington kota Seattle mengikuti retret musim semi Nian Fo dan meditasi Chan di Buddhist Lecture Hall, serta retret musim panas pembabaran Sutra Surangama yang menghasilkan 5 mahasiswa Amerika meninggalkan kehidupan rumah tangga. Desember 1969, kelimanya: Bhiksu Heng Chyan, Heng Jing, Heng Shou dan Bhiksuni Heng Yin, Heng Chih, menerima penahbisan penuh di Vihara Hai Hui, Keelung, Taiwan. Lahirlah anggota Sangha berkebangsaan AS yang pertama. Master Hsuan Hua harus bersabar selama 6 tahun di awal kedatangan di Amerika, tak ubahnya seperti kondisi Sesepuh Bodhidharma sewaktu baru tiba di Tiongkok dan Sesepuh Hui Neng setelah menerima jubah mangkok dari Sesepuh ke-5. Dalam 6 tahun penantian ini, beliau tetap membabarkan Dharma. "Tak peduli pendengarnya banyak atau sedikit, setiap hari membabarkan Sutra dan Dharma." Apa saja yang telah dikontribusikan oleh Master Hsuan Hua bagi Buddha Dharma, masyarakat Barat dan dunia sejak tahun 1968? Pertama, membentuk Komunitas Sangha di Amerika dengan penerapan Sila yang ketat. Anggota Sangha makan sekali sehari sebelum tengah hari, pun memperkenankan penerapan Sila "tidak memegang uang". Bagi yang berkemauan kuat, malam hari tidak tidur berbaring, seperti yang dilakukan Master Hsuan Hua. Kedua, pendirian lebih dari 20 vihara yang tersebar di Amerika, Kanada, Taiwan, Hong Kong, Malaysia dan Australia. Ketiga, menerjemahkan Sutra Buddhis ke berbagai bahasa, antara lain Inggris, Spanyol, Perancis dan Vietnam. Pun penerbitan majalah bulanan Buddhis dwi bahasa Vajra Bodhi Sea. Dengan adanya terjemahan ini maka Buddha Dharma akan lebih mudah diterima dan dipahami oleh semua bangsa di dunia. Keempat, pendirian institusi pendidikan umum dan Sangha. Mendirikan Sekolah Dasar Instilling Goodness, Sekolah Menengah Developing Virtue dan Dharma Realm Buddhist University. Selain memakai kurikulum Amerika, para siswa juga diperkenalkan dengan pelajaran moralitas Tionghoa "Di Zi Gui" (Tata Susila Anak Didik), "San Zi Jing" (Kitab Tiga Kata) dan sebagainya. Pelajaran bakti yang berhasil memukau masyarakat Amerika. Satu perpaduan pendidikan Timur dan Barat yang indah. Selain itu, sejak 1982 telah diselenggarakan pelatihan Upasaka/Upasika dan Sangha. Pelatihan Upasaka menekankan pentingnya pemahaman Dharma dan penerapan Sila, sedang pelatihan Sangha menekankan pelatihan Dharma dan pengelolaan vihara. Kelima, Dharma adalah satu. Meski memanggul "gelar" Sesepuh Chan, namun Master Hsuan Hua membabarkan semua metode Dharma, baik Chan, Jingtu (Sukhavati), Lu (Vinaya), Tantrayana, Mahayana ataupun Theravada, bahkan sangat aktif dalam kegiatan kerukunan lintas agama. Keenam, perdamaian dunia. Master Hsuan Hua sering mengatakan bahwasanya selama Dharma yang lurus masih eksis maka dunia ini tidak akan pernah musnah. Semangat menciptakan kebahagiaan bagi semua makhluk ini terlihat jelas dalam: 1. 18 Ikrar Agung beliau. 2. Puasa 5 minggu demi perdamaian dunia selama terjadinya Krisis Kuba dan puasa 3 minggu pada tahun 1989 demi kebahagiaan masyarakat Taiwan. 3. Dua bhiksu Amerika siswa beliau, Heng Ju dan Heng Yo, tahun 1973 melakukan "*three steps one bow*"* *tiga langkah satu namaskara dari San Fransisco ke Seattle sejauh 1.000 mil (1.600 km) demi terciptanya perdamaian dunia. Ini adalah yang pertama kalinya dalam sejarah Buddhisme Amerika. Hal yang sama dilakukan pula oleh dua siswa lain, Heng Sure dan Heng Chau, dari Vihara Gold Wheel di Los Angeles menuju City of Ten Thousand Buddhas di Talmage selama Mei 1977 - Oktober 1979. 4. Sewaktu menetap di Hong Kong, Master Hsuan Hua mengatakan angin taifun tidak boleh menyerang pulau Mutiara Timur itu. Demikian pula ketika berdiam di San Fransisco. Semua ini karena kewelas-asihan beliau terhadap para siswa dan masyarakat di sekitar. 5. Master Hsuan Hua mengatakan, tak peduli yakin pada Buddha atau tidak, semua orang adalah umat Buddha, tidak akan menganggap mereka sebagai umat di luar Buddhis. Semua adalah satu keluarga, tidak ada perbedaan aku dan kamu. Betapa luhurnya agama Buddha! Tak heran bila mantan Presiden Amerika, George Bush, sangat menghargai beliau. Januari 1989, beliau adalah satu-satunya etnis Tionghoa yang diundang dalam upacara pelantikan Bush. Meski sangat terkenal akan kekuatan batinnya, Master Hsuan Hua mengajarkan untuk tidak mengejar kekuatan batin karena berkekuatan batin bukan berarti berbudi luhur. Beliau sangat melarang para siswa memamerkan kekuatan batin. 4 Desember 1994, berpesan agar para siswa mempersiapkan kepergian beliau: "Setelah saya pergi, kalian lafalkan Sutra Avatamsaka, Nian Fo selama 1 minggu atau 7 minggu. Terserah kalian ingin berapa hari. Setelah proses kremasi, sebarkan abu saya ke udara. Jangan mendirikan pagoda atau gedung peringatan. Waktu datang saya tidak memiliki apa-apa, pergi pun juga tidak ingin apa-apa. Di dunia ini saya tidak ingin meninggalkan jejak! Saya tidak mungkin selalu mengikuti kalian, siapa pun ada waktunya datang, juga ada saatnya pergi. Jangan bersedih, harus seperti biasanya, harus bertekad untuk tekun berlatih…" Los Angeles, 7 Juni 1995 pukul 15:15, Master Hsuan Hua, Guru Besar Hsuan Gong yang menyebut diri sebagai 'Orang Mati yang Hidup', 'Bhiksu dalam Makam', 'Semut Kecil' dan "Serangga Kecil' yang tak bernama, meninggalkan kita semua kembali ke ruang kosong yang tak berkondisi. Tetapi kepergian beliau bukan berarti sirnanya hal-hal mulia yang beliau tanamkan. 19 Juni 1995, sahabat baik beliau, Father John Rogers, Pastor Katholik dari Humboldt State University, mengadakan misa terakhir bagi Master Hsuan Hua di ruang utama City of Ten Thousand Buddhas. Perpaduan jubah suci yang putih dengan warna emas ruang puja bhakti terasa sangat indah, seindah ajakan Master Hsuan Hua agar semua umat beragama bahu membahu menciptakan keharmonisan. Bila kita mengenal Master Xu Yun sebagai awan kosong kedamaian yang tidak melekat pada "aku", pun Master Hongyi sebagai bulan purnama yang memberikan sinar kedamaian bagi semua makhluk, maka Master Hsuan Hua adalah "semut kecil" tak bernama yang menanggung penderitaan semua makhluk dengan tanpa meninggalkan seberkas jejakpun. "Saya adalah seekor semut kecil yang dengan senang hati berjalan di bawah telapak kaki semua umat Buddha; Saya adalah sebuah jalan, semoga semua makhluk menapak di atas tubuh saya, dari tingkat makhluk awam hingga mencapai keBuddhaan." Hsuan Hua Ini merupakan edisi panjang, sedang yang tampil di Sinar Dharma Des 06 adalah edisi ringkas. Jodoh dengan Master Hsuan Hua Penulis berkesempatan bertatap muka dengan Master Hsuan Hua sebanyak dua setengah kali. Dua kali sewaktu beliau mengadakan Dharma Tour di Taiwan tahun 1989. Waktu itu Master (Shang Ren) berpuasa 3 minggu dan terjadi gempa besar di San Fransisco karena beliau saat itu berkonsentrasi penuh bagi kebahagiaan masyarakat Taiwan sehingga San Fransisco "kecurian". Penulis tidak memiliki guru khusus dalam pemahaman Buddha Dharma, boleh dibilang 100% belajar dari buku-buku Dharma ulasan para Master. Landasan Dharma penulis banyak didapatkan dari buku-buku Shang Ren, selain Master Upasaka Li Ping Nan (kakek guru pembimbing) dan Master Chih Yu (guru Trisarana). Setiap kali bersiap menarikan jari di atas tuts komputer mempersembahkan Jejak Agung bagi saudara/i di tanah air, penulis selalu terlebih dahulu memohon bimbingan pada Buddha dan Bodhisattva. Sebelum ini penulis telah menulis Jejak Agung beberapa tokoh, tetapi kali ini terasa sedikit berbeda. Tepat malam sebelum penulisan profil Shang Ren, penulis bermimpi bertemu dengan beliau di sebuah pertemuan. Bahkan jelas masih teringat dua hal: 1, penulis berkata bahwa Shang Ren telah pergi tetapi kini kembali khusus menghadiri pertemuan itu; 2, sangat disayangkan penulis tidak bisa merealisasikan keinginan untuk berlatih di City of Ten Thousand Buddhas. Inilah pertemuan yang kedua setengah kalinya. Mungkin ini hanya bunga tidur, tetapi yang jelas mimpi ini telah memberi dorongan dan kebahagiaan tersendiri bagi penulis untuk mempersembahkan yang terbaik bagi rekan-rekan se-Dharma dan masyarakat di tanah air. Nantikan Jejak Agung Master Kuang Chin untuk edisi selanjutnya.
