Tentang ramalan Pada kesempatan kali ini, saya hendak mengajak rekan-rekan sekalian untuk membicarakan mengenai ramalan. Semoga obrolan ini dapat menjadi obrolan yang bersifat santai, riang, tidak membosankan, tidak serius, dan tidak menggurui. Semoga pula cocok apabila dijadikan teman minum kopi, teh, atau makan kue-kue. Apa yang saya ulas ini juga berdasarkan apa yang saya alami selama ini, yang mungkin saja dapat berbeda antar masing-masing individu. Jadi beda itu sesuatu yang wajar dan tak perlu dipermasalahkan. Sepanjang zaman, ramalan selalu menarik perhatian orang. Bahkan para raja dan kaum terkemuka menggunakan ramalan sebagai acuan untuk menentukan kebijaksanaan atau keputusan penting mereka. Johanes Kepler seorang astronom terkemuka sepanjang sejarah, yang terkenal dengan teori Keplernya, merupakan seorang yang ahli dalam membuat peta horoskop seseorang. Raja-raja Perancis pernah memanfaatkan jasa seorang astrolog terkemuka bernama Nostradamus, yang namanya juga tak asing lagi bagi kita. Sebenarnya ada banyak sekali metode meramal, seperti menggunakan bintang-bintang (astrologi), tarot, membaca perut binatang yang dibedah, dan lain sebagainya. Tetapi pada bahasan kali ini saya akan mengkhususkan diri pada astrologi saja, karena astrologi adalah ilmu yang dapat dipelajari dan didasari oleh sekelumit "perhitungan." Selain itu, astrologi adalah ilmu yang sedikit banyak saya pelajari sejarahnya; sedangkan yang lainnya saya belum menemukan literatur sejarah yang handal, sehingga tak akan saya ulas. Kendati banyak orang yang tergila-gila pada astrologi, namun tidak sedikit pula yang mencibirnya. Mereka mengatakan bahwa astrologi adalah ilmu primitif dan mengandung penipuan. Ada lagi yang bersifat masa bodoh serta mengharamkannya. Kita akan mendiskusikannya pada kesempatan kali ini. Secara umum, tiap bangsa mengenal apa yang disebut astrologi. Bangsa India mengenal apa yang disebut Jyotisha (harafiah: ilmu tentang cahaya), sedangkan bangsa Tiongkok mengenal apa yang disebut dengan Empat Pilar Nasib, Ziweidoushu, Shio, dan lain sebagainya. Semuanya itu merupakan ilmu astrologi yang mengandalkan perbintangan. Oleh karena saya sedang mempelajar Jyotisha, maka ulasan di sini sedikit banyak akan didasari oleh Jyotisha tersebut. Sebagai penjelasan, Jyotisha adalah ilmu yang didasari oleh 12 rasi bintang serta "planet-planet" yang dikenal saat itu (Matahari, Bulan, Bumi, Merkurius, Venus, Mars, Yupiter, dan satu planet lagi yang sebut saja "kembaran bumi"). Planet-planet itu menjadi nama hari dalam satu minggu. Selain masih ditambah lagi dengan 28 rasi bintang (nakshatra). Orang yang ingin mempelajari jyotisha harus memiliki almanak yang berisikan posisi planet2 tersebut agar dapat membuat peta kehidupan seseorang yang baik. Sementara itu, astrologi Empat Pilar Nasib dan Ziweidoushu didasari oleh pergerakan lima unsur (wuxing) yang selalu berada dalam siklus menghasilkan dan merusak. Demikianlah sekelumit tentang astrologi India dan Tiongkok. Kini para peramal yang menggunakan metode astrologi itu menjamur di mana-mana, serta meraup jutaan Dollar pertahunnya, baik melalui konsultasi pribadi maupun rubrik-rubrik di surat kabar. Oleh karenanya banyak orang lalu mencibir praktek semacam itu. Tetapi benarkah demikian? Ternyata para suciwan atau rshi di zaman dahulu menciptakan metode ramalan semacam itu sebagai alat bantu dalam mengenali kepribadian diri sendiri. Jadi metode ramalan itu seharusnya merupakan bagian dari alat latihan perkembangan spiritual. Ini merupakan bagian integral yang tak terpisahkan. Salah seorang guru yang saya temui mengatakan bahwa jika ingin mempelajari jyotisha dan filsafat Hindu, berbanding 1 : 8! Semuanya bila dijumlah menjadi 9, yang merupakan angka kesempurnaan/ tertinggi dalam sistim bilangan Hindu Arab. Sebelum belajar jyotisha orang hendaknya mempelajari yang 8 bagian tersebut terlebih dahulu. Jadi pada zaman dahulu, tidak ada orang yang menggunakannya untuk praktek meramal orang lain seperti sekarang ini. Kondisi ini mulai berubah sekitar abad ke-8 6 SM (zaman lahirnya Guru Buddha), dimana kelas Brahmana (Ksatriya) mulai berkembang sebagai suatu kelas kependetaan khusus. Banyak yang mulai menggunakan ilmu itu untuk meramalkan nasib negara, penguasa, dan lain sebagainya. Jadi dari tujuan kerohanian berubah menjadi tujuan sekular. Orang mulai menggunakan jyotisha untuk menentukan hari baik dan buruk bagi perkawinan dan perayaan-perayaan duniawi lainnya, dimana praktek ini nampaknya makin marak pada zaman Buddha, sehingga dalam Brahmajala Sutta, Buddha menyebutnya sebagai "seni-seni rendah." Banyak orang mengajarkan dan mempraktekkan jyotisha tanpa mengajarkan makna filosofis dibalik itu semua, serta ajaran bahwa orang perlu mengembangkan dirinya. Sampai di sini saya hanya hendak memberikan informasi saja, tanpa menyebutnya sebagai sesuatu yang "benar" atau "salah." Menurut pendapat saya, segala sesuatu terjadi karena ada kebutuhan (need) serta dorongan di tengah-tengah masyarakat. Ini suatu mekanisme yang terjadi tanpa dapat kita hindari. Yang tidak kalah menariknya adalah pergerakan kelima unsur dalam astrologi Tiongkok. Setelah mempelajarinya saya justru makin mengerti konsep patticcasamupadda, bahwa segala sesuatu saling berhubungan dan berinteraksi; dan begitu pula halnya dengan hukum karma. Jadi astrologi ini mengukuhkan adanya suatu "aspek" tertentu dari masa lampau yang hadir dalam diri seseorang saat ia dilahirkan. Bagaimana umat Buddha menyikapi astrologi? Menurut pandangan saya, semua ini sebaiknya diserahkan pada pribadi masing-masing, tanpa perlu saling mencela, mencaci, menggurui, atau menghakimi, karena kita semua adalah saudara seDharma - satu dalam Dharma. Hanya saja selama astrologi itu justru menimbulkan kondisi negatif dalam hidupnya (ketakutan, was-was, dan lain sebagainya); maka ia harus kembali merenungkan apa makna astrologi bagi hidupnya; karena Guru Buddha pernah berkata, "Apa yang bermanfaat bagimu terimalah. Apa yang tak bermanfaat tolaklah." Sebaliknya, kalau astrologi dapat membantu pemahaman akan Dharma (konsep keterkaitan satu sama lain serta karma) serta mengenali kepribadian, maka orang boleh terus saja menggali astrologi. Bagaimana dengan astrologi di koran atau surat kabar? Sepengetahuan membuat peta astrologi seseorang tidaklah mudah. Proses ini sangat rumit (untung sudah ada software); selain itu astrologi itu bersifat individual (tiap orang beda). Lalu bagaimana mungkin hanya dapat digeneralisasi menjadi 12 tanda bintang? Menurut pandangan saya ini terlalu menggeneralisasi. Mohon maaf kalau saya salah; karena yang saya ungkapkan ini berdasarkan apa yang saya pelajari. Selanjutnya, astrologi adalah suatu seni dan bukannya ilmu, sehingga tidak tepat kalau kita mengharapkan hasil yang 100% benar dalam astrologi (ilmu saja menoleransi adanya kesalahan). Oleh karena itu, janganlah hidup kita dikendalikan astrologi. Astrologi atau ramalan untuk umat manusia dan bukannya umat manusia untuk astrologi atau ramalan. Tetaplah berbuat kebajikan, karena hanya itu yang dapat membuat umat manusia menjadi lebih bahagia. Inilah intisari delapan bagian ajaran, sebagaimana yang diungkapkan oleh guru saya. Mohon maaf kalau ada kata yang salah.
Metta, Tan
