Pertanyaan ini sangat menghantui saya. Sehingga saya berusaha
mencari pemecahannya. Belakangan ini kita mendengar banyak sekali
terjadi bencana, mulai dari tsunami di Aceh, gempa di Yogya,
kecelakaan Adam Air, tenggelamnya kapal dan lain sebagainya. Saya
yakin bahwa sebagian besar korbannya bukanlah orang-orang yang dapat
disebut jahat. Lalu sekarang pertanyaannya, mengapakah orang-orang
baik masih dapat menderita? Mengapa mereka masih dapat mengalami
bencana? Ada beberapa teman yang menanyakan bahwa ia sudah sering
membaca paritta, mantra, sutra, serta melakukan kebajikan, tetapi
mengapakah dirinya masih dapat mengalami permasalahan seperti
dirampok, kecelakaan, dan lain sebagainya? Apakah itu semua tidak
bermanfaat?
Banyak agama berusaha memberikan jawaban atas pertanyaan klasik
ini: "Mengapa orang baik menderita?" Buddhisme juga memberikan
beberapa jawaban atas hal ini, seperti misalnya melihat hakekat
penderitaan itu sendiri. Buddhisme mengajarkan bahwa penderitaan
adalah respons yang didasari oleh sikap diskriminatif terhadap
berbagai fenomena yang terjadi di dunia ini. Ini adalah jawaban
mendasar Buddhisme yang ditinjau dari wawasan tertinggi. Meskipun
demikian, terkadang orang yang sedang mengalami penderitaan, seperti
salah seorang kenalan yang keluarganya ikut hilang dalam musibah
Adam Air. Jawaban seperti ini hanya dapat diterima oleh orang yang
sedang dalam batin tenang dan sadar. Jika demikian kita memerlukan
alternatif jawaban lain.
Buddhisme juga mengulas hal ini dari sisi karma, yakni mungkin saja
bahwa saat itu karmanya sedang berbuah. Mungkin memang benar saat
ini ia adalah orang yang baik (dalam artian tidak pernah merugikan
orang lain serta taat pada Pancasila Buddhis), tetapi dalam
kehidupan lalu siapa tahu? Jawaban ini juga masuk akal, tetapi bagi
orang kritis tidak akan dapat menerimanya. Ia memerlukan jawaban
yang lebih dari sekedar "kemungkinan" (jawaban definitif).
Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini, saya akan mencoba
mengulas hal ini dari perspektif yang lebih luas. Beberapa pemahaman
baru saya dapat dari buku Politic and Transcendend Wisdom karya
Charles D. Orzech. Buku ini merupakan ulasan dan studi bagi Sutra
Raja Bijaksana (Renwangjing, Taisho Tripitaka 245). Baiklah kita
akan mencoba mengulasnya satu persatu dari berbagai perspektif. Ada
orang bertanya, mengapa ia sudah membaca mantra atau dharani, tetapi
mengapa ia masih mengalami permasalahan hidup? Menjawab pertanyaan
ini memang tidak mudah, karena dalam beberapa sutra disebutkan bahwa
dharani atau mantra tersebut dapat melimpahkan perlindungan dalam
diri seseorang. Banyak orang mengartikan hal ini secara harafiah dan
menjadikan para Buddha atau Bodhisattva sebagai hansip atau Satpam
untuk mengawal hidup mereka. Padahal dalam sutra disebutkan bahwa
suatu dharani yang merupakan perwujudah Dharma perlu dipahami
maknanya. Jadi suatu sutra apalagi sutra Mahayana tidak dapat
dipahami secara harafiah, karena hanya akan menjadikan para Buddha
atau Bodhisattva sebagai pengawal atau bodyguard kita saja.
Memang benar bahwa semua dharani memiliki kekuatan, ini tidaklah
salah. Tetapi kita harus mengingat bahwa jagad raya ini merupakan
sesuatu yang kompleks (demikianlah yang diutarakan oleh Charles D.
Orzech dalam bukunya). Banyak faktor yang terlibat. Orang bisanya
lalu berusaha menciptakan model, yakni menciptakan suatu "tiruan"
berbagai mekanisme yang bekerja di jagad raya berdasarkan teori,
aksioma, dan data lain yang mereka kenal. Namun patut diakui model
itu memiliki keterbatasan, karena banyak hal yang belum dikenal oleh
manusia serta diperhitungkan dalam penyusunan model. Dengan
demikian, model tidak dapat benar-benar menyimulasikan seluruh
fenomena dengan tepat, sebagaimana halnya model cuaca yang
dipergunakan untuk memrediksi kondisi cuaca. Model itu biasanya
tepat untuk jangka pendek, tetapi tidak untuk jangka panjang. Ini
berlaku pula pada pola pandang kita terhadap dunia. Banyak orang
menerapkan model: "orang baik pasti akan mendapatkan sesuatu yang
baik; orang jahat pasti akan menuai kejahatan." Konsep ini tidaklah
salah dan juga diajarkan dalam semua agama. Tetapi itu hanyalah
salah satu saja di antara berbagai faktor yang berperanan di jagad
raya ini. Karma bukanlah satu-satunya penentu. Terkadang kita
mengabaikan apa yang dinamakan faktor sosial, politik, dan ekonomi,
serta berbagai faktor lainnya. Padahal faktor-faktor ini sangat
berperanan.
Sebagai contoh, meskipun seseorang banyak berdanaparamita, membaca
sutra, mantra, paritta, fangsheng, dan lain sebagainya, tetapi kalau
kondisi ekonomi secara global sedang lesu (resesi), maka tetap saja
sulit kalau ia mengharapkan tokonya ramai. Kalau kondisi keamanan
sedang rawan, maka sebaik apapun hidup seseorang, ia tetap punya
potensi untuk menjadi sasaran tindak kejahatan. Orang dengan karma
sebaik apapun, jika meloncat dari tingkat 100 juga tetap akan mati,
meskipun ia melafalkan nama Avalokitesvara sebagaimana yang
disarankan oleh Sutra Saddharmapundarika. Jadi tetap saja seseorang
adalah pelindung sejati bagi dirinya, yakni dengan menerapkan
kewaspadaan. Buddha dan Bodhisattva memang dapat melindungi kita,
tetapi mereka tidaklah maha kuasa. Kekuasaan Buddha dan Bodhisattva
juga dibatasi oleh faktor-faktor lain, seperti misalnya karma. Bila
karma sudah berbuah para Buddha dan Bodhisattva juga tidak dapat
mencegahnya. Bila Mereka mencegahnya maka itu kontradiksi dengan apa
yang diajarkan oleh Mereka. Buddha dan Bodhisattva mengajarkan
mengenai hukum karma, agar umat manusia senantiasa menimba
kebajikan, tetapi bila mereka menghapuskan begitu saja akibat karma,
bukankah hal itu kontradiktif dengan ajaran mereka? Tentu saja
Buddha dan Bodhisattva tetap melindungi, mungkin saja akibat karma
dapat diminimalisir. Orang yang dirampok mungkin hanya kehilangan
hartanya saja dan bukan nyawanya. Tetapi karma tidak dapat
dihapuskan. Ini adalah prinsip dasar Buddhisme, yang tidak mengenal
konsep pengampunan dosa.
Selanjutnya jika berbicara masalah kondisi sosial, politik, dan
ekonomi. Terkadang kita juga ikut melestarikan hal-hal yang buruk
dengan bersikap pasif. Mengapa di suatu negara banyak kejahatan?
Karena pemimpinnya juga "merampok" dari rakyat. Pemimpin menjadi
teladan rakyat, dan kita tahu bahwa pemimpin tidak baik, namun
sebagian besar dari kita bersikap diam. Ada peribahasa mengatakan
bahwa: "orang jahat berkuasa karena orang baik memilih untuk diam."
Ini ada benarnya jika kita menilik mengapa Nazi berkuasa. Banyak
dari kita memang takut mati jadi memilih diam saja, atau sebagian
juga ada yang malah mendukung pemimpin yang tidak benar, agar ikut
mendapatkan keuntungan. Mengapa Adam Air jatuh, karena pemerintah
tidak tegas masalah regulasi keamanan penerbangan. Jadi masalah ini
tidak dapat diselesaikan hanya dengan semata-mata berbuat kebajikan
atau membaca paritta, sutra, mantra, serta dharani semata. Kita
boleh saja membacakan paritta, sutra, atau mantra sebagai rasa
kepedulian kita, tetapi masalahnya tidak akan selesai. Masalah
multidimensional yang memerlukan pemecahan multidimensional juga.
Jadi jika demikian dapatkah orang baik menderita? Jawabannya dapat
saja. Karena bencana atau permasalahan hidup tidaklah semata-mata
berhubungan dengan baik atau buruknya hidup seseorang. Orang yang
banyak membunuh jika menjaga kesehatan tubuhnya dapat saja berumur
panjang. Orang yang tidak pernah membunuh jika meminum racun juga
akan berumur pendek.
Orang sering kecewa karena "model" kehidupan mereka tidak
mempertimbangkan faktor-faktor lain. Adalah salah kalau menganggap
bahwa berbuat kebajikan, menjalankan kemoralan, membaca paritta,
sutra, dan dharani, fangsheng, serta dana paramita dapat
menyingkirkan seseorang dari pemasalahan sama sekali. Meskipun
demikian, tidak berarti bahwa berbuat baik tidak dianjurkan. Kalau
setiap orang berbuat baik, maka masyarakat akan menjadi baik,
sehingga pada akhirnya juga meminimalisasi potensi orang lain
mengalami tindak kejahatan dari orang lain. Dengan banyak orang
mengasihi sesamanya, musibah Adam Air tidak akan terjadi. Orang akan
berpikir, "Para penumpang ini adalah bagaikan putera-puteraku, mana
mungkin demi kepentinganku sendiri kukorbankan mereka?" Jadi masalah
ini sangatlah kompleks dan saling terkait, sehingga tidak dapat
dikaji salah satu aspek saja. Semoga Dharma dapat tersebar luas di
bumi persada nusantara.
Demikianlah sedikit bahan diskusi dari saya. Semoga dapat menjadi
bahan kajian yang menarik.

Metta,

Tan


Kirim email ke