Kompas, Kamis, 18 Januari 2007                                                  
                                                                                
                                                                                
                                                                                
                                                                                
                         
 Hidup di Bantaran sungai (3-Habis)
 Jakarta Tak Lagi Pedulikan Ekosistem 
 
  
Nawa Tunggal
  Ketika langit sore berselaput awan tipis, Arif (22) tergugah ingin kembali 
pada hobi lamanya yang sempat tertahan beberapa bulan, yakni memancing ikan. 
Tetapi, alangkah terkejut dia saat berada di lokasi kesukaannya yang baru saja 
selesai terkena proyek banjir kanal barat Ciliwung. Ikan-ikan di sana 
menghilang. 
Di sini ada saluran air dari permukiman yang masuk ke sungai. Biasanya banyak 
ikan, tetapi kok sekarang tak ada sama sekali," kata Arif pada satu senja di 
pengujung 2006. 
Lokasi yang dipilih Arif adalah kolong jembatan Menteng Tenggulun, tak jauh 
dari Pasar Rumput, Manggarai, Jakarta Selatan. Di bawah jembatan itu tampak air 
mengalir dari sebuah saluran menuju permukaan air banjir kanal. Tidak hanya 
dia, beberapa warga lainnya ternyata juga menyukai tempat itu untuk memancing 
di sore hari. Menurut Arif, biasanya gemercik air disukai ikan-ikan. Tanpa 
disadarinya, pembetonan pinggir banjir kanal mengubah keadaan. Ikan tak lagi 
ada. 
Arif boleh sempat tertegun. Akan tetapi, bagi Muhammad Fakhrudin—ahli 
ekohidrologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)—kenyataan yang ditemukan 
Arif adalah sebuah keniscayaan. Pembetonan pinggir banjir kanal barat Ciliwung 
dengan semen memang akan mengubah sebuah habitat alami. Ikan-ikan membutuhkan 
waktu untuk menyesuaikan diri, atau sama sekali tidak bisa bertahan di situ 
lagi. "Pembetonan pinggir banjir kanal juga membuat berjuta-juta mikroorganisme 
pinggir sungai mati," kata Fakhrudin. 
Hilangnya ikan-ikan yang biasa "berkeliaran" di sana merupakan dampak langsung 
dari pembetonan pinggir banjir kanal barat Ciliwung di antara Karet-Manggarai, 
yang selesai sebagian pada akhir 2006. "Pembetonan seperti itu memang tidak 
ramah lingkungan," ujar Fakhrudin. 
Seandainya bertujuan mengurangi pengikisan, akan lebih baik jika digunakan 
batu-batu alam yang disusun tanpa semen dan mengikuti alur pinggir kali. 
Tetapi, masalahnya, justru itu jarang dilakukan. 
Keberadaan banjir kanal di Jakarta kini tengah diupayakan penambahannya ke arah 
timur, yang disebut sebagai banjir kanal timur. Jalurnya bermula dari Manggarai 
menuju Jatinegara dan akan bermuara di Marunda, Jakarta Utara. Keberadaannya 
untuk mengendalikan banjir di Jakarta. Ketika musim hujan dengan curah hujan 
dan intensitas tinggi, debit air yang melimpah dari 13 sungai yang ada di 
Jakarta dapat dialirkan ke banjir kanal. Limpasan air kemudian dapat dibuang 
langsung ke laut. 
Selagi proyek banjir kanal belum tuntas, Jakarta pun terus terteror banjir 
setiap menjelang musim hujan setiap tahun. Boleh jadi, akibat teror yang terus 
menghantui itulah membuat pemerintah tak lagi memedulikan kelangsungan sebuah 
ekosistem. 
The Houw Liong, dosen geofisika dan meteorologi pada Departemen Fisika, 
Institut Teknologi Bandung (ITB), menyebutkan bahwa banjir kanal di Jakarta 
hanya bertujuan jangka pendek, bukan secara jangka panjang menjamin 
kelangsungan hidup di Jakarta. Hal itu dikatakannya dalam sebuah diskusi 
mengenai prediksi banjir di daerah aliran Sungai Ciliwung dan sekitarnya, Rabu 
(17/1), di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). 
"Dengan adanya banjir kanal, permukaan tanah Jakarta makin turun. Ketersediaan 
air tawar di musim kemarau juga akan kian menyusut," kata Houw Liong. 
Permukaan tanah Jakarta makin turun dipengaruhi eksploitasi massa air tanah ke 
permukaan, sedangkan ketersediaan air tawar berkurang karena pada saat turun 
hujan, air yang tawar itu tidak bisa tertahan selama mungkin di daratan. Teror 
banjir air sungai mungkin tidak lagi. Akan tetapi, tambah The Houw Liong, rob 
atau genangan laut pasang dan krisis air tawar akan menjadi teror baru di 
Jakarta kemudian hari. 
Tidak peduli  
Pemerintah kini tidak lagi peduli terhadap kelangsungan sebuah ekosistem 
sungai. Bagaimana pula dengan warganya? Pengalaman mengamati perilaku warga di 
sekitar kolong jembatan Tanjung Barat, Jakarta Selatan, justru menambah 
keprihatinan. Sungguh! 
Hampir tiap lima menit, meluncur "bom" plastik berisi sampah dari atas jembatan 
Sungai Ciliwung itu. Entah oleh pejalan kaki, pengendara mobil atau sepeda 
motor, sampah itu dilemparkan dan menghujam ke permukaan Sungai Ciliwung. 
Ketika terbentur dengan permukaan air, suaranya cukup mengejutkan. Kemudian 
sampah itu hanyut mengikuti arus sungai. 
Kenyataan itu menunjukkan perlakuan terhadap Ciliwung tidak lagi ramah. 
Ciliwung dijadikan tempat sampah. Seolah Ciliwung mampu menelan dan melenyapkan 
sampah. 
Tak cuma di situ. Ketika Kompas menyusuri Ciliwung dengan perahu karet bermesin 
hingga ke pintu air Manggarai, lagi-lagi sampah yang menjadi perkara. Terhitung 
rata-rata lima menit sekali, baling-baling mesin harus dihentikan dan diangkat 
dari kedalaman air. Baling-baling itu tak bisa bergerak karena terlilit sampah 
plastik. Dan itu berulang di sepanjang perjalanan. 
Tidak cuma di air, di bantaran Ciliwung pun "gunung-gunung" sampah menumpuk. 
Setiap waktu lereng-lereng sampah itu mudah longsor dan sampah masuk sungai, 
kemudian terseret arus. 
Di Ciliwung, kelestarian ikan juga terancam. Penangkapan ikan berjalan masif, 
tetapi jarang diiringi penebaran benih. Kini, kawasan sungai penuh sampah itu 
kebanyakan hanya terdapat ikan sapu-sapu. Boleh jadi karena ikan sapu-sapulah 
yang dikenal sebagai ikan paling adaptif dengan kondisi polutan tinggi, dan 
menjadi ikan tangkapan paling dominan saat ini. Padahal, di tempat lain, ikan 
sapu-sapu yang tertangkap justru kerap dibuang kembali ke sungai lantaran 
bernilai ekonomi rendah. 
Pemanfaatan sempadan sungai untuk permukiman, hingga setengah perjalanan dari 
Tanjung Barat ke Manggarai memang masih tergolong jarang. Vegetasi tanaman pun 
tergolong banyak. Bahkan, satwa seperti biawak masih dapat dijumpai di pinggir 
sungai. 
Permukiman ilegal dengan memanfaatkan sempadan Ciliwung makin kentara ketika 
meninggalkan kawasan Condet. Permukiman di pinggir Ciliwung kian bermunculan 
terutama mulai di wilayah Bale Kambang, Kalibata, Cawang, Kampung Melayu, dan 
Manggarai. 
Peruntukan rumah itu sebagian besar untuk hunian. Akan tetapi, ada pula yang 
digunakan untuk kegiatan industri skala rumah tangga, seperti pabrik tahu atau 
furnitur, dan bengkel. Namun, tetap saja, sebagian besar adalah untuk rumah 
tinggal, meski kebanyakan dalam kondisi sangat tidak layak huni. 
Di sempadan Sungai Ciliwung banyak pula ditemukan bangunan-bangunan ala 
kadarnya yang digunakan untuk kandang unggas, seperti ayam dan merpati. Dengan 
adanya fenomena flu burung sekarang, keberadaan unggas yang dipelihara di 
pinggir Ciliwung tentu saja sangat mengkhawatirkan. 
Keteraturan diabaikan  
Ciliwung menjadi urat nadi kehidupan di Jakarta. Sebelum tahun 1985, sumber 
airnya pernah dijadikan bahan baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jakarta. 
Tetapi, kian hari keteraturan kian diabaikan. 
Pembuangan limbah serta sampah yang menimbulkan pencemaran sungai tak mudah 
lagi dibendung. Setiap aparat pemerintah, baik pusat maupun di tingkat DKI 
Jakarta, tidak mampu secara tegas menegakkan peraturan yang ada. 
Seperti ketika menyusuri Jalan Inspeksi Banjir Kanal Barat Ciliwung dari 
Pejompongan menuju Pluit, banyak ditemui warga dengan seenaknya membuang sampah 
ke sungai. Di pinggir banjir kanal barat yang sudah dibeton pun tak jarang 
menampakkan tumpukan sampah. Bahkan, setiap hari ada pemulung yang memungut 
sampah-sampah terbuang yang dianggap masih bernilai ekonomis, taruhlah seperti 
kaleng, kertas, maupun botol-botol plastik. 
Jalan "inspeksi" tentu saja diperuntukan sebagai jalur untuk menginspeksi 
kondisi banjir kanal. Akan tetapi, ketika badan jalan dipenuhi tumpukan sampah, 
fungsinya tentu tidak berjalan sebagaimana mestinya. Andaikan jalan "inspeksi" 
itu benar-benar difungsikan untuk menginspeksi keadaan yang ada di sekitarnya, 
seharusnya tumpukan sampah itu tidak akan pernah ada di badan sungai atau di 
banjir kanal tersebut. 
Petaka akibat sampah dibuang di sungai terjadi di muara, yaitu di Teluk 
Jakarta. Sampah pun akhirnya tersebar ke laut, meski gelombang laut pun 
mengembalikan sebagian sampah ke pantai. 
"Seperti Pantai Ancol, setiap memasuki musim hujan selalu penuh dengan sampah," 
kata Dirut PT Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya Sumadi. 
Budi memiliki pengalaman menarik ketika suatu saat menerima tamu, seorang 
gubernur dari Tokyo, Jepang. Ia sempat bertanya kepada sang tamu, bagaimana 
cara membersihkan sungai dan pantai di Jakarta dari sampah-sampah. Jawaban yang 
ia peroleh dari sang gubernur, "Kalian harus kaya terlebih dahulu, baru sungai 
dan pantai bisa terbebas dari sampah." 
Sepertinya tidak ada hubungannya, tetapi boleh jadi justru jawaban itu ada 
benarnya. Bahwa, kesejahteraan akan meningkatkan kesadaran warga terhadap 
kelestarian lingkungan.... 

 
---------------------------------
Sucker-punch spam with award-winning protection.
 Try the free Yahoo! Mail Beta.

Kirim email ke