Resto Kolong Layang
Oleh : Irwan Sutjipto
19-Jan-2007, 19:58:37 WIB - [www.kabarindonesia.com]
Di jaman yang serba sulit mencari pekerjaan dan booming PHK di banyak
perusahaan seperti sekarang ini, berdagang terutama berdagang makanan merupakan
salah satu pilihan yang menarik, selain semua orang pasti butuh makan, termasuk
yang berdagang, juga ketrampilan dan pendidikan yang dibutuhkan untuk bisa
berdagang relatif lebih mudah dan sederhana untuk bisa diperoleh. Entah itu
dengan magang dulu ke saudara, orang tua - mungkin, atau langsung saja menggaji
juru masak kaliber internasional dari Hong Kong atau daratan Cina sana, seperti
yang banyak di promosikan oleh beberapa restoran (resto) chinese food di
seputar Jabotabek.
Kita tidak ingin melihat resto-resto mewah itu dan membuat liputan tentang
mereka, toh banyak di antara anda yang bisa dengan mudah mengunjunginya, tapi
mari kita lihat di salah satu sudut jakarta, di bawah kolong jembatan layang
yang sebetulnya diperuntukkan untuk menjadi fondasi dari jalan layangnya agar
bisa menampung beban dari kendaraan diatasnya.
Ternyata di bawah kolong jembatan ini pun ada resto - resto kecil yang biasa
anda kenal sebagai abang-abang tukang bakso, tukang sate, tukang soto dan
tukang lainnya, padahal mereka itu terhitung pedagang bukan tukang dan tepatnya
pengusaha restoran kecil alias warung kecil, kelas gerobak dorong dan sering
juga disebut pedagang kaki lima.
Kita semua tahu bahwa akhir-akhir ini penertiban dan pembersihan pedagang kaki
lima dan sering kali penertiban ini diwarnai dengan bentrokan fisik yang
menimbulkan korban yang sungguh menyedihkan bagi kita yang menyaksikannya. Dari
sisi kita sebagai manusia cara-cara penertiban yang dilakukan oleh aparat
penertiban, kadang sungguh menggenaskan, namun tidak juga bisa dipungkiri bahwa
kadang para pedagang kaki lima yang ditertibkan oleh petugas dari pemerintah
daerah (pemda) juga tidak kalah ganas dan brutalnya dalam menghadapi para
petugas yang sebetulnya hanya menjalankan tugas dari atasannya.
Jadi, seringkali kita kasihan kepada para pedagang kaki lima, namun satu sisi
dan di waktu yang lain kita juga kasihan pada aparat penertiban dari pemda,
sampai kita sendiri lupa untuk mengkasihani diri kita yang sering kali juga
terganggu dengan ulah para pedagang kaki lima yang memenuhi badan jalan di
berbagai sudut Jakarta, dan lalu kenyamanan kita berkendara atau sekedar
berjalan-jalan boleh tinggal impian semata dan hanya mungkin di lakukan di
dalam Mall atau pusat perbelanjaan atau di luar negeri sekalian.
Beberapa waktu yang lalu, penulis sempat menemukan salah satu sudut kolong
jembatan layang yang asri, bersih dan tertata cukup rapi di salah satu kolong
jalan layang di Jakarta dan bahkan sempat mencoba sate madura dan soto babad
para pedagang di kolong itu. Rasa serta kebersihannya tidak kalah dengan
restoran kecil di mall-mall/pusat perbelanjaan di Jakarta dan tentu harganya
lumayan murah jika dibandingkan dengan yang terakhir tadi.
Dalam diskusi dengan abang penjual sate madura, penulis memperoleh cerita bahwa
kolong itu dikelola oleh salah satu ormas yang cukup terkenal di kawasan itu
dan setiap pedagang mesti memberikan setoran sekian belas ribu rupiah dan juga
mesti menjaga kebersihan dengan menggaji tukang sapu yang akan menyapu kolong
itu setiap pagi, membersihkan sisa-sisa sampah yang masih tersisa dari
aktivitas berdagang para pedagang itu pada malam sebelumnya.
Jumlah pedagang di kolong itu dibatasi cuma sampai sepuluh gerobak, tentu ini
untuk menjaga persaingan yang sehat di antara mereka, selain itu mereka juga
wajib menjaga keasrian lingkungan terutama pagar hidup yang mengelilingi tempat
mereka berdagang di kolong itu. Pengaturan seperti itu terlihat menjadikan
kolong tempat mereka berdagang itu bersih, tertib, sehat dan hijau , nyaman
untuk dijadikan tempat bersantap di temani bunga dan tanaman serta suara-suara
lalu lintas di sekitarnya dan di atas jembatan layang itu. Mungkin kalau di
tambah dengan cat warna warni dan lukisan di dinding dan langit-langit kolong
jembatan itu, tentu akan lebih semarak lagi.
Penulis jadi berpikir, bagaimana kalau pemerintah daerah mau melihat para
pedagang kaki lima ini sebagai mitra binaan untuk menjadikan Jakarta itu
tertib, hijau dan semarak, dengan meniru pendekatan ormas yang dilakukan pada
kolong jembatan layang yang saya kunjungi itu mungkin akan jadi lain
kisah-kisah penertiban pedagang kaki lima di Jakarta ini.
Masih dengan cerita si abang tukang sate, ditambah cerita dari Pak Olin (begitu
penjual soto babad yang penulis coba menamakan dirinya), mereka, pedagang
makanan di kolong jembatan itu masih tetap was-was akan penggusuran yang bisa
saja terjadi setiap saat tanpa mereka duga, dan tentu ini akan menjadikan
mereka kehilangan bukan saja harta, modal untuk mencari nafkah, tapi juga
mengarahkan mereka dan anggota keluarganya untuk secara tidak langsung
kehilangan akal sehat dan jalan untuk memperoleh penghidupan yang layak dan
halal secara agama mereka masing-masing.
Secara langsung atau tidak langsung namun perlahan tapi pasti, jika kondisi ini
dibiarkan tentu sektor ini tentu saja akan memberikan kontribusi atas potensi
meningkatnya tingkat kejahatan ibu kota negara ini, di satu sisi sulit untuk
melakukan perdagangan atau kegiatan ekonomi informal semacam pedagang k5 ini,
di sisi lain lowongan pekerjaan sulit untuk didapat sementara perut minta di
isi dan tagihan minta di bayar, sungguh dilematis. Lanjutan atau akhir dari
kisah itu tentu bisa anda baca di banyak media cetak di Ibu kota ini.
Jika kita mau melihat atau menaruh kepercayaan bahwa banyak di antara para
pedagang k5 itu yang memiliki kesadaran akan perlunya ketertiban dan kebersihan
lingkungan serta persaingan yang sehat, seperti yang ditunjukkan oleh pedagang
di kolong yang penulis kunjungi, yang walaupun mereka di bawah pengaturan ormas
yang belum tentu memiliki landasan hukum yang kuat, namun toh mereka mau
menerima pengaturan semacam itu, maka semestinya pemerintah daerah yang tentu
saja punya wewenang yang lebih kuat untuk ini akan lebih bisa membangun suatu
kondisi yang senada namun lebih pasti bagi para pedagang k5 ini.
Dan kalau hal tersebut dilakukan, hal pertama yang terwujud tentulah suatu
ketertiban yang terarah, lalu ada potensi ekonomi yang tergarap dengan baik
yang memberikan kontribusi bukan saja kepada para pedagang dan pemerintah,
namun juga kepada seluruh rantai ekonomi yang terikut dalam lingkaran pendukung
para pedangang k5 itu. Anda boleh sebut saja pedagang daging di pasar, pedagang
beras, tukang ojek, penjual sayur, pedagang rempah dll, semuanya akan
memperoleh berkah dari kondisi tertib dan jelasnya roda ekonomi informal ini.
Selain itu anda juga bisa membayangkan berapa besar BBM yang bisa dihemat
dengan tertibnya pedagang K5 yang tidak lagi memenuhi badan jalan dan lalu
tidak menjadikan lalulintas macet. Lebih lanjut lagi berapa banyak anak
pedagang K5 yang bisa bersekolah, berapa banyak manusia Jakarta yang berkurang
tingkat stressnya dengan terbib dan lancarnya roda ekonomi K5 ini? Dan jangan
lupa, berapa besar biaya kesehatan yang bisa dihemat oleh penduduk Jakarta
plus meningkatnya efisiensi kerja dengan menurunya tingkat stress dan jumlah
orang yang mangkir kerja karena sakit, yang tentu akan memberikan kontribusi
yang signifikan bagi kondisi ekonomi dan kesejahteraan hidup banyak orang.
Kalau anda ahli ekonomi, silahkan dihitung!
Kalau anda ahli psikologi massa, mohon di analisa efek massa nya!
Kalau anda ahli tata kota, tentu anda bisa memberikan penjabaran yang lebih
baik dari saya akan efeknya pada tata kota!
Kalau anda pakar lalu lintas, tentu anda perlu ikut memberikan kontribusi nya.
Lalu berapa banyak yang bisa kita hemat dari tidak perlunya para petugas
trantib atau pedagang K5 yang terluka dari bentrokan waktu penertiban K5, atau
kerugian dari rusaknya asset pedagang K5 itu sewaktu penertiban?
Mungkin sebagai landasan/modal berpikir, kita semua mesti bisa berpikir dan
merasakan bahwa kerugian para pedagang K5 itu juga adalah kerugian kita semua
sebagai sesama anak bangsa, dan lalu para pedagang K5 juga mesti bisa merasakan
sakit dan pegal serta kerugian yang dialami oleh orang-orang yang terganggu
dengan kemacetan yang timbul karena ketidaktertiban mereka, atau mungkin dengan
rendahnya kualitas higienis makanan yang mereka jual.
Nah, tentu mesti ada yang memulai untuk meletakkan landasan berpikir ini entah
itu pemerintah, entah itu anda dan saya, tapi yang pasti kita bersama mesti
memulainya, karena kalau tidak seluruh dunia akan mentertawakan kita karena
dari hari-ke hari, dari tahun ke tahun kita masih mencoba merangkak dari
lumpur/kubangan yang sama lalu tanpa menemukan suatu solusi yang pasti dan
terarah, solusi yang bisa dengan dinamis menjawab perubahan yang muncul, solusi
yang tidak memerlukan kekerasan dari waktu ke waktu, solusi yang sistematis.
Penegakan hukum tentu saja perlu untuk menjadikan solusi itu bisa diterapkan,
namun tentu saja tidaklah harus dalam bentuk kekerasan, apalagi sampai menjadi
berita publik secara berkala.
Lepas dari semua itu, penulis ingin mengajak kita semua melihat kembali dengan
jernih dan mencoba mencari jawaban akan ketertiban seperti apa yang ingin
dibangun di Ibu Kota dan bentuknya seperti apa pula, apakah yang berdarah-darah
dan penuh dengan kekerasan dari waktu-ke waktu secara berkala atau sporadis,
atau penertiban yang persuasif, dengan perencanaan dan arah yang jelas akan
penataan Jakarta yang aman, bersih, tertib dan nyaman, sebuah Ibu Kota yang
indah dan pantas di banggakan...
semoga berguna, selamat berakhir pekan.
foto-foto lainnya silahkan di simak di berita foto
http://kabarindonesia.com/foto.php?pil=20070119170324
Diskusi dan pertanyaan mohon di kirim ke japri;[EMAIL PROTECTED]
---------------------------------
Don't pick lemons.
See all the new 2007 cars at Yahoo! Autos.