Waspadailah Sepuluh Gejala Alzheimer WASPADA Online
Penyakit Alzheimer merupakan urutan keempat penyebab kematian
pada kelompok lanjut usia (lansia) di negara maju. Wanita lebih banyak
menderita penyakit ini dibandingkan dengan pria, yang kemungkinan disebabkan
usia rata-rata wanita lebih panjang daripada pria. Kejadian penyakit ini juga
berbeda dari satu negara ke negara lain. Secara umum dapat dikatakan bahwa
kejadian penyakit ini sekitar 3-10 % pada orang yang berusia 65 tahun dan
sekitar 25-50 % pada usia 85 tahun ke atas. Di Amerika Serikat, ditemukan
sekitar 4 juta penderita penyakit Alzheimer yang menghabiskan biaya perawatan
sekitar 100 juta dolar Amerika per tahun. Diperkirakan pada tahun 2050 jumlah
ini akan meningkat menjadi 7,5 sampai 14 juta dengan membutuhkan biaya
perawatan sekitar 300-350 juta dolar Amerika. Di Indonesia, angka rata-rata
umur harapan hidup semakin lama semakin meningkat yang akan menyebabkan jumlah
penderita penyakit Alzheimer pada masa mendatang akan meningkat pula.
Oleh karena penyakit ini mengakibatkan beban materi dan psikososial yang berat
bagi keluarga, masyarakat dan negara maka perlu diwaspadai gejala-gejala
penyakit Alzheimer agar dapat dilakukan penatalaksanaan yang sedini mungkin
bagi penderita.
Sepuluh gejala
Ada sepuluh gejala yang sering didapati dari penyakit Alzheimer, yaitu
:
1. Gangguan daya ingat.
Lupa janji, lupa nama orang, teman dan anggota keluarga, tidak dapat mengingat
kejadian-kejadian atau pembicaraan. Mudah lupa : mungkin merupakan gejala awal
Alzheimer. Sekitar 40-50 % pasien dengan gangguan mudah lupa menjadi penyandang
Alzheimer dalam waktu 3 tahun.
2. Kesulitan dalam melakukan aktivitas sederhana/pekerjaan sehari-hari.
Misalnya mengendarai mobil, berbelanja, mandi, berpakaian dan lain-lain.
Selain daripada itu, kemampuan untuk melaksanakan fungsi-fungsi eksekutif
terganggu, seperti membuat perencanaan, mengorganisir, melakukan urutan
pekerjaan, membuat kesimpulan, melakukan koordinasi dan pengawasan, mengarahkan
bawahan , sehingga penderita menjadi berhenti dari pekerjaannya.
3. Problema berbicara/berbahasa.
Gangguan keterlibatan dalam pembicaraan, pengertian, kemampuan mencari dan
menemukan kata yang tepat serta kurangnya kemampuan untuk berbicara secara
lancar.
4. Disorientasi.
Gangguan mengenal waktu (tanggal, tahun, hari-hari penting), gangguan mengenal
tempat, gangguan kemampuan mengenali lingkungannya. Penderita menjadi tidak
tahu dimana ia sedang berada, tidak tahu pulang ke rumahnya sendiri.
5. Penampilan memburuk.
Tidak memperhatikan kebersihan diri dan salah berpakaian.
6. Kesulitan dalam melakukan penghitungan sederhana.
7. Salah/lupa meletakkan benda/barang, curiga seseorang telah mencurinya.
8. Perubahan perasaan atau perilaku.
Gejala perilaku yang paling mengganggu adalah suka pergi kemana-mana, dan
berulangkali mencari pengasuhnya atau orang lain, selalu mengikuti pengasuhnya
atau orang lain kemana-mana, berkeliling rumah atau halaman tanpa tujuan,
keluar rumah atau kabur malam hari, menjadi agresif.
9. Perubahan
Perubahan emosi secara drastis, tidak sabar, mudah putus asa dan
menyalahkan orang lain, cemas.
10.Hilangnya minat dan inisiatif.
Berkurangnya aktivitas kesenangan pribadi/hobi yang biasa dinikmatinya.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat menghadapi penderita
Alzheimer dan keluarganya, antara lain :
Menentukan kondisi subjektif dari perjalanan penyakit penderita.
Pengelolaan yang efektif dari penderita Alzheimer tergantung pada pemahaman
akan gangguan-gangguan yang didapati, kebutuhan obat-obatan dan
ketidakmampuan/disabilitas yang didapati. Oleh karena itu, tujuan menentukan
kondisi subjektif dari penderita adalah untuk mengenali kemampuan penderita
yang masih ada, mengatasi kekurangannya dan mencoba mengurangi
ketergantungannya pada orang lain yang semakin bertambah.
Penderita Alzheimer secara bertahap akan kehilangan fungsi intelektualnya
tetapi tidak semua kemampuan dan ketrampilanya akan menurun secara serentak.
Dalam hal ini, penderita sedapat mungkin harus diikutsertakan di dalam
pengelolaan penyakitnya. Juga, hubungan yang baik antara penderita dengan yang
merawat dan tersedianya pelayanan kesehatan yang memadai, akan memperlambat
perjalanan penyakit serta meningkatkan kesehatan penderita.
Pendekatan pada keluarga/yang merawat.
Beberapa hambatan yang sering dihadapi keluarga di dalam perawatan penderita
Alzheimer adalah : kurang memahami penyakit yang dialami penderita, konflik di
dalam keluarga yang dapat mengganggu kerjasama dalam merawat penderita, adanya
beban lain yang membutuhkan perhatian seperti ada anggota keluarga lain yang
sakit, masalah keuangan dan lain-lain.
Dalam hal ini maka dokter yang merawat dapat meringankan beban keluarga dengan
cara memberikan informasi yang jelas mengenai penyakit penderita, mengusahakan
kemandirian fisik, psikis dari penderita dan yang merawat, melakukan pengawasan
terhadap penderita dan obat-obat yang digunakannya, kunjungan rumah, konsultasi
lanjutan dan merujuk ke ahli-ahli lain yang diperlukan dan lain-lain.
Dalam hal kemandirian penderita ini, peran serta keluarga atau yang merawat
adalah melatih mengingatkan kembali terhadap peristiwa-peristiwa yang lalu,
ingatlah bahwa L U P A, adalah jembatan keledai yang digunakan untuk mengingat,
yang merupakan singkatan dari latihan, ulangan, perhatian dan asosiasi..
Keadaan gizi.
Keadaan gizi yang kurang atau jelek akan memberi pengaruh yang buruk terhadap
kesehatan penderita. Dalam hal ini, keluarga dan mereka yang merawat mempunyai
peranan penting dalam pemberian makanan yang bergizi serta cairan yang cukup.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian makanan ini adalah :
perlu pemberian makanan dalam porsi sedikit-sedikit yang sering serta pemberian
makanan selingan diantara makanan pokok. Jika penderita gelisah dan sering
berjalan-jalan yang membutuhkan kalori yang lebih banyak maka diperlukan
makanan ekstra, kurangi hal-hal yang dapat mengalihkan perhatian penderita saat
makan seperti mematikan televisi, sedapat mungkin mencegah masalah-masalah yang
berkaitan dengan perilaku sewaktu makan seperti meludah, menyemburkan makanan,
hendaknya makan atau minum jangan dilakukan dalam posisi berbaring karena dapat
menyebabkan makanan atau minuman masuk kesaluran nafas dan menyebabkan infeksi
paru (pneumonia), dan kekurangan makan atau minum hari ini hendaknya dapat
dicukupkan pada hari berikutnya. Kadang-kadang penderita sama sekali menolak
untuk makan dan minum, sehingga diperlukan pemasangan pipa lambung melalui
hidung (nasogastric tube) atau pemasangan infus untuk
mencukupi kebutuhan gizinya, yang tentunya membutuhkan tenaga yang terlatih.
Di negara maju yang telah melaksanakan pelayanan lansia yang maju telah
menyediakan beberapa bentuk pelayanan lansia khususnya pada penderita demensia
sebagai berikut, yaitu panti wredha bagi lansia dengan keterbatasan
sosio-ekonomi, sheltered accomodation / akomodasi terlindung (rumah dengan
berbagai fasilitas khusus untuk lansia yang hanya mandiri sebahagian), day
hospital (klinik siang terpadu) yang hanya beroperasi pada jam-jam kerja yang
dapat melakukan antar jemput penderita untuk perawatan setengah hari, night
attendants (penjagaan penderita lansia di malam hari), unit psikogeriatri
(perawatan kesehatan jiwa lansia), respite care (palayanan sementara penderita
lansia yang selama ini dirawat di rumah dengan maksud untuk memberikan
istirahat/ liburan selama kurang lebih 2 minggu, bagi orang yang merawat agar
jangan bosan ), Meals on wheels (bantuan penyediaan makanan hangat dan sehat
bagi penderita), kunjungan fsioterapi, terapi okupasi (melatih kemandirian
penderita), terapi bicara, home help services (pemeliharaan rumah untuk
merapikan dan merawat rumah yang mungkin sudah terlalu berat untuk dikerjakan
sendiri), pelayanan transportasi dan sukarelawan yang dapat menghantar
bepergian, pelayanan hospice care (pelayanan penderita lansia yang sedang
menghadapi kematian) (dr.Pirma Siburian, SpPD, dokter spesialis penyakit dalam
yang mendalami penyakit lansia/Geriatri) ()
---------------------------------
The fish are biting.
Get more visitors on your site using Yahoo! Search Marketing.