Namo Buddhaya. Kekuatan yang dicapai oleh seorang murid diukur terhadap Sepuluh Ikatan (dasa-samyojana) standar; sejumlah tertentu yang harus dimusnahkan pada masing-masing sub tingkat.
Sotapanna/Strotapanna atau Yang Masuk Ke Dalam Arus, telah mengembangkan pengetahuannya dengan cukup untuk mematahkan, dengan menyeluruh dan tuntas, tiga ikatan keyakinan keliru. Tiga keyakinan keliru meliputi anggapan keliru meliputi anggapan keliru tentang suatu diri (satkayadrsti, Pali sakkayaditthi), 'keragu-raguan skeptis' (vicikitsa, Pali vicikicca) dengan arti tidak yakin sepenuhnya, atau ragu, terhadap Ajaran (doktrin). Dan ketergantungan kepada moralitas dan kepatuhan petapaan eksternal (silavrata-paramarsa, Pali silabbataparamasa) seolah-olah kepatuhan (tata-tertib) adalah Jalan itu sendiri yang cukup mengantarkan kepada Penerangan. Atau percaya pada upacara2x bisa menyucikan seseorang. Orang yang telah mencapai tingkat Strotapanna, bebas dari kelahiran kembali dalam dunia yang lebih rendah, dan tidak akan melewati lebih dari tujuh kehidupan lagi— semuanya dalam dunia manusia dan alam yang lebih tinggi— sebelum mencapai tingkat pembebasan tertinggi, Nibbana. Cirinya adalah keyakinan yang tak tergoyahkan lagi terhadap Buddha, Dharma, dan Sangha, dan memiliki moral tanpa cela. Sakadagami/Sakradagami atau Yang Kembali Sekali Lagi, berhasil melemahkan—walaupun sebenarnya bukan memunaskan—belenggu keempat dan kelima, yaitu napsu seks (kama-raga) dan dendam (vyapada). Satu kehidupan lagi di alam manusia menunggunya; pada kehidupan mendatang ia akan mencapai Penerangan Sempurna. Anagami, Yang Tak Kembali Lagi, setelah memusnahkan lima ikatan yang lebih rendah, dilahirkan di alam Kediaman Suci; Lima surga pada puncak dari alam berwujud. Dan di sana mencapai Nirvana tanpa perlu melalui kehidupan di alam manusia. Arahat, Yang Luhur, yang menghancurkan— dengan pengetahuannya yang berkembang dan tanpa halangan—sisa kelima ikatan yang lebih tinggi, berhasil mencapai pembebasan dari ikatan keberadaan fenomena dan langsung masuk ke dalam Keadaan Tanpa Kematian, Nibbana, saat kehidupan sekarang. Kelima ikatan yang lebih tinggi tersebut adalah keinginan untuk berada/menjadi di alam berwujud (rupa-raga), keinginan untuk berada/menjadi di alam tanpa wujud (arupa-raga), kesombongan (mana) atau anggapan bahwa dirinya lebih tinggi, lebih rendah, atau sama dengan yang lain, kegelisahan (auddhataya, Pali uddhacca), dan kebodohan (avidya, Pali avijja). Semua tingkatan itu bisa dicapai walaupun jadi umat awam, tetapi pasti sangat jarang dan sulit. Umumnya umat awam mencapai Sotapanna. Mumpung masih bisa bertemu dengan Sang Ajaran, capailah Sotapanna karena itu adalah "garansi" kita. Metta, Sumedho On 1/23/07, Purnama Sucipto Gunawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Namo Buddhaya, Sejak 2 tahun saya belajar agama BUDHHA sendiri. Maksud saya sebelumnya lebih banyak mendengar ceramah dan wejangan. Setelah lama sering mendengar ceramah. Saya lebih banyak mengembangkan dan mempraktikan beberapa dharma yg saya pelajari. Diantaranya dari buku agama yang banyak dijual dimuka umum, juga sedikit belajar dari agama lain sebagai contoh BAGGHAVAD GITA dari agama hindu dan kebetulan saya sangatlah beruntung karena buku ini dikarang oleh MOHAMAD GADHI sendiri. Setelah itu saya lebih banyak belajar dari pengalaman saya sendiri dan orang lain. Setelah itu saya berhasil mengembangkan kebijakan didalam diri saya. Pertanyaanya : 1. Jika seorang umat mengalami tingkatan kebijakan tinggi TINGGI di agama BUDDHA ada berapa saja ? 2.Tingkatan untuk umat menghilangkan kekurangan diri ada 10 macam tingkatan dan tingkatan terendah yang pernah saya tanyakan pada seorang bikhu biasanya umat hanya menghilangkan kekurangan tinggi 2 tingkatan yang disebut sotapanna. Mohon jelaskan setiap tingkatan yang ada? 3. apa yang dimaksud tingkatan sotapanna ?. apakah berbeda umat dan sangha dalam pengembangan jiwa yang bijak dalam agama Buddha ? Terima kasih.
