Meditasi Ch'an

--------------

Menurut cerita turun temurun, sumber Ch'an berasal dari rahib
Bodhidharma yang membawa Ch'an dari India ke Cina sekitar tahun 500
SM, lebih dari seribu tahun setelah Parinirvana nya Sakyamuni Buddha.
Tetapi asal-usul Ch'an itu sendiri berawal dari transmisi Dharma Sang
Buddha kepada Maha Kasyapa, murid Sang Buddha yang akhirnya mengawali
garis silsilah Ch'an sebagai Patriark yang pertama.

Dikisahkan, ketika Sakyamuni Buddha berkhotbah di Puncak Hering,
beliau memegang sekuntum bunga di tanganya di depan sekumpulan
muridnya dan beliau tidak berbicara sepatah katapun. Tampaknya tak
seorangpun tahu apa arti sikap ini. Tetapi diantara keheningan itu,
tiba-tiba Maha Kasyapa tersenyum. Sang Buddha lalu berkata, "Harta
karun ini dari Dharma sejati, pikiran nirvana yang menakjubkan --hanya
Maha Kasyapa yang paham".

Peristiwa ini menandai awal dari garis silsilah Ch'an dan transmisi
(penerusan) guru ke murid yang berlanjut sampai kini. Ada dua puluh
delapan generasi transmisi (penerusan) sejak zaman Maha Kasyapa sampai
zamannya Bodhidharma --yang dianggap sebagai Patriakh pertama Ch'an di
Cina. Selanjutnya ajaran Ch'an diteruskan lewat jalur tunggal selama
lima generasi sampai masa Patriakh Keenam, Hui Neng (638-713).

PIKIRAN
Sebenarnya Ch'an bukanlah Buddhisme yang dibawa oleh Bodhidharma dari
India. Namun Bodhidharma memasukkan wawasan-wawasan tertentu ke Cina,
dan tradisi Ch'an berkaitan dengan hal-hal ini. Ia mengajarkan: bahwa
segala sesuatu itu berasal pikiran (mind), bahwa hakekat dasar dari
pikiran adalah sifat Ke-Buddha-an (Buddha Nature). Bahwa sifat
kebuddhaan itu inheren (sudah bawaan) ada pada setiap makhluk hidup;
dan bahwa metode pokok untuk mencapai pemahaman sifat sejati (original
nature) adalah dengan cara mengamati pikiran itu sendiri.

Ada sebuah cerita terkenal tentang pencerahan seorang murid
Bodhidharma, Hui Ke. Ketika itu Hui Ke datang menemui Bodhidharma dan
berkata, "Guru, dapatkah engkau menentramkan pikiranku?" Bodhidharma
menjawab, "Serahkan pikiranmu dan aku akan menentramkannya untukmu!"

Sejenak Hui Ke terdiam dan memeriksa ke 'dalam' dan kemudian
menyatakan kepada Bodhidharma bahwa ia tidak dapat menemukan
pikirannya. Bodhidharma kemudian berkata, 'Nah, aku telah menentramkan
pikiranmu'. Itulah cerita tentang pencerahan Hui Ke.

MEDITASI
Ch'an sebagai sebuah praktek spiritual merupakan mazhab Buddhisme yang
berkembang di cina. Ch'an diperkenalkan dari Buddhisme Dhyana India,
oleh para guru India ke Cina sejak abad ke tiga. Disiplin mental serta
praktek spiritual dhyana, bertujuan mencapai suatu keadaan pikiran
yang khusyuk melalui konsentrasi. Ini merupakan praktek yang umum di
India yang dikenal sebagai meditasi.

Di cina, dhyana dilafalkan sebagai 'Ch'an', dan teknik-teknik
meditasinya dipelajari dengan penuh semangat. Seiring jalannya waktu,
Ch'an mengembangkan penekanan yang berbeda dari dhyana yang ada di
India dan kemudian menyebar ke bagian-bagian Asia lainnya, sehingga
memperoleh sebutan seperti: Zen di Jepang, Son di Korea, dan Thien di
Vietnam.

Di dalam agama India tujuan mengajarkan metode meditasi dan
konsentrasi dhyana agar orang dapat membebaskan dirinya dari kondisi
spiritual mereka yang tak memuaskan: afliksi (gangguan emosi), beban,
serta masalah-masalah dalam pikiran manusia. Gangguan
kekesalan-kekesalan ini disebabkan oleh hasrat-hasrat kita; kondisi
pemikiran kita yang terpencar-pencar. Seseorang yang memulai latihan
Ch'an perlu menggunakan teknik-teknik konsentrasi dasar untuk
menenangkan dan menyatukan pikiran. Teknik-teknik ini mencakup
konsentrasi pada nafas, pada tubuh (misalnya, pada gerakan-gerakan
atau kekotoran tubuh), dan pada suara-suara seperti misalnya air yang
mengalir.

Tujuan dari teknik-teknik konsentrasi tersebut adalah untuk membawa
pikiran --dari keadaan pemikiran yang terpencar srta perasaan-perasaan
yang kacau dan keterbelengguan, ke dalam keadaan konsentrasi dan
selanjutnya kepada keadaan dimana pemisahan antara yang eksternal dan
internal lenyap. Tetapi ini barulah tahap pertama dalam praktek Ch'an.
Ch'an tidak bergantung pada, namun melampaui teknik-teknik konsentrasi
dhyana.

PARA MASTER
Kita bisa menjumpai bermacam instruksi metode-metode Ch'an sebagai
praktek spiritual dalam ajaran para patriark, para master yang diakui
dan dihormati dari masa lampau. Mengingat pengalaman pencerahan
masing-masing orang itu unik, maka para master itu mempunyai caranya
sendiri. Para master Ch'an ini menjadi terkenal karena metode-metode
mereka yang luar biasa. Tetapi mereka tidak menggunakan metode yang
sama secara mekanis kepada setiap orang.

Master Deshan Xuanjian terkenal karena memukul para muridnya dengan
tongkat. Linji Yixuan (Rinzai, ?-866), pendiri sekte Linji dari Ch'an,
membantu para muridnya dengan berteriak kepada mereka. Zhao-zhou
(Joshu) hanya menyuruh para muridnya untuk pergi dan mengambil
secangkir teh. Sedangkan master Shigun dari abad ke delapan menjawab,
"Perhatikan aku menembakkan panah ini" pada semua pertanyaan yang
diajukan kepadanya tentang Buddhisme.

Deshan tidak memukul seseorang yang belum siap memetik manfaat dari
pukulannya, dan Linji tidak berteriak pada seseorang yang belum siap
untuk memetik manfaat dari sebuah teriakan. Jikalau seorang master
Ch'an sedemikian kaku dalam metode-metode pengajarannya, kita harus
menganggapnya agak gila.

SHANDOU
Master Shandou (480-560) mengajarkan metode dhyana persis seperti yang
ditransmisikan dari India. Salah satu metodenya adalah empat fondasi
mindfulness. Pertama-tama sang praktisi memeditasikan (sifat)
ketidakbersihan atau kekotoran tubuh, misalnya proses pencernaan.

Berikutnya, ia memeditasikan tentang sensasi, serta hakekat sifat
sensasi yang secara esensialnya adalah penderitaan, tak memuaskan.
Sensasi pada dasarnya adalah tak memuaskan (dukha) atau tidak mampu
untuk benar-benar memberikan kepuasan sempurna, sebabnya sederhana
saja --karena bahkan sensasi-sensasi yang menyenangkan pun kondisional
dan (pasti) akan berlalu. Sebagai contoh: kebahagiaan kita tergantung
pada kesehatan kita dan kesehatan keluarga kita, pekerjaan kita,
apakah negara kita sedang damai atau tidak, dan seterusnya. Semua hal
ini tidak permanen. Sebagian pengalaman/kejadian secara inheren
(bawaan) memang menyakitkan, dan bahkan hal-hal yang kita nikmati pun
akan menyebabkan kita menderita ketika kita kehilangan hal-hal itu.

Selanjutnya para praktisi memeditasikan tentang sifat
ketidakpermanenan pikiran dan ketiadaan suatu 'diri' yang sejati atau
permanen sebagai pusat dari keberadaan psikofisik seseorang. Meditasi
keempat adalah tentang sifat ketidak permanenan semua Dharma, artinya
semua fenomena. Ini mencakup ketiga praktek mindfulness (perhatian
penuh) sebelumnya.

DAOXIN
Patriakh Ch'an keempat, Daoxin (580-651) mengajarkan teknik-teknik
meditasi dhyana dalam metode praktis esensial untuk memurnikan
pikiran. Ia menyarankan para praktisi untuk memulai praktek Ch'an
dengan sekedar mengamati pikiran. Ia menyuruh duduk (meditasi) sendiri
di sebuah tempat yang tenang, tegak lurus, dengan pakaian longgar
sehingga anda tidak terkekang. Biarkan tubuh dan pikiran anda rileks
sepenuhnya dan kemudian gosok-pijatlah diri anda sendiri dari kepala
sampai kaki beberapa kali. Selaraskan tubuh dan pikiran anda, dan
amatilah pemikiran dan perasaan anda tanpa menjadi terlibat dengannya.

Daoxin juga mendeskripsikan keadaan-keadaan konsentrasi yang semakin
mendalam yang bisa dilalui seorang praktisi. Pertama, sang praktisi
mengalami dunia luar maupun dalam sebagai kosong dan murni. Ia
menempuh keadaan-keadaan konsentrasi yang semakin mendalam sampai
semua pemikiran lenyap, dan bahkan pemikiran untuk mengkonsentrasikan
pikiran pun tidak ada. Akhirnya, sang praktisi melampaui semua alam
mental 'mengalami' dan bergerak melewati keadaan -- konsentrasi menuju
penyatuan antara yang diluar dan yang didalam (diri). Semua perbedaan
lenyap.

HUI NENG
Di setiap jaman dan setiap tempat, banyak metode praktek yang telah
digunakan. Teknik-teknik Ch'an itu fleksibel dan mudah diadaptasikan.
Karena situasi yang terus berubah dan tipe orang yang berbeda-beda,
seorang guru menggunakan metode yang berlainan untuk menuntun setiap
orang ke arah pencerahan.

Pernah seorang awam bertanya kepada patriakh keenam, Hui Neng,
"Bukankah berpraktek meditasi dan samadhi untuk mendapatkan pembebasan
itu perlu?"

Patriakh keenam menjawab, "Tidak. Jalan ini (sifat dasar realitas yang
hakiki) direalisasi oleh pikiran. Bagaimana ia bisa eksis dalam
tindakan duduk?"

Metode hanyalah cara yang berguna untuk menjernihkan pikiran. Karena
itu metode harus digunakan secara luwes.

DESHAN XUANJIAN
Dalam periode Tang (618-907), banyak master terkenal menggunakan
teknik-teknik yang tidak lumrah untuk menuntun orang menuju
pencerahan. Master Deshan Xuanjian (dalam bahasa Jepang: Tokusan,
781-867) terkenal karena memukul para muridnya dengan tongkat. Ia
mula-mula adalah seorang cendekiawan Buddhis dan seorang pakar bidang
Sutra Intan, yang merupakan salah satu naskah terpenting dalam Ch'an.

Tetapi sesudah seorang perempuan tua awam dengan hanya sebuah
pertanyaan tunggalnya telah mampu membuat Deshan Xuanjian mengerti
bahwa ia sesungguhnya belum memahami makna yang lebih dalam dari Sutra
Intan tersebut. Ia lalu pergi ke biara -- mendedikasikan dirinya untuk
menginvestigasi Ch'an. Pada akhirnya ia menjadi kepala biara di gunung
Deshan, dan bila ia mengajukan pertanyaan kepada muridnya, apakah
mereka menjawab ataupun diam, ia akan memukul mereka. Ini bukanlah
sekedar ketokan ringan tetapi kadang berupa hantaman yang sangat
keras.

HUANGBAO
Pada abad ke sembilan, Master Huangbao Xiyun (Obaku Kiun, ?-850),
menyuruh para bhiksunya untuk makan sepanjang hari tetapi jangan
pernah menggigit sebutir nasipun, dan berjalan sepanjang hari tetapi
jangan pernah menginjak seinchi tanahpun. Yang ia maksudkan ialah
bahwa kita tak pernah boleh memisahkan diri kita dari urusan-urusan
kehidupan biasa, tetapi kita juga jangan membiarkan diri kita
dikendalikan oleh lingkungan atau kondisi eksternal kita.

Apabila kita bisa melakukan hal ini, kita tidak lagi melekat pada
diri, dan tidak lagi berpegang pada konsep bahwa diri dan orang lain
itu beda. Hanya orang yang hidup dengan cara ini yang benar-benar
bebas dan ringan. Seseorang yang bebas dari kemelekatan pada diri akan
terlibat secara positif dengan kehidupan namun tak bereaksi secara
kacau, cemas, atau menderita terhadap berbagai peristiwa, orang lain,
atau lingkungan sekitar.

Huangbao menekankan bahwa anda dapat menjalankan praktek spiritual
dalam situasi apapun. Anda tidak harus meninggalkan masyarakat atau
menjadi bhiksu. Inilah yang jadi keyakinan dalam Ch'an. Bilamana kita
dapat mencapai keadaan pikiran yang dideskripsikannya itu, maka kita
akan menjadi orang yang telah tercerahkan secara mendalam --layak
menjadi great Ch'an master.

MENGATASI METODE
Dalam Ch'an, teknik-teknik dhyana untuk mengembangkan konsentrasi dan
memasuki samadhi umumnya digunakan oleh para pemula. Seorang praktisi
yang berpengalaman tak lagi membutuhkan teknik-teknik semacam itu.
Ch'an sendiri pada akhirnya bukanlah teknik atau metode, tetapi lebih
berupa jalan yang anda capai dengan penerapan metode-metode praktek.
Ini membawa kita ke definisi kedua Ch'an: Ch'an adalah kebijaksanaan
yang menakjubkan, subtil, dan tak terjelaskan.

Ch'an itu tak terjelaskan karena kita tidak bisa mengekspresikan,
mendeskripsikan, atau menjelaskannya dengan kata-kata, juga kita tidak
bisa membayangkannya atau memahaminya dengan pikiran konseptual kita.
Apapun yang dapat kita ekspresikan dalam bahasa, tak peduli betapapun
bagusnya, bukanlah Ch'an.***


---------
sumber: Suara Bodhidharma, edisi 10/7/II/2002; "CH'AN, Gerbang tanpa
Gerbang", Master Sheng Yen, Penerbit Suwung, tahun 2002.

Kirim email ke