Kompas, Selasa, 30 Januari 2007
Demam Berdarah
Wabah Penyakit yang Selalu Berulang
Neli Triana
Fitri (15 bulan) duduk di tempat tidurnya di Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan,
Jakarta Pusat, Senin (29/1). Matanya terlihat masih sembab. Dara cilik pasien
demam berdarah dengue ini baru saja melewati masa kritis.
Tanggal 18 Januari lalu Fitri mulai demam. Kami hanya memberinya obat penurun
panas anak-anak. Namun, demamnya tak kunjung hilang. Fitri lalu kami bawa ke
Puskesmas Halimun di Manggarai," kata Titik (24), ibu kandung Fitri.
Dokter puskesmas memastikan Fitriyah, nama lengkap Fitri, terserang demam
berdarah dengue (DBD) dan harus dirawat di rumah sakit.
Titik langsung lemas karena takut putrinya itu tidak akan kuat melawan DBD.
Titik mengisahkan, ia sempat terserang DBD dan dibutuhkan ketahanan tubuh yang
luar biasa untuk melawan penyakit ini, apalagi untuk anak balita sekecil Fitri.
Fitri didampingi kedua orangtua dan kakeknya, Juwono (65), segera ke Rumah
Sakit Cipto Mangunkusumo di Salemba. Namun, kamar penuh sehingga Fitri kembali
dilarikan ke rumah sakit swasta di kawasan Cikini, Jakarta Pusat.
"Kami kaget ketika diharuskan membayar Rp 4 juta sebagai uang muka agar dapat
dirawat di rumah sakit itu. Kami tidak memiliki uang, terpaksa mencari-cari
lagi rumah sakit yang mau merawat Fitri tanpa harus minta uang dulu," kata
Juwono.
Akhirnya mereka diterima di RSUD Tarakan, 22 Januari lalu. Di rumah sakit itu
mereka baru mengetahui bahwa pasien DBD dirawat secara gratis tanpa perlu
menunjukkan surat keterangan keluarga miskin.
"Sudah ketentuan pemerintah, setiap pasien yang terdiagnosa DBD dibebaskan dari
segala biaya pengobatan," kata Kepala Bidang Keperawatan RSUD Tarakan Zuraidah.
Hasil pemeriksaan awal di RSUD Tarakan menunjukkan trombosit Fitri turun
drastis dari 67.000 menjadi 49.000. Padahal, batas minimal trombosit normal
adalah 100.000. Jika terlambat beberapa jam saja, bayi mungil ini dikhawatirkan
mengalami pendarahan dan sulit diselamatkan. Terpaksa cairan infus dimasukkan
melalui tangan dan hidung.
Fitri sempat kehilangan kesadaran beberapa kali dan trombosit darahnya naik
turun. Dibutuhkan waktu sepekan untuk perawatannya.
Ketegangan yang dialami keluarga Fitri juga dialami 43 pasien lainnya di RSUD
Tarakan pada Senin kemarin. Secara keseluruhan, sejak awal Januari 1.859 pasien
di seluruh Jakarta dirawat seperti Fitri.
Belum lagi kesedihan tak terkira dialami anggota keluarga pasien DBD yang
meninggal dunia. Selama Januari 2007, di Jakarta tercatat delapan orang
meninggal akibat DBD.
Pada Januari 2006, 2.535 orang di DKI diserang DBD, lima di antaranya
meninggal. Jumlah yang lebih kurang sama tercatat pada Januari 2005.
Pengorbanan besar
Pemerintah dibebani pengeluaran biaya amat besar setiap tahun untuk perawatan
ribuan pasien DBD dan kampanye melawan penyakit ini. Pasien dan keluarganya
berkorban waktu dan tenaga amat besar meski tidak dipunguti biaya perawatan.
Titik dan suaminya, Tarsan (32), misalnya, terpaksa harus mangkir dari
pekerjaan sebagai karyawan di salah satu swalayan di kawasan Mampang, Jakarta
Selatan. Mereka sudah lebih dari 10 hari cuti untuk menunggui anak semata
wayang mereka tanpa kejelasan kapan dapat kembali bekerja.
Walau dipastikan tidak akan dipecat, pengurangan pendapatan karena potongan
upah selama masa cuti membuat pasangan ini pusing tujuh keliling. Mereka harus
memikirkan bagaimana cara menutup kebutuhan sehari-hari, termasuk membayar sewa
rumah petak kecil di Jalan Teladan Nomor 12 RT 17 RW 02, Setiabudi.
Sehari-hari Fitri diasuh kakeknya. Sementara Titik dan Tarsan bekerja sepanjang
pagi hingga menjelang malam.
Tak hanya pasangan muda ini yang harus bergelut mengumpulkan uang. Pola hidup
serupa juga dijalani para tetangga mereka sesama karyawan, buruh, pembantu
rumah tangga, pelayan toko, ataupun penganggur.
Disadari, menjaga kebersihan rumah dan lingkungannya menjadi prioritas kesekian
dalam kegiatan rutin harian. Tepat di depan kompleks rumah petak Tarsan dan
Titik terdapat saluran air yang tergenang mampet.
Banyak juga barang-barang bekas tertumpuk di sana-sini di berbagai sudut di
kompleks permukiman padat itu. Genangan air, apalagi pada musim hujan seperti
sekarang, dijumpai hampir di setiap jengkal tanah.
Kampanye pemberantasan sarang nyamuk (PSN) hanya mampir sebentar di telinga dan
pikiran mereka.
"Kalau sudah ada yang terserang DBD, seperti anak saya ini, biasanya kemudian
dilakukan pengasapan seluas satu RT, itu saja," kata Titik.
Titik sendiri pernah terkena DBD. Penyakit yang sama menyerang putrinya. Ibu
muda itu rupanya tidak pernah paham, melawan DBD tidak hanya dengan
menyemprotkan obat pembasmi nyamuk biasa, tetapi harus pula membasmi jentik-
jentik yang bersarang di genangan air.
"Kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, terutama membasmi
sarang nyamuk Aedes aegypti, amat kurang sehingga wabah ini terus berulang,"
kata Wakil Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Salimar Salim.
Namun, Salimar mengakui pemerintah juga terkadang kurang agresif menyadarkan
warga. Kampanye PSN paling sering dilakukan justru ketika korban telah
berjatuhan. Di sisi lain, ia mengeluhkan pemahaman masyarakat yang salah
tentang pengertian PSN.
PSN bukan hanya dengan pengasapan atau seperti yang sering dilakukan individu
dengan menyemprotkan obat nyamuk. Penyemprotan hanya membunuh nyamuk dewasa,
tetapi jentik-jentiknya mungkin sudah tersebar.
Nyamuk pembawa virus DBD hanya mau bertelur di genangan air jernih yang tidak
ada tanahnya. Kaleng, wadah kosong, atau bahkan cekungan sekecil apa pun di
pekarangan rumah, di jalanan, di sekolah, di perkantoran adalah rumah idaman
Aedes aegypti.
Nyamuk jenis ini mampu terbang dalam radius 100 meter sehingga penularan DBD
pun luas. Jika DKI Jakarta dan juga daerah lain di Indonesia menginginkan wabah
DBD tidak terulang lagi tahun depan, PSN harus dilakukan menyeluruh,
bersama-sama, serta rutin.
---------------------------------
Need a quick answer? Get one in minutes from people who know. Ask your question
on Yahoo! Answers.