Kearifan Bernegara dan Beragama

Abdul Munir Mulkhan

Bangsa ini membutuhkan kearifan saat atas nama negara
dan Tuhan, seseorang harus terbunuh seperti kasus Poso
beberapa hari lalu.

Sementara wakil rakyat merasa berhak meraup rupiah
saat jutaan rakyat kelaparan akibat bencana dan
kemiskinan. Di saat yang sama orang berdebat mengenai
siklus lima tahunan demokrasi dan hak rakyat
memakzulkan sang pemimpin. Hanya kearifan yang bisa
memaksa seorang aparat mempertanyakan tindakannya di
lapangan meski telah memenuhi prosedur. Pertanyaan
serupa untuk kesediaan mati melawan aparat atas nama
kebenaran dan kehormatan agama yang dipeluknya.

Seperti labirin

Jika atas nama Tuhan seseorang merasa berhak melawan
dengan senjata aparat yang hendak menegakkan hukum,
bubarlah negeri ini sebagai bangsa dan negara. Jika
polisi seperti tanpa pilihan menangkap orang yang
diduga melawan hukum kecuali dengan senjata, hilanglah
rasa aman di negeri ini. Jutaan rakyat menderita
kelaparan dan penyakitan, tapi wakil rakyat berpesta
pora menilap uang rakyat atas nama Peraturan
Pemerintah (Nomor 37 Tahun 2006).

Apa yang tersisa dalam hidup berbangsa, bernegara,
berdemokrasi, dan beragama di negeri ini? Tanpa etika
dalam praktik berbangsa, bernegara, dan beragama,
kesatuan bangsa negeri ini hanyalah mimpi. Peraturan
dan perundang-undangan seharusnya disusun guna
memenuhi fungsi negara dan tugas lembaga kenegaraan.
Tanpa kearifan, ayat, dan pasal dalam undang-undang
dan peraturan, itu hanya kertas dan huruf tanpa ruh
sehingga bisa ditafsir sesuai kepentingan tiap orang.

Kita seperti hidup dalam labirin (lorong tanpa ujung)
demokrasi dan ketuhanan absolut. Pemimpin dan rakyat
tersandera demokrasi siklus lima tahunan dan terbius
janji-janji surgawi.

Wakil rakyat tersandera kepentingan pribadi dan
politik kekuasaan yang atas nama rakyat berhak
mendapat apa saja yang dibutuhkan. Siklus lima tahunan
membuat pemakzulan (cabut mandat) pemimpin bisa
dianggap tindakan inkonstitusional (makar?) Kedaulatan
rakyat tersandera peraturan perundangan yang tak
memihak rakyat.

Jatuhnya beberapa korban tewas dalam baku tembak
polisi dan gerombolan bersenjata di Poso beberapa hari
lalu amat menyedihkan. Tetapi lebih menyedihkan saat
gerombolan bersenjata itu melakukan perlawanan
terhadap aparat negara atas nama Tuhan. Ironinya,
semua berlangsung saat wakil rakyat bersitegang dengan
rakyat yang diwakilinya tentang imbalan atas jasa
mewakili rakyat yang berhak mereka terima.

Aneh bin luar biasa, saat beberapa orang yang
berstatus DPO (daftar pencarian orang) hendak
ditangkap polisi, sejumlah orang melakukan perlawanan
dengan senjata api dan bom. Atas nama keadilan dan
kebenaran agama, mereka (yang berstatus DPO)
memobilisasi warga untuk bersedia mati melindungi,
seperti benteng hidup. Ironi, saat warga yang tidak
menjadi target operasi polisi itu bersedia menjadi
pagar betis perlindungan.

Simbol kesemrawutan

Adakah yang salah dalam memahami ayat-ayat kitab suci
dan tradisi kenabian? Adakah yang salah dalam memahami
fungsi negara, makna demokrasi, dan tugas wakil
rakyat? Apa yang salah dalam peristiwa Poso itu?

Itulah mungkin bentuk kesemrawutan bernegara,
berbangsa, dan dalam beragama. Jadilah polisi
berseragam dengan tugas resmi menangkap orang yang
bagi negara telah melawan hukum itu harus bersitembak
dengan warga yang melindungi orang yang ditetapkan
sebagai bersalah.

Peristiwa Poso mungkin wajar dalam sebuah negara di
mana wakil rakyat tidak lagi peduli nasib rakyat yang
diwakilinya. Bagaimana mungkin bisa terjadi wakil
rakyat berpesta pora mengambil uang rakyat saat jutaan
rakyat menderita?

Masih segar dan berlangsung berbagai bencana yang
membuat jutaan rakyat negeri ini menderita. Gempa bumi
akhir Mei lalu masih berbekas dalam kehidupan warga
Yogyakarta dan Jawa Tengah, menambah derita akibat
gempa dan tsunami dua tahun sebelumnya di Aceh dan
Nias.

Ribuan orang mengungsi beratap langit akibat semburan
lumpur panas, tanah longsor, dan banjir. Air mata tak
lagi tersisa saat ratusan penumpang belum ditemukan
akibat kapal tenggelam, AdamAir hilang, kereta api
anjlok, dan flu burung menghantui kehidupan rakyat.

Bencana demi bencana datang silih berganti, membuat
hati teriris. Tetapi, lebih menyakitkan jantung saat
semua berlangsung di tengah ketidakpedulian wakil
rakyat atas nasib rakyat yang diwakilinya dan
ketidakpedulian birokrat atas pelayanan warganya.
Bagaimana Tuhan mau berpihak saat tidak ada lagi setia
kawan, tak ada lagi ta’awun (saling tolong)
antarwarga bangsa.

Inilah mungkin bencana yang lebih besar daripada
segala bencana alam yang terjadi di negeri ini. Atas
nama Tuhan di satu pihak dan atas nama negara di pihak
lain warga negeri seribu tempat ibadah ini saling baku
bunuh. Masih pedulikah kita terhadap nasib sesama saat
dalam tafsir keyakinan iman, semua orang lain itu
tidak lagi bernilai?

Abdul Munir Mulkhan Guru Besar UIN Yogyakarta 


 
____________________________________________________________________________________
Looking for earth-friendly autos? 
Browse Top Cars by "Green Rating" at Yahoo! Autos' Green Center.
http://autos.yahoo.com/green_center/

Kirim email ke