Puisi-Puisi Chan (3)
Jika kamu tidak memikirkan usaha-usahamu lebih dari tiga kali, kamu akan menyesalinya. Jika kamu dapat melakukan ini, maka tidak perlu mengkhawatirkan masalah-masalah yang akan datang. Segala sesuatu berlalu oleh waktu bagai air yang mengalir. Setiap hari pikiran kita dapat seterang angin musim semi. ------------------ Kita harus berpikir tentang sesuatu dengan sepenuhnya dan berhati-hati dalam segala tindakan. Jika kita hanya menuruti keinginan hati saja, kita pasti akan menyesalinya di dalam berbagai keadaan yang membutuhkan toleransi. Suatu hari ada seorang pedagang yang ingin pulang ke rumah untuk merayakan Tahun Baru. Dia ingin membelikan sebuah hadiah untuk istrinya. Dia berjalan-jalan memutari toko swalayan dan berhenti di hadapan seorang bhiksu yang menjual syair Buddhis. Karena ingin tahu, pedagang tersebut mendekati sang bhiksu dan bertanya, "Berapa harga sebuah syair?" "Sepuluh keping emas." "Semahal itu?" seru sang pedagang. "Syair ini sangat manjur. Sungguh syair-syair itu pantas seharga itu." jawab sang bhiksu. Pedagang tersebut berpikir sejenak dan berkata, "Baiklah, saya akan membeli sebuah syair." Kemudian sang bhiksu membacakan syair tersebut dan meminta kepada pedagang untuk mengingatnya dengan baik. Syair tersebut hanya terdiri dari 4 kalimat dan itu membuat pedagang membayar 10 keping emas. Sang pedagang agak menyesalinya tetapi dia tahu, keengganan hatinya tidak pantas ditunjukkan. Sang pedagang berjalan seharian menuju ke rumahnya. Dia tiba larut malam Tahun Baru dan melihat pintu depan rumahnya tidak terkunci dengan baik. Dia masuk dan berjalan menuju ke ruang tamu dengan heran. Di dalam keremangan, dia melihat sepasang sandal laki-laki. Dia begitu marah. Pedagang itu berpikir, "Istri saya telah berselingkuh saat saya tidak di rumah." Dia menuju ke dapur dan mengambil pisau dan segera kembali ke kamarnya. Saat suasana memanas, dia teringat syair dari bhiksu tua. MAJULAH TIGA LANGKAH DAN BERPIKIR LALU MUNDUR TIGA LANGKAH DAN BERPIKIR KEMBALI JIKA KAMU INGIN MENGETAHUI KEBENARAN HIDUP ENAM AKAR KEBURUKAN ADALAH ANTEK-ANTEK KEJAHATAN Istri sang pedagang terbangun oleh ributnya tiga langkah ke depan dan tiga langkah ke belakang yang terus berulang-ulang. Sang istri begitu gembira melihat suaminya yang masih bingung oleh kemarahannya. Sang istri sangat paham setelah dia mempelajari tuduhan suaminya. Lalu berkata: "Ai ya! Hari ini Tahun Baru. Kamu tidak di rumah, saya meletakkan sepasang sandalmu untuk mendapatkan keberuntungan supaya kamu bisa pulang dengan selamat." Jawaban sang istri memukul suami itu seperti gelegar petir. Sang pedagang berseru dengan gembira, "Sepuluh keping emas untuk syair yang sangat berharga itu, sangat murah." Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita harus menyadari bahwa apa yang kita lihat dengan mata sendiri atau mendengar dengan telinga kita sendiri tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Kita dapat dengan mudah tertipu oleh 6 akar keburukan yang merupakan antek-antek kejahatan. Oleh karena itu, seyogyanya kita selalu waspada.*** --------- sumber: Suara Bodhidharma, edisi 04/1/II/2002; Ven.Master Hsing Yun, "Cloud and Water", An Interpretation of Cha'an Poems, Hsi Lai University Press, USA, 2000.
