SeAbad Satyagraha
 Pamor Gandhi yang Tak Pupus oleh Waktu 
 
Simon Saragih  
Nama lengkap Mahatma Gandhi adalah Mohandas Karamchand Gandhi. Dua nama awal 
itu disatukan menjadi Mahatma, yang berarti ’jiwa besar’. Ia lahir di 
Porbandar, Gujarat, India, 2 Oktober 1869, dari seorang ibu saleh pemeluk 
Hindu, khususnya aliran yang mengutamakan nonkekerasan (ahimsa) dan toleransi 
terhadap sesama manusia. 
Hingga wafat, aliran itu tertancap dalam di relung-relung jiwa Gandhi, yang 
berasal dari keluarga birokrat yang relatif mapan. Inilah salah satu contoh 
dari keyakinan Gandhi yang masih sangat relevan sekarang ini untuk ditiru 
komunitas global dan terdiri dari berbagai kelompok etnis, anutan, dan 
kepercayaan itu. 
Panutan itu mungkin layak pula ditiru di Indonesia, di mana konflik-konflik 
berdarah terjadi karena mengabaikan prinsip perjuangan tanpa kekerasan dan di 
mana toleransi mulai terkikis. Mungkin komunitas di Poso, antek-antek perusuh 
di Poso, harus banyak belajar juga dari Gandhi soal moralitas itu. 
Mungkin moralitas itu juga layak dipegang oleh Presiden AS George Walker Bush 
agar tidak memilih cara-cara kasar di negara lain, seperti Irak, Iran, dan 
Korea Utara. Mungkin moralitas Gandhi itu layak juga dipikirkan oleh warga di 
Kashmir India, Thailand selatan, Filipina selatan, Palestina-Israel, Darfur 
(Sudan), Lebanon, Irak, dan berbagai tempat di dunia. 
Ironisnya, Gandhi tewas dibunuh seorang militan Hindu pada 30 Januari 1948. 
Tanggal kematian itu dijadikan sebagai peringatan seabad ajaran Gandhi, di New 
Delhi, 29-30 Januari 2007. Kebesaran nama Gandhi menjadi alasan di balik 
peringatan itu, yang juga dihadiri 400 delegasi dari 87 negara, termasuk Wakil 
Presiden Jusuf Kalla. 
Mengapa satu abad? Setelah lulus dari belajar hukum di Inggris, Gandhi bekerja 
di Afrika Selatan, yang juga dijajah Inggris, sama seperti India. Namanya saja 
pemerintahan penjajah, banyak praktik dan hukum yang diskriminatif dan bejat. 
Ada pula hukum yang melarang ekspresi bagi komunitas India, minoritas di Afrika 
Selatan. 
Gandhi menjadi korban dari itu ketika bekerja di Afrika Selatan dan mencoba 
melawannya. Bukan dengan kekerasan, tetapi dengan perlawanan pasif serta 
kesabaran berjuang dan rela berkorban. Menghadapi penjajah Inggris di Afrika 
Selatan, ia memakai metode satyagraha— menerapkan kekuatan dari sebuah 
kebenaran—yang punya nilai idealisme tinggi. 
Keyakinan itu begitu membatin hingga derita fisik dan jiwa tak mampu 
menghancurkan Gandhi. Seperti ada roh ekstra di dalam dirinya dan sekaligus 
mampu membuatnya bertahan. 
Nelson Mandela, pejuang kulit hitam dan kemudian menjadi Presiden Afrika 
Selatan pada 1984, mengakui bahwa ketabahan ekstra yang dijalani Gandhi telah 
menjadi inspirasi baginya untuk bisa bertahan saat menentang politik apartheid 
yang berlangsung puluhan tahun. 
Dengan metode satyagraha, Gandhi menyetujui hukuman terhadap pelanggar hukum, 
tetapi ia juga menolak hukum yang menindas dan tidak benar. Inggris melarang 
minoritas India bersuara bebas saat itu. 
Metode satyagraha mulai dia canangkan tahun 1906, atau seabad lalu. Akhirnya, 
otoritas Afrika Selatan dan kemudian penjajah Inggris di India menyadari 
kekacauan hukum mereka dan kemudian melakukan perbaikan mendasar. 
"Sarvodaya"  
Sepak terjang di Afrika Selatan itu telah mencuatkan nama Gandhi di dunia 
internasional. Kembali ke India tahun 1915, ia menularkan ahimsa dengan 
mengampanyekan perjuangan nonkekerasan pada penjajah Inggris. Saat bersamaan, 
dia membuat upaya besar menyatukan Hindu, Muslim, dan Kristen di India. 
Ia juga berjuang untuk emansipasi komunitas Hindu yang tak tersentuh, di mana 
terjadi klasifikasi warga berdasarkan status. Maklum, Gandhi juga menyebarkan 
sarvodaya, yakni kemajuan bagi semua pihak. 
Dengan sarvodaya, Gandhi memberi contoh agar setiap orang memerhatikan pihak 
lain. Hal ini ditekankan kembali oleh PM India Manmohan Singh, yang menyerukan 
kontrol atas kerakusan, sehingga rezeki dan hak adalah milik bersama. Bukan 
hanya di India, aspek kerakusan itu juga menjadi hardikan pada para pejabat 
korup di Indonesia, juga para pengusaha bandel yang melarikan uang ke luar 
negeri. 
Aspek kerakusan itu juga mengena bagi perusahaan multinasional, termasuk 
perusahaan minyak raksasa di beberapa negara di dunia, yang telah menjadikan 
3,5 miliar rakyat di negara pemilik sumber daya mineral itu justru melarat. 
Aspek kerakusan itu jugalah yang harus diterapkan di dalam sistem perdagangan 
internasional, di mana negara maju hanya menginginkan negara berkembang membuka 
pasar, tetapi menutup pasar mereka pada komoditas pertanian negara berkembang. 
Di era globalisasi dengan perdagangan yang bebas tetapi tak adil, praktik 
penipuan keuangan oleh korporasi yang merugikan masyarakat, aspek kerakusan 
yang diingatkan Gandhi menjadi relevan. 
Jika benar ada konsep neokolonialisme, yang dicurigai sedang menyerang di 
banyak negara, maka kontrol kerakusan itu selayaknyalah jadi perhatian pula. 
Lepas dari persoalan India, secara politik dan agama sekarang ini, keteguhan 
Gandhi pada prinsip ahimsa dan satyagraha membuatnya dihargai siapa pun di 
dunia. Bahkan, para hakim yang pernah memenjarakan Gandhi mengakui bahwa Gandhi 
adalah pribadi istimewa. 
Tak heran jika kini banyak tokoh yang terkait atau tidak terkait berjuang untuk 
meneruskan perjuangan Gandhi, antara lain mantan Sekjen PBB Kofi Annan, Bono 
(dari kelompok penyanyi U2), dan Bill Gates. 
"Kita memerlukan sebuah paradigma baru pembangunan yang bisa memuaskan semua 
pihak dan sekaligus membuat kerakusan bisa terkontrol," kata PM Singh, mengutip 
pernyataan Gandhi. 
Dunia yang lebih adil dan bukan sekadar bebas, dunia yang bebas dari 
kemiskinan, dunia yang damai dan bebas konflik, itulah moto dari perjuangan 
sosialis internasional yang kini dipimpin George Papandreou asal Yunani. Ketua 
Sosialis Internasional itu juga hadir pada seabad Mahatma Gandhi. 
Lima kali dinominasikan  
Karena kebesaran itu, tak heran jika Gandhi pernah empat kali dinominasikan 
untuk meraih Hadiah Nobel Perdamaian oleh Komite Perdamaian Norwegia. Gandhi 
pernah dicalonkan sebagai peraih Nobel pada tahun 1937, 1938, 1939, 1947, dan 
Januari 1948. Dari empat kali nominasi, tak satu pun pernah diraih Gandhi. 
Komite Nobel menyesalinya dan menyampaikan penyesalan saat menganugerahkan 
Hadiah Nobel Perdamaian kepada Dalai Lama, tokoh perlawanan Tibet, tahun 1989. 
Komite mengatakan, anugerah untuk Dalai Lama itu juga merupakan penghormatan 
kepada Mahatma Gandhi. 
Pengagum Gandhi antara lain para anggota Friends of India (Para Sahabat India) 
yang sudah terbangun di Eropa dan AS pada awal dekade 1930-an. The Friends of 
India mewakili berbagai aliran pemikiran dan profesi, agamawan, kelompok 
antimiliter, radikal politik. Mereka bersimpati kepada ahimsa dan sikap 
menentang penjajahan. Pada 1937 mereka mengajukan Gandhi sebagai peraih Nobel 
lewat seorang anggota Storting (parlemen Norwegia), Ole Colbjornsen (Partai 
Buruh). 
Penasihat Komite, Profesor Jacob Worm-Muller, menuliskan laporan soal Gandhi 
yang lebih kritis walau mengerti kekaguman banyak orang soal Gandhi. "Tak 
diragukan lagi, dia baik, tulus, dan pribadi yang asketis. Pria terkenal ini 
layak dihormati dan dicintai massa India," kata Worm-Muller. 
Asketisme adalah faham yang mengajarkan kesederhanaan, kebenaran, dan 
kejujuran.  
Namun, profesor Norwegia itu juga menuliskan sesuatu yang miring soal Gandhi. 
Juga ada kritik dari luar India yang menyebutkan Gandhi lebih cocok sebagai 
figur nasionalis di tingkat India semata. Worm-Muller menyatakan keraguannya 
apakah Gandhi layak disebut sebagai tokoh universal. 
Ole Colbjornsen kembali menominasikan Gandhi pada tahun 1938 dan 1939, tetapi 
tetap gagal.  
Lalu nominasi tahun 1947 datang dari BG Kher (PM Mumbai), Govindh Bhallabh 
Panth (PM United Provinces), dan Mavalankar Presiden (dari Majelis Legislatif 
India). Alasan penominasian, Gandhi adalah arsitek India dan menjadi sosok 
panutan moral dan juga kampiun perdamaian dunia. 
Penasihat Komite Nobel, sejarawan Jens Arup Seip, menuliskan bahwa Gandhi 
adalah pemenang (1937-1947) karena India berhasil meraih kemerdekaan sekaligus 
pecundang karena perpecahan India dengan Pakistan tahun 1948.  
Pemisahan India dan Pakistan, menurut Seip, kemungkinan besar akan 
berdarah-darah dalam skala lebih luas lagi jika prinsip Gandhi tak diindahkan. 
Karena itu, ahimsa memberi peran besar meski ratusan ribu warga terbantai dan 
jutaan warga hijrah antara Hindu (India) dan Muslim (Pakistan). 
Dari catatan pribadi Ketua Komite Gunnar Jahn, terlihat bahwa dua anggota 
Komite, Herman Smitt Ingebretsen dan Christian Oftedal, mendukung Gandhi. 
Namun, tiga anggota lain Komite tak setuju. Politisi Partai Buruh Martin 
Tranmæl enggan memberi itu di tengah konflik India-Pakistan, dan mantan Menlu 
Norwegia Birger Braadland setuju dengan Tranmæl. 
Dalam catatan hariannya, Jahn mengatakan Gandhi adalah pribadi paling agung. 
Menurut Jahn, banyak hal bagus yang bisa disampaikan soal Gandhi. Ia bukan saja 
rasul perdamaian, ia adalah patriot pertama dan ternama. Namun, keputusan 
Komite juga tetap tak memberi Gandhi anugerah itu. 
Nominasi terjadi lagi pada 1948, tetapi Gandhi sudah tewas pada 10 Januari, dua 
hari sebelum penutupan nominasi Nobel Perdamaian. Nominasi datang dari Quakers 
dan Emily Greene Balch, peraih nobel serupa sebelumnya. 
Profesor Seip kembali menuliskan bahwa, "Gandhi hanya bisa dibandingkan dengan 
para pendiri agama".  
Akan tetapi, Gandhi sudah meninggal dan tak ada sejarah pemberian nobel yang 
diberikan kepada orang meninggal.  
Ada dugaan, keengganan Komite Nobel kepada Inggris menjadi penghalang bagi 
Gandhi meraih Nobel. Namun hal itu ditepis. 


Nyana Bhadra
Tibetan Language & Buddhist Philosophy

Library of Tibetan Works & Archives
Centre for Tibetan Studies & Researches
Gangchen Kyishong Dharamsala - 176215
Himachal Pradesh - I n d i a

"May I become at all times, both now and forever; a protector for those without 
protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with 
oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those 
in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack 
of shelter; and a servant to all in need"-- H.H. The 14th Dalai Lama, Tenzin 
Gyatso -- Bodhicharyavatara [Tib. 
J'ang.chub.sem.pa'i.c'od.pa.nyid.jug.pa.zhug.so; Ing. Guide to the 
Bodhisattva's Way of Life, Chapter III, Verse 18-19]~ Shantideva
 
---------------------------------
Check out the all-new Yahoo! Mail beta - Fire up a more powerful email and get 
things done faster.

Kirim email ke