Humaniora      
Kamis, 08 Februari 2007

banjir
Ketika Lingkungan Diabaikan, Bencana Pun Datang

Banjir besar seperti lima tahun lalu di wilayah
Jakarta dan sekitarnya terulang lagi. Bahkan, kali ini
dirasakan lebih parah. Ibu kota negara Republik
Indonesia ini sempat lumpuh.

Warga yang tadinya tinggal di daerah yang aman dari
banjir, terkaget-kaget saat banjir menyapa mereka,
padahal selama ini tenang-tenang saja setiap kali
musim hujan tiba. Semua tersentak. Saling tuding
kembali terjadi.

Pemerintah disalahkan karena mudah tergiur
mengalihfungsikan lahan sehingga daerah resapan air
semakin minim. Masyarakat juga disalahkan karena
membuang sampah sembarangan hingga hidup di bantaran
kali. Pengusaha pun tidak luput dari tudingan karena
dengan caranya yang "licik" bisa membangun bisnis atau
perumahan di lahan yang tidak sesuai peruntukannya.

Intinya, semua sadar bahwa bencana yang datang mendera
bangsa ini akibat manusia tidak lagi hidup selaras
dengan alam. Hanya soal waktu, keserakahan dan
ketamakan manusia yang mengeksploitasi alam dan
lingkungan tanpa terencana dan terkendali dengan baik
akan membuahkan bencana yang menimpa warganya.

Bencana banjir, tanah longsor, dan kekeringan akan
silih berganti menjadi bencana yang melanda negeri ini
akibat daya dukung lingkungan yang tak mampu lagi
menahannya. Bencana lingkungan yang terjadi hingga
saat ini bahkan dirasakan lebih sering dan parah,
tidak serta-merta terjadi begitu saja.

Mantan Menteri Lingkungan Hidup dan Kependudukan Emil
Salim dalam suatu kuliah umum di Jakarta, akhir tahun
lalu, menyebutkan, pembangunan yang mengabaikan dan
melebihi daya dukung alam hanya akan membawa
kehancuran pada kehidupan manusia saat ini dan
generasi mendatang. "Pembangunan yang hanya
menitikberatkan pada ekonomi semata sudah ketinggalan
zaman. Paradigma pembangunan sekarang ini justru harus
bergerak maju dengan mengutamakan pembangunan sosial
dan ekologi," ujar Emil.

Dalam kenyataannya, alam tempat makhluk hidup manusia
dan lingkungan yang seharusnya selaras ini justru
ternoda. Pemanfaatan sumber daya alam dengan
mengacuhkan pelestarian seolah jadi kebiasaan yang
dilakukan semua pihak.

Pada akhir tahun lalu, misalnya, Badan Pemeriksa
Keuangan membuktikan adanya kerusakan lingkungan yang
disebabkan pemerintah daerah lebih memprioritaskan
kenaikan pendapatan asli daerah daripada melestarikan
lingkungan alamnya. Hal itu mengingat banyak kepala
daerah yang merusak lingkungan melalui pemberian izin
bagi perluasan perambahan di kawasan hutan lindung,
hutan produksi, dan kawasan perkebunan, serta kawasan
permukiman. Audit ini dilakukan menyusul adanya
bencana longsor dan banjir bandang di wilayah Jawa
Timur yang terjadi awal tahun 2005.

Pentingnya menjaga lingkungan hidup juga ditekankan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat menyerahkan
penerima Kalpataru dan Anugerah Adipura Hari
Lingkungan Hidup Sedunia Juni lalu. Kondisi lingkungan
hidup yang memburuk, katanya, bisa menimbulkan bencana
lingkungan.

Semua pihak diajak untuk berupaya mencegah bencana
lingkungan dengan sejumlah langkah nyata, mulai dari
hal-hal sederhana dan kecil. Sebab, bencana bukan
gejala alam semata, tetapi sebagian karena ulah
manusia yang kurang bertanggung jawab.

Dalam kerangka besar, pemerintah akan terus melakukan
langkah-langkah penegakan hukum terhadap pelaku
pembabatan hutan dan pencemaran lingkungan. Lagi-lagi,
untuk soal penegakan hukum ini implementasinya
dipertanyakan.

Sementara itu, Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat
Witoelar mengatakan, saat ini terjadi kerusakan yang
sangat signifikan pada sumber daya alam hutan, lahan,
air, pesisir, dan laut kita. Sekitar 43 juta hektar
hutan yang tadinya hijau telah berubah menjadi lahan
kritis yang tidak dapat lagi menunjang berbagai fungsi
lingkungan.

Laju kerusakan hutan di Indonesia diperkirakan
sedikitnya dua juta hektar per tahun. Di kawasan
pesisir, hutan mangrove mengalami kerusakan yang telah
mencapai 5,3 juta hektar atau sekitar 60 persen dari
seluruh hutan mangrove Indonesia.

Rusaknya hutan mengakibatkan menurunnya kualitas
lingkungan daerah aliran sungai (DAS), sehingga DAS
kritis semakin meningkat dari sekitar 22 DAS pada 1992
menjadi 62 DAS pada 2005. Sementara upaya konservasi
alam berjalan lamban, tidak sebanding dengan laju
kecepatan kerusakan alam.

Tidak heran apabila alam yang terbatas daya dukungnya
itu pada akhirnya bisa murka juga. Bencana memang
tidak akan pernah lepas dari kehidupan manusia.
Bencana justru akan semakin parah jika manusia sendiri
tak menjaga alamnya.

Semua pihak menyadari bahwa ketika alam dirusak,
ketika lingkungan hidup diabaikan, berarti kehancuran
di depan mata. Masalahnya, mengapa bangsa ini tidak
mau belajar dari pengalaman dan melakukan pengelolaan
risiko dengan baik? Mengapa yang dilakukan justru
penanggulangan bencana, bukannya mencegahnya? (Esther
Lince Napitupulu) 


 
____________________________________________________________________________________
We won't tell. Get more on shows you hate to love 
(and love to hate): Yahoo! TV's Guilty Pleasures list.
http://tv.yahoo.com/collections/265 

Kirim email ke