Nusantara      
Jumat, 09 Februari 2007

Harga Beras Melambung, Gabah Kering Susah Didapat

Cirebon, Kompas - Harga beras kualitas super di
pasaran grosir Cirebon melambung, yakni berkisar Rp
5.800-Rp 6.000 per kg. Padahal, sepekan lalu harga
beras dengan kualitas yang sama masih Rp 5.000-Rp
5.200. Harga beras kualitas medium, seperti beras asal
Demak, Jawa Tengah, yang semula hanya Rp 4.600, kini
Rp 5.600 per kg.

Sejumlah pedagang di Pasar Pagi Cirebon, Kamis (8/2),
mengatakan, untuk mendapatkan beras 10 ton saja kini
susah. Padahal, biasanya mereka memiliki stok hingga
20 ton. "Beras Demak yang biasanya memenuhi stok
hingga 70 persen dari beras kelas medium pun kadang
tidak ada. Jadi, kami hanya mengandalkan beras dari
Indramayu," kata Pendi, pemilik kios Dawam Jaya, di
Pasar Pagi Cirebon.

Suwardi, yang juga pedagang beras, menambahkan,
kenaikan beras bisa mencapai Rp 200 per kg setiap
harinya. "Ini sudah tidak naik lagi, tetapi sudah
ganti harga," tuturnya dengan nada setengah mengeluh.

Maimunah, pedagang eceran dari Indramayu yang sedang
membeli beras di Pasar Pagi, mengaku bingung dengan
kenaikan harga beras yang tinggi. Ia khawatir warga
tak mau membeli beras karena harga eceran bisa
mencapai Rp 6.000 per kg. Karena itu, dia tak berani
berspekulasi membeli beras melebihi dua ton.

Tersedia beras operasi pasar (OP) dari Bulog yang
harganya Rp 3.700 per kg di pasaran tampaknya tak
memengaruhi harga beras pada umumnya. Menurut para
pedagang, jumlah beras OP terbatas, yakni sekitar 50
kuintal per kios, sehingga segera habis terjual
menjelang siang hari.

Tak ada panen

Penyebab tingginya harga beras, menurut sejumlah
pedagang dan pemilik penggilingan, dipicu oleh tidak
adanya panen di Cirebon dan Indramayu serta susahnya
mendapatkan gabah kering giling akibat datangnya musim
hujan.

Darusa, pemilik penggilingan padi di Desa Karangreja,
Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, mengatakan,
saat ini gabah sulit didapatkan. Sekalipun ada,
harganya mencapai Rp 3.600 per kg dan itu pun
merupakan sisa panen September lalu.

Biasanya, lanjut Durasa, dia membeli gabah dari
Ajibarang, Jawa Tengah. Namun, kini gabah dari Jawa
Tengah pun sulit didapatkan. "Musim hujan. Jadi, gabah
tak juga kering. Sebagian memang bisa dikeringkan
dengan menggunakan mesin, tetapi kebanyakan pemilik
gabah masih menjemur gabah di halaman (belum
menggunakan mesin pengering)," katanya.

Tak kebagian

Dari Jambi dilaporkan, OP beras dan gula yang digelar
Dinas Perdagangan dan Perindustrian Jambi ludes dalam
tempo satu jam. Akibatnya, banyak warga yang kecewa
karena tak kebagian sembako murah itu.

Dalam OP yang diadakan di Kelurahan Ulu Gedong,
Kecamatan Danau Teluk, Kota Jambi, kemarin, disediakan
beras dari Vietnam sebanyak 500 kg dengan harga Rp
3.750 per kg. Selain itu, disediakan pula gula dari
Thailand sebanyak 150 kg dengan harga Rp 6.300 per kg.

Nawawi, warga setempat, mengatakan, mereka cukup
diuntungkan dengan OP ini. Sebab, harga beras dan gula
tersebut di bawah harga pasar. Harga gula di pasaran
Rp 6.800-Rp 7.000 per kg, lebih mahal Rp 500-Rp 700
per kg dari harga gula saat OP.

Pelaksana OP, Idrus, mengemukakan, seluruh stok yang
disediakan habis diserap pembeli. Hal ini akibat
jumlah pembeli sangat banyak.

Kepala Subdin Perdagangan Dalam Negeri Dinas
Perdagangan dan Perindustrian Provinsi Jambi Lisly
mengemukakan, selama OP pada Senin-Kamis pekan ini,
sudah 2.300 kg beras dan 600 kg gula yang diserap
masyarakat miskin di Kota Jambi. (NIT/ITA) 


 
____________________________________________________________________________________
We won't tell. Get more on shows you hate to love 
(and love to hate): Yahoo! TV's Guilty Pleasures list.
http://tv.yahoo.com/collections/265 

Kirim email ke