Puisi-Puisi Chan (12)
Wajah tanpa kemarahan adalah pemberian yang sejati. Mulut yang berbicara tanpa kemarahan adalah menyebarkan wangi dan menyegarkan. Hati tanpa kemarahan adalah harta yang tak ternilai. Hati Buddha adalah mengatasi waktu dan tanpa batas. --------------- Kita harus mengendalikan kemarahan. Dalam ajaran Buddha, kemarahan disamakan dengan api karena kemarahan dapat menghilangkan karma baik kita. Pada saat api kemarahan datang, maka api itu dengan cepatnya membakar hutan kebaikan yang telah kita tumbuhkan dengan kerja keras. Jadi kita harus mengontrol kemarahan kita. Pertama seperti yang disebutkan di awal kalimat, SEBUAH WAJAH TANPA KEMARAHAN ADALAH PEMBERIAN YANG SEJATI. Kita seharusnya tersenyum. Salah satu hal yang terindah di dunia ini adalah sebuah senyuman dan di antara bentuk terbaik kemurahan hati dan perbuatan baik. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa senyuman yang tulus kepada orang lain tidak hanya suatu bentuk yang sangat berharga tetapi juga perbuatan yang sangat baik. Di ajaran agama Buddha, ada beberapa bentuk dari kemurahan hati dan kebajikan. Kita dapat mendanakan makanan, pakaian, perlengkapan, dan obat-obatan. Kita dapat juga memberikan dupa, bunga, buah-buahan, atau barang-barang yang berharga. Kita dapat menggunakan perbuatan, ucapan dan pikiran untuk berdana. Dana yang tertinggi berasal dari hati. Kebahagiaan ketulusan hati terpancar dari senyuman di wajah kita. Itu adalah dana yang terbaik. MULUT YANG BERBICARA TANPA KEMARAHAN ADALAH BAGAIKAN WANGI BUNGA YANG SEMERBAK DAN MENYEGARKAN. Saat kita berbicara, kita seharusnya melakukan dengan baik dan tulus. Kita tidak seharusnya meremehkan juga tidak mengkritik. Kita tidak seharusnya bergosip atau membicarakan orang lain di belakang orang tersebut. Seperti yang dikatakan dalam Sutra Intan, Sang Buddha hanya membicarakan kebenaran, tidak pernah membicarakan hal-hal yang berlebih-lebihan atau kebohongan. Berbicara dengan baik seperti tiupan udara yang segar. HATI TANPA KEMARAHAN ADALAH HARTA YANG TAK TERNILAI. Kita perlu mengontrolnya dengan rajin untuk memastikan kemarahan tidak muncul. Kita seharusnya tidak menunjukkan kemarahan pada wajah kita, tidak mengeluarkan ungkapan-ungkapan kemarahan dan menyelam ke dalam dasar hati kita untuk membasmi akar semua pikiran kemarahan. Tidak adanya kemarahan di hati kita, semua pikiran dan perbuatan kita dapat diarahkan untuk menolong orang lain, memberikan orang lain rasa nyaman, kepercayaan dan harapan. Untuk mencapai tahap latihan semacam ini merupakan sesuatu yang tidak terhingga nilainya. HATI BUDDHA ADALAH MENGATASI WAKTU DAN TANPA BATAS. Jika kita dapat mengistirahatkan badan dan pikiran dalam perbuatan, dimana ucapan, dan pikiran bebas dari kemarahan maka kita akan memulai melihat Hati Buddha yang tanpa batas.*** --------- sumber: Suara Bodhidharma, edisi 01/III/2003; Ven.Master Hsing Yun, "Cloud and Water", An Interpretation of Cha'an Poems, Hsi Lai University Press, USA, 2000.
