Saya diundang dan ikut hadir dalam pemutaran film ini. Satu hal yang menarik tetapi pasti menyedihkan bagi sebagian umat Buddha adalah, dalam film dokumenter yang akan disebar ke dunia internasional tersebut, Ferry Surya Prakasa tampak beberapa kali muncul sedang memimpin upacara Waisak di Borobudur, tentu dengan mengenakan jubahnya.
Lebih menyedihkan adalah komentar dari seorang tokoh Buddhis dalam diskusi yang diadakan setelah film diputar, bukannya meluruskan, sang tokoh Buddhis yang bukan biksu itu dengan sengaja malah ikut-ikutan menyebut Ferry sebagai "biksu". Saya kemudian bertanya kepada tokoh Buddhis tersebut, apakah tidak tahu kalau Ferry itu tidak pernah menjadi biksu. Dia menjawab, "Ya tahu, tetapi ini kan forumnya umum." Saya tahu rohaniwan dari agama mana pun bisa ada yang "jatuh", jadi tentu ada biksu yang juga bisa "jatuh" terutama kalau tidak hidup berkesadaran. Tetapi kalau dia bukan biksu, paling tidak lewat kasus Ferry ini mestinya umat Buddha dapat bertambah pengetahuannya, bahwa yang gundul dan berjubah belum tentu sudah ditahbiskan sebagai biksu ataupun sramanera. Ada yang berpenampilan demikian karena memang dibenarkan oleh tradisi Buddhis yang dianutnya dan ada pula yang memang pura-pura jadi biksu. Yang pasti orang-orang tersebut pakai jubahnya hanya pada saat-saat tertentu saja. Akan tetapi untuk menerima hal tersebut juga tidak mudah bagi sebagian umat Buddha, karena terhadap orang-orang berpenampilan biksu yang sekarang banyak berkeliaran meminta-minta dana di pertokoan pun umat Buddha tidak berani menangkap dan membawa ke polisi, karena masih sulit bagi umat Buddha untuk tidak menganggapnya sebagai biksu. Sebagai informasi tambahan, kini kalau para biksu ada di tempat umum, orang-orang tidak lagi meledek dengan mengatakan "Amitabha", tetapi "Ferry". Walau menyedihkan, dengan terus meningkatkan praktik hidup berkesadaran, baik di kalangan biksu maupun bukan biksu, semoga ke depan semua akan menjadi baik. D. Vimala > Film Dokumenter > Borobudur dan Buddha, Refleksi Hidup Damai > > Jakarta, Kompas - Candi Borobudur sebagai bagian dari agama Buddha dapat menjadi refleksi dalam membangun kehidupan yang damai. > "Dengan melongok ajaran lain, maka kita akan lebih mengenal agama lain. Pengalaman itu dapat disintesiskan dengan ajaran yang dianut dan memunculkan kesadaran baru, terutama dalam dialog antaragama," ujar Marselli Sumarno dalam diskusi dan pemutaran film dokumenter yang ia sutradarai, Sang Buddha Bersemanyam di Borobudur, di Bentara Budaya Jakarta, Rabu (31/1). > Menurut Marselli, dalam pembuatan film tersebut bukan perbedaan yang ia lihat, melainkan persatuan serta adanya pertemuan-pertemuan. Pertemuan tersebut antara lain ajaran kasih atau welas asih yang nyata dalam ajaran > Buddha. Pertemuan lain yang diamati ialah betapa setiap agama mempunyai praktik meditasi dengan caranya masing-masing. > "Melihat pertemuan-pertemuan tersebut, menjadi sangat penting mengenal agama lain, terlebih lagi di tengah kerapuhan dialog antarumat beragama," > ujar Marselli, Dekan Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta > (FFTV-IKJ). > > Budayawan Mudji Sutrisno yang hadir dalam diskusi itu mengatakan, dalam ajaran agama Buddha di Nusantara sudah terjadi inkulturasi. "Ketika religiositas masuk ke sebuah daerah atau lokal, maka yang muncul ialah wajah budaya," ujarnya. > Lebih toleran > Film yang digarap Marselli ini, menurut Mudji, merangkum antara teks suci > dan kontekstualisasi isinya. Tafsiran tentang Borobudur dapat banyak diterjemahkan. > "Agama-agama bumi cenderung lebih toleran karena mereka hidup dari bumi dan berutang kepada bumi. Mereka menyatu dengan ekologi dan alam. Sementara dalam agama wahyu terkadang ada yang meminjam wewenang teks kitab suci dengan tafsirannya untuk mengatakan yang paling benar dan keinginan meniadakan yang lain," ujarnya. > Marselli melihat Borobudur sebagai buku terbuka tentang ajaran agama Buddha karena begitu banyak makna yang terpahat pada relief-relief patung > maupun susunan bentuk lainnya. Melalui film dokumenter yang digarap secara > puitis, Marselli ingin menyampaikan rangkuman sejarah candi, peringatan Waisak sekaligus tentang ajaran Buddha, serta apa yang disebut pencerahan > dengan benang merah meditasi itu sendiri. Kemasan audio visual berupa film > dokumenter ini merupakan sumbangan tafsir artistik atas ajaran Buddhisme lewat keberadaan Candi Borobudur. > Film tersebut terutama merekam saat-saat meditasi para pemeluk Buddha. Marselli mengatakan, selain film ini terdapat pula film Mekarnya Agama Buddha di Indonesia, yang menceritakan sejarah agama Buddha di Nusantara. > Marselli sebelumnya membuat belasan film dokumenter dan menyutradarai film > cerita berjudul Sri pada tahun 1999. (INE) > > > Nyana Bhadra > Tibetan Language & Buddhist Philosophy > > Library of Tibetan Works & Archives > Centre for Tibetan Studies & Researches > Gangchen Kyishong Dharamsala - 176215 > Himachal Pradesh - I n d i a > > "May I become at all times, both now and forever; a protector for those without protection; a guide for those who have lost their way; a ship for > those with oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those in danger; a lamp for those without light; a place of > refuge for those who lack of shelter; and a servant to all in need"-- H.H. > The 14th Dalai Lama, Tenzin Gyatso -- Bodhicharyavatara [Tib. > J'ang.chub.sem.pa'i.c'od.pa.nyid.jug.pa.zhug.so; Ing. Guide to the Bodhisattva's Way of Life, Chapter III, Verse 18-19]~ Shantideva > > --------------------------------- > Now that's room service! Choose from over 150,000 hotels > in 45,000 destinations on Yahoo! Travel to find your fit.
