Opini Kamis, 15 Februari 2007 Menuntut Globalisasi yang Manusiawi
Imam Cahyono "Rather than encompassing everyone in a collective march toward a better life, globalization is a process that allows the world market economy to take the best and leave the rest." Susan George Anak-anak itu memandang dengan tatapan kosong. Tubuhnya terbalut baju kumal, perut buncit, rambut ikaltergolek lemas tak berdaya, digerogoti AIDS dan malaria. Hitam kulitnya, sehitam nasibnya. Hanya gigi dan kelopak mata yang memancar kusam. Tak ada rasa takut, kendati maut setiap saat menjemput. Kisah Afrika senantiasa penuh dengan paradoks. Benua yang paling kaya dengan minyak, batu mulia, flora, fauna, dan produk pertanian, tetapi mayoritas masyarakatnya melarat. Titik nadir kehidupan (the lost continent) yang tak pernah lepas dari kelaparan, keterbelakangan, wabah penyakit, dililit konflik, korupsi, dan lingkaran setan utang luar negeri. Hukum rimba Dalam doktrin neoliberal, kompetisi menjadi nilai sentral. Kompetisi menjadi strategi terbaik guna meraih profit maksimal sekaligus mendapat alokasi sumber daya secara optimal. Prinsipnya, one persons crisis is another persons opportunity for enrichment. Dalam hegemoni ekonomi pasar, perilaku yang didasarkan solidaritas berarti ketololan. Globalisasi neoliberal sarat dengan hiperkompetisi langsung, bahkan antara orang-orang yang tak pernah bertemu sekalipun. Mengikuti petuah Thomas Hobbes, every man is enemy to every man. Kanibalisme hukum rimba berlaku secara brutal dan kejam. Siapa kuat, dia menang. Sistem ekonomi pasar hanya mengambil yang terbaik dan meninggalkan sisanya, menciptakan para pecundang ketimbang pemenang. Afrika adalah wajah kekalahan. Alih-alih menciptakan kemakmuran, globalisasi justru menimbulkan ketimpangan mendalam, baik intra maupun antarnegara. Globalisasi ekonomi tidak seketika membawa dunia menuju kemakmuran dalam meraih standar hidup, pemenuhan hak asasi, dan akses pasar, tetapi justru menciptakan kemiskinan global. Menurut Laporan Tahunan UNDP 2006, 40 persen populasi penduduk termiskin di dunia2,5 miliar manusia hidup di bawah dua dollar AS per hari setara dengan 5 persen pendapatan global, sementara 10 persen populasi orang terkaya memiliki aset sekitar 54 persen pendapatan global. Lebih dari 800 juta orang kelaparan dan kekurangan gizi, 1,1 miliar orang tidak memiliki akses air minum, dan tiap jam sebanyak 1.200 anak-anak mati karena penyakit yang mestinya bisa dicegah. Meski ekonomi global dan kemajuan teknologi tumbuh pesat, banyak orang di negara berkembang tak dapat menikmati kue globalisasi. The New York Times (28/6/ 2006) menyebutkan, setiap tahun lebih dari 800.000 anak di Afrika mati karena malaria. Padahal, obat pencegah bisa didapat 55 sen per dosis, kelambu penghadang nyamuk hanya satu dollar setahun dan pembasmi nyamuk hanya seharga 10 dollar AS per tahun untuk satu rumah tangga. Kompetisi pasar global membutuhkan manusia dengan inisiatif, terlatih, melek teknologi informasi, dan semangat wirausaha. Masyarakat miskinterutama Afrikajelas tidak memiliki akses dan modal untuk belajar keahlian baru. Untuk makan saja susah, apalagi menikmati bangku pendidikan. Tuntutan keadilan Globalisasi tak lepas dari anomali. Arus uang seharusnya bergerak dari negara kaya ke negara miskin, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Globalisasi justru menjadi ajang mentransfer kekayaan dari si miskin kepada yang kaya (George, 2006). Pada tahun 1980, negara-negara Selatan memiliki stok utang sekitar 540 miliar dollar AS. Angka itu meningkat hampir lima kali lipat menjadi 2.600 miliar dollar AS pada tahun 2004. Padahal, dalam kurun waktu itu, mereka membayar utang 5.300 miliar dollar AS, hampir 10 kali lipat utang mereka tahun 1980. Bahkan, kawasan Sahara Afrika, bagian termiskin di dunia, terus menyumbang kreditor 28.000 dollar AS per menit. Globalisasi neoliberal tidak lahir secara alami, tidak pula diciptakan oleh kekuatan supranatural. Pasar bukan Tuhan dan bukan tugasnya untuk mengatur, apalagi mendikte aturan kepada manusia. Pendewaan terhadap pasar harus dihentikan. Masyarakat dunia berhak menentukan peran yang harus dimainkan oleh pasar, yakni sebagai pelayan dan bukan sebagai majikan. Globalisasi, menurut Stiglitz (2006), diyakini memiliki potensi besar jika ditata dan dikontrol. Agar globalisasi berjalan lebih manusiawi, dibutuhkan lembaga yang kuat dan transparan, seperangkat institusi yang dapat memandu kebijakan ekonomi, politik dan sosial lebih adil, sekaligus memihak dunia yang miskin. Di bawah komando supremasi kapitalisme global yang culas dan kejam, globalisasi yang manusiawi menjadi tuntutan zaman yang tak terelakkan. Imam Cahyono Peneliti LAY ____________________________________________________________________________________ Need Mail bonding? Go to the Yahoo! Mail Q&A for great tips from Yahoo! Answers users. http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396546091
