Bukanlah manusia biasa yang dapat membenamkan kepalanya di pegunungan bersalju. Yang ingin menyerahkan tubuhnya untuk Dharma. Hanya setelah dingin yang menggigit tulang sumsum. Barulah manusia tersebut dapat menjadi Raja Dharma.
---------------- Saat Bodhidharma datang ke Timur, beliau melatih diri dalam pengasingan di Vihara Shao Lin. Patriark kedua, Hui Ko mendatangi beliau untuk bertanya tentang Dharma. Di sepanjang malam yang turun hujan salju, Hui Ko berdiri dan menunggu di luar ruangan Ch'an Bodhidharma. Salju telah menumpuk sampai lututnya, tetapi Hui Ko tidak bergeming, dan memohon Bodhidharma membeikan ajaran Dharma. Akhirnya, Bodhidharma membuka mata dan bertanya: "Setelah berdiri sekian lama, apa yang anda inginkan?" "Guru, tolonglah tenangkan pikiran saya." "Berikan pikiranmu, maka saya akan menenangkannya." "Tetapi saya tidak dapat menemukan pikiranku." "Maka saya telah menenangkan pikiranmu sepenuhnya." Saat itu Hui Ko menemukan pikiran khayalannya dan pikirannya pun menjadi tenang. Inilah alasan kenapa dikatakan, BUKANLAH MANUSIA BIASA YANG DAPAT MEMBENAMKAN KEPALANYA DI PEGUNUNGAN BERSALJU, YANG INGIN MENYERAHKAN TUBUHNYA UNTUK DHARMA. Berdiri di antara salju memohon Dharma, Hui Ko memotong tangannya untuk menunjukkan tekadnya. Dia mau menyerahkan tubuhnya untuk Dharma dan akhirnya dia menemukan Jalan. Master Ch'an, Fa Yuan datang dari Selatan. Beliau menempuh semua jalan dalam perjalanan ke Utara untuk mencari Dharma. Pada malam di musim dingin, dari pagi hingga malam, dia duduk menunggu dalam ruang penerima tamu di vihara untuk diterima sebagai anggota. Tidak ada seorangpun yang memberikan perhatian. Angin dingin sangat menggigit. Beberapa temannya satu per satu mulai meninggalkannya. Sampai akhirnya dia sendirian. Kepala bagian penerima tamu keluar dan marah, "Ini sudah larut malam, kenapa kamu tidak pergi saja?" Selesai bicara, dia menyiram sebaskom air dingin ke Fa Yuan. Master Fa Yuan dengan tenang dan anggunnya berkata, "Yang Mulia, saya datang dari ribuan mil untuk mempelajari Dharma. Apakah anda pikir, anda dapat mengusir saya dengan sebaskom air?" Master Fa Yuan bertekad penuh dalam pencarian Dharma. Dia sabar dengan semua jenis penghinaan. Selanjutnya setelah dia diterima, dia mengambil minyak untuk memasak mie untuk pertemuan para bhiksu. Pengawas menuduh dia mencuri barang milik vihara untuk menjilat kepala vihara dan memaksa dia keluar dari vihara beberapa kali. Fa Yuan tidak menyerah, diluar dia memohon kedermawanan orang untuk membayar hutangnya di vihara. Akhirnya dia diterima kembali dan semua dapat terselesaikan. Keteguhannya dalam pelatihan itu diketahui oleh vihara dan dia diberikan Dharma. HANYA SETELAH MERASAKAN DINGIN YANG MENGGIGIT TULANG SUMSUM, SESEORANG BARU LAH DAPAT MENJADI RAJA DHARMA. Hui Ko dan Fa Yuan telah melalui banyak penderitaan yang menolong mereka menjadi Patriark. Tanpa ujian dingin yang menggigit, bunga Plum tidak akan merekah. Tanpa panasnya musim panas, bunga Lotus tidak akan terbuka.*** --------- sumber: Suara Bodhidharma, edisi 05/III/2003; Ven.Master Hsing Yun, "Cloud and Water", An Interpretation of Cha'an Poems, Hsi Lai University Press, USA, 2000.
