Berita Utama Selasa, 27 Februari 2007
Academy Award Isu Lingkungan dalam Oscar Ninuk Mardiana Pambudy Oscar hampir selalu membawa isu politik. Begitu juga pada penghargaan ke-79 Oscar di Kodak Theatre, Hollywood, Minggu (25/2) malam, walaupun Al Gore menyebutnya sebagai isu moral. Seperti telah diduga sebelumnya, film dokumenter An Incovenient Truth meraih Oscar untuk kategori dokumenter penuh. Film garapan sutradara Davis Guggenheim ini menuturkan perjuangan mantan Wakil Presiden dan calon Presiden Amerika Al Gore dalam meyakinkan masyarakat dan pemimpin Amerika serta dunia tentang pemanasan global. "Saudaraku masyarakat Amerika... masyarakat di seluruh dunia, kita harus memecahkan krisis iklim. Ini bukan isu politik, tetapi isu moral," kata Gore saat menerima Oscar bersama Guggenheim. Film ini juga memenangi lagu asli terbaik, I Need to Wake Up karya Melissa Etheridge. Isu lingkungan pada malam Oscar sudah terasa sejak kedatangan aktor dan aktris di karpet merah. Leonardo DiCaprio yang diunggulkan sebagai aktor terbaik dalam Black Diamond datang dengan Toyota Prius yang memadukan mesin berbahan bakar minyak dan motor listrik sehingga hemat bahan bakar dan ramah lingkungan. Aktris dan aktor yang juga menolak naik limusin yang boros bahan bakar adalah Nicole Kidman, Penelope Cruz, Kirsten Dunst, Forest Whitakermenyabet Oscar sebagai aktor terbaikdan Gwyneth Paltrow. "Mobil yang lebih bersih (pembuangan asapnya), rumah efisien energi, dan bangunan hijau membantu mengurangi pembuangan gas rumah kaca," kata DiCaprio. Meningkatnya aktivitas manusia menyebabkan peningkatan antara lain pembuangan gas karbon dioksida (CO2). Gas-gas ini bertindak seperti rumah kaca yang menghalangi pantulan sinar matahari ke luar atmosfer Bumi sehingga mengakibatkan naiknya suhu global. Multibudaya Dari lima film yang diunggulkan, tiga film dijagokan, yaitu The Departed, Babel yang bercerita tentang empat lokasi dan empat latar belakang berbeda benua tetapi berakhir pada satu tragedi, dan film komedi perjalanan Little Miss Sunshine yang menuturkan tentang keluarga yang tak berfungsi utuh dalam menemukan diri mereka kembali. Penghargaan film terbaik akhirnya jatuh pada The Departed dan sutradara terbaik pada Martin Scorsese untuk film yang sama. Kemenangan ini menebus kekecewaan Scorsese yang telah lima kali diunggulkan sebagai sutradara terbaik. "Bisakah Anda mengecek ulang isi amplop (pengumuman)," katanya, seperti dilansir bbc.co.uk. Scorsese menerima nominasi pertamanya untuk Raging Bull pada tahun 1981, tetapi kalah dari Robert Redford yang menyutradari Ordinary People. "Begitu banyak orang selama bertahun-tahun mendoakan iniorang-orang asing. Saya sedang di jalan dan mereka mengatakan, 'Kamu seharusnya menang, kamu seharusnya menang'," kata Scorsese. Sementara Helen Mirren memang dijagokan sebagai aktris terbaik untuk perannya yang sangat meyakinkan sebagai Ratu Elizabeth dari Inggris dalam The Queen sedangkan aktris pembantu terbaik jatuh pada Jennifer Hudson dalam Dreamgirls. Sementara Mirren telah malang melintang di dunia akting sejak 1960-an, untuk Hudson ini adalah film pertamanya setelah menjadi finalis American Idol pada 2004. Oscar kali ini juga dipenuhi unggulan untuk aktris, cerita, dan bahasa yang digunakan yang berasal dari berbagai bangsa. Penelope Cruz diunggulkan sebagai aktris terbaik dalam Volver yang berbahasa Spayol dan disutradarai Pedro Almodóvar. Lalu ada sutradara Meksiko, Alejandro Gonzalez Inarritus, yang diunggulkan dalam Babel. Juga Adriana Barraza dari Meksiko dan Rinko Kikuchi dari Jepang untuk aktris pembantu, juga dalam Babel. Pan's Labyrinth yang berbahasa Spanyol meraih Oscar untuk rias wajah dan art direction. Pesan lingkungan Oscar kali ini membawa pesan lingkungan. Al Gore mendapat kesempatan naik panggung bersama Leonardo DiCaprio untuk menyatakan terima kasih atas cara penyelenggaraan acara yang bersahabat dengan lingkungan. Melalui acara yang ditonton satu miliar orang seperti diklaim Gore, kemenangan An Uncovenient Truth dapat menginsiprasi jutaan orang untuk menyelamatkan Bumi. Film ini dimulai dengan gambar alam yang masih murni, sungai jernih, dan pohon menghijau. Gore lalu dengan bahasa sederhana dan jelas memulai dengan penjelasan efek rumah kaca, yaitu pemantulan sinar infra merah dari sinar matahari yang tidak dapat menembus atap gelas rumah kaca sehingga suhu di dalam rumah kaca lebih hangat dari luar. Untuk Bumi, yang bertindak sebagai gelas rumah kaca adalah emisi gas-gas polutan, terutama CO2. Meskipun berbagai laporan ilmiah menegaskan bukti naiknya jumlah CO2 di atmosfer sejalan dengan naiknya suhu Bumi, tapi Pemerintah Amerika tak mau mengakuinya. Padahal mereka adalah pembuang CO2 terbesar di dunia. Gore lalu menghubungkan pemanasan Bumi dengan perubahan alam. Badai lebih kerap dan besar sebab memanasnya suhu laut memberi banyak uap air untuk disumbangkan pada hujan badai, seperti Katrina di New Orleans. Melelehnya es di Kutub Utara, Eropa, Amerika Selatan dan Himalaya, hujan dan banjir di Asia yang diikuti kekeringan di tempat yang sama. Tak heran bila Gore menyebutnya sebagai isu moral. Kita berada pada Bumi yang sama dan bencana tidak memilih berdasar politik yang kita yakini, kecuali kita mencegahnya dengan tindakan mulai dari tingkat individu: hemat energi, tanam pohon, daur ulang, dan tidak mengonsumsi berlebihan sebab Bumi tak akan mampu memuaskan nafsu tersebut.(Reuters/AFP/AP) ____________________________________________________________________________________ No need to miss a message. Get email on-the-go with Yahoo! Mail for Mobile. Get started. http://mobile.yahoo.com/mail
